Salam untuk Pak Dwiagus dan rekan milist lainnya,

Saya termasuk di dalam kelompok mereka yang kawatir
dengan peningkatan urban primacy Jakarta kepada
kota-kota lainnya di Indonesia. 

Kekhawatiran saya ini disebabkan oleh beberapa sebab.
Pertama tingginya urban primacy mengindikasikan
besarnya ketimpangan serta ketidak-adilan wilayah di
Indonesia. Hal ini kemudian akan semakin tidak
menyenangkan karena ketimpangan dan ketidak-adilan
wilayah ini juga memberikan indikasi pada ketimpangan
dan ketidak adilan pada aspek-aspek lainnya, yang
berakibat pada ketimpangan kualitas hidup dari
masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia. Kedua,
hal itu juga mengindikasikan rendahnya kemampuan dari
berbagai wilayah lain dalam mengembangkan potensi dan
sumber dayanya masing-masing untuk menggerakkan
kegiatan ekonominya di Indonesia, karena sebagian
besar sumber daya finansial dan non-finansial lain
(seperti SDM berkualitas,dll) bergerak di pusaran
Jakarta dan sekitarnya saja. Dan ketiga adalah bahwa
agglomerasi yang semakin besar sebagai akibat dari
primacy yang semakin tinggi akan mengancam
keberlanjutan pembangunannya sendiri apabila dilihat
dalam konteks yang integratif dari pembangunan
lingkungan dan sosial dalam pembangunan ekonomi.
Memang kapasitas pembangunan dan kapasitas lingkungan
bisa diperbesar dengan suntikan-suntikan teknologi,
seperti Tokyo dan Paris yang setidaknya mengembangkan
teknologi metro dan perumahan (bangunan) bertingkat
tinggi untuk meningkatkan kapasitas dan daya tampung
wilayahnya untuk aktivitas dan pembangunan. Namun
perlu diingat bahwa pengembangan metro dan perumahan
bertingkat tinggi tsb juga membutuhkan pembangunan
sosial sehinggapola kehidupan masyarakatnya mampu
menjaga dan mempertahankan ketersediaan pelayanan
teknologi tinggi tadi. Apakah masyarakat Jakarta mampu
mengubah banyak kebiasaan 'pedesaan'-nya seperti hanya
sekedar memindahkan sampah debu yang disapunya ke
tempat-tempat yang diangggap tak kelihatan, dan bukan
mengumpulkan dan mengangkatnya untuk dikelola di dalam
suatu wadah tertentu (masih banyak di antara kita yang
menyapu debu hanya untuk dipindahkan ke halaman/taman
depan rumah, atau penyapu jalan kita yang memindahkan
debu dan sampah jalan ke dalam lubang
gorong-gorong/drainase kota). Bisa dibayangkan
bagaimana tidak menimbulkan pertengkaran apabila pola
menyapu seperti itu dilakukan di ketika menyapu
halaman/selasar rumah susun (atau membuang puntung
rokok) sehingga mengotori (atau merusak) baju-baju
jemuran tetangga di bawahnya. Ini hanya lah suatu
contoh kecil. Contoh besarnya, kemacetan, kebanjuran,
bendana kesehatan dll yang sudah menjadi 'wajah' dan
identitas Kota Jakarta adalah contoh-contoh besarnya.

Menanggapi saran dari Pak Dwiagus untuk berefleksi
dari pengalaman di tempat lain, saya mencoba untuk
bercermin kepada pengalaman di USA dan Perancis. Bisa
kita katakan bahwa USA adalah sebuah contoh
polisentrik (urban primacy yang relatif rendah? Betul
nggak Pak Deden? Kalau ada info ttg urban primacy di
USA mohon dishare. Tks) dengan banyak kota-kota besar
yang bertebaran di beberapa wilayah. Sedangkan
Perancis, yang saat ini masih didominasi oleh Paris
sebagai pusat utama, tetapi telah mulai mengembangkan
metropolitan-metropolitannya yang lain seperti Lyon,
Dijon, Toulouse, Montpelier, Lille, dsb. 

