TOL JORR NAIK BERLIPAT-LIPAT
Setiap kali ada kenaikan tarif jalan tol, walaupun kenaikan hanya 10-20%,
selalu ada yang memprotes. Saya 2 kali menulis di media dan selalu membela
kenaikan jalan tol. Alasan saya, jalan tol itu jalan alternatif. Jadi kalau
nggak setuju kenaikan tol, lewat jalan lama saja yang gratis. Lagipula kenaikan
tarif tol itu juga memberi iklim investasi yang menarik bagi calon investor
untuk ruas jalan yang lain. Tapi kali ini, kenaikan jalan tol JORR (Jakarta
Outer Ring Road) membuat saya benar-benar KO. Bayangkan, saya biasa
menggunakan jalan tol ruas Pondok Ranji sampai ke Veteran hanya membayar Rp
2000, tiba-tiba saya harus membayar Rp 7.500. Gila! Kenaikan sampai 375%. Hal
ini juga dialami oleh pengguna lain. Apalagi pengguna ruas Veteran sampai
Pondok Pinang yang hanya Rp 1000 berubah menjadi Rp 6000, atau kenaikan 600%.
Pagi itu saya berangkat ke kantor lewat pintu tol Pondok Ranji-Bintaro. Di
hadapan saya sudah antri sepanjang kira-kira i km. Rupanya banyak pengguna tol
yang pada balik arah. Ketika mendekati pintu tol, terlihat layanan pembayaran
sangat lambat. Sesampai di pintu tol saya baru kaget, rupanya kemacetan itu
karena banyak yang kaget, ya seperti saya, mereka harus membayar Rp 7.500.
(dari sebelumnya hanya Rp 2000). Saya sempat bilang sama penjaga pintu tol itu
"sialan!". Saya janji, nanti sore pulang kantor, saya tidak akan melewati tol
lagi. Sore hari, ternyata jalan yang non-tol menuju Bintaro macet... cet...cet,
akhirnya saya harus bayar lagi Rp 6.500 lewat tol. Aku sempat bilang ke penjaga
tol "Pemerasan!". Sampai di pintu Pondok Ranji saya pikir tidak mbayar lagi,
ternyata saya harus bayar Rp 1.500. Saya sempat melotot ke penjaga pintunya.
Jadi total bayar tol pergi-pulang Rp 15.000. padahal biasanya hanya Rp 4.000.
Saya heran, mengapa Jasa Marga tidak men-sosialisasikan (Bahasa Indonesia yang
tidak ada padanan Bahasa Inggrisnya) terlebih dahulu? Saya pikir bukan kurang
sosialisasi, tapi sengaja tidak men-sosialisasikan. Karena dengan kenaikan 20%
saya masyarakat protes, apalagi sekarang kenaikan sampai 600%. Jadi ini
cara-cara pemerasan! Jasa Marga memang sudah siap dengan jawaban bahwa pengguna
jarak pendek memang terasa mahal, tetapi pengguna jarak panjang terasa lebih
murah. Lho, pengguna jarak pendek koq harus menyumbang pengguna lainnya?
Istilahnya "Cross-subsidy". Ini tidak betul dan diskriminatif. Menurut UU No.
8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, Hak Konsumen, pasal 4.h" Hak untuk
diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif"
dan tentang Kewajiban Konsumen pasal 5 "Membayar sesuai nilai tukar yang
disepakati". Sementara Hak Pelaku Usaha pasal 6 "Hak menerima pembayaran yang
sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar yang diperdagangkan"
dan kewajiban Pelaku Usaha pasal 7 b " memberikan informasi yang jelas....", c"
...memperlakukan atau melayani konsumen secara jujur dan tidak diskriminatif".
Nah harga yang naik sampai 600% itu apa sudah disepakati, apa sudah
diinformasikan dengan jelas, apakah sesuai dengan nilai tukar transaksi?
Menurut saya ini pelanggaran hukum.
Mengapa Jasa Marga berbuat demikian?
