--- On Fri, 5/1/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote:
From: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> Subject: SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 74: MALU NAN ALUN BABAGI DAN KARENA NILA SETITIK To: [email protected] Date: Friday, May 1, 2009, 4:24 PM Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,Sebagai seorang pengamat masalah etnik, saya termasuk pengagum etnik Batak, oleh karena dalam penglihatan saya, etnik Batak -- yang tak demikian menonjol peranannya dalam tahun-tahun pertama Republik -- dewasa ini telah memainkan peranan penting dalam kehidupan kita berbangsa dan bertanah air, di segala tingkat, dan di segala bidang. Saya punya banyak teman dari etnik Batak di samping etnik-etnik Indonesia lainnya.Mereka baik-baik saja. Namun dalam tahun-tahun terakhir ini saya sungguh merasa risau. Beberapa orang oknum warga etnik Batak ini terlibat dalam berbagai kasus korupsi besar di lembaga-lembaga negara yang penting, seperti dalam kasus BI dan kasus DPR RI, dan akhir-akhir ini dalam ukuran kecil, dalam kasus Kompi E Batalyon 751 di Sentani, yang bagaimanapun telah memalukan TNI-AD, dimana saya pernah berdinas selama 31 tahun.Adalah tidak adil jika kita menghujat seluruh etnik Batak karena perbuatan beberapa orang oknum warganya. Perbuatan mereka adalah sebagai pribadi. Namun pendapat umum sering mempunyai logikanya sendiri, sering menggeneralisir kasus khusus menjadi simpulan umum ('par pro toto'). Oleh karena itu, saya percaya bahwa para pemuka masyarakat Batak ikut merasa malu dengan terjadinya rentetan kasus korupsi tersebut, sesuai dengan pepatah kita 'malu nan alun babagi' dan 'karena nila setitik rusak susu sebelanga'.Bagaimanapun, saya tetap kagum terhadap etnik Batak ini, dan berdoa semoga tak ada lagi muncul berita tentang oknum-oknum warga etnik Batak yang terlibat dalam korupsi besar kecil, yang memalukan kita sebagai bangsa.Dalam hubungan ini izinkan saya menyampaikan rasa bangga saya terhadap para sanak orang Minang, yang syukur Alhamdulillah, belum banyak yang terlibat dalam kasus-kasus korupsi besar kecil ini. Saya doakan semoga reputasi sebagai suku bangsa yang bersih tetap dapat kita pertahankan. Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam, Pariaman.) "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak" When wealth is lost nothing is lost, when health is lost something is lost, but when character is lost everything is lost. Ein Volk ohne Geschichte is Ein Volk ohne Kultur. Alternate e-mail addresses: [email protected]; [email protected] [email protected] --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
