Rekan-rekan yang baik, Saya kira tulisan Mas Risfan yang lebih dulu masuk ke "pigeon hole" saya layak untuk saya telaah dan diskusikan terlebih dahulu. Pun demikian, sangat saya hargai tulisan Mas Fadjar muncul [despite his proclaimed tendency towards silence:-)] dan berbicara soal tidak analognya tulisan Romo Setyo -- seorang kawan diskusi yang menarik, baik, dan penuh semangat menurut sahabat saya Irendra Radjawali yang juga pernah "berhabitat" di Sorbonne -- dengan tema kita soal "regional inequalities" antara Jabodetabek dan non-Jabodetabek.
Pemikiran yang serupa dengan tulisan Mas Fadjar saya temukan juga pada tulisan Mas Eko Budi di milis futurologi yang alangkah baiknya saya cuplikkan juga di sini sbb. ---forwarded message begins--- Mas Andri, saya sendiri tidak menyukai regional inequality... tapi solusinya bukan dengan menghentikan pembangunan Jakarta atau menjadikan seluruh wilayah menjadi Jakarta... di milis referensi saya sudah coba jelaskan bahwa regional inequality itu akibat sistem perekonomian kapitalisme yg kita anut yg termanifestasi dlm ruang... dan greed memang driver dari capitalism... tetapi apakah ada alternatif sistem perekonomian yg lain dari kapitalisme? saya ingin tahu sebuah contoh sistem perekonomian yg dapat menghindarkan dirinya dari regional inequality? bahkan negara komunis, sosialis, dan welfare states pun tidak dapat menghindari diri dari regional inequality..it exists everywhere...dan memang tidak mungkin membangun semua tempat menjadi Jakarta, Tokyo, atau New York... sekali lagi, menurut saya solusi yg penting adalah mensejahterakan rakyat di mana pun dia berada... menjadikan seluruh wilayah Indonesia menjadi Jakarta selain impossible juga bukan yg terpenting, toh di Jakarta juga banyak kemiskinan...tetapi lebih penting adalah menghapuskan kemiskinan dan mensejahterakan masyarakat, baik di jakarta maupun luar jakarta... artikel ini jelas menarik, dan kita semua tahu yg ditulis oleh Romo Setyo adalah terkait dengan krisis di US saat ini, bukan soal regional inequalities... yg greedy bukan region nya tapi manusianya, tapi kembali lagi tanpa greediness maka kapitalisme tidak bisa bergerak... yg diusulkan oleh Sarkozy, yg juga secara implisit menjadi penutup dari artikel tsb adalah bahwa kapitalisme perlu diatur/diregulate oleh negara (negara mengatakan cukup), bukan dihilangkan... Saya menyadari bahwa naluri keadilan dalam diri Mas Andri sangat besar, dan saya hormati itu...berbagai bahan tersedia di internet ttg penyebab regional inequality, khususnya di Indonesia, yg bisa kita pelajari, tidak usah khusus belajar di univ ttg ini seperti saya...masalah data2 statistik, apakah percaya atau tidak itu pilihan masing2...namun dari data2 statistik yg ada, sekian tahun sejak otonomi daerah bergulir, kesenjangan antar wilayah telah bergeser dari antara Jakarta dengan non Jakarta, menjadi antara daerah kaya seperti Kaltim dan Riau dengan daerah2 miskin seperti NTT... mari kita bersama mencoba berdiskusi dengan nalar yg lebih jernih bagaimana sebaiknya kita mengurangi kesenjangan kesejahteraan masyarakat antar wilayah... Salam, Eko. ---forwarded message ends--- Saya kira kita sudah menemukan beberapa titik temu yang penting antara lain diakuinya bahwa regional inequalities memang ada dan tidak disukai, tidak mungkin menjadikan seluruh Indonesia sebagai Jakarta, dlsb. Ketidaksepakatan tentang apakah tulisan Romo Setyo yang menyebut "cukup, jangan berlebihan" dan "belajar bijaksana" relevan atau tidak dengan "regional inequalities" sebagai "personifikasi" dari "human greed", saya kira hanya akan menimbulkan debat berkepanjangan yang mengaburkan topik utama kita. Jadi, mungkin ada baiknya ajakan Mas Tukul Arwana untuk "kembali ke laptop" kita sambut baik dengan fokus kepada the problem to solve: "regional inequalities." Sementara demikian, Rekan-rekan sekalian yth., karena sayup-mayup azan Subuh telah terdengar dari Mesjid Agung Medan. Salam, Andri 2008/10/27 <[EMAIL PROTECTED]>: > Rekans Referensiers ysh, > > Mohon ijin untuk urun rembug dari sebelumnya saya hanya sekedar mengikuti > jalannya perbincangan dan perdebatan secara pasif. > > Menanggapi posting dari mas Andri ttg tulisan Mas Setyo, menurut saya > tulisan mas Setyo tsb tidak bisa dianalogikan dengan perbincangan > ketimpangan regional Jabodetabek (atau Jawa) dengan wilayah lainnya. > > Tulisan Mas Setyo tsb berbicara tentang "kecukupan" dari seorang diri > manusia, yang seringkali tidak (atau kurang) memiliki batasan kebutuhan yang > mutlak karena tidak terkenalinya perbedaan antara "kebutuhan (needs)" dan > "keinginan (wants)", sehingga Mas Setyo menyarankan agar setiap diri manusia > untuk "bertindak bijaksana" dengan mengenali diri sendiri, mengendalikan > nafsu (makan, minum, mencari uang hingga mencari 'keakuan dirinya) dan > menempatkan dirinya kembali ke dalam "ukuran/rasio manusia". Sementara > perdebatan yang berlangsung (dan kemudian "dibelokkan, menurut Pak BTS) > berbicara tentang ketimpangan antar wilayah, dimana (tersirat) salah satu > pihak menginginkan adanya "pembatasan kebutuhan" atau "kecukupan" dari > wilayah Jabodetabek. > > Konteks "kecukupan" ini akan saya coba dekati dengan konsep "kebutuhan". > Secara fisik, seperti yang banyak dibahas oleh Mas Setyo dