Kan layi bisa tuh Katik ETH Pada Senin, 24 Agustus 2026 pukul 06.11.39 UTC+7 ajoduta menulis:
> Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. > > > Wassalaamu'alaikum WW > > Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), > 17/8/1947, suku Mandahiliang, gala Bagindo > Gasan Gadang Pariaman - Tebingtinggi Deli - > Jakarta - Sterling, Virginia USA > ------------------------------------------------------------ > > On Sat, Oct 4, 2025, 7:41 PM ET Hadi Saputra <[email protected]> wrote: > >> [image: Parewa bab 1.png] >> Langit di atas Nagari Sago membentang biru tanpa cela, sebuah kanvas >> sempurna yang menipu mata. Di bawahnya, kedamaian terasa palsu, seperti >> tenangnya permukaan danau sesaat sebelum badai mengamuk. Di pematang sawah >> yang menghijau zamrud, Alam menyandarkan cangkulnya yang berat. Keringat >> membasahi pelipisnya yang legam, namun bukan lelah yang membuat rahangnya >> mengeras hingga giginya bergemeletuk. Setiap ayunan cangkul terasa seperti >> hantaman pada batu kepasrahan yang ingin ia pecahkan, sebuah kemarahan yang >> membakar panas di ulu hatinya. >> Dari kejauhan, ia bisa melihat para Ninik Mamak—tetua adat yang menjadi >> tiang penyangga nagari—berkumpul di balairung. Siluet mereka yang duduk >> bersila tampak kecil dan rapuh di bawah atap gonjong yang megah, wajah >> mereka keruh seperti air sungai setelah hujan deras di hulu. Sejak beberapa >> minggu terakhir, kabar angin tentang keinginan Kompeni untuk menaikkan >> pajak tanah dan meminta bagian lebih besar dari hasil panen telah menjadi >> bisik-bisik yang meresahkan. Kabar itu merayap dari lapau kopi tempat para >> lelaki melepas penat, hingga ke pancuran umum di mana para perempuan >> berbagi cerita sambil mencuci kain. Bagi kebanyakan orang, itu adalah >> takdir yang harus diterima dengan pasrah, sebuah nasib yang tak bisa >> ditolak, seperti datangnya musim kemarau atau musim hujan. Namun bagi Alam, >> kepasrahan adalah kata lain dari kekalahan. >> Teman-temannya, Hasan yang selalu waspada dan Arip yang periang, >> menghampirinya, merasakan aura gelap yang menguar dari sahabat mereka. >> Langkah mereka sengaja diperlambat, seolah enggan mendekati gunung api yang >> siap meletus. >> “Sudahlah, Lam. Wajahmu itu bisa membuat kerbau takut dan batal membajak >> sawah,” kelakar Arip, mencoba mencairkan suasana yang terasa berat dengan >> candaan khasnya. Ia mencomot sepotong ubi bakar dari bungkusan yang >> dibawanya, menawarkannya pada Alam. >> Alam hanya menggeleng, matanya tak beranjak dari balairung. >> Hasan yang lebih pendiam hanya menepuk bahu Alam, sebuah gestur kecil >> yang penuh pengertian. “Para tetua pasti akan menemukan jalan keluar,” >> katanya, meskipun suaranya sendiri terdengar ragu, lebih seperti harapan >> daripada keyakinan. “Mereka lebih bijaksana, lebih tahu cara berunding >> dengan orang-orang Belanda itu.” >> “Jalan keluar?” desis Alam, nadanya sinis namun terselip keputusasaan. Ia >> menoleh, tatapannya menyala. “Jalan keluar mereka adalah menunduk lebih >> dalam, San. Berdoa agar badai berlalu. Tapi badai ini bukan untuk ditunggu, >> ini untuk dihadapi. Jika kita terus menunduk, mereka tidak akan berhenti >> sampai kepala kita menyentuh tanah dan tak bisa bangkit lagi.” Watak keras >> hatinya, yang membuatnya sering dijuluki “Alam Parewa” oleh mereka yang tak >> suka dengan sikapnya yang blak-blakan dan menentang arus, kini terasa >> membara. Ia adalah pemuda yang lebih percaya pada tajamnya ladiang di >> pinggangnya daripada pada janji-janji kosong atau kesabaran yang tak >> berujung. >> Tiba-tiba, dari ujung jalan tanah yang menghubungkan nagari dengan jalan >> utama yang lebih besar, tampak seorang penunggang kuda mendekat dengan >> cepat. Debu cokelat mengepul di belakangnya, menandakan kecepatan yang tak >> biasa. Bukan pedagang yang membawa barang dagangan, bukan