Sebetulnya pola JORR yang melingkar itu tegak lurus atau tidak sesuai dengan
pola pergerakan sehari-hari masyarakat Jakarta. Pergerakan sehari-hari
masyarakat Jakarta berpola memusat (menuju Pusat Kota), sedangkan JORR justru
melingkar dan tegak lurus dengan pola pergerakan yang ada. Jadi pengguna JORR
itu bukan pergerakan jarak jauh, tetapi sebagian besar pengguna jarak pendek
saja, dari pintu ke pintu yang dekat saja, untuk menghindari kemacetan, bukan
karena lewat jalan tol ingin lebih ekonomis. Alhasil, pendapatan Jasa Marga
jauh lebih rendah dari perkiraan, alias rugi. Ini juga karena kesalahan dalam
perencanaan. Dalam perencanaan (Feasibility Study), kunci utama adalah proyeksi
arus lalu lintas. Kalau sudah mencapai 25.000 kendaraan lewat perhari, maka
secara finansial akan layak. Dengan data pertumbuhan kendaraan, pola land use,
dan survey origin-destination, melalui program komputer, maka diperoleh angka
proyeksi. Mungkin saja hasil proyeksi terlampau besar, dan ternyata pengguna
umumnya berjarak pendek. Pengguna jarak pendek ini juga hanya beberapa ruas
saja, misalnya ruas Pondok Ranji-Veteran atau Ampera-Pondok Indah. Yang lain
sepi. Bagi Jasa Marga, pengguna berjarak pendek dan hanya ruas tertentu tidak
efisien. Lebih dari itu, dengan sistem tertutup dengan kartu, akan sangat sulit
mem-verifikasi pendapatan berdasarkan warna tiket. Ini juga bisa terjadi
kebocoran. Selain itu ongkos personal penjaga pintu tol juga sangat banyak. Ini
juga kerugian.
Kerugiannya tidak cuma itu. Berlarut-larutnya ruas Jatiwarna-Cikunir karena
soal tanah, itu juga kerugian yang sangat besar. Maka Jasa Marga berpikir
bagaimana menutupi potensi kerugian-kerugian semua itu. Kalau tarif hanya
dinaikkan hanya 20%, maka nggak nyampai. Menurut perhitungannya, mungkin
rata-rata kenaikan harga harus sekitar 200-300%. Kalau diumumkan naik 200-300%,
wooau.... pasti masyarakat pengguna marah. Oleh karenanya dibuat taktik dengan
mengubah Sistem Tertutup menjadi Sistem Terbuka, atau jauh dekat sama Rp 6000.
Dengan tarif itu Jasa Marga sudah menyiapkan jawaban bahwa pengguna jarak
pendek membayar lebih mahal, tapi pengguna jarak jauh jauh lebih murah. Seolah
ini pernyataan yang logis, padahal yang pengguna jarak jauh itu sangat sedikit
dibandingkan pengguna jarak pendek yang hanya pada ruas tertentu saja. Jadi
lebih banyak pengguna dirugikan daripada yang diuntungkan. Oleh karena itu Jasa
Marga sengaja tidak mensosialisasikan. Seperti rampok saja.
Jasa Marga sepertinya yakin. Dalam sebulan dua bulan penghasilan akan turun
karena pengguna seperti saya ini ogah lewat jalan tol lagi. Lagi-lagi yakin,
itu tidak berjalan lama karena jalan yang lama, atau non-tol akan terus menerus
macet...cet...cet. Akhirnya pengguna jarak pendek itu lama-lama akan masuk tol
lagi. Yakin dah!.
Ketika menulis posting ini, masih ada rasa marah. Saya merasa bersalah
mengumpat penjaga pintu tol dengan ucapan yang tidak pantas seperti "sialan",
pemeras, dsb. Mereka hanya pegawai saja. Ya maaf. Akhirnya saya ambil
positipnya saja. Besok saya dari rumah akan jalan kaki sampai gerbang komplek
perumahan. Lumayan olah raga untuk memperkecil perut. Selanjutnya saya mau
ambil angkot dan terus naik Bus Feeder Bintaro-Senayan sambil tidur. Dari sana
kemudian naik Bus Way. Biasanya di Bus Way ketemu banyak mahasiswi Atmajaya.
Udah gitu saja. Entah kuat sampai kapan.
Thanks. CU. BTS.