Pak bambang sp, saya setuju dengan judul diatas, saya beberapa tahun ini keliling ke desa-desa terpencil, ke berbagai masyarakat adat, banyak pemimpin mereka menyesalkan perubahan-perubahan perilaku masyarakat desa yang lebih banyak meminta daripada menyelesaikan secara bersama. Contoh korban angin puting beliung, dulu diperbaiki secara gotong royong, sekarang minta ke Pemerintah Pusat. Saya pernah mendapat proposal dari kepala desa tentang perbaikan pasar desa yang atapnya bocor sedikit, waktu saya tanya ke masyarakat berapa butuhnya? mereka menjawab pak kita tidak membutuhkan apa-apa, kalau hanya memperbaiki atap pasar, besok akan kita perbaiki. Jadi antara aparat dengan masyarakat tidak ada "komunikasi". salam
----- Original Message ---- From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, August 23, 2007 11:34:39 AM Subject: Re: [referensi] Re: Mimpi Morotai.... janganlah kaurusak alamku jangan kau rusak budayaku Uda Datuk Eka ysh, Sungguh sulit saya harus berbicara dengan seorang pendekar yang demikian komplet ilmunya. Kadang2 saya bermimpi bisa menjadi Uda. Wuih betapa berbahagianya saya bila saya bisa sekomplit kemampuan Uda. Saya benar2 setuju dengan pernyataan Uda. Tidak ada kata yang terlupa tidak ada pula kalimat yang terselip. Semua yang Uda sampaikan benarlah semuanya. Saya hanya ingin mengetuk para milister yang juga para pakar dibidangnya. Saya hanya untuk mencoba berbisik lirih kepada rekan2 milister tentang kehati-hatian kita dalam menangkap kata "kemajuan", kata "modern". Juga saya ingin sedikit membisik tentang kehati2an kita dalam hal berbau teknologi. Saya bukanlah seorang pacifist anti-teknologi. Saya hanya ingin membisikkan kepada rekan2 milister betapa kata teknologi itu mempunyai dua mata. Hal yang saya coba angkat adalah tentang masyarakat tradisional dan modernisasi. Masyarakat yg masih memeluk budaya tradisional kuat akan gagap bila bertabrakan dengan kata modernisasi secara instant. Saya sungguh prihatin bila kita memaksakan masyarakat yg masih tradisionil harus bertabrakan dengan sistim budaya yg canggih sebelum mereka siap. Kata siap bukan berarti keterbelakangan. Kata siap berarti, kemampuan mereka untuk memahami konsekuensi terhadap setiap pilihan tingkat kemajuan. Biarkan aura budaya mereka maju secara mengalir sehingga gegar budaya tidak terjadi. Salah satu contoh spektakuler bisa saya sampaikan disini. Saya sebenarnya ingin protes terhadap negara ini. Pemerintah telah berhasil merusak nilai2 keguyuban dan nilai2 kejuangan/kegigihan/keuletan dan kearifan lokal yg terjadi di Bantul hanya dengan perkataan : pemerintah akan membantu masyarakat yg terkena gempa dengan dana 15 juta per rumah. Yang muncul saat ini adalah masyarakat yg pintar bersilat lidah dan berbohong, masyarakat pemrotes dan pandai menanyakan hak dan kurang pandai memahami kewajiban. Masyarakat bantul mendadak menjadi MASYARAKAT PEMINTA-MINTA. Masyarakat Bantul mendadak berubah menjadi masyarakat pencuri dan masyarakat yang sangat lihai dalam melakukan korupsi. Mereka sudah mengenal bagaimana membuat stempel untuk sebuah pertanggung jawaban. Mereka sudah pandai untuk mensiasati kata kriteria. Suatu nilai luhur sudah hilang di Bantul. Suatu nilai yang kata banyak orang menjadi modal pembangunan yaitu ”social cohesiveness” sudah lenyap disana. Inikah budaya yang kita kehendaki??? Inikah kondisi yang kita kehendaki??? Ini adalah bila kita memaksakan kata tatanan modern kedalam tanan budaya tradisional. Budaya nir-uang menjadi budaya serba uang (budaya yg selama ini kita geluti). Memang alasannya bagus... itu demi untuk kemanusiaan. Tetapi hasilnya adalah masyarakat yang ringkih. Tahukah kita bahwa saat ini mereka sudah demikian pandai untuk membuat laporan aspal tentang penggunaan uang untuk rekonstruksi. Sesuatu budaya yang dikuasi dengan canggih oleh masyarakat perkotaan khususnya masyarakat modern di Jakarta (maaf). Apa sebenarnya yg terjadi. Ini terjadi karena kita menggunakan semua perangkat tata nilai yang kita miliki dan utopia kita yg kita bangun dengan referensi dan kesiapan budaya kita sehingga hal yang "tidak berakibat apa2" bagi kita menjadi suatu permasalahan dimasyarakat tradisional. Saya tidak tahu apakah kita yg sehat atau mereka yang sehat (itu subyek bahasan yg lain). Yang pasti kita ini ibarat org yg sedang berendam di kolam renang di Lembang jam 12 malam. Dinginnya air sdh tidak terasakan lagi. Kita mungkin bisa lebih bertahan karena kita sudah dipersenjatai oleh pendidikan dan pemahaman cukup lama. Tetapi mereka bagaimana. Mereka bertabrakan secara instant. Uda mengatakan bahwa mereka sekarang bergegap dan bergegas ingin membuat Morotai dulu menjadi Jakarta sekarang. Uda boleh percaya dengan saya. Selama 6 tahun saya berteriak kemana2. Saya mendorong terbentuknya Jogja yg tidak Jakarta....!!! Saya tidak berharap Jogja menjadi Jakarta krn Jakarta sebenarnya adalah kota yg sakit (baca the Megacities in Asia : UN-ESCAP). Meskipun akhirnya saya kalah. Saat ini saya ditangisi oleh banyak komponen masyarakat di Jogja akhirnya setuju dengan pemahaman saya. Singapura tidak lebih baik dari Nganjuk dilihat dari sisi nilai2 kemanusiaan. New York tidak lebih bagus dari Temanggung. Tokyo tidak lebih nyaman dari Rabba-Bima. Bahkan saat ini orang jogja mulai berteriak.. kembalikan jogjaku yg dulu. Malioboro tidak lagi mempunyai roh. Apakah semua ini. Semua ini adalah bagian dari cara pandang perencana dalam melihat kata bagus/nyaman dalam perspektif masing2. Apakah keteraturan itu adalah sesuatu yg kita idamkan. Dalam tingkatan tertentu iya. Tetapi coba tangkap persepsi sopir di Singapura. Ah hidup di Singapura mkenjadikan kita jadi robot uang. Kerja keras cari duit kemudian tax ... tax...tax. Selain itu fine... fine... fine. (bukan berarti baik tapi hukuman/denda). Atau bagaimana pendapat pedagang di New York. Ah hidup di New York itu adalah hidup yg penuh bahaya, hidup selalu terancam. Pernah ada mahasiswa Indonesia dipegang kakinya di New York dan dibalikkan badannya hanya untuk mengambil uang kecil dari saku yg berjatuhan krn dibalik oleh seorang negro (saya kebetulan disampingnya). Kota-kota itu menjadi tidak bersifat human. Akankah itu menjadi sebuah harapan. Bgmn kita harus bersikap melihat pembanugnan di Krueng Geukeuh sampai Syamtalira Bayu di Lhok Seumawe berakibat pada munculnya perlawanan masyarakat. Meunasah semakin sepi. Apakah ini human oriented development??? Sekali lagi saya mohon maaf pada Uda bahwa dalam hal ini. Bagi saya harus sangat berhati-hati untuk memilih kata pembangunan di Morotai. Pilihan pembangunan adalah disesuaikan dengan kecepatan tanggap budaya dari masyarakat di wilayah tersebut. Bagi saya televisi adalah perusak budaya bagi masyarakat yg tradisionil. Kalau yg modern memang sudah rusak ya he he he. Berapa banyak ayah2 di pedesaan harus marah2 kepada anak2 lelakinya karena anak itu lebih memilih melihat Trans TV yg selalu menayangkan bioskop Trans TV yg seru2 dibandingkan harus mengaji di surau. Itu yg saya sedihkan sebagai perencana Uda. Bagi saya bangunan indah bukanlah segalanya. Tetapi masyarakat yg tenteram dan sejahtera menurut nilainya adalah yg saya dambakan. Kalau saya boleh berkata, saya akan berteriak bahwa saya telah gagal dalam mendampingi kemajuan Jogja. Sekarang jogja lebih berkiblat pada nilai2 hedonism. Jogja tidak lagi bisa meng-claim menjadi the heaven on earth sebagai pengejawantahan kata Ayodya. Kemajuan dalam arti kata peningkatan ekonomi di wilayah pesisir pantai Jogja dibayar dengan tumbuh berkembangnya PSK (pekerja seks komersial). Dari jumlah 48 di Samas sudah meningkat menjadi 680an dalam tempo 3 tahun. Kemajuan jgoja dibayar dengan meningkatnya kriminalitas secara tajam dengan kuantitas dan kualitas yg meningkat. Sungguh sebuah prestasi yg luar biasa. Akankah kita merubah kata paguyuban menjadi patembayan atau bahkan lebih ekstrim lagi individualism. Apabila nilai2 aset yg semula lebih dinilai fungsinya berubah menjadi nilai ekonomi, maka mendadak saudara akan menjadi musuh. Inikah yang kita inginkan? Bila kita dulu mengenal tanah ulayat dan merupakan hak komunal mendadak berubah menjadi hak individu maka disaat itulah awal dari kehancuran sebuah budaya. Semua ini adalah tanggung jawab kita perencana yang akan meletakkan pembangunan disitu. Salam prihatin dari jogja bambang sp. ____________________________________________________________________________________ Shape Yahoo! in your own image. Join our Network Research Panel today! http://surveylink.yahoo.com/gmrs/yahoo_panel_invite.asp?a=7

