Wa'alaikum Salam Dunsanak Dewis sarato Dunsanak Kasadonyo di Palantako,

Tarimokasih kiriman e-mailnyo.

BTW, Ada satu hal yang ambo amati dari kejadian Gempa di Sumbar baru2 ko
yaitu dari beberapa sumber yang ambo tarimo,ternyato banyak bangunan2 tua
buatan Belanda yang ternyata selamat dari Getaran Gempa yang kuat di Sumbar
ko,bahkan retak pun juga tidak.Ambo melihat,mungkin ini sesuatu fenomena
yang sangat menarik sebetulnya buat kita,kenapa sampai bangunan buatan
Belanda yang telah berumur ratusan tahun itu bisa sekuat itu dan dapat
survive dari amukan goyangan Gempa,sementara bangunan2 yang relatif baru
buatan bangsa kita sendiri banyak yang berambrukan.

Dengan memperhatikan fenomena di atas,ambo menarik suatu dugaan
sementara,mungkin saja bangunan2 buatan Belanda ini telah di design dan
dibangun oleh insinyur2 Sipil Belanda dengan memakai Kontruksi Anti Gempa
dulunya.

Untuk itu beberapa saat yang lalu ambo mengusulkan ke Pak Gubernur Gamawan
Fauzi,mungkin ada baiknya Pemda Sumbar untuk mempertimbangkan untuk
membangun kembali rumah2 penduduk yang roboh itu akibat gempa kemarin ini
dengan memakai design Kontruksi  Anti Gempa.
Dan alhamdulillah Pak Gubernur ternyata sebelumnya sudah membentuk Clinik
Kontruksi untuk mengakomodir ide tersebut.

Jadi usulan ambo

Bagi dunsanak2 di Palanta ko para insinyur Sipil, yang barangkali paham
dengan Design kontruksi Anti Gempa ko,mungkin ada baiknya dapat memberikan
semacam usulan,saran,design bangunan serta usulan material2 bangunan yang
nantinya dapat diusulkan untuk dipakai oleh saudara2 kita yang terkena
gempa,bila ingin membangun rumah yang baru, yang kita harapkan nantinya akan
dapat meminimalisir kerusakan bila terjadi kembali gempa yang sama di masa
mendatang.....Sebagaimana Firman Allah dalam Al Qur'an ....Apakah Engkau
Mengira bahwa Gunung-Gunung itu diam, padahal mereka sesungguhnya berarak,
bagaikan mega berarak...Firman Allah ini akhirnya mengilhami lahirnya sebuah
teori Geology yang sangat monumental  pada tahun 1975, dengan lahirnya
sebuah reori Geology yang sangat terkenal sampai sekarang ini yang
dikonsepkan oleh seorang Geologist asal Jerman Alfred Wagner dengan teori
"Plate Tectonic"nya...Teori Tektonik Lempeng....

Wassalam,
Kurnia Chalik
Ketua II MPKAS ( Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat)
  -----Original Message-----
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Behalf Of [EMAIL PROTECTED]
  Sent: Tuesday, March 20, 2007 4:07 PM
  To: [email protected]
  Subject: [EMAIL PROTECTED] Segmen Sianok Jadi Ancaman



  Ass Wr Wb
  Dunsanak di Palanta,

  Ambo dapek kiriman email dari uda Mohammad Gempita (TELKOM) dari Banduang,
satantang ancaman segmen Sianok nan baliau dapek dari koran PR Banduang.
(Email ambo copy past dibawahko)

  Mambaco artikel nantun ado beberapa poin nan bisa awak ambiak untuak
diskusi di palantako.
  1. Bangunan di Bukittinggi sekitarnyo tantu harus tahan gampo 7 SR
  2. Perumahan nan sapanjang tapi ngarai, mulai dari Birugo bungo, balakang
balok, panorama, banto laweh, bulakang RSAM, Bukik apik, jarak rumah jo tapi
ngarai sabana dakek, Tantu harus ado jarak minimal rumah dari tapi ngaraitu.

  Hal iko harus dipelajari samo PEMDA antisipasinyo, Mungkin jo syaraik IMB
nan dikaluakan, Study bandiang PEMDA ka negara yg rawan gampo, ba'a
persyaratan IMB nyo.
  Baitu juo jo rumah2 nan alah ditapi ngarai bana harus ado relokasinyo.
Bara meter jarak bangunan jo bibia ngarai nan bisa dapek ijin.


