Saya sependapat dengan anda mas Risfan ysh,
Namun demikian, di negeri NKRI yang tercinta maha luas dan kaya SDA & SDM ini 
ternyata proses menuju yang didambakan oleh UUPR 26/2008 dn UU terkait lainnya, 
sepertinya memang masih butuh waktu yang panjaaang. Mungkin untuk terobosan, 
kalau boleh saya usul, dalam 'Kabinet Baru' di awal 2010 hasil Pemilu 2009 
nanti, alangkah baiknya kalau semua Kegiatan kelembagaan operasional Penataan 
Ruang yang sifatnya multi-sektor ini dan ujung-ujungnya membuat 'kebijakan', 
disatukan saja di satu 'Kementrian Baru'. Tentunya harus lebih efisien dan 
efektif, dalam arti lebih ramping dengan menggabungkan saja misalnya dengan 
Kementrian LH, juga BPN dan Direktorat-2 terkait Penataan Ruang yang 
ada/tersebar di Kementrian lain. Secara hierarkis kelembagaan di tingkat 
Propinsi/Kabupaten/Kota, mungkin dapat diatur lebih lanjut, sehingga tidak 
rancu wewenang dalam pelaksanaannya.
Usulan ini kalau tidak salah sudah pernah dulu muncul di tahun 1985 dan 2005, 
namun tidak terdengar gaungnya lagi, mungkin karena akan banyak 'pejabat' yang 
harus dilengserkan untuk perampingan organisasi ?
Bagaimana peran & fungsi organisasi 'Kementrian Baru' tersebut, mungkin dapat 
dijadikan bahan kampanye untuk para calon pemimpin baru negeri tercinta ini.
Semoga wacana 'Kementrian Baru' ini dapat bergaung kembali dan terealisasi.
Wassalam,
Onnos
 


To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Sun, 29 Jun 2008 13:51:23 
+0000Subject: [referensi] Khitah sebagai Sarjana Planologi ? Re: Paradigma?





Ya nggak gitu lah Pak,Saya cuma menyarankan supaya click sebentar kurikulum 
sekolah planologi. Supaya ingat bekal-bekal yang pernah dipelajari, dan 
kemungkinan-kemungkinan aplikasi yang bisa dikembangkan. Paling tidak 
memperluas perhatian, dari aspek perencanaan kepada aspek "pengelolaan 
pemanfaatan" dan "pengendalian" sesuai amanat UUPR. Dengan konsekuensi mesti 
lebih menyentuh aspek manajemen pembangunan, dan memahami proses-proses 
ekonomi, sosial, kelambagaan dan politik (pembangunan) yang berkembang di 
kota/wilayah.
Perencanaan pun, di lapangan saat ini yang banyak ditangani adalah sejenis 
RPJMD, yang mencakup bidang sosial, ekonomi, fisik, budaya, dengan rekomendasi 
yang multi-sektor juga. Begitu gawat dan kompleksnya masalah perkotaan/wilayah, 
begitu lengkapnya bekal kuliah semasa sekolah, masak sih terus-menerus tutup 
mata dengan alasan tugasku 'cuma zoning dan ngapling'.
Jangan meredusir profesi menjadi sekedar  'tukang zoning dan kapling'.  Sarjana 
adalah intelektual, bukan tukang.  Terima kasih atas tanggapannya.
Salam,Risfan Munir
--- In [email protected], Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:>> Rekan milisters ysh,> Waduh kok sepertinya pada kehilangan pegangan ya 
? Hidup ini cuman 'mampir' yang di isi proses pembelajaran terus menerus sampai 
kita di 'kubur' alias 'dut'. Sepertinya profesi 'planner' dapat ditarik-ulur 
kayak karet, bisa jadi sangat luas tetapi juga dapat sempit, tergantung kemana 
focus kita.> Terlampir ada 'jamu' untuk menguatkan stamina, semoga bermanfaat.> 
Wassalam,> Onnos > > > To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: Thu, 26 Jun 
2008 16:58:43 +0000Subject: [referensi] Khitah sebagai Sarjana Planologi ? Re: 
Paradigma?> > > > > > Terima kasih atas tanggapannya,
 






_________________________________________________________________
Manage multiple email accounts with Windows Live Mail effortlessly.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke