Pak Hengky dan Netters Ysh,
Syukur alhamdulilllah saya banyak belajar di milis bagaimana perspektif
planner melihat pembangunan berdimensi spasial. Tentu tidaklah pantas kalau
saya memberi tanggapan di milis ini tentang beberapa kelemahan yang telah
kita lakukan pada masa dahulu kala, ketika ramai-ramainya kita mengembangkan
daerah baru untuk transmigrasi. Namun saya tidak dapat menyembunyikan
kegelisahan saya ketika "physical planning" menjadi produk massal (kebetulan
dalam waktu bersamaan kita mendiskuskan juga soal produk massal di milis),
karena saya pernah menjadi bagian dari itu walaupun sebatas praktisi
"regional planner" yang lebih bersifat meso dan makro,
Di sebuah harian pernah tercetus suatu kritik oleh Bank Dunia sebagai donor
bahwa kalau kita evaluasi kembali dokumen physical planning atau site
planning di daerah transmigrasi saat ini maka hanya 30% yang benar benar
sesuai dengan peruntukannya. Hal ini dapat dilacak seberapa jaun titik titik
triangulasi yang telah ditetapkan planner benar-benar digunakan dalam
settlement. Tidak heran jika kawasan transmigrasi banyak yang ditinggalkan,
karena banjir, lahan sama sekali tidak sesuai, dlll. ditinggalkan. Kesalahan
bisa terjadi di tangan planner atau di tangan kontraktor land clearing.
Benar atau tidak wallahu alam. Jika itu benar, mungkin itu adalah resiko
kalau kita harus mengejar target jumlah transmigran sekian dan lain-lain.
Lagi-lagi pelajaran yang sangat berharga untuk tidak lagi mengulangi
kesalahan dari hasil produk massal untuk kejar tayang.
Apa yang disampaikan oleh Pak Hengky itu benar adalanya bahwa banyak
penelitian yang menunjukkan bahwa proporsi pendapatan transmigran justru
lebih besar yang berasal "off farm", baik sebagai buruh, tukang beca atau
pembantu RT di kota terdekat. Dalam suatu diskusi di LPEM, Bungaran Saragih
mengakui, dalam konteks pendapatan ini, program transmigrasi telah gagal,
karena maksudnya transmigran bisa hidup dari sektor pertanian di daerah
transmigrasi (on-farm), tapi justru mereka mendapat masalah, baik lahan yang
tidak sesuai ataupun faktor-faktor lain. Entah ada korelasi dengan produk
massal physical planning atau tidak tentu harus ditelusuri lebih jauh.
Beberapa tahun terakhr ini sudah banyak wacana yang muncul untuk merubah
format Plasma dan Inti sawit yang dulu diberlakukan di daerah transmigrasi,
karena pola-pola ini adalah bentuk lain pola kolonial. Kalau dibuat sebuah
studi, tidak banyak petani yang tahu, berapa sesungguhnya hutang transmigran
sawit ini untuk memperoleh lahan dan bibit dari pinjaman Bank Dunia,
Saya kira kita memerlukan keterlibatan perguruan tinggi setempat untuk
proaktif membantu mendorong "innovasi" baik dalam produktivitas, pemasaran,
dan perilaku petani. Waktu saya belajar di kampus yang terkenal
sebagai daerah pertanian jagung di Midwest, USA, saya melihat, secara rutin
rombongan petani datang ke kampus untuk memperoleh informasi tentang
perkembangan terbaru dalam produksi jagung, apakah bibit unggul, mesin-mesin
pertanian, pembasmi hama, dan sebagainya. Ini kan menyangkut pengembangan
institusi dan trust di antara masyarakat petani, untuk menciptakan suasana
"jangan ada dusta di antara kita."
Saya tidak tahu apakah (misalnya Kementerian PDT) sudah ada arah ke sana,
karena sekaligus memberdayakan peranan perguruan tinggi setempat.
Sekali lagi tidaklah pantas saya memberi komentar tentang produk produk yang
dihasilkan oleh planner, khususnya regional planner. Saya tidak dapat
menyembunyikan rasa ingin tahu saya apakah konsep "growth pole" masih
relevan digunakan sebagai acuan untuk "perencanaan regional" yang
diimplementasikan untuk "pembangunan regional". Ada konteks sejarah yang
terlupakan dalam perekonomian modern, bahwa ketika Perroux mengatakan bahwa
daerah urban dapat mendorong perkembangan regional jika ada leading
industry ("pole de croissance") di daerah urban. Konteks sejarah yang
terlupakan adalah bahwa Perroux berbicara tentang keterkaitan (linkages)
antara industri berbasis pertanian di daerah urban dengan bahan baku
pertanian di daerah pedesaan.
Kalau semangatnya adalah bagaimana "center" dapat mendorong "periphery,
antara lain membentuk urban hirarki yang didisain sedemikian rupa sehingga
effisien dalam pelayanan, pertanyaannya adalah masih relevankan dengan
konteks masa kini dengan perkembangan teknologi informasi, transformasi
sosial, dll.
Wassalam,
Nuzul Achjar