Mak Chairul Djamal nan ambo hormati, 

Nan tapikia dek ambo, paralu bana dilakukan verifikasi anggota lapau pado maso 
nan akan datang, sahinggo jaleh siapo urangnyo, dimano domisilinyo, kontak 
personnyo, apo bidang keahliannyo, dimano asa nagarinyo. Dengan baitu, pabilo 
ado hal urgent nan paralu ditindaklanjuti sacapeknyo bisa pulo sato sakaki 
menyampaikan kaba atau manolong saketek pulo sasuai keahlian, tampek domisili, 
ataupun asa nagari. Hal iko alah menjadi standar umum pado organisasi radio 
amatir di negara kito ko, sahinggo misi tolong manolong bisa labiah 
disamparonokan dalam bamilis-milis nan ko.

Salain itu, anggota nan alah terverifikasi, patuik pulo membantu operasional 
milis sakali satahun. Misalnyo sajo kito tetapkan biayanyo Rp. 100.000 satahun 
sakali. Kalau kini member palanta alah ado 1965, kalau verifikasi alah 
dilakukan, mungkin tasisiah atah jo bareh, mano akun nan aktif mano pulo akun 
nan indak pernah bapakai lai atau nan alah kanai bajak nan acok mangirim ulek 
uro-uro. Kito kaji sajolah tingga sapatigo sajo lai, itu aratinyo ado 655 akun 
nan tasiso. Dari 655 akun nan tasiso nan ko, satiok tahun bisa kito kumpuakan 
paliang indak sebesar Rp. 65. 500.000 nan alah labiah dari cukuik untuak 
mambuek sebuah server sarato operasional domainnyo. Siso dananyo bisa 
dimasuakan pado kas nan akan panguno untuak kegiatan dimaso nan akan datang. 
Tantunyo, kas nan ko akan tambah rancak pabilo ditukakan ka ameh nan 
bersertifikasi dari PT Antam, sahinggo nilainyo indak pernah turun 
(terdevaluasi) dek karano nilai tukar pitih awak taruih turun dari
 tahun ka tahun.

Kok dikana-kana, dalam 20 tahun ko, iyo sabana tajadi 'pembiaran' sajo dalam 
manajemen milis nan ko. Kok dipadiarkan sajo taruih samacam iko, akan banyak 
mudharatnyo dimaso nan akan datang. Ambo takana baa nan kini acok tajadi di 
group RantauNet di situs jejaring sosial FB, dek karano verifikasi indak ado, 
alah bahondoh poroh sajo nan masuak, sahinggo labiah banyak nan basisalak dari 
pado badiskusi, menjalin silaturahim & babuek untuak ranah Minang.

wasalam

AZ/lk/34th/caniago
Sawah Tongah, Kubang
sadang di dangau      
 


________________________________
 Dari: Chairul Djamal <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Dikirim: Jumat, 15 Maret 2013 10:00
Judul: Re: [R@ntau-Net] Sejarah Lapau
 

Dalam rangko memperingati 20 tahun lapau RN, ambo copas kilas balik 20 Tahun 
YRN ( imajiner) nan ditulih dek sanak awak Zultan sebagai ilustrasi sajo :


From:                              [email protected] on behalf of zul 
tan
[[email protected]]
Sent:                               Tuesday, January 26, 2010 10:26 PM
To:                                   [email protected]
Subject:                          [R@ntau-Net] Kilas Balik 20 Tahun YRN 
(imajiner)
 
Kilas Balik 20 Tahun YRN (imajiner)
 
Sebagian di antara Anda mungkin tidak tahu bagaimana sejarah panjang eksistensi 
YRN.  Enam tahun sebelum lahir YRN gugur ketika masih dalam kandungan.  Waktu 
itu tinggal menanti hari, ketua sudah ditunjuk, susunan penguruspun demikian 
pula.  Entah kenapa setelah pembentukkan ini, hampir tidak ada aktivitas 
apapun.  Bahkan para pengurusnya seakan lenyap ditelan bumi.  Hanya komunitas 
maya melalui RantauNet yang terus berlanjut.
 
