LURAH KINCIA DAN TRAGEDI SITUJUAH Kamis, 15 Januari 2015 02:29 *Lurah* Kincia, begitu nama tempat itu disebut. Sebuah daerah yang letaknya tersembunyi dari pemukiman penduduk Nagari Situjuah Batua. Di tempat ini, pernah terjadi sebuah peristiwa berdarah yang berujung pada meninggalnya beberapa orang tokoh pejuang Republik Indonesia. Tidak banyak yang tahu, betapa pentingnya arti tempat ini bagi kelangsungan Perjuangan Indonesia dari usaha Belanda yang hendak merebut kembali kedaulatan Indonesia setelah proklamasi dikumandangkan oleh Soekarno dan Muhammad Hatta.
Segenap hati dan nurani rakyat Indonesia tidak lagi menerima kehadiran Belanda di Bumi Pertiwi pasca proklamasi. Dengan kegigihan dan keberanian, pejuang Indonesia mengangkat senjata secara seksama guna mengusir Belanda di Bumi Ibu Pertiwi ini. Perlawanan ini tiada lain untuk mewujudkan kehidupan yang bebas dan membangun negara Indonesia secara mandiri tanpa ada campur tangan bangsa asing. Nama Situjuah mulai mengemuka berawal dari jatuhnya Bukittinggi sebagai Pusat Pemerintahan Sumatera Tengah dan menimbulkan inisisatif dari beberapa pimpinan yang ada di Bukittinggi. Inisiatif pertama datang dari Tengku M. Hasan yang menyarankan agar mengadakan pertemuan bersama antara Tengku Muhamammad Hasan (Komisariat Pemerintahan Pusat), Mr. M. Nasroen (Gubernur Sumatera Tengah) dan Mr. Sjafruddin Prawira Negara (Menteri Kemakmuran ) yang kebetulan sedang berada di Sumatera ( S M Rasyid, Et.Al. Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau Jilid II.Jakarta. Hlm.53). Pertemuan itu diadakan di gedung kediaman Wakil Presiden M. Hatta. Karena pertemuan tersebut tidak membuahkan hasil yang diinginkan maka pertemuan diadakan lagi di rumah Mr. Tengku Mohammad Hasan. Ada dua hal yang penting digariskan dalam dua pertemuan itu, yaitu ide untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan segera mengimbau rakyat untuk mengungsi. Pada tanggal 22 Desember, dengan berbagai pendapat serta ide-ide untuk kembali membentuk pemerintahan darurat agar dilangsungkan karena PDRI perlu didirikan untuk menjaga agar jangan terjadi vakum kekuasaan. Segera pada tanggal tersebut PDRI disusun dan kemudian diumumkan ke seluruh pelosok Nusantara bahkan ke mancanegara. Selanjutnya dipilihlah Kabupaten Lima Puluh Kota sebagai pusat pemerintahan dan basis bagi PDRI tepatnya di daerah Koto Tinggi. Dipilihnya Koto Tinggi sebagai pusat pemerintahan dikarenakan tempatnya dianggap aman dan strategis maka para petinggi militer dan beberapa pejuang mulai bergerak ke Kabupaten Limapuluh Kota dengan segera. Namun kegiatan di Kototinggi ternyata tidak berjalan lama, keamanan di Koto Tinggi pun ternyata tidak seperti yang diharapkan, musuh mulai mencium keberadaan para petinggi militer dan beberapa pejuang republik. Tentara Belanda segara bergerak ke Kototinggi pada tanggal 10 Januari 1949 dan pada tanggal itu juga menyerang Kototinggi, serangan ini bagi musuh sangat penting karena Koto Tinggi adalah tempat kedudukan gubernur militer Sumatera Barat dan juga dianggapnya sebagai tempat kedudukan PDRI. Selanjutnyaperjuangan dilanjutkan ke daerah Situjua. Berdasarkan perintah dari Gubernur Militer dan Panglima Divisi Banteng Kolonel Dahlan Ibrahim memerintahkan untuk segera melaksanakan pertemuan besar-besaran untuk penelamatan republik ini kedepannya. Rapat antara petinggi militer dan tokoh PDRI ini dilaksanakan di sebuah tempat yang bernama Lurah Kincia. Rapat tersebut dihadiri oleh sekitar 30 orang. Daerah Situjuh dipilih sebagai tempat rapat tentu berdasarkan pertimbangan yang telah disepakati bersama, alasan dipilihnya Situjuh adalah selain karena letak geografisnya yang menguntungkan, Situjuh hanya mempunyai satu jalan masuk dan dua jalan tikung untuk keluar jadi hanya jalur itu saja kemungkinan besar musuh akan melewatinya. Meskipun tempatnya tersembunyi dan terpencil namun tempat tersebut belum tentu berada dizona aman dari patroli Tentara Belanda jadi kewaspadaan terhadap serangan Belanda harus selalu siap-siaga. Namun apalah daya, rapat yang berjalan dengan sebuah niat untuk menjaga keutuhan bumi pertiwi dari cengkeraman Belanda berubah menjadi sebuah peristiwa yang nahas. Belanda akhirnya mengetahui posisi rapat dan segera menyerang tempat tersebut. Tercatat beberapa peserta rapat akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Nama-nama seperti Chatib Soelaeman, Bupati limapuluh kota, Arisum St. Alamsyah, Letkol Munir Latif (komandan militer dari Painan), Mayor Zainuddin, Kapten Tantawi, Letnan Anizar, Sjamsul Bahri, Rusli, Baharuddin dan sejumlah penduduk sipil dan militernya harus meregang nyawa diujung peluru serdadu Belanda. Tidak berhenti sampai di situ, Peritiwa Berdarah 15 Januari yang merenggut nyawa para pejuang juga diikuti oleh pembantaian terhadap rakyat sipil yang dilakukan serdadu Belanda. Setelah menyerang Lurah Kincia, tentara Belanda melakukan swepping ke area pemukiman penduduk. Setiap laki-laki yang mereka jumpai dikumpulkan kemudian dibunuh secara sadis bagi mereka yang dianggap sebagai pejuang. Tidak sedikit rakyat sipil yang berhasil ditangkap dan dibunuh oleh serdadu Belanda. Mereka yang dicurigai langsung ditangkap dan di eksekusi. Mereka yang tak bersalah akhirnya harus mendapatkan siksaan yang diberikan oleh tentara Belanda. Buntut dari peristiwa ini ialah keamanan masyarakat yang terusik dan mulai menimbulkan kekacauan. Lebih dari itu, mereka yang anggota keluarganya ditangkap dan dieksekusi oleh serdadu Belanda harus menanggung beban hidup yang amat berat. Tidak sedikit istri yang berubah status menjadi janda, anak-anak yang menjadi yaitk dan bujangan yang harus meninggalkan orang tuanya. Keadaan tersebut terasa amat pahit bagi mereka yang ditinggalkan. Janda-janda harus berjuang untuk menghidupi anak-anaknya. Tak terbayangkan bagaimana kerasnya kehidupan yang mereka jalani. ******** Peristiwa Situjuah Batua tanggal 15 Januari 1949 dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di Minangkabau tidak dapat dilupakan begitu saja. Peristiwa sedih dan mengejutkan ini pada awalnya merupakan rapat penting untuk mengkonsolidasikan kekuatan perjuangan melawan Belanda tiba-tiba berubah menjadi tragedi yang memilukan. Bahkan inilah kejadian yang paling tragis yang pernah dialami sumatera barat selama perjuangan mempertahankan kemerdekaan di daerah ini, karena menewaskan 69 orang termasuk para pemimpin terbaik dari kalangan sipil dan militer.Kesibukan-kesibukan di Situjuh Batur pada tanggal 14 januari 1949 bukan hanya sekedar langkah kecil dengan tujuan terbatas untuk Sumatera Barat saja, tetapi merupakan salah satu usaha untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa. Pada periode ini rakyat Indonesia hanyut kepada sebuah perjuangan dan perperangan dengan Militer Belanda yang kembali dengan misi imperialismenya. Walaupun Tragedi Situjuah telah berlangsung 65 tahun yang silam. Namun, memory dan kenangan pahit tersebut masih menggema di benak masyarakat Situjuah. Walaupun duka mendalam yang mereka rasakan saat menceritakan nasib orang tuanya yang dibantai dengan kejam oleh serdadu Belanda, akan tetapi dalam wajah dan hati sanubari mereka tidak menampilkan dendam layaknya seorang yang tak beriman. Nama-nama yang gugur dalam tragedy 15 Januari 1949 ini telah mekar. Semangat juang dan nasionalisme mereka menjadi teladan bagi generasi penerusnya. Tak ada lontaran sumpah serapah dari mulut anak-anak ibu pertiwi, mereka hanya terus hidup dan bertahan untuk keluarga mereka yang masih hidup. Sebab sejarah bukanlah media untuk memupuk dendam akan peristiwa masa lalu. Sejarah tidak lebih dan tidak kurang adalah sarana yang membawa kita pada sebuah arti kebijaksanaan (wisdom).*** *ARFAN ARI SHANDY* (Alumni Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang) -- *Wassalam* *Nofend St. Mudo38th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola * -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
