Mantap banget rin....semakin hidup... Lanjutkan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
salam andiko Pada 28 Januari 2011 11.36, rinapermadi <[email protected]> menulis: > Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh, > > Adidunsanak yang mulia, > > > > *KETIKA PAPA BERCERITA 6* > > *By : Ritrina* > > > > Sekitar Juli 1961 pasukan preman Ancok Gandi yang menelusuri hutan > belantara di aliran sungai Batang Masang itu sepertinya sangat berambisi > untuk menghilangkan sisa-sisa pejuang dan tokoh pimpinan PRRI saat itu. > Sebegitu kuatnya keinginan mereka itu, berbanding lurus juga dengan usaha > penduduk tempatan untuk menyembunyikan jejak orang-orang yang mereka cari > itu. Di kedalaman hutan itu mereka tidak lagi mengkhawatirkan adanya > binatang buas dan berbisa yang mungkin saja mencelakai mereka. Orang-orang > seperti Ancok Gandi dan rombongannya lebih dikhawatirkan dari semua itu > karena kebiadabannya. > > > > Terbayang olehku ketika Papa menceritakan hal ini via telpon menggertakkan > giginya saking geram yang lama dia pendam. Sebab Ancok Gandi dan pasukannya > itu sudah mereka kunci posisinya dan tinggal dihabiskan saja di kerimbunan > hutan di aliran Batang Masang itu. Tapi karenadatang perintah dari Pak > Dahlan untuk membiarkan saja mereka melewati aliran Batang Masang disana > itu, jadinya pasukan tidak jadi menghabisi mereka yang hanya berjumlah 30 > orang dengan posisi sangat terbuka untuk ditembaki. Tapi kemudian di tanggal > 25 September 1961 pasukan preman Ancok Gandi inilah yang menemukan dan > menghabisi Pak Kolonel Ahmad Dahlan secara membabi buta beserta seorang > ajudannya yang masih bersama beliau. Nama ajudannya itu Yus. Di subuh yang > naas di kampung Lariang Kenagarian Kumpulan itu. Mereka ditembaki secara > membabi buta ketia beristirahat di sebuah rumah di pinggir hutan disana. > > > > Malam ketika hari terakhir dari kehidupan Pak Dahlan itu, orang kampung > datang membawakan pisang ke beliau di rumah itu. Beliau sempat bercerita ke > mereka, bila besok hari Pak Dahlan ingin pergi ke suatu tempat yang mana > tempat itu beliau rahasiakan. Bagaimanapun beliau tidak akan mau menyerah ke > pemerintahan Soekarno yang beliau anggap telah menjadi seorang Komunis. Nah > saat itulah barangkali menurut Papa peran si Tukang Tunjuak (mata-mata) > beraksi. Masa itu tidak akan bisa kita mempercayai orang-orang kampung yang > rata-rata mendukung perjuangan mereka. Jika satu saja diantara mereka adalah > seorang informan atau Tukang Tunjuk atau sang pengibus, maka habislah > rombongan itu bila tidak berinisiatif untuk bergerak ke tempat lain yang > belum diketahui orang. Menurut Papa, Pak Dahlan agak meremehkan situasi di > saat itu, entah siapalah orangnya itu tapi dialah yang bertanggung jawab > atas kematian Pak Dahlan waktu itu atas informasinya. Padahal pimpinan yang > lain telah banyak yang menyerah dan diberi amnesty oleh pemerintah. > > > > Subuh itu sebagaimana kesaksian beberapa orang di lokasi kejadian waktu > itu, rumah tempat Pak Dahlan menginap itu langsung ditembaki dari luar. > Saking membabi butanya tembakan dari luar, Yus sang Ajudan kepingan > kepalanya sampai terpelanting ke pohon kelapa yang berada di belakang rumah. > Pak Dahlan yang belum mau menyerah itu, mereka tembaki terus sampai-sampai > sarung yang sedang dipakai Pak Dahlan penuh lubang tembakan. Namun bekas > luka tembakan yang ditemui di tubuh Sang Kolonel hanya satu lubang saja di > daerah dadanya. Saat itu Sang Kolonel berpulang memenuhi janjiNya. > Innalillah Wainnalillahi Raaji’uun… > > > > Beberapa hari kemudian setelah Papa selesai proses menyerahnya tanpa harus > bersumpah sebab di Lubuk Sikaping tidak terlalu ketat proses menyerah. Hanya > bikin surat pernyataan saja dan itu bisa langsung diproses untuk pembuatan > KTP (Kartu Tanda Penduduk). Papa pergi jalan ke pasar pagi Simpang Tembok > yang berjarak sekitar 8 km dari rumah di Tilatang Kamang. Setiba disana Papa > duduk di sebuah kedai kopi. Sebenarnya Papa ingin tau tentang siapa yang > membunuh secara sadis Pak Dahlan ketika menginap di Lariang itu. Kebetulan > saat itu ada kemenakan beliau yang juga jadi preman di simpang Tembok itu. > Kita sebut saja namanya Capuak. Saat itu di kedai itu ada Ancok Gandi ini > juga sedang minum kopi. Rumor tentang keberhasilan preman Ancok Gandi ini > beredar melesat dari mulut ke mulut pada masa itu. > > > > Terjadi persitegangan antara mereka bertiga saat itu. Si Capuak bilang ke > Ancok Gandi kalo Papa adalah orang dalam dari PRRI. Si Ancok Gandi langsung > cabut pistolnya yang tersembunyi di balik bajunya langsung diarahkannya ke > kepala Papa. > > > > “*Ang macam-macam Ang den tembak*,” katanya beringas dan sombong. > > > > Untung saja si Ancok Gandinya masih agak sedikit waras untuk tidak bikin > sensasi di tengah pasar pagi Simpang Tembok Bukittinggi saat itu. Dia hanya > ingin menunjukkan ke orang-orang yang berada di sekitar sana kalo dia itu > ‘Orang Bagak’ berkuasa karena dapat dukungan Tentara Pusat. Hal itu terbayar > penuh setelah tahun bejalan dan Ancok Gandipun sakit-sakitan dan akhirnya > meninggal. Selama dia sakit tidak seorangpun yang peduli dengannya dan > bahkan sampai akhirnya dia meninggal di Simpang Tembok itu, tidak ada warga > yang mau menyelenggarakan jenazahnya sebab dia sudah berkoar kalo dia itu > Komunis, hanya ada seorang kemenakannya yang akhirnya menyelenggarakan > jenazah Ancok Gandi. Ancok Gandipun lunas di dunia. > > > > > > Batam, January 28, 2011 > > > > Wassalam > > Rina, batam > > > > > > > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~<http://groups.google.com/group/RantauNet/%7E> > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. E-mail besar dari 200KB; > 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
