Kang Deden, pak Wawo, mas Muli  dan milisters semuanya ysh, 
   
  Berikut  tanggapan  atas posting kang Deden 07/03/08 :
   
  +++: Buat yang lain juga: Tambahan dari saya ........ Globalisasi dan 
kapitalisme adalah sama2 menganut azas survival of the fittest. Siapa yg kuat 
dia yg menang dan yg lemah akan binasa dan korban dari kompetisi. Dan ini juga 
menjelaskan dalam skala Southeast Asia kenapa Singapore menjadi pemenang dan 
Jakarta menjadi supporter kalau kita tidak mau bilang the loser. 
  Kalau kita mau terapkan teori mereka dalam skala national pun adalah relevan 
juga. Hanya saya ingin menjelaskan peran planning dalam skala national utk 
mengurangi dampak negatif dari kapitalisme tsb. Di Indonesia yg menganut sistem 
perencanaan di tingkat nasional, mestinya planning berperan for mitigating the 
impacts of capitalism. Planning bisa berperan for addressing the failure of 
laissez-faire. 
   
  >>>: Planner dan peran mitigating impact of capitalism serta failure of 
laissez-faire.  ....... Itu wanti-wanti baik dan bijak dari kang Deden...... 
Hanya saja ... ini ya wanti-wanti lain juga ...  Janganlah sampai pula karena 
kata-kata “yang lemah binasa”.... Lalu  planners keliru memandang kapitalisme 
sebagai sesuatu yang ‘ganas’ dan ‘buta’.... Dan jangan pula  lalu nanti  
planners malah  terpancing dan terlibat dalam debat tentang  ‘apa’ ‘sistem 
perekonomian’ yang mau kita pakai ... kapitalisme ataukah apa yang lain........ 
Karena  jangan lupa... Kita juga masih memiliki apa yang namanya ’masyarakat 
ekonomi Indonesia’.......Yang kiranya masih cukup tangguh menjaga perkembangan 
pemikiran  terbaik  tentang corak perekonomian  nasional kita ..............
   
  *           *           *
  Seperti saya tulis pada posting yang lalu ..... tentang “serahkanlah 
‘sebagian’ urusan masalah ‘fisik’ dan ‘ekologik’ kepada masyarakat arsitektur”  
(mudah-mudahan ini dibaca juga oleh pak Abimanyu yang anak panahnya baru saja 
melesat berkelebat... hehe..) ....... Karena merekapun cukup mafhum dan mampu 
pula menanganinya ...........
  Itu saya maksudkan... Agar  dengan demikian masyarakat planner tak lagi lebih 
banyak “terpaku” hanya pada aspek’ fisik’  dan ‘ekologik’  semata.... Agar 
dengan demikian  dapat lebih berkonsentrasi lebih dalam dan lebih  luas pada 
masalah aspek lain yang penting pula ........ Ialah aspek  “ruang dan 
ekonomi”.... “ruang dan aspek sosial”.... “ruang dan demografi”....... ‘ruang 
dan geografi’..... ‘ruang dan arsitektur’ ... ‘ruang dan politik’  dsb.. 
dsb...... yang bukannya masing-masing ini saling terpisah ......... Tetapi 
malah semuanya sudah saling belibet demikian  erat dan ruwetnya  satu sama 
lain.......
  Dengan kata lain ....... ini sebenarmya menuntut pula ... Agar  yang namanya 
“masyarakat intelektual Indonesia“ .... Artinya bukan hanya planner saja .... 
Tetapi juga ekonom.. sosiolog ... masyarakat teknik industri... arsitek ...dsb. 
 masing2  tak lagi merasa cukup benar ... untuk dapat “bersantai-santai”  atau 
“ber-few-ber-proud”  berpikir ‘ego sektoralistik’... atau ‘ego intra 
disipliner’ ......... Tetapi agar semua pihak  mulai terbiasa  berpikir “lintas 
sektoral” dan ‘lintas disipliner’.... serta saling mudah ‘nau-in’ atau 
bertenggang rasa............. 
   
  +++: ...Kembali kepada diskusi kedigjayaan Jakarta, inipun adalah the failure 
of laissez-faire. ........Demikian juga dg migrasi yg tidak kunjung berkurang 
ke Jakarta yg menambah beban pemerintah DKI.......
  +++: Konsep Richard Florida ini pun banyak diaplikasikan di negara2 lain. 
  Kembali lagi ke dalam konteks Indonesia, menurut saya akibat kedigjayaan 
Jakarta, konsep creative class tidaklah terlalu relevan utk Indonesia. 
  >>>: Ini adalah kenyataan ketimpangan tajam luar biasa  ..... Tak hanya 
domestically antara masyarakat Indonesia  sendiri yang terendah dan tertinggi 
...... tetapi juga secara global ... antara masyarakat termiskin Indonesia dan 
masyarakat termaju didunia ....... 
  Kenapa?......  Ya karena masalahnya masyarakat termaju kita juga tak akan 
bisa disuruh mengisolasi diri dari hubungan dengan  masyarakat termaju dunia 
... Sehingga maka jadilah...  ‘ketertinggalan kita’ haruslah  diukur sejak dari 
‘masyarakat kita yang paling miskin dan primitif’.... dan masyarakat dunia yang 
termaju........  
   
  Ketika negara maju sudah bicara tentang  ‘kelas kreatif’ ........ Kita 
didalam negeri ragu untuk tidak menerima ... namun masak iya  tidak mau  larut 
pula untuk memakai apa yang termutakhir dari dunia” agar kita “tidak 
ketinggalan” .......... 
  Padahal kita juga masih terus saja berkubang dengan masalah ketertinggalan 
klasik  seperti kemiskinan.. busung lapar.... wilayah terpencil yang sulit 
dijangkau..... korupsi... penegakan hukum. dsb.......
  Jadi benar kata kang Deden .......
  Kita jelas memiliki kelas kreatif.... bahkan juga produk kreatif (khas 
Indonesia)... bahkan kelas dunia ..... seperti Borobudur.. Bali....dsb.... 
Beberapa orang kaya kita juga masuk dalam deretan orang kaya dunia versi 
Forbes, Globe Asia 2007. dsb .....
  Janganlah  terburu-buru terpesona dan bingung ingin segera  melahap seutuhnya 
segala konsep mutakhir dunia ........creative class ...... Karena kita toh 
masih saja belum lolos dari masalah klasik... Seperti  kemiskinan.. Busung 
lapar....  Wilayah-wilayah terpencil yang masih sulit dijangkau seperti 
Wamena... Maluku Tenggara... Masalah pertanian vs industri.... Masalah 
pemberantasan korupsi .... Bahkan yang termutakhir “Korupsi diatas 
‘pemberantasan korupsi’ (BLBI)”..... dsb.... 
  Sementara itu Florida hidup dinegara adikuasa, adidaya, negara dengan 
demokrasi, negara dengan kepastian hukum..........
   
  +++: Dg mengasumsikan bahwa Jakarta diluar our urban system, kita mungkin 
bisa aplikasikan konsepnya si Florida di Indonesia. 
  Buatlah Bandung bersaing dg Surabaya, Medan, Ujung Pandang for attracting, 
retaining and developing creative people. 
  >>>:  Bicara ‘kompetisi antar banyak kota-kota domestik’ seperti.... “Buatlah 
Bandung bersaing dg Surabaya, Medan, Ujung Pandang for attracting, retaining 
and developing creative people...”  ....  Kok saya pikir itu  masih seperti 
sekitar “mengadopsi pemikiran Florida” juga ..........
  Dengan “ketertinggalan” kita yang luar biasa ..... Merdeka di 1945 dengan 
‘start’ compang-camping luar biasa  akibat penjajahan 350 tahun...... Lalu  32 
tahun (1966-1998) pemasungan demokrasi  ....  setelah sebelumnya (1959-1966) 
juga pemasungan yang hampir sama .........
  Lalu secara ekonomis kita masih babak belur .... Hutang pemerintah masih 
demikian besar .....  Saya pikir kita janganlah dulu ‘loncat’ kesana  sambil 
‘mau membuang teori keruangan  yang klasik’  yang bahkan belum sempat kita 
implementasikan dengan memadai...................
  Kita bukan hanya sekedar secara ekonomi dan sosial masih berantakan...  namun 
bahkan secara ’hukum’ pun masih demikian juga........ Artinya “kepastian 
penegakan hukum” saja juga masih  tanda tanya .......
  ’Kasus Urip’ ........‘Kasus Munir’ ... ‘Kasus Suharto dan anak-anaknya”... 
Serta bermacam kasus lainnya juga masih serba tanda tanya... Akhir ceritanya 
bagaimana..... Belum tahu......... 
   
  Maka ..... Saya pikir bukan begitu ..... Setidaknya untuk saat ini ..... 
Walau belum tentu saya juga benar.......
  Saya pikir ngapain kok kota kita saling diadu saat ini  ..... Wong  jumlah 
kota besarnya saja masih kurang  ... Sistem hirarkhinya diseluruh belum 
seluruhnya benar....  Serta distribusinya saja masih belum merata ....... 
   
  Sementara demikian dan salam,
  aby
  
   
   
  On 3/7/08, Deden Rukmana <dedenrukmana@ .........> wrote: 
   
  Mas Muli, ysh:
  Well written! Sempet dulu ketemu dg Storper, Scott and Soja di UCLA? Mereka 
memang geographers wahid (meskipun Storper and Soja dosen planning department, 
tapi background mereka adalah geography). 
  Buat yang lain juga:
  Tambahan dari saya adalah analisa mereka adalah applicable utk skala global 
atau international. Globalisasi dan kapitalisme adalah sama2 menganut azas 
survival of the fittest. Siapa yg kuat dia yg menang dan yg lemah akan binasa 
dan korban dari kompetisi. Dan ini juga menjelaskan dalam skala Southeast Asia 
kenapa Singapore menjadi pemenang dan Jakarta menjadi supporter kalau kita 
tidak mau bilang the loser. 
  Kalau kita mau terapkan teori mereka dalam skala national pun adalah relevan 
juga. Hanya saya ingin menjelaskan peran planning dalam skala national utk 
mengurangi dampak negatif dari kapitalisme tsb. Di Indonesia yg menganut sistem 
perencanaan di tingkat nasional, mestinya planning berperan for mitigating the 
impacts of capitalism. Planning bisa berperan for addressing the failure of 
laissez-faire. Dalam salah satu mata kuliah disini, saya sering sampaikan bahwa 
tradisi planning dikenal baik in American society sejak Great Depression in 
1930s. Terdapat banyak proyek nasional dan planning berperan besar utk 
mengatasi dampak dari Great Depression tsb.
  Kembali kepada diskusi kedigjayaan Jakarta, inipun adalah the failure of 
laissez-faire. Dalam jangka panjang fenomena ini adalah tidak sustainable. 
Banjir tahunan adalah salah satu indikasinya. Demikian juga dg migrasi yg tidak 
kunjung berkurang ke Jakarta yg menambah beban pemerintah DKI. Kemacetan, 
berkurangnya green areas, bertambahnya slums adalah sebagian masalah ibukota yg 
tak akan kunjung tuntas tanpa ada perubahan dalam sistem perkotaan di 
Indonesia. Di sinilah planning ditunggu perannya for turning around the 
direction of urban system in Indonesia. 
  Dalam konteks sistem kota-kota di US, apa yg ditawarkan oleh Richard Florida 
melalui creative class-nya banyak "dibeli" oleh pengamat perkotaan disini. Ini 
pun turut menjelaskan mengapa kota A perkembangan kotanya tidak selaju kota B. 
Konsep Richard Florida ini pun banyak diaplikasikan di negara2 lain. Kembali 
lagi ke dalam konteks Indonesia, menurut saya akibat kedigjayaan Jakarta, 
konsep creative class tidaklah terlalu relevan utk Indonesia. Berikut saya 
kutipkan email saya yg dikirim utk rekan2 saya di PL 88  bulan November 2006 
mengenai creative class and sistem kota di Indonesia:
  "Apa yg telah digagaskan oleh Richard Florida on creative class, membuat 
planning scholars di Amrik berbangga hati. Secara khusus, JAPA, the leading 
planning journal in the US, membuat forum tersendiri utk diskusikan bukunya 
Florida (The Rise of the Creative Class). There has been very few planning 
scholars who is able to author a hot book among urban policy-makers. Richard 
