Pengakuan Mak Kutar
Dahulu kala ketika aku masih ABG, kampungku yang subur, penduduk yang rajin bekerja dan rajin beribadah, serta memiliki budaya yang sangat tinggi, menjadikan kampungku yang indah permai aman dan makmur. Hampir setiap Minggu ada penduduk yang menggelar pesta adat, sehingga kampung terlihat semarak dengan pakaian ibu-ibu dan anak-anak yang indah-indah. Banyak rumah yang pintu dan jendelanya terbuka lebar sepanjang hari tanpa khawatir akan kedatangan tamu yang tak diundang. Anak-anak dan teman-temannya bebas keluar masuk rumah. Begitu juga dengan ibu-ibu sapasukuan, bebas keluar masuk rumah, kadang saling intip dapur dan menanyakan apa yang sedang dimasak. Kadang saling tukar masakan. Bergulirnya waktu, berubahnya pola kehidupan dan kebutuhan di tengah masyarakat, ikut mengubah keamanan dan kemakmuran kampungku. Hidup sebagai petani tidak lagi bisa jadi kebanggan seperti dulu itu, dimana ada petani cabe yang mampu menunaikan ibadah haji dengan menabung hasil jualan cabenya. Pertambahan penduduk dan tidak bertambahnya lahan pertanian, hasil tani yang kadang tak laku dipasaran, sementara kebutuhan meningkat tajam, ditambah lagi dengan adanya pecandu narkoba dan lem yang membuat pemakainya lupa daratan, telah membuat kampungku menjadi kampung kriminal. Teriakan-teriakan kemalingan dari kampungku tak lagi ada yang peduli. Kemalingan teranyar dengan jumlah kehilangan puluhan juta dari uang tabungan masyarakat, juga tak ada yang peduli. Langkah terakhir yang dilakukan masyarakat yang merasa kehilangan adalah dengan menggelar ‘Ratik” selama seminggu di Mesjid. Sebulan setelah kejadian itu, menjelang bulan suci Ramadhan, Mak Kutar pulang kampung. Agak berbeda dari biasanya, mak Kutar yang selama ini tak pernah sholat di Mesjid kali ini mendatangi Mesjid ketika azan Magrib berkumandang. Pemandangan langka menimbulkan tanda tanya orang-orang yang berpapasan dengannya. Ada juga yang menepuk pundaknya sambil tersenyum mengucapkan rasa syukur akan perubahan sikap Mak Kutar tersebut. Usai sholat Magrib, ketika imam dan makmum lainnya berdoa, tiba-tiba Mak Kutar berdiri dan menghampiri Nyiak Imam. Mak Kutar sujud kehadapan Nyiak Imam yang duduk menghadap utara. Kejadian mendadak tersebut membuat semua orang mengubah duduk dan menghentikan doanya. Ibu-ibu yang heran mengapa doa terhenti, menyibakkan tirai pembatas dan melihat apa yang terjadi. Pelan-pelan terdengar isak tangis Mak Kutar. Dengan suara terbata-bata Mak Kutar berkata “Nyiak, maafkan salah awak, awak khilaf, awak nan mamaliang uang Mesjid nan hilang itu”. Nyiak Imam yang sudah lanjut usia agak tersentak dan terdiam mendengar pengakuan itu. Mak Itam yang duduk dekat Nyiak Imam, menggeser duduknya dan mencoba menggantikan Nyiak Imam untuk menjawabnya. “Baa mangko tega waang mancilok tabuangan amai-amai waang, etek waang, sanak-sanak waang”, tanya Mak Itam yang tak mampu menahan emosi. “Awak khilaf Mamak”, jawab Mak Kutar. Tangan Mak Itam yang sudah terangkat untuk menampar Mak Kutar, ditangkap dengan sigap oleh Mak Jon. “Saba Mak, saba, awak di Mesjid, labiah elok awak tanyoi, apo nan mambuek Mak Kutar jadi sadar dan mangaku”, Jawek Mak Jon bijak. “Duduaklah Mak Kutar elok-elok”, kata Mak Jon. “Cubo Mak Kutar caritokan ka kami apo nan membuat Mak Kutar berubah pikiran”, lanjut Mak Jon. Pembatas ruang disingkirkan, sehingga ibu-ibu ikut mendengarkan pengakuan Mak Kutar. “Lantunan La illa ha illallah basamo-samo jo panuah parasaan tiok subuah buto itu, suarano menggema ka angkasa dan sampai ke talingo awak, dan manusuak ka kalbu awak” jawek Mak Kutar. “tabayang di awak maso ketek sangkek mangaji di Surau Batu. Takana pulo carito Mak Datuak tantang urang nan kanai kutuak, iyo tabik garik wak. Sajak itu ndak sanang hati wak lidoh, kian kamari pai hati galisah. Tabayang pulo bara kamalu sanak sudaro awak, kok sampai awak mati menggenaskan dalam palarian”, lanjut Mak Kutar tabata-bata. “Kini ma pitih nan mak Kutar Maliang dun?”, tanyo Mak Jon. “Awak mintak mauf Mamak, alah abih untuak pambaia utang wak, jo biaya palarian awak”, jawek Mak Kutar. “Sampai hati waang Kutar”, kato Nenek Lela taisak. “Caliaklah diang parasaian den Kutar, parak nan indak bauntuang, padi nan ampo pulo dek angin kancang, den sisiahkan sangenek pakiriman etek ang untuak tabungan qurban den nantik”, lanjut Nenek Lela. “Nenak Lela tananglah nek, awak di Musajik”, kato Mak Jon memintas supaya yang lain tidak ikut mengomel. …. “Alah masuak wakatu Isya, azanlah li Mak Garin”, kata Mak Jon. Azan Isya pun berkumandang. Pembatas ruang kembali dipasang ditempatnya. Untuk mendinginkan kepala dan hati yang panas, sebagian besar jamaah Mesjid mengambil wuduk untuk menunaikan Sholat Isya berjamaah. Padang, 5 Juli 2013 Hanifah Damanhuri -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
