DIkutip dari Kompas,  Rabu, 14 Mei 2008 
   
  Biogas Menghemat Biaya Negara
  Potensi PLTB Kalteng Belum Tergarap
   
  Bandung, Kompas - Penggunaan biofuel dapat menghemat pengeluaran negara 
maupun masyarakat pengguna listrik sendiri. Penggunaan biogas dari kotoran 
hewan ternak, misalnya, dapat menghemat pengeluaran keluarga setiap tahun 
sebesar Rp 554.568.
  Deputi Manajer Komunikasi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Distribusi Jawa 
Barat-Banten Bambang Dwiyanto di Bandung, Senin (12/5), mengatakan, pihaknya 
telah membentuk kawasan Ca’ang Desa Energi Mandiri.
  Program bersama masyarakat dan Universitas Padjadjaran, Bandung, itu 
memanfaatkan energi alternatif dari kotoran hewan ternak yang bisa diolah 
menjadi biogas untuk memasak dan penerangan rumah.
  Proyek dilakukan di Desa Haurngombong, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten 
Sumedang, Jawa Barat.
  Melalui program Bina Lingkungan PLN itu, warga diberdayakan ekonominya dengan 
pemanfaatan energi alternatif berbentuk instalasi lima unit peralatan reaktor 
biogas.
  Setiap reaktor untuk satu generator bagi tiga rumah. Setiap generator 
berkekuatan 500 watt, bisa digunakan untuk 50 lampu hemat energi berkekuatan 10 
watt pada saat beban puncak.
  Berdasarkan aplikasi penggunaan biogas itu, satu keluarga dapat menghemat 
hampir Rp 46.214 per bulan.
  Jika suatu desa terdiri dari 1.000 keluarga, maka menghemat uang Rp 554,56 
juta. Negara pun menghemat biaya operasi sebesar Rp 250.425 per keluarga per 
bulan, dan negara menghemat biaya investasi Rp 1,15 juta per keluarga dan Rp 3 
miliar setiap tahun.
  Anggaran investasi dapat dihemat melalui infrastruktur kelistrikan Rp 1,15 
miliar setiap tahun untuk 1.000 keluarga.
   
  Energi alternatif
  Sementara itu, potensi angin di 750 kilometer pesisir Kalimantan Tengah belum 
tergarap sebagai penggerak pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Padahal, 
kecepatan angin di pesisir provinsi tersebut 3,5 hingga 5 meter per detik.
  Angin dengan rentang kecepatan tersebut mampu menggerakkan kincir pembangkit 
listrik tenaga bayu kecepatan rendah.
  ”Ada teknologi PLTB kecepatan rendah dari ITB (Institut Teknologi Bandung),” 
kata Kepala Subdinas Minyak, Listrik, dan Energi Dinas Pertambangan dan Energi 
Provinsi Kalteng Tomas Sembiring di Palangkaraya.
  PLTB tersebut, kata Tomas, mampu menghasilkan daya 5.000-10.000 watt. Daya 
sebesar itu bisa dibagikan kepada sekitar 100 rumah di perkampungan nelayan 
yang tak terjangkau jaringan PLN.
   
  Proyek percontohan
  Tahun 2009, lanjut Tomas, pemerintah akan membuat proyek percontohan PLTB 
kecepatan rendah ini di pantai Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit, 
Kabupaten Kotawaringin Timur, berbatasan dengan Kabupaten Seruyan.
  ”Kalau hasilnya bagus, tidak menutup kemungkinan PLTB serupa dibangun di 
kawasan pesisir Kalteng lainnya,” kata Tomas.
  Proyek percontohan diperlukan sebab investasi untuk membangun PLTB kecepatan 
rendah tersebut cukup besar, yakni sekitar Rp 400 juta per unit.
  Berdasarkan survei, potensi angin berkecepatan 3 hingga 5 meter per detik 
tersebar di pesisir Kalteng, mulai dari Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, 
Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Kotawaringin Barat.
  Tomas menuturkan, PLTB kecepatan rendah temuan ITB tersebut mampu mengikuti 
arah datangnya angin sehingga pada musim angin barat atau angin timur pun PLTB 
ini akan tetap berfungsi.
  Energi listrik hasil PLTB ini dapat disimpan di dalam aki. Bahkan, di Bali, 
energi dari PLTB dapat pula dijual kepada PLN. (CAS/BAY/A01)

       

Kirim email ke