Enam tahun kemudian, datanglah gagasan dari salah satu orang gaek kita yang 
mukim di negara Mak Obama.  Beliau adalah Ajo Data.  Ini kejadian dua puluh 
tahun yang lalu.  Kini beliau berusia kira-kira 83 tahun dan tampaknya sudah 
tidak aktif lagi dan mungkin saat ini tengah bercengkerama dengan anak cucu, 
entah di Amerika, Jakarta, atau di kampung halamannya.  
 
Kelahiran kedua ini pun hampir saja mengulang kegagalan masa lalu tapi akhirnya 
dengan “mengejan” sangat kuat akhirnya si YRN ini lahir dengan selamat.  
Padahal kalau dipikir-pikir hampir tidak masuk di akal ini bisa terjadi.  
Kenapa?  Bayangkan saja ketika rapat pertama pembentukan YRN yang digagas oleh 
Ajo Data yang sengaja datang ke Jakarta dari Amerika hanya di hadir 10 orang 
yang sudah (maaf) “gaek-gaek” pula.  Mereka adalah DR. Syamsudin Bakar, Askim 
Nurkasan, Basril Koeis, Inyiak Monako, Rusdi Chaniago, Lainal Lais, Zorro 
Ganas, Kayapun Nikmat, Isma Curiahati, dan Ajo Data sendiri.
 
Dua minggu menjelang rapat pertama ini, lapau sangat riuh.  Ada yang mendukung 
karena yakin ini niatnya baik dan caranya pun baik dan tidak pula bersifat 
memaksa.  Tapi tak kurang pula yang menolak atau kalau pun tidak 
terang-terangan tapi nampak nyinyia bertanya segala macam.  Ajo Duta seperti 
diserang dari segala penjuru mata angin.  Bahkan sangat ingat di benak saya, 
seorang ibu yang dosen senior di universitas negeri Bengkelan, kalau tidak 
salah bernama Habisah Damam, entah mengapa mengancam akan mundur dari lapau 
bila YRN ini tetap didirikan.  Belakangan diketahui alasan kemundurannya bukan 
menolak kehadiran YRN tapi keberatan bila Yessi Rona pendiri RN tidak 
dilibatkan. Banyak orang menyayangkan karena ibu ini aktif dan kreatif.  Banyak 
puisi yang ditulis oleh beliau.  Tidak hanya itu, beliau pun pintar pula 
menyelesaikan soal-soal matematika yang dilansir oleh beberapa orang ke 
Palanta.  
DR. Basriel Noemanapernah membuat sebuah puisi indah khusus untuk membujuk 
bujuk beliau untuk tetap hadir di lapau.  Tapi rupanya nasi telah menjadi 
bubur.  Sesaat sepeninggal beliau lapau terasa sepi.  Tapi untunglah tidak 
berlama-lama.  Lapau kembali ramai.  Saya tidak tahu dimana beliau kini berada. 
 Umurnya sekarang kira-kira 68 tahun.  Dua tahun lebih muda dari saya.  Mungkin 
sudah pensiun dengan gelar profesor, insyaallah.
 
Ada beberapa orang yang sangat berjasa dalam membidani kelahiran YRN ini.  Di 
antaranya adalah DR. Syamsoedin Bakar.  Beliau ini mantan orang gadang di PT 
Semen Padang yang dulu sangat terkenal dan menjadi kebanggan orang Minang.  
Kini nama itu sudah tinggal kenangan karena sudah diambil alih oleh West China 
Cement Tbk melalui PT Semen Gresik Tbk.  Beliau adalah seorang intelektual.  
Hingga usia 75 tahun beliau masih mengajar di Bahanas (d/h Lemhanas).   
Semangat beliau luar biasa dalam banyak hal.  Kami yang muda-muda ketika itu; 
saya masih 49 beliau 73 tahun, sebenarnya merasa malu dengan semangat beliau 
dalam mewujudkan YRN ini.   Tentu dengan melihat perkembangan YRN sekarang Anda 
heran dengan sikap itu.  Jujur saja kami tidak punya visi apapun bahwa YRN akan 
bisa seperti ini.  Bahkan ada anggota lapau yang bekerja di Senayan ketika itu 
mengatakan bahwa sangat sulit mengurus yayasan.  Beliau sudah berpengalaman 
dengan banyak yayasan. 
 Walaupun beliau tetap mendukung, sedikit banyak pendapat ini memengaruhi orang 
yang memang ragu-ragu sejak awal.  Mengingat YRN bukanlah yayasan pertama 
dilingkungan orang Minang perantauan yang hidup segan mati tak mau, sangatlah 
wajar keragu-raguan ini bertambah tebal.  Bagi yang pesimis, merasa YRN akan 
seperti yayasan-yayasan itu.
 
 
Singkat cerita berdirilah YRN pada tanggal 5 Februari dua puluh tahun yang lalu 
di sebuah Rumah Makan Kubang di daerah Kalimalang yang kini sudah menjadi 
Golden Skypark pusat perbelanjaan termegah dan terbesar di wilayah Jakarta 
Timur.  Dulu sangat sulit menjangkau lokasi ini khususnya pada jam-jam pulang 
kerja dan bisa menghabiskan waktu 2 jam dari Semanggi.  Tidak seperti sekarang 
tinggal naik MRT dalam waktu 10 menit kita sudah sampai di GS.  
 
Kini dengan aset US$ 20 miliar dan meningkat sekurangnya 10% pertahun banyak 
orang yang menginginkan saham YRN yang kebetulan sudah listed sejak delapan 
tahun yang lalu di Bursa Efek Nasional (d/h BEI).  Dulu preference stock YRN 
hanya dihargai Rp 100.000/lembar.  Pendiri mendapatkan saham bonus 10% lebih 
banyak dengan harga yang sama.  Dalam 20 tahun nilainya meningkat menjadi Rp 5 
juta.  Jujur, saya menyesal hanya membeli 1000 lembar secara bertahap.  
Sedangkan common stock-nya saat IPO diharga Rp 1.800 sudah naik menjadi Rp 
25.000, hampir 1.300 persen hanya dalam kurun delapan tahun.  YRN sekarang 
menjadi salah satu perusahaan blue chip di BEN.  Dan karena menjalankan bisnis 
secara islami maka masuk JII (Jakarta Islamic Index).  Nama YRN makin menjulang 
sejak mereka membantu korban gempa Mentawai beberapa tahun yang lalu yang 
berakibat luluh-lantaknya sebagian wilayah di Sumatera Barat.  Belum pernah ada 
dalam sejarah Indonesia sebuah
 perusahaan swasta berani memberikan sumbangan gempa senilai satu triliun 
kecuali YRN.  Manajemen YRN menganggap ini sebagai salah satu aksi corporate 
social responsibility.  
 
 
YRN awalnya hanya mengelola penerbitan buku-buku yang ditulis orang-orang lapau 
seperti Andra G. Pailang, Ries Suryati, dan Eltaft.  Salah satu pendiri YRN 
Askim Nurkasan mengusulkan agar buku-buku ini dijual dengan cara berbeda.  
Produk YRN harus memenuhi 3 kriteria:  murah, mudah, dan cepat.  Murah? Ya jual 
dalam bentuk e-book dalam dua harga. Harga temporer (dibatasi waktu) atau harga 
permanen (untuk dimiliki).  Sebagai contoh buku AGP yang berhalaman 400 dijual 
seharga Rp 4.000 (Rp 10/halaman) untuk pemakaian 30 hari.  Setelah beredar 12 
bulan, buku ini dilanggani oleh 1 juta orang.  Ini baru 10% dari jumlah orang 
Minang di wilayah Jabodetabek yang jadi captive market bagi produk-produk YRN.  
Nilai penjualan buku AGP ini mencapai Rp 4 milyar/bulan, tiga puluh persen 
kembali ke penulis.  Bayangkan lebih dari Rp. 1 milyar perbulan untuk AGP.  
Wajar saja AGP akhirnya menolak untuk dicalonkan lagi menjadi wakil rakyat dari 
Partai Dolkar.  AGP
 merasa lebih tenang dan nyaman mencari nafkah dengan cara ini.  Terbebas dari 
uberan GPK (d/h KPK).  YRN memang hebat.  Sukses ini tidak terlepas dari hasil 
kreativitas Askim Nurkasan.  YRN memutuskan siapapun yang memberikan gagasan 
dan bisa dijual serta menguntungkan akan menerima royalti 10% dari laba.  
Gagasan ini tidak hanya terbatas  bagi orang lapau saja tapi terbuka juga buat 
orang dapur dan orang luar, orangtua bahkan orangutan sekalipun.
 
Ketika YRN masuk kebisnis telekomunikasi, melihat ketatnya persaingan hingga 
perang harga yang tak ada habisnya, salah seorang anggota lapau bernama ZulDan 
yang berharap mendapatkan royalti pula, mengusulkan agar pulsa telpon genggam 
digratiskan.  Ide ini sangat mengagetkan.  ”Dari mana keuntungan diperoleh?” 
sergap pendiri.  ZulDan mengatakan bahwa keuntungan diperoleh dari si pemasang 
iklan.  Caranya?  Setiap pelanggan yang ingin menelpon secara gratis harus 
menekan tombol #YRN* untuk mendengarkan iklan di HP-nya terlebih dahulu.  
Setiap mendengarkan satu iklan pelanggan berhak menelpon selama satu menit.   
Kemudian mendengarkan lagi agar dapat menelpon kembali, demikian seterusnya.  
Bagi yang tidak bersedia mendengarkan harus tetap membayar pulsa.  Agar klien 
tertarik maka cost-per-contact iklan HP harus jauh lebih murah dibandingkan 
iklan radio.  Ingat keunggulan produk YRN murah, mudah, dan cepat.  Sebaliknya 
ketika memasuki industri
 televisi YRN justru membebaskan produsen untuk memasang iklan tanpa bayar.  
Deal-nya melalui pembagian keuntungan yang diperoleh produsen setelah beriklan. 
 Besarnya persentase tergantung banyaknya frekuensi tayang, durasi iklan, dan 
jenis acara, prime time misalnya.
 
YRN kemudian berkembang dengan mendirikan e-Universitas dengan jumlah mahasiswa 
saat ini lebih kurang 500.000.  e-Universitas tidak memerlukan ruangan.  Kuliah 
dilakukan melalui telekonferens.  Biaya SKS hanya Rp 10.000/bulan.  E-bimbel 
pun dilakukan dengan cara yang sama (telekonferens) dengan murid hampir 1 juta 
orang di seluruh Indonesia, dengan biaya yang sangat murah, Rp. 
10.000/pertemuan.  Kedua jenis pendidikan ini dapat diakses melalui Blueberry, 
Aquarius, Leo dan sejenisnya, selain televisi.
 
Akan sangat panjang sekali bila perjalan success story YRN dari dulu hingga 
kini diceritakan disini.  Prinsip YRN: lebih baik tidak berbisnis kalau hanya 
sama seperti yang lain.
Saat ini ada beberapa proyek YRN yang sedang dalam proses di antaranya:
1.        Tender offerterhadap West China Cement Tbk untuk mengembalikan 
kejayaan Semen Padang seperti yang diusulkan DR. Syamsoedin Bakar.  
2.        Membeli right mobil berbahan bakar angin yang dirancang oleh 
mahasiswa ITS, Surabaya.  Saat ini dalam uji coba Jakarta-Solo-Jakarta hanya 
menghabiskan 1 liter bensin.  Bensin hanya digunakan pada saat perlu saja 
(TEMPO, 31 Januari 2010).
 
Mohon maaf apabila ada penamaan yang mirip karena memang disengaja supaya tidak 
serupa.  Semuanya hanya imajinasi penulis.
 
Wassalam,
ZulTan,
L, 49+, Bogor
26 Januari 2010 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.


Kirim email ke