Halo p.Harya...
...eh baca milis anda ini saya kok setuju ya, pertanyaannya bagus 'mengapa
ini yg menjadi indikator bagi perencanaan publik?'
..... begini pak, katanya karena kita untuk bisa menggerakkan ekonomi harus
mengundang para investor ! Kenapa harus diundang ? Karena mereka yang punya
duit ! ...hehe kayaknya tanpa duit ga bisa apa2 ya?
Kenapa kita ga punya duit? ..... ini yang sedihnya karena kita kayaknya ga
bisa nguber duit kita yang dibawa kabur keluar negeri .... iya ga nih, saya
baca di media macem2 kayaknya kan begitu?! Ini kan lama2 kayak bola salju
katanya...
Kenapa kita ga mulai saja dengan 'small is beautiful' kenapa musti 'Giant' ?
Kenapa ga pake nama toko 'Simpang Ampek' kenapa harus Carrefour ? Padahal waktu
saya kecilpun sudah ada warung di kampung saya yang sekarang mungkin dikenal
dengan 'cafe' tanya aja p.Risman, p.Eka kalo pernah ke Padang kan dulu tempat
rendezvour nya oom-oom kita itu di Simpang Ampek (ada kopi talua, teh talua,
kampiun, gajeboh, gulai kambiang merah-putih dsbnya) .... Malah lagunyapun kita
punya lho.. "Simpang Ampek Suko Mananti".
Kenapa remaja kita lebih merasa exist kalo bicara makan di MD, Kentucki,
Texas, Hoka-hoka Bento dsb itu....
hik hik hik aku masih lebih doyan sama Gado-gado bu Bejo, Lotek Kalipah Apo,
Pical si Kai, .........
....bisa ga' ya menu2 itu dibikin funky ?
Btw .... I live side by side with Carrefour dan suka mencium bau comberannya
yang ga tau harus ngadu kemana........
Salam - 2ny
Harya Setyaka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Halo,
Sepemahaman saya, sektor swasta menjalankan bisnisnya dengan rasio tertentu.
Citibank ogah buka cabang di Makassar? mengapa ini yg menjadi indikator bagi
perencanaan publik?
Mengapa kita jadi di-dikte oleh hirarki-nya Citibank?
Toh apa sih artinya Citibank tidak buka cabang...
bukannya transaksi keuangan sudah bisa on-line ya jaman ini...
Lagipula Citibank buka kantor cabang jangan-2 tujuannya adalah menyedot dana
publik utk di-investasikan pada pembangunan di negara lain... di Indonesia cuma
jualan kartu kredit yg hanya memperbesar konsumsi dan tidak meningkatkan
produktifitas riil...
apa iya Citibank gencar menyalurkan kredit utk UKM?
Begitupula SOGO, Carrefour, dan simbol-2 kapitalis global lainnya...
hanya menunjukkan betapa pola dan preferensi konsumsi kita sudah di-dikte
oleh kapitalis yg eksploitatif.
Di Jakarta pun Carrefour menjadi predator bagi pasar-2 tradisional... apa iya
pedagang pasar tradisional di kota-2 lain juga harus ikut dibabat??
Harusnya kita mampu utk lebih 'Indonesia' dalam menentukan strategi
pembangunan...
perilaku konsumtif kota besar tidak perlu ditularkan ke kota-2 kecil lain
atas nama pembangunan dan pengentasan kemiskinan... apalagi atas nama
counter-magnet...
Mau membuka peluang usaha?? Sebaiknya yg eksport oriented... yg mampu
menembus pasar global..
bukan malah jadi tempat lemparan barang dari luar...
Caranya?? bukan dengan memfasilitasi konsumsi barang import lewat SOGO....
tapi merangsang export...
revisi tingkat pajak utk export dan ciptakan iklim investasi yg baik agar
para pebisnis lebih semangat utk menembus pasar global..
dan bukan malah merelokasi industrinya ke VietNam, Kamboja, dll...
salam,
-K-
Mengapa seperti reaksi pak Abimanyu... 'kota-kota' lalu seperti
tentara'..... Karena Citibank.. Pfizer.. atau Carefour atau Sogo atau Bank
Mandiri misalnya .... Memandang ...... Leuwiliang .... Bojonegoro...
Medan...Tidore...Tual... bukanlah kota-kota yang dapat disejajarkan arti
strategisnya.....
Bahwa mengapa Citibank sampai hari ini hanya membuka kantor cabang di
Jkt-Sby-Bdg-Medan-Smg-Denpasar.....Dan untuk jago saya 'Makassar' Citibank
asem....Kenapa masih belum 'doyan' juga membuka kantor cabang disana......
Atau kenapa Sogo tak membuka cabang di Bojonegoro..... Ya itu karena begitulah
..... Dunia bisnis memang memandang kota-kota dan indeks kelengkapan
atributnya atau indeks proporsi SDM dan tingkat pendapatannya dalam hirarkhi
yang ketat........
On 3/16/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Milisters semuanya ysh,
"abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]> menulis (tapi sepertinya
sambil geregetan..hehe)..... :
+++: Eyang Aby ysh, cucu heran, kok 'kota' seperti tentara ya?
nah kalau 'desa' apa sama seperti pasukan gerilya ya? atau 'buto cakil' ?
lalu... hutan, laut dan pulau kosong kita ga punya status, jadi ga usah
dipikirin ...? oh nasib pelengkap penderita... ....
cucu cuma takut kota menjadi komoditi MLM, yang bermuara nun jauh di
sono.....maaf, sekali-sekali nyeleneh, boleh kan......? Wassalam,
>>>: Hehe...bener khan ...... Kalo sampe ekologi nggak kesebut dalam tiap
wacana ruang .... Pak Abimanyu cucuku yang kritis itu pasti marah betul...
hehe... Padahal tempohari diposting saya Ibukota dan Countermagnet (2)
06/03/08.... Saya sudah permisi .....
"....Telah didiskusikan bahwa penataan ruang dengan akan terus saja memakai
pendekatan klasik aspek tunggal profisik propasif ....... tak akan lagi cukup
memadai ....... maka tentu diperlukan reorientasi baru...........
Menilik bahwa diperlukan pendekatan terpadu multi sektoral fisik, ekonomi,
sosial, demografik, interregional (geografik) dan tentu saja ekologik... yang
semuanya terangkum dalam enjinering keruangan.......dst..."
>>>: Kalo soal 'tuduhan' menyamakan 'kota seperti tentara'.... lalu 'desa
seperti gerilyawan?'... atau 'butocakil'...dst... (pelengkap penderita).....
Saya rasanya sudah pernah sampaikan tentang pandangan 'Non-Salaryman Eye View'
atas kota-kota...... yang jelas berbeda dengan 'PNS Eye View'.. hehe....
Titik tolaknya begini .....
Dari total 235 juta penduduk Indonesia .... Menurut Menakertrans Erman
Suparno ........Yang disebut sebagai Tenaga Kerja adalah sebanyak107 juta jiwa
........Yang nganggur saat ini10 juta jiwa... Dari sebanyak 97 juta TKI itu
... 64 jutaTK bekerja disektor informal ... Hanya 33 juta jiwa bekerja disektor
formal ....Dan kita tahu .... Birokrasi kita totalnya saja 4 juta jiwa......
dan entahlah ..... pak Abimanyu termasuk di yang 4 juta jiwa itu atau yang
dimana .. hehe...
Sebanyak 64 juta TK.. Atau sama dengan mayoritas kelas pekerja kita ....
Sebagai para pekerja disektor tidak modern atau sekedar nempel pada sektor
modern ...... Mereka secara mayoritas bukan termasuk 'salaryman' dengan
penghasilan yang tetap... Dan mau tak mau sangat bergantung hidupnya pada
mekanisme ekonomi ... Dimana saat ini ekonomi 'pemulihan' kita ... Juga masih
terhuyung-huyung... Bekas Krismon 1997-98 yang berkepanjangan......
Demikian juga dengan sebanyak 33 juta TK disektor formal ....... Walau banyak
diantaranya adalah para salaryman dengan penghasilan tetap serta status
hubungan kerja permanen .. Yang nantinya ada juga yang bisa dapat uang
pensiun... tetapi Sektor formal ini juga mutlak tergantung pula hidupnya dari
mekanisme ekonomi nasional bahkan internasional yang keras......
Sebesar dan sebanyak apapun modal perusahaan swasta .. dengan mismanajemen ia
bisa saja tak lama bangkrut.... tetapi pemerintahan tak bisa bangkrut....
Bila hari ini sebuah rezim jatuh ... pada menit berikutnya rezim baru segera
berdiri .... dan PNS terus menerus tetap saja diberada didalamnya secara
permanen.... walau majikan rezimnya datang-pergi silih berganti......
Demikian kokohnya permanent employment pada PNS ... sampai2 PNS bahkan
pensiun PNS... merasa tak perlu tahu atau tidak mau tahu tentang uang gaji
yangpermanen itu di DepKeu itu asalnya diperoleh darimana ....... sampai-sampai
bahkan ia bisa memastikan dirinya "bebas dari segala urusan pergulatan
hidup-matinya perekonomian negara dan masyarakat".......
Pegawai swasta atau sektor informal umumnya merasa perlu terus memantau ...
Apakah perusahaan tempat mereka bekerja masih sehat atau tidak manajemen dan
kinerjanya .... Apakah sumber keuangan untuk gaji mereka itu 'aman' atau
'suram'....... Karena hidup mereka diliputi setengah bahkan 90%
ketidak-pastian.........
Kalo Deptrans PPH diciutkan misalnya ..... maka PNS didalamnya masih bisa
disebar seperti ke Depnakertrans.. ke DKP ... atau ke Departemen baru yang
dibentuk.... Pegawai swasta tidak bisa semudah itu......
Nasib pegawai swasta tergantung pada hasil business plan dan hasilnya.... dan
itu terkait perekonomian dunia ......
Maka kalo ada PNS atau salaryman 'sewot' bahwa 'wacana ekonomi' kok sampe
mau masuk keberbagai 'sendi kehidupan bangsa' ...... maka sebaliknya .... dunia
swasta dan sektor informal juga akan terheran-heran nggak habis pikir ... kok
ada ya .. dinegeri yang ekonominya amat sangat terpuruk ini.... Dimana ada 10
juta TK nganggur... Kok ada orang yang 'economics phobia' gitu.....hehe...
Nah... cucuku pak Abimanyu .... pada perspektif 'bird eye view of big
mayority population of dunia swasta dan sektor informal' itulah saya memandang
sistem kota-kota secara nasional ......
Dimana kalo untuk salaryman dan PNS .. kota-kota adalah sekedar 'just some
places for several days official or holiday visit and for having fun
with'........Maka sementara itu bagi dunia orang swasta dan sektor informal
........Bagi para industrialis dan bisnisman yang harus menghidupi perusahaan
tempat bergantung sebagian besar dari 33 juta TK sektor formal dan 64 juta TK
sektor informal inilah..... Mereka terpaksa memandang "kota-kota adalah medan
perang untuk hidup dan mati" dalam soal urusan 'distribusi, sales dan
survival'... Demi sesuap nasi.... bagi yang terlemah ..... dan demi sebatang
emas bagi yang kuat.....
Untuk hidup... Orang swasta harus menjual dulu jasa atau produk..... Harus
bersaing ketat dulu dengan banyak kompetitor... Atau kalo itu tak mungkin ..
Bahkan sementara terpaksa 'nganggur' dulu!...Sesuatu yang nyaris tak akan
menyentuh kehidupan sehari-hari PNS......
Mengapa seperti reaksi pak Abimanyu... 'kota-kota' lalu seperti
tentara'..... Karena Citibank.. Pfizer.. atau Carefour atau Sogo atau Bank
Mandiri misalnya .... Memandang ...... Leuwiliang .... Bojonegoro...
Medan...Tidore...Tual... bukanlah kota-kota yang dapat disejajarkan arti
strategisnya.....
Bahwa mengapa Citibank sampai hari ini hanya membuka kantor cabang di
Jkt-Sby-Bdg-Medan-Smg-Denpasar.....Dan untuk jago saya 'Makassar' Citibank
asem....Kenapa masih belum 'doyan' juga membuka kantor cabang disana......
Atau kenapa Sogo tak membuka cabang di Bojonegoro..... Ya itu karena begitulah
..... Dunia bisnis memang memandang kota-kota dan indeks kelengkapan
atributnya atau indeks proporsi SDM dan tingkat pendapatannya dalam hirarkhi
yang ketat........
Desa bukan 'pasukan gerilya' atau 'buto cakil' .... tetapi saya
menempatkannya sangat mulia ... seperti nanti kalo mas Catur dan pak Eka jadi
ngadain acara kopi darat .... Katanya kompilasi lama saya Seri 07 'Kota Pusat
Layan Desa' akan dibagikan (door prize?) ....... Kalo anda hadir dan kebetulan
mendapatkannya..... anda akan mendapatkan bgmn saya amat demikian melebur
dengan desa......
Kalo untuk hutan, laut, pulau yang kosong .... nanti kalo pak Eka sudah
berkenan mengeluarkan kompilasi saya Seri 08 "Agenda Perencanaan Ruang di
Perbatasan".... nanti pak Abim boleh percaya bahwa saya juga tak pernah anggap
itu 'pelengkap penderita'......
Jadi jangan 'heran' (atau geregetan?) lagi ame kakek ya cuk?..... hehe...
Sementara demikian dan salam,
aby
.
--
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta Selatan 12760
+62 21 92771862
+62 21 7997039
INDONESIA
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.