http://dewa-api.blogspot.com/2007/10/demokrasi-kita-mohammad-hatta.html

 

Demokrasi bisa tertindas sementara, karena kesalahannya sendiri, tetapi
setelah ia mengalami cobaan yang pahit, ia akan muncul kembali dengan penuh
keinsafan. Berlainan daripada beberapa negeri lainnya di Asia, demokrasi di
sini berurat akar di dalam pergaulan hidup. Sebab itu ia tidak dapat
dilenyapkan untuk selama-lamanya.

 

Apa yang terjadi kala itu, ialah KRISIS daripada demokrasi, atau demokrasi
di dalam krisis. Demokrasi yang tak kenal batas kemerdekaannya, lupa
syarat-syarat hidupnya dan melulu pendapat anarki, lambat laun akan
digantikan oleh kediktatoran. Inilah adalah hukum besi daripada sejarah
dunia. Tindakan Sukarno yang begitu jauh menyimpang dari dasar-dasar
konstitusi, adalah akibat daripada krisis demokrasi itu.

 

Demokrasi dapat berjalan baik, apabila ada rasa tanggung jawab dan toleransi
pada pemimpin-pemimpin politik. Inilah kekurangan pada pemimpin-pemimpin
partai seperti yang telah berkali-kali diperingatkan.

 

Demokrasi Kita, 1960

 

SEJAK awal berdirinya Republik Indonesia, Hatta sudah menolak negara yang
bersifat Negara Kekuasaan (Machsstaat). Dalam sifat negara tersebut,
kekuasaan kepala negara diberikan secara tidak terbatas. Sebaliknya, Hatta
lebih setuju bila diimbangi dengan pemberian hak-hak dasar kepada warga
negaranya, seperti hak berkumpul dan berserikat, hak menyatakan pendapat,
dan hak lainnya.

 

Dalam karangan Demokrasi Kita, Hatta menjelaskan secara gamblang, bahwa
gerakan politik demokrasi parlementer Oktober 1945 sebagai gerakan yang
diusung oleh semangat ultra-demokratis. "Sistim kabinet parlementer,"
demikian Bung Hatta, "seperti yang berlaku di Eropa Barat, dimana Pemerintah
bertanggung jawab kepada Parlemen, orang anggap lebih demokratis dari sistim
pemerintah presidensiil." Semangat ultra-demokratis ini kemudian muncul pula
ketika Undang-undang Sementara 1950 diberlakukan. Sebuah undang-undang yang
dianggap sebagai kelanjutan dari sistem demokrasi parlementer.

 

Setelah Pemilihan Umum berhasil memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan
Konstituante yang terdiri dari 19 partai politik, bertambah hingga mencapai
28 partai politik. Inilah pemilihan umum yang kelewat demokratis. Jika itu
terjadi maka membuka peluang bagi petualang politik dan manusia profitir
untuk tampil. Hasilnya anarki politik dan ekonomi, korupsi dan demoralisasi
merajalela. Pembangunan demokrasi pun terhenti karena pertarungan politik.
Demokrasi yang terjebak dalam percekcokan politik pada akhirnya memacetkan
pembangunan yang sedang berjalan. Kemakmuran rakyat yang dijanjikan sejak
Indonesia merdeka terasa semakin jauh dari kenyataan. Program-program ideal
yang disusun terlantar di tengah jalan. Jalan-jalan rusak, nilai mata uang
merosot jauh.

 

Pembangunan demokrasi pun terlantar, karena percekcokan politik senantiasa
berkecamuk. Indonesia yang adil yang ditunggu-tunggu masih makin jauh saja.
Politik yang terjebak dalam percekcokan, demokrasi yang berujung pada
anarki, pada akhirnya membuka jalan bagi terbentuknya kediktatoran.
Kedikdatoran tersebut kemudian kita kenal dengan Demokrasi Terpimpin yang
menempatkan Soekarno sebagai pusat kekuasaan. Lewat sebuah dekrit presiden,
Sukarno membubarkan Konstituante yang dipilih oleh rakyat sebelum
menyelesaikan undang-undang dasar baru. Dan, Undang-undang Dasar 1945
diberlakukan kembali.