Florida is the man! There is little question that Florida's book has become the 
most popular book in urban economics, urban sociology, urban politics and, 
indeed, urban planning, in the last decade. 
  Konsep creativity index-nya, banyak menarik perhatian urban policy-makers in 
the US. Konsep ini memberikan dimensi baru dalam memahami pertumbuhan 
kota/metropolitan di US. In his sequential book (The Flight of the Creative 
Class), he expands his concept to a global context and asserts the growing 
global competition for creative people. 
  As cited by Agus, the key components of his creativity index include 
technology, talent and tolerance. Technology and talent have long been seen as 
driving forces of economy growth. He describes tolerance as "openness to 
self-expression and wide range of social groups". From these components, he 
develops four indexes, which make up of the creativity index, include 
creativity class concentration, high-tech index, innovation index and diversity 
index. The last one is based on the fraction of the population that is gay!)
  Nah, sekarang bgm kita (sbg orang yg pengen negaranya maju) bisa memaknai 
konsep yg digagas sama si Florida ini. Di US, regional disparities is not a hot 
issue as we have in Indonesia. Ketimpangan antara New York dg North Dakota, 
misalnya tidaklah jadi masalah besar. Hanya buat mayor in any city in North 
Dakota, Florida's concept will shed light on his city's economy growth problem. 
Otherwise, the major of San Francisco will be proud much more of his 
accomplishment of attracting, retaining and developing creative people. 
  Di Indonesia, we should be able to rank cities based on Florida's creativity 
index. (As he did in European countries, please check his snazzy website at 
www.creativeclass. org), but then what?
  Kota2 di kita, mohon dikoreksi kalo salah, masih banyak tergantung kepada 
pusat. Desentralisasi tanpa didukung sumber daya lokal yg kuat, membuat kota2 
kita crippled. Kalo kebanyakan kota2 kita seperti Kutai, tentunya dinamika 
desentralisasi akan lebih vibrant! Kompetisi antar kota spt digagas oleh 
Florida for attracting, retaining and developing creative people seem 
irrelevant to our cities. Menurutku, salah satunya berakar dari peran Jakarta 
yg terus menguat sbg central dari berbagai sektor kehidupan di Indonesia dan 
melemahkan peran kota2 lainnya utk berkompetisi dg Jakarta. 
  There is little doubt that Jakarta is able to attract and develop creative 
people. Its tolerance to diversity is also one of driving forces of economic 
growth. Nonetheless, kedigjayaan Jakarta mengerdilkan kota2 lainnya dan membuat 
Jakarta be an outlier in our urban system. 
  Dg mengasumsikan bahwa Jakarta diluar our urban system, kita mungkin bisa 
aplikasikan konsepnya si Florida di Indonesia. Buatlah Bandung bersaing dg 
Surabaya, Medan, Ujung Pandang for attracting, retaining and developing 
creative people. Kota2 lainnya pun bersaing dg kota sekelasnya. Hanya sekali 
lagi, karena Jakarta yg terus membesar, maka kota spt Tangerang, Bekasi, Bogor 
tak bisa kita masukkan pula dalam model kita ini. Kedigjayaan Jakarta ini yg 
bikin aku gemes dg konsep pengembangan kota di Indonesia."
  Terima kasih dan salam dari Savannah,
  Deden. 
   

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke