3 Juli 2008, www.jatam.org

Sisi Lain Otonomi Daerah Maluku Utara

Oleh:  Zulkifly A. Idris, aktivis lingkungan tinggal di Ternate

Berita konflik di Maluku Utara lebih terkenal dibanding isu lainnya. Yang terakhir, pemilihan gubenur Maluku Utara yang berakhir ricuh dan berlangsung berbulan-bulan. Berita mereka bahkan menutup masalah utama di kawasan pulau-pulau kecil ini, yaitu kesenjangan sosial dan keselamatan penduduknya. Padahal, belum tentu para gubenur terpilih itu mampu mengurus hal itu.

Sementara itu, kekeringan, pencemaran air, udara, dan tanah yang terjadi bersama naiknya laju perusakan hutan dan pertambangan tak banyak diberitakan. Di pulau-pulau Morotai seperti pulau Ngele-ngele, Koloari dan Tobo-tobo serta wilayah sekitar PT. Nusa Halmahera Mineral (NHM), yakni desa Tabobo, Tiowor dan Bukit Tinggi, terjadi intrusi air laut dan rusaknya sungai. Akibatnya, sejak sepuluh tahun terakhir warga susah memperoleh air bersih.

PT NHM adalah perusahaan tambang emas yang sebagian besar sahamnya dimiliki asing, Sejak 2003, berkali-kali warga sekitar PT. NHM berdemonstrasi menuntut kembalinya hak-hak dasar mereka. Salah satunya hak memperoleh air bersih, yang terganggu sejak air sungai rusak akibat pertambangan. Akhirnya di desa Tiowor, Bukit Tinggi dan Tabobo, PT. NHM membangun sumur pompa. Tapi sampai hari ini, sumur itu tak bermanfaat karena sumber air mengandung zat garam. Padahal dulunya, sumber air sumur di kawasan itu tidak mengandung zat garam. Warga terpaksa mencari sumber air minum alternatif, pilihannya air sungai. Padahal air sungaipun sudah terganggu karena PT NHM mengalirkan limbah sisa pabriknya kesana.

Berita selengkapnya dapat dibaca di www.jatam.org  

Kirim email ke