Barusan saya email posting di bawah ini, kemudian saya baca Detik.Com ada khabar menggembirakan bahwa pengguna jalan tol yang masuk pintu Pondok Ranji-Veteran ada refund Rp 6000. Sokurlah, jadi kemarahan itu memang tidak mengada ada.
Thanks. CU. BTS. ----- Original Message ----- From: Bambang Tata Samiadji To: [email protected] Sent: Friday, August 31, 2007 2:39 PM Subject: Segmen Pondok Ranji - Veteran : Mengapa orang Bintaro marah? Posting saya tentang Tol JORR naiknya berlipat-lipat telah banyak mendapat tanggapan. Terima kasih. Ada yang menilai sebagai informasi, ada juga yang menilai sebagai kemarahan. Untung marah saya segera reda karena esok harinya saya naik bus dan pulangnya naik kereta. Biasa saja. Itulah hidup. Dengan cepat dapat mengubah gaya hidup. Namun ada satu lagi informasi, mengapa orang Bintaro sangat gemas dengan kenaikan Tol JORR. Sekarang mereka menyiapkan "class action". Saya sedikit ingin cerita. Pertama marah di awal kenaikan itu adalah wajar karena membayar di pintu Pondok Ranji dari Rp 2000 menjadi Rp 7500 atau naik 365%. Selepas membayar, saya menyadari bahwa saya telah memasuki "stream" JORR yang rata-rata tarifnya Rp 6000. Jadi bisa dimengerti kalau Jasa Marga menetapkan Rp 7500 itu karena saya memang telah masuk JORR. Jasa Marga tidak mungkin membuat pemisahan untuk jarak sedang (3 km). Ini juga terjadi pada segmen-segmen lainnya, walaupun hanya berjarak 1 km saja (bahkan ada yang 100 m di sekitar Kali Malang), selepas pintu pembayaran yang memang telah masuk ke "stream" JORR maka langsung terkena tarif Rp 6000. Itulah konsekuensi dari Sistem Terbuka. Kalau jalur dari pintu Pondok Ranji ke pintu Veteran memang langsung masuk ke "stream" JORR dan membayar Rp 7500, okelah! Tapi kalau dari pintu Veteran ke pintu Pondok Ranji (arah pulang), sangat jelas lepas dari "Stream" JORR, atau tidak mungkin masuk ke "stream" JORR. Logikanya tidak terkena tarif Rp 6000. Kalau mau naikkan tarif, misalnya 20%, maka tarifnya paling Rp 2500 (soal ini juga saya baca di media bahwa segmen Veteran-Pondok Ranji tarifnya masih tetap). Itulah logika saya. Oleh karena itu,ketika pulang kantor saya akhirnya coba men-check apakah benar harganya wajar? Ternyata tarifnya Rp 6000. Saya langsung putar haluan. Ternyata jalan non-tol macet pamer paha (padat merayap tanpa harapan). Akhirnya saya masuk juga ke pintu Veteran dan membayar Rp 6000. menuju ke pintu keluar Pondok Ranji. Oleh karena sudah membayar Rp 6000 sebagai Sistem Terbuka, saya pikir di pintu Pondok Ranji langsung bablas. Eee, ternyata di pintu Pondok Ranji harus membayar lagi Rp 1500. Semua pengendara selalu menanyakan, membayar apa lagi? Dijelaskan bahwa sepenggal jalan fasilitas keluar (menuju Bintaro) itu masih termasuk tol. Gila! Itulah kira-kira umpatan orang Bintaro yang merasa itu tidak masuk akal. Itulah orang Bintaro sangat gemas. Mereka menuduh orang-orang PU pengambil keputusan belum melihat Bintaro. Buktinya Kepada Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Pak Hisnu Pawenang baru akan men-check segmen Pondok Ranji-Veteran. Coba, apa nggak mengelus dada seorang pejabat membuat keputusan yang akan menjadi beban masyarakat tanpa melihat lapangan? Yang membuat orang Bintaro semakin marah karena ada diskriminatif dengan segmen Pondok Ranji-BSD yang juga di luar JORR hanya mengalami kenaikan dari Rp 3000 menjadi Rp 4500. Cerita saya ini pasti akan dapat dihayati bagi mereka yang pernah melalui jalur yang saya ceriterakan di atas. Bagi yang kurang familiar, memang kurang bisa memahaminya. Itulah sedikit cerita kegemasan orang Bintaro dan akan mengadakan "Class Action". Tampaknya pejabat PU bergeming saja menghadapi gugatan itu. Pejabat itu berdalih, "Kalau nggak mau membayar tol, ya lewat jalan yang gratis". Ya kalau naiknya cuma 20% ya bisa sih ngomong gitu, tapi kalau naiknya 300-600% ya gimana gitu... Thanks. CU. BTS.