 

Demokrasi semakin berada di nafas terakhir ketika Sukarno menunjuk langusng
anggota-anggota DPR. Demokrasi ala Sukarno pun menjadi kediktatoran yang
didukung oleh golongan-golongan pendukungnya. Bung Hatta mengkritik Sukarno,
"Bahwa Sukarno seorang patriot yang cinta kepada tanah airnya dan ingin
melihat Indonesia yang adil dan makmur selekas-lekasnya itu, tidak dapat
disangkal". Namun, Sukarno memiliki kelemahan pada tabiat dan pembawaannya,
yakni ia suka memandang garis besarnya saja, tak menghiraukan detail.
Sukarno sering mendapat hasil kebalikan dari yang ditujunya. Langkah-langkah
yang diambil kerap menjauhkan dirinya dari tujuan.

 

Memang Hatta sedang membicarakan ihwal kekuasaan tak berhingga yang dimiliki
Sukarno. Namun, Hatta tak sepenuhnya menjatuhkan kekesalan pada Sukarno dan
Demokrasi Terpimpin-nya. Hatta juga menyesalkan prilaku partai politik dan
elit-elitnya yang tak memiliki sikap kenegarawan. Hatta tak sepenuhnya
menyalahkan Sukarno. Hatta tak juga menyalahkan sepenuhnya pada demokrasi
parlementer yang mengusung semangat ultra-demokrasi. Hatta hanya menujukan
kesalahan pada kediktatoran dan para pemangku negara yang sewenang-wenang
menggunakan kekuasaannya tanpa mau memikul tanggung jawab. Dua sebab inilah
yang dikatakan Hatta sebagai penyebab krisis demokrasi di Indonesia.

 

BUNG Hatta yakin sekali bahwa "Kedaulatan Rakyat ciptaan Indonesia harus
berakar dalam pergaulan hidup sendiri yang bercorak kolektivisme. Demokrasi
Indonesia harus pula berkembang daripada demokrasi Indonesia yang asli.
Semangat kebangsaan yang tumbuh sebagai reaksi terhadap imperialisme dan
kapitalisme Barat, memperkuat pula untuk mencari sendi-sendi bagi negara
nasional yang akan dibangun kedalam masyarakat sendiri." Demokrasi politik
harus diimbangi dengan demokrasi ekonomi. Bangsa dan negara Indonesia
bercita-cita memiliki demokrasi sosial, yang mencakup seluruh hajat hidup
manusia Indonesia. Dan demokrasi itu dapat terwujud apabila ada rasa
tanggung jawab dan toleransi di antara elit-elit partai politik.

Adapun sumber-sumber yang menghidupkan cita-cita demokrasi sosial itu
menurut Bung Hatta adalah pertama, paham sosialis Barat yang telah menarik
perhatian karena dasar-dasar perikemanusiaan; kedua: ajaran Islam yang
menuntut kebenaran dan keadilan Ilahi dalam masyarakat serta persaudaraan
antara manusia sebagai mahluk Tuhan, sesuai dengan sifat Allah yang Pengasih
dan Penyayang. Dan ketiga, pengetahuan bahwa masyarakat Indonesia
berdasarkan kolektivisme. Walau krisis terus menghantam demokrasi, tapi
Hatta tetap yakin demokrasi akan tetap bertahan di tanah air Indonesia,
"Demokrasi Indonesia tidak akan lenyap dari Indonesia. Mungkin tersingkir
sementara.tetapi ia akan kembali dengan tegapnya. Memang tak mudah membangun
suatu demokrasi di Indonesia, yang lancar jalannya. Tetapi bahwa ia akan
muncul kembali, itu tak dapat dibantah." Keyakinan salah seorang proklamator
kemerdekaan Indonesia disertai dua alasan. Pertama, cita-cita demokrasi
sudah tertanam sejak Indonesia merdeka diperjuangkan. Kedua, pergaulan hidup
masyarakat Indonesia aseli yang berlandaskan demokrasi hingga kini masih
bertahan di desa-desa.

 

(Arahman Ali)

-- 
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://forum.rantaunet.org/showthread.php?tid=1
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/



Kirim email ke