  Salam
  Dewis
  www.cimbuak.net
  Kampuang nan jauah dimato dakek dijari



  Dewis,
  Cubolah Dewis baco koran PR Bandung hari iko di
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/032007/09/0105.htm satantangan
Segmen Sianok Jadi Ancaman .
  Indak ado pilihan lain bagi dunsanak basarato ranggaek awak di kampuang,
salain membangun rumah nan minimal tahan gampo 7 SR.

  dari
  Da Gem


  Segmen Sianok Jadi Ancaman

   BANDUNG, (PR).-

  Peneliti gempa dari Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Dr. Ir. Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, masyarakat dan pemerintah
daerah di Sumatra harus mewaspadai segmen Sianok yang berada di Bukittinggi
ke arah utara. Sejak 100 tahun lebih, segmen tersebut belum pernah
melepaskan energinya.

  "Gempa yang terjadi di Sumatra Barat kemarin itu sumbernya dekat dengan
segmen Sianok," kata Danny Hilman dalam penjelasannya melalui surat
elektronik yang dikirim dari Singapura, Kamis (8/3).

  Menurut dia, gempa yang terjadi di patahan Sumatra tersebut berlangsung
selama kurang lebih dua jam. Peristiwa itu diawali dengan gempa-gempa
pendahuluan (fore shock) kemudian terjadi dua kali gempa cukup besar dengan
skala magnitudo 6,3 MW (gelombang permukaan) dan 6,1 MW.

  Berdasarkan catatan Danny Hilman, di segmen tersebut pernah terjadi dua
kali gempa berturut-turut pada 1926. Jarak waktunya hanya berbeda 30 menit
dengan kekuatan yang jauh lebih besar, mencapai skala magnitudo 7 MW atau
lebih.

  Diungkapkan, waktu itu gempa pertamanya memecahkan segmen Sumani. Namun,
setengah jam kemudian gempa kedua memecahkan segmen Sianok, dari Danau
Singkarak sampai Bukittinggi hingga Padang Panjang. "Korbannya diberitakan
hampir 300 orang."

  Simpang siur

  Sementara itu, jumlah korban gempa khususnya meninggal dunia di Sumbar
hingga kini masih simpang siur karena masih banyak daerah kabupaten/kota
belum melaporkan dengan pasti sehingga data yang dikeluarkan posko bencana
gempa di aula Pemprov Sumbar terus berubah-ubah.

  Informasi terakhir menyebutkan, jumlah korban meninggal dunia 72 orang,
turun dari sebelumnya tercatat 85 orang (data dikeluarkan pukul 10.00 WIB).

  Koordinator piket posko korban gempa bumi Sumbar, Zulfahmi mengatakan,
menurunnya jumlah korban meninggal itu karena diralat oleh kabupaten/kota
bersangkutan.

  Dicontohkan, korban gempa dilaporkan meninggal di Kota Bukittinggi, namun
ternyata warga Kota Padang. Kedua daerah itu tetap melaporkannya ke
provinsi.

  "Kita terus meminta kepada kabupaten/kota setempat melaporkan datanya per
nagari agar bisa direkapitulasi secara baik," katanya.

  Dari 72 orang yang meninggal itu terdapat di Kabupaten Solok 16 orang,
Tanah Datar (10), Padang Pariaman (3), Agam (14), Kota Solok (6), Payakumbuh
(2), Padang Panjang (10), Bukittinggi (9), dan Padang (2).

  Menko Kesra Aburizal Bakrie mengatakan, pemerintah mulai mempersiapkan
rencana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Sumbar. Para kepala
daerah setempat diberi waktu satu minggu untuk menyusun laporan kerugian
wilayah masing-masing.

  "Pascabencana, bupati dan wali kota diminta melaporkan dalam satu minggu.
Kepada Menko Kesra, presiden minta untuk memperkirakan kerusakan dan
pembiayaannya," katanya di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin, tentang hasil
rapat terbatas membahas perkembangan upaya tanggap darurat daerah bencana
gempa Sumbar dan tanah longsor di Manggarai, NTT.

  Menurut Ical -- panggilan Aburizal Bakrie -- satu minggu setelah laporan
dari kepala daerah bencana masuk, pihaknya akan mengirimkan tim verifikasi
ke lapangan. Laporan tim verifikasi inilah yang nantinya akan menjadi
patokan menghitung dana yang dibutuhkan untuk keperluan biayai rekonstruksi
dan rehabilitasi pascabencana.

  "Rehabilitasi dilakukan segera dengan dana pascabencana sesuai dengan
standar daerah lain. Pemda diminta sharing cost. Kelak bangunan yang akan
didirikan harus antigempa, Departemen PU diminta memastikan
standar-standarnya ditaati dengan benar," ujarnya.

  Peninjauannya ke lapangan kemarin, untuk mendapatkan data sementara
tentang kerusakan yang ada. Tempat tinggal warga yang mengalami rusak berat,
sedang, dan ringan, masing-masing berjumlah 1.164, 545, dan 2.119 unit.
Sementara jumlah sekolah, kantor pemerintah, dan pasar, sebanyak 20, 18, dan
4 unit. "Infrastruktur jalan amat sedikit yang rusak," ujar Ical.
(A-64/dtc)*** 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke