Selasa, 17 Februari 2015 03:06

*HAJI *Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) adalah ba­­gian sejarah dan
to­koh nasional yang layak diteladani. Pribadi yang me­miliki ragam
pengalaman, sarat ilmu, dan tak mundur langkah di hadang rezim pe­merintah.
Keberanian Hamka per­nah mengantarkannya ma­suk pen­jara tanpa peradilan
selama dua tahun empat bulan. Tuduhan atau fitnah yang di­tim­pakan di masa
orde lama itu adalah subversif.

Di penjara Sukabumi, pria yang juga akrab disapa Buya Hamka ini mengalami
per­lakukan yang tidak pantas dan cenderung penyiksaan. Meski demikian,
kelahiran 17 Fe­bruari 1908 itu tidak me­nyimpan dendam dan ikut
men­sha­lati jenazah Bung Kar­no. Bahkan konon, pimpinan orde lama itu
sendiri yang meminta Hamka memimpin shalat jenazah tersebut.

Pada zaman orde baru, saat menjadi ketua MUI dan me­nge­luarkan fatwa haram
bagi umat islam untuk me­lak­sa­nakan natal bersama, dia me­nga­lami
tentangan dari banyak pihak. Pe­merintah juga tidak seja­lan dengan
pemikiran te­r­s­ebut.

Akhirnya, ayah dari dua belas anak itu rela melepaskan jabatan dengan
te­tap me­me­gang prin­sip. Ter­lepas dari pro-kon­tra fatwa, paling tidak,
keteguhan hati dan tang­gung ja­wab to­koh Muham­ma­­di­yah ini ter­ha­dap
ij­ti­had-nya pantas diacungi jem­pol.

Sebuah pan­tun yang digu­bah Datuk Pan­duko Alam da­lam bu­ku *Ran­cak di
La­­buh*, menjadi pelecut se­mangat dan ke­be­ranian Hamka dalam
meng­hadapi hidup. Ini me­ngins­pirasi lelaki yang tak pernah tamat
pen­didikan for­mal tersebut untuk selalu optimis dan pantang takut pada
apapun jua.

*Putuslah tali layang / Ro­bek kertasnya dekat bingkai / Hidup nan jangan
manga­palang* (hidup jangan tang­gung-tanggung) / *Tidak punya berani
pakai* (jika
tergolong bukan orang yang berpunya atau kaya, pakailah keberanian sebagai
modal).

Mungkin tidak banyak o­rang t­ahu kalau Hamka muda adalah pimpinan di
sejumlah angkatan perjuangan. Pemuda yang pada usia 18 tahun nekat belajar
di Mekkah meski ke­mampuan bahasa arab-nya ma­sih minim tersebut aktif di
medan perang dan jadi target penjajah. Dia sempat menjadi pimpinan di Front
Ke­mer­dekaan Sumatera Barat, Ten­tara Keamanan Rakyat, Front Per­tahanan
Nasional, dan Barisan Pengawas Negari dan Kota.

Atas jasanya di masa per­juangan kemerdekaan, Jen­deral Nasution di tahun
1960 pernah menawari-meski ke­mudian ditolak secara halus—penulis *Di Bawah
Lindungan Ka’bah* ini pangkat kehor­matan Mayor Jenderal Tituler. Walaupun
hanya pangkat ke­hor­matan, fasilitas yang dida­pat sama dengan pang­­kat
karir.

Irfan Hamka, putra kelima Buya Hamka, menulis buku berjudul *Ayah...* yang
dide­dikasikan bagi peraih Doktor Honoris Causa dari Univer­sitas Al Azhar
tersebut. Isi buku terbitan Republika tahun 2013 itu tidak melulu soal
pemikiran seni, budaya, aga­ma, dan politik penulis tafsir Al Quran
monumental *Al-Azhar* tersebut. Irfan juga mengisahkan banyak penga­laman
selama hidup bersama Hamka hingga sang panutan meninggal dunia.

Dari buku ini tampak kete­nangan Hamka dalam men­jalani hidup. Bagaimana
ke­besaran jiwa dan karakter pasrah pada sang khalik, telah i­d­en­tik bagi
pria yang men­dapat predikat resmi Pah­lawan Nasional pada 2011 tersebut.

Dalam sebuah perjalanan darat dengan mobil dari Irak menuju Mekkah bersama
istri (Siti Raham Ra­sul), Irfan, dan se­orang sopir (U­­mar), Ham­ka tak
henti memberi motivasi dan mene­nang­kan semua pe­num­pang. Sebab, berulang
kali mereka men­dapat pengalaman menegang­kan dalam per­ja­lanan tiga hari
empat malam di tahun 1968 itu. Misalnya, saat mobil me­reka nyaris diter­pa
angin topan gurun, dikejar air bah selepas hujan yang tiba-tiba turun, dan
saat mobil nyaris terguling karena Umar tertidur sambil menyetir sa­king
lelahnya (hal: 162)

Hamka juga begitu bijak saat mengetahui kalau seru­mah dengan jin. Makhluk
ha­lus yang dijuluki *Innyiak Ba­tungkek* (kakek bertongkat) itu kerap
menimbulkan suara aneh atau menggerak-ge­rak­kan sesuatu. Dalam sebuah
“ritual” kecil, mantan aktivis dan tokoh Yayasan Pesantren Indonesia itu
bercakap-cakap dengan *Innyiak *melalui sim­bol-simbol ketukan.

Pria yang menolak tawaran menjadi Dubes RI di Arab Saudi karena ingin fokus
me­ngem­bangkan Masjid Agung Al A­zhar Kebayoran Baru ini tidak lang­sung
mengusir jin. Mes­kipun sebenarnya sanggup me­­nge­­nyah­kan *Innyiak* dari
ru­mah tersebut, dia me­mutuskan un­tuk hidup berdampingan. De­ngan
catatan, jin tersebut berhenti meng­ganggu keluar­ganya (hal: 69).

Salah satu yang turut me­warnai buku ini adalah kata pengantar yang ditulis
Dr Tau­fiq Ismail. Taufiq menyi­sipkan tentang kondisi sebe­rang pen­dapat
antara Pra­moedya Anan­ta Toer dan Ham­­­ka. Be­tapa dulu Pram kerap
melon­tarkan kritikan keras pada karya dan pe­mi­kiran Hamka. Semisal, saat
halaman *Lentera* yang diasuh Pram di harian *Bintang Timur* melansir
tudi­ngan pla­giat un­tuk karya Ham­ka ber­judul *Tenggelamnya Ka­pal Van
der Wijck*.

Seberapapun keras dan ber­tolak belakang pemikiran dua sastrawan besar
tersebut, ter­nyata di masa tua, Pram me­nyuruh calon me­nan­tunya be­lajar
agama pa­da Hamka. Ula­ma besar yang sempat ru­tin mengisi pengajian di RRI
dan TVRI itu pun ti­dak ke­beratan. Taufiq yang bisa dibi­lang salah satu
saksi hidup “per­tikaian” mereka di masa lalu, kini bersaksi pula kalau
sejatinya mereka sudah “ber­damai”. (*)



*RIO F. RACHMAN*
(Mahasiswa S2 Media dan Komunikasi Universitas Airlangga)
http://harianhaluan.com/index.php/opini/38170-mengenang-hamka-17-februari-1908-24-juli-1981
-- 



*Wassalam*



*Nofend St. Mudo38th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok
SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola *

*https://www.facebook.com/nofend <https://www.facebook.com/nofend>*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke