Pak Abimanyu ysh,
   
  Saya sependapat dg bapak, mungkin karakter ilmu Planning itu memang 
seharusnya mengetahui berbagai aliran pemikiran (school of thought) dan 
menggunakannya sesuai dengan kondisi spesifik negara dan wilayah yg 
direncanakan... ini tentu agak berbeda dengan karakter ilmu sosiologi atau 
geografi sosial dan ilmu2 sejenisnya yg penganutnya bisa marxist, neo 
liberalist, dll... tapi memang agak sulit, misalkan saya yakin di luar UCLA di 
US tidak banyak tempat yg mengajarkan marxian geography di departemen PWK, 
misalkan... 
   
  Kita mungkin baru tahap mencoba mengenali pemikiran dan melihat apakah dpt 
diaplikasikan di Indonesia... tapi saya harap di era reformasi ini sejalan dgn 
anggaran pendidikan dan penelitian yg meningkat maka harapan Myrdal dlm Asian 
Drama bahwa sudah seharusnya ilmu ttg Asia dikeluarkan oleh Asian scholars bisa 
akan segera tercapai... kalau lihat China sih rasanya sudah tercapai (tentu 
saja Jepang dan Korea juga)... kalau kita google topik regional planning atau 
urban planning di China kita akan mendapatkan judul2 paper yg cukup banyak 
diinternet... yg kalau kita google Indonesia rasanya belum banyak...
   
  Tapi paling tidak mekarnya ide2 dari berbagai aliran pemikiran di bidang 
planning dan yg terkait terutama dlm konteks Indonesia tentu akan sangat 
membahagiakan mengingat discourse ttg bidang ini masih sangat terbatas... 
(kecuali di referensi hehe)...
   
  salam hangat,
   
  Eko.
   
   
   
   
   
  

abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Pak Wawo, pak Eko, pak Muli, pak Deden dan para referencer ysh
   
  Saya sangat gembira karena tampaknya diskusi kita semakin terbuka dan mulai 
keluar dari "kotak" yang mengkungkung atau mengikat identitas para  planner 
secara kaku.....
  Semakin tampak juga bahwa cakupan perencanaan tidak lagi satu warna (take it 
or leave it) tetapi dapat mulai dari berbagai sudut pandang, mashab atau anti 
mashab, bahkan disiplin ilmu lain....tanpa takut dibelenggu oleh cap aliran 
kiri atau bukan....
  Juga terungkap bahwa ada lingkup kajian dapat pada tingkat konseptual hingga 
praxis atau hingga masalah rutin harian..... 
  Perkembangan tersebut justru menunjukkan bahwa cakupan disiplin ilmu para 
planner tidak usah takut dicap tidak profesional atau tidak mengikuti pakem 
tertentu....semakin terbuka semakin kita tahu keterbatasan kita semakin banyak 
unsur yang memperkaya wawasan hingga kemampuan kita  mengembangkan ilmu dan 
mengamalkan yang lebih baik....
   
  Mungkin sudah mulai perlu ada moderator yang memberi atribut atau nomenklatur 
isu diskusi sehingga mudah dicari lagi dalam referensi per lingkup diskusi 
nantinya.....  
  
Disisi lain semakin jelas bahwa kalau kita terjebak kepada "warna", "bahasa" 
atau "pakem" yang kita beli dari luar diri kita, kita semakin menjadi level 
paling bawah dari sistem MLM jualan warna, bahasa, atau pakem tersebut. Artinya 
kalau kita terjebak ke dalam persaingan global kepentingan "produsen" ilmu 
tertentu (school) maka kita akan menjadi konsumen "miskin" yang selalu tertarik 
untuk membeli hal baru yang mereka tawarkan. Padahal ke-"miskin"-an kita 
mungkin saja cuma bersifat struktural, karena kita menempatkan diri kita 
disana. 
   
  Dalam contoh isu-isu diskusi mengenai pengaruh tingkat global terhadap 
potensi perkembangan kota dunia selama ini terungkap bahwa:
  - Industrialisasi dan spesialisasi global mengakibatkan kota dunia (global 
city) atau bahkan negara tertentu hanya menjadi salah satu sekerup dari pusat 
sistem produksi kelas dunia. Dari sisi pusat sistem, sub-sistem membantu 
efisiensi mereka. Dari sisi sub- atau sub-sub-...sub-sistem, mereka menjadi 
sangat tergantung kepada komponen produk lain dari sub-...lain, yang sudah 
ditetapkan oleh pusat sistem. Akibatnya, kalau si pusat sistem mengubah pilihan 
produk atau jualan mereka karena jenuh atau temuan baru, maka sub-...tsb bisa 
tidak berfungsi dan "collapse"...krisis....  
  - UK dan US menyalahkan Perancis karena "tidak mengikuti pakem" produk teori 
mereka.....Sedangkan Perancis "tidak mau membeli" pakem UK dan US karena mereka 
punya "jualan" sendiri....
  - Perkembangan ekonomi suatu kota global banyak dipengaruhi oleh sistem 
ekonomi global.
  - Sistem ekonomi global dapat berhasil karena didukung sistem politik dan 
strategi perang (penguasaan pasar). Di sini pengertian pasar sendiri 
terbagi-bagi dalam segmen-segmen spesialisasi yang dapat saja saling tergantung 
(mutual atau eksploitatif) atau bersifat "foot lose", lincah, bahkan tidak 
(mau) terikat tempat dan negara.... 
  - Dulu pertanian, rempah-rempah (sistem pertanian) sebagai aset penting 
jualan tingkat dunia.... kemudian sumber daya alam (tambang, sistem 
eksploitasi) menjadi aset perdagangan dunia. Kemudian hasil olahannya 
(industri, sistem produksi)....Lalu "sistem jasa" ....lalu "sistem 
informasi"... dan apalagi nanti....dalam berbagai alternatif "merek"nya... 
   
  Disisi lain kita dapat belajar bahwa:
  - Jerman dan Jepang maupun Israel yang semula secara fisik "kalah perang" 
atau "menderita",  justru dapat turut berkiprah dalam permainan pasar ekonomi 
dunia dalam segmen masing-masing. 
  - Cina yang diisolir karena menganut "warna" berbeda, bermain dalam segmen 
pasar dunia yang  berbeda pula  
    - Konsumennya termasuk dari negara-negara yang sebelumnya dianggap "menang".
  - Singapura yang relatif tidak memiliki sumber daya alam, mampu bermain 
ekonomi pasar pada tingkat global dalam segmen yang berbeda pula 
   
  Artinya, selama kita mampu menghasilkan "produk khas" yang diperlukan 
konsumen tingkat dunia/region dan segmen tersebut berbeda sehingga pesaingnya 
kurang, kita dapat keluar dari posisi "miskin" dan "level konsumen terhina" 
selama ini....
  Tetapi kalau "bahasa" kita masih menggunakan bahasa "jualan" mereka, maka 
kita harus siap bahwa suatu saat pundi-pundi pinjaman kita bagi eksistensi 
generasi yang akan datang keburu kita habiskan karena kita cuma bisa jadi 
pembeli dan tidak mampu berproduksi.....
   
  Kota dunia ataupun investasi atau sistem produksi setempat tidak ada artinya 
kalau hanya menjadi agen, pembeli francise, atau cuma tempat gerai produk 
negara lain...apalagi hanya untuk menjadikan kita sebagai bagian dari sekerup 
pusat sistem produksi salah satu atau bahkan semua penjual tingkat dunia 
lainnya.
   
  Mari mulai mencari dan menanam (bukan menggali) bibit pohon "jualan" generasi 
penerus kita... dan menyiapkan sistem lingkungan "tempat"  dan perangkatnya 
yang lebih berkelanjutan. 
  Bila basis jualan unggulan tersebut lebih nyata, maka mari kita kembangkan 
kerangka pendidikan, IPTEKS, lapangan kerja dll yang strategis untuk 
mendukungnya, termasuk kota-kotanya. 
  Kalau tidak...kita justru menyuramkan hari depan kita.....(sehingga semakin 
susah untuk menggusur kepentingan mobil pribadi baru yang canggih dan mngkilat 
dari "wakil rakyat", apalagi memprioritaskan pengembangan sistem mobilitas yang 
lebih "merakyat"...?)
   
  Mungkin bahasanya terlalu awam, atau justru terlalu ngawang. Tetapi mungkin 
saja dapat lebih membuka celah dari kerangkeng ekonomi-fisik faham luar yang 
secara tak sadar menjerat hari depan anak-cucu kita....
   
  Ah, dampak pemanasan global kan masih ratusan tahun lagi?...emang gua 
pikirin....?
   
  Wasalam,
   
  Abimanyu
   

  

                           

       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

Kirim email ke