Setidaknya ada dua hal utama yang mendorong
pengembangan polycentric pada pengalaman di dua negara
tersebut. Pertama adalah ketersediaan sistem jaringan
transportasi, informasi dan komunikasi yang sesuai
dengan kemampuan ekonomi dan pelakunya. Yang kedua
adalah ketersediaan kewenangan dan otoritas wilayah
untuk mengelola dan mengembangkan sumber-sumber daya
wilayahnya secara tepat.

Memang tidak kemudian secara sim salabim, polycentric
terjadi apabila kedua elemen dasar tadi tersedia.
Tetapi, tanpa kedua elemen dasar tersebut, sulit
diwujudkan kondisi yang polycentric.

USA sudah memulai pengembangan transportasi, informasi
dan komunikasinya sejak dibangunnya jaringan jalan
kereta api (rel) sejak jamannya Lucky Luck (he...
he... he.... agak bercanda sedikit ya....). Namun
pembangunan besar-besaran banyak perkotaannya lebih
banyak terjadi pasca pembangunan jaringan jalan
antar-negara bagian di tahun 1930an sebagai respon
dari adanya kemunduran perekonomian dunia pada waktu
itu. Pembangunan dan perkembangan kota-kotanya semakin
pesat sejak berkembangnya armada airlines di seantero
negeri USA di tahun 1960 atau 1970an. Sekarang,
ketersediaan jaringan transportasi seperti itu telah
membuat jarak yang jauh antara New York - Los Angeles
bukan lagi menjadi suatu kendala bagi kegiatan
ekonominya. 

Di Perancis, pembangunan TGV (kereta super cepat, yang
berdasarkan berita terakhir dengan menggunakan TGV
Paris-Strassbourg TGV tersebut mampu memecahkan rekor
dunia dengan kecepatan lebih dari 550 km/jam di salah
satu lintasannya) yang menghubungkan Paris dengan
banyak kota-kota besar lainnya, dan juga antara
beberapa kota-kota besar lainnya tadi, serta biaya
pemanfaatannya yang terjangkau oleh aktivitas ekonomi
dan pelaku-pelakunya, telah mengubah 'peta geografis'
Perancis untuk aktivitas-aktivitas ekonominya.
Keberadaan TGV Paris-Lyon telah mengubah waktu
pencapaian kedua kota tersebut relatif sama, bahkan
bisa lebih cepat daripada waktu tempuh dari Paris -
Orleon, padahal jarak Paris-Lyon berkali-kali lipat
dari jarak Paris-Orleon. Dengan demikian, dengan
adanya jejaring penerbangan, jejaring kereta dan
jejaring jalan raya (highway) di USA dan adanya
jejaring TGV, kereta dan highway di Perancis, telah
mengubah bentuk peta geografis kedua negara tersebut
bagi kegiatan ekonomi dan pelaku-pelakunya. Karena
peta geografisnya tidak lagi ditentukan oleh geografi
fisik (jarak geografis) saja, melainkan sudah
dipengaruhi oleh geografi waktu dan geografi biaya
perjalanan, sehingga khusus untuk beberapa antar kota
tertentu (yang biasanya merupakan kota pusat
pertumbuhan ekonomi) yang berjarak fisik lebih jauh,
malah 'jaraknya' menjadi 'lebih dekat' daripada jarak
kota tersebut kepada kota atau tempat lain yang jarak
fisiknya lebih dekat.