pula perantau >> yang pulang kampung dengan rindu di dada. Pakaiannya adalah seragam gelap >> para pembantu Demang yang bekerja untuk pemerintah kolonial, dan kuda yang >> dipacunya adalah milik Kompeni, tegap dan terawat baik dengan pelana kulit >> yang mengkilap, sangat kontras dengan kerbau-kerbau kurus milik warga yang >> berkubang di lumpur. >> Seketika, semua aktivitas di sekitar mereka terhenti. Para perempuan yang >> sedang menanam bibit padi di petak-petak sawah menegakkan punggung mereka, >> tangan mereka yang berlumur lumpur berhenti bergerak. Para lelaki yang >> sedang mencangkul menghentikan ayunan tangan, membiarkan cangkul mereka >> tertancap di tanah. Bisik-bisik cemas yang tadi terdengar di antara mereka >> kini lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam. Semua mata tertuju >> pada penunggang kuda yang semakin mendekat. >> Penunggang kuda itu tidak berhenti di pasar atau di lapau; ia langsung >> memacu kudanya menuju balairung, tempat para Ninik Mamak berkumpul, seolah >> membawa pesan yang tak bisa ditunda. Ia melompat turun dari kudanya dengan >> angkuh, menyerahkan tali kekang kepada seorang pemuda yang tergopoh-gopoh >> menghampirinya, lalu melangkah masuk ke dalam balairung tanpa mengucap >> salam. >> Alam menegakkan tubuhnya, matanya menyipit, tangannya tanpa sadar >> mencengkeram gagang cangkulnya lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih. >> Ia tahu, kabar buruk yang selama ini hanya menjadi angin yang berhembus di >> antara daun-daun bambu, kini telah tiba dalam wujud nyata, membawa surat >> resmi dengan stempel yang akan menentukan nasib mereka semua. >> >> Glosarium Bab 1: >> Nagari: Kesatuan wilayah adat setingkat desa atau kelurahan dalam hukum >> adat Minangkabau. >> Ninik Mamak: Para tetua adat atau pemimpin kaum laki-laki dalam suatu >> kaum (saudara satu suku, satu nagari) di Minangkabau, yang memegang peranan >> penting dalam pengambilan keputusan. >> Balairung: Bangunan tradisional tempat para Ninik Mamak bermusyawarah >> untuk urusan adat dan kepentingan bersama. >> Kompeni: Sebutan umum masyarakat pada masa itu untuk pemerintah atau >> tentara kolonial Belanda (berasal dari nama kongsi dagang VOC). >> Parewa: Sebutan untuk orang yang cenderung membangkang, berani, tidak >> terlalu terikat pada aturan formal, terkadang berkonotasi preman, namun >> dalam konteks ini lebih sebagai pemberontak terhadap ketidakadilan. >> Ladiang: Senjata tajam sejenis golok khas Minangkabau, yang juga sering >> digunakan sebagai alat kerja. >> Lapau: Kedai atau warung kecil tempat orang-orang laki-laki dewasa >> berkumpul, minum kopi, dan bercengkrama. >> >> -- >> . >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >> =========================================================== >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >> * DILARANG: >> 1. Email besar dari 200KB; >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >> 3. Email One Liner. >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >> mengirimkan biodata! >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >> mengganti subjeknya. >> =========================================================== >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ >> --- >> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google >> Grup. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >> kirim email ke [email protected]. >> Untuk melihat diskusi ini, buka >> https://groups.google.com/d/msgid/rantaunet/63b82cb1-d6cc-4005-a2e1-0f5f7ad2c08cn%40googlegroups.com >> >> <https://groups.google.com/d/msgid/rantaunet/63b82cb1-d6cc-4005-a2e1-0f5f7ad2c08cn%40googlegroups.com?utm_medium=email&utm_source=footer> >> . >> > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini, buka https://groups.google.com/d/msgid/rantaunet/9ed02b6f-5c24-4f80-a144-1d0c42bd5129n%40googlegroups.com.