Hal kedua yang menjadi elemen dasar tadi adalah
ketersediaan kewenangan, otoritas dan kemampuan dari
wilayah-wilayah lain untuk mampu mengatur, mengelola
dan mengembangkan sumber-sumber daya wilayahnya.
Sebagai negara federal, setiap negara bagian di USA
sudah pasti memiliki kewenangan dan otoritas untuk
mengatur dan mengelola sumber daya wilayahnya. Tetapi
lebih daripada itu, USA juga dikenal sebagai negara
yang menganut paham demokrasi dan desentralisasi.
Sedangkan Perancis, walaupun merupakan suatu negara
kesatuan yangperan pemerintah pusatnya juga sangat
kuat, namun batasan mana yang diurus oleh pemerintah
pusatnya dan mana yang menjadi kewenangan daerahnya
(terdesentralisasi) juga sangat jelas. Akibatnya,
dalam banyak hal pemerintah daerah di kedua negara
tersebut bisa menggunakan instrumen fiskal, kebijakan
dan instrumen pembangunan lainnya untuk meningkatkan
dan mengembangkan kegiatan ekonominya. Sebagai akibat
berikutnya, pengembangan wilayah kedua negara tersebut
relatif terjadi secara banyak pusat.

Kemudian, pertanyaan berikutnya yang sangat penting
adalah bagaimana implikasi/pelajarannya bagi
Indonesia? Indonesia adalah suatunegara kepulauan yang
sangat berbeda dengan USA dan Perancis. Kalau mau
mengikuti pembangunan sistem penerbangan seperti di
USA, transportasi penerbangan relatif hanya efektif
untuk transportasi orang dan barang hasil hitech yang
bersifat small-volume-high-value, namun tidak efektif
untuk transportasi barang-barang yang
big-volume-low-value yang menjadi karakter dari banyak
produk-produk pertanian tradisional kita. Adapun
pengembangan TGV, (mungkin) hanya bisa dilakukan untuk
antara Jakarta-Surabaya saja (Semarang pun hanya
kecipratan karena rute terpendek harus melalui
Semarang). Padahal Indonesia tidak hanya
Jakarta-Surabaya dan tidak hanya orang dan
barang-barang hitech saja. Jadi mungkin Indonesia
harus mengembangkan sistem transportasi yang lebih
kompleks yang terkombinasi antara jaringan jalan
(highway) dan kereta di setiap pulau-pulau besarnya,
yang dihubungkan dengan kombinasi jejaring
transportasi udara dan laut untuk mengintegrasikan
semuanya. 

(Lho kan sudah ada dari jaman dulu? Kenapa kok nggak
jadi-jadi?) Pada dasarnya, bagian dari sistem ini
memang sudah ada sejak jaman dulu di Indonesia. Namun
bagian lainnya di wilayah-wilayah lainnya masih banyak
yang belum terbangun. Berbicara untuk Pulau Jawa saja,
belum semua bagian wilayah terkoneksi oleh jejaring
kereta atau highway. Sukabumi Selatan dan Cianjur
Selatan adalah contoh bagian wilayah di Jawa yang
masih memiliki kesulitas pergerakan transportasi, di
samping banyak wilayah lainnya di Jawa Tengah maupun
Jawa Timur. Apalagi kalau kemudian perhatian kita,
kita perluas hingga ke Kalimantan, Sulawesi, Nusa
Tenggara, Maluku dan Papua. Kita akan menemukan betapa
besar kekurangan dan ketertinggalan kita dalam
menyediakan salah satu elemen dasar ini. 

Elemen kedua, yaitu kewenangan dan kemampuan mengatur,
mengelola dan mengembangkan potensi sumber daya
wilayah. Kebijakan demokratisasi dan desentralisasi
yang dilakukan pasca krisis ekonomi (atau pasca
lengsernya Presiden Suharto), telah memberi kewenangan
kepada daerah-daerah. Namun persoalannya adalah dalam
aspek kemampuan. Tidak semua daerah memiliki kemampuan
yang baik. Bahkan bisa dikatakan bahwa sebagian besar
daerah pada dasarnya under-capacity.

Untuk mensiasati hal-hal tersebut, mungkin perlu
dilakukan suatu terobosan inovatif. Kalau Malaysia
melakukan kebijakan Dunia Ekonomi Baru (DEB) atau New
Economic Policy seperti yg Pak Eka sampaikan untuk
meningkatkan equality etnis dengan target setelah 20
tahun minimal 40% sumber daya ekonomi dimiliki
golongan melayu, mungkin Indonesia perlu melakukan
suatu kebijakan affirmative wilayah dengan meloncat
mengembangkan suatu Sistem Metropolitan. Strategi ini
dilakukan untuk menurunkan urban primacy dan
persebaran aset ekonomi serta investasi asing dan
domestik, yang sekarang sangat didominasi oleh
Jakarta, sehingga dalam 20 tahun mendatang jakarta
hanya memiliki sebesar-besarnya 10 sampai 15 persen
dari aset ekonomi dan perolehan investasinya, karena
harus ditargetkan bahwa sisanya akan dimiliki dan
dinikmati oleh metropolitan-metropolitan lain yang ada
di seluruh Indonesia.

Mengapa sistem metropolitan dan bukan sistem kota? Hal
ini perlu dilakukan untuk membatasi perhatian dari
strategi nasional ini untuk tidak direpotkan dengan
keharusan memberi perhatian kepada kota-kota lain yang
lebih kecil dan/atau yang tidak terikut sertakan di
dalam strategi ini.

Namun, yang saya maksud dengan Sistem Metropolitan ini
bukan hanya motropolitan-metropolitan yang ada di
Indonesia saat ini yang kalau tidak salah sudah
mencapai 8 buah metropolitan termasuk Jakarta,
Bandung, Surabaya, Bandung, Semarang, Medan,
Palembang, dan Makasar. 'Keanggotaan' metropolitan ini
harus diperluas lagi untuk bisa memasukkan beberapa
buah kota lain yang akan ditargetkan bisa menjadi
metropilitan seperti Batam, Padang, Pekanbaru, Bandar
Lampung, Balikpapan, Pontianak, Kendari, Menado,
Ambon, Jayapura, Sorong, Biak, Merauke, Kupang,
Mataram dan Denpasar, dalam rentang waktu 10 - 15
tahun ke depan. Definisi dari metropolitan di sini
tidak harus didekati dari definisi demografis,
malinkan bisa dari definisi ekonomi dan fisik.

(Kan sudah pernah, dengan mengembangkan KAPET?). Kapet
memang pernah dilakukan sebagai strategi trobosan
untuk melakukan pengembangan wilayah. Sayangnya
Strategi Kapet dulu tidak dilaksanakan secara
komprehensif atau saling bahu membahu antar satu
departemen dengan departemen lain. Aktivitas
pengembangan Kapet hanya didominasi oleh salah satu
departemen tertentu mengakibatkan banyak wilayah
Kapet, menjadi pusat pertumbuhan pun tidak apalagi
kemudian menjadi pusat interaksi dan komunikasi
pembangunan. 

Lalu bagaimana dengan otonomi dan kewenangan daerah?
Untuk menjawab ini, harus kita sadari bahwa
desentralisasi bukan merupakan alternatif dari
sentralisasi. Kita harus mampu memandang bahwa
desentralisasi merupakan suatu wadah yang memberikan
ruang gerak partisipatif dari seluruh bagian wilayah
negara sehingga desentralisasi merupakan suatu
kombinasi dari sentralisasi. Dengan demikian, kita
juga akan bisa melakukan pendekatan partisipatif yang
mengikut-sertakan keinginan, kepentingan, interest,
dan harapan dari banyak pihak untuk bisa bersanding
(berkombinasi) dengan pendekatan teknokratif yang
dilakukan berdasarkan pemahaman, kemampuan dan
perhitungan-perhitungan teknis. 

Dengan begitu, (dan saya yakin bahwa masih banyak
hal-hal yang harus dilakukan sebelum dan bersamanya)
mungkin, kita bisa mengurangi urban primacy Jakarta
dalam arti yang sebenar-benarnya yaitu memberikan
kesempatan yang setara (equal opportunities) kepada
seluruh masyarakat dan dunia usaha di seluruh bagian
wilayah negeri kita tercinta.

Sekina dulu cuap-cuap dari saya. Mohon maaf apabila
ada yang salah. Hal itu karena memang pada dasarnya
saya hanyalah seorang manusia yang lemah.....

Salam,

Fadjar FHM

Jurusan Teknik PWK Undip


--- "B. Dwiagus Stepantoro" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> Terimakasih atas provokasi pak Abi yang menyehatkan
> hati. 
> 
> Sebenarnya saya letih juga mengikuti diskusi
> penting-tidaknya primasi kota ini....  mungkin
> keletihan saya ini juga dipengaruhi oleh keletihan
> yang  sama dirasakan pak BTS, menyaksikan belum
> berhasilnya upaya mereduksi proses primasi kota yang
> melaju dengan kencangnya, jadi buat apa
> di-utak-atik-utak-udel......
> 
> Kalau boleh menyimpulkan,..... 
> 
> - barangsiapa yang tidak takut fenomena primasi kota
> ini, baiknya ia tau apa yang harus dilakukan untuk
> mengurangi socio-economic costnya. Kalau memang ada
> teknologi yang bisa dipakai untuk menunjang primasi
> kota yang sehat, silahkan dipergunakan, seraya
> memeperhatikan efesiensi dan efekifitasnya 
> 
> - barangsiapa yang khawatir dengan fenomena primasi
> kota ini, paling tidak bedah lagi lebih dalam apa
> sih yang menyebabkan kegagalan upaya mengurangi
> primasi kota ini, sehingga kegemasan dan keletihan
> bisa sedikit terpupus. Kalau memang mengurangi
> primasi kota ini adalah teori/metode yang mumpuni,
> kenapa dia bisa tak terkendali. Wajar untuk meminta
> bukti. Kalau bukti2 keberhasian  ternyata bertebaran
> di Eropa sana (seperti Randstad) sebenarnya apa yang
> membuat berhasil. Sebuah tangan yang tak nampak
> bernama negara dan segala peraturannya kah? sekedar
> membahas pembagian kuasa dan anggaran mungkin tak
> cukup,     atau ada spatial culture tertentu? atau
> ada government mentality and attitude yang unik?
> atau ada prekondisi tertentu? 
> 
> Tapi lepas dari itu semua,  saya setuju untuk kita
> semua berbagi keletihan.
> 
> salam,
> dwiagus
> 
> 
> hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:        
>                          
> Pak Risfan, mas Koko dan milister semuanya ysh,
>   Terimakasih banyak atas tanggapannya yang
> amat-amat sangat berharga ......... Menyangkut
> pengalaman  mas BTS saya masih menunggu juga
> tanggapan  atau masukan dari milister lainnya.......
>  ayo pak BSP, Prof. Wawo, mas Eko, mas Fajar, mas
> Jarot, mas Deden, Datuk E, mas Dwiagus, mas Delik,
> mas Catur, mas Darodjatoen, mas Edi, mas Rudi  dan
> lain-lainnya yang maaf mungkin belum kesebut .......
>   Juga mas BTS mohon perkenannya untuk menceritakan
> kekecewaan-kekecewaan atau pengalaman pribadi
> lainnya dong...... baik lewat milis ataupun
> japri..... saya outsider kan tidak mungkin
> mendapatkan pengalaman-pengalaman seperti itu 
> ..........ini bagaimanapun juga merupakan bagian
> dari sejarah perkembangan planning di Indonesia
> ...... dan dari sana akan dapat dipetik amat sangat
> banyak inspirasi lho........
>   Untuk pak BSP, Prof. Waworoentoe,  Datuk E dan
> para senior lainnya.... kalau boleh saya
> usulkan...... mohon bapak-bapak berkenan setidaknya
> menjadi “specialist” untuk ceritaan tentang kisah
> masa lalu ........ itu bagaimanapun tetap merupakan
> bagian dari sejarah planning di Indonesia yang
> autentik, inspiratip dan amat sangat berharga lho
> ........... kalau saya kan sudah mengambil peran
> ‘outsider yang sok ngaco bicara planning’........
>   Sementara demikian,
>   Hormat saya,
>   aby
>            
> 
> ---------------------------------
> Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
>  Check out new cars at Yahoo! Autos. 
>      
>                        
> 
>        
> ---------------------------------
> Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
>  Check outnew cars at Yahoo! Autos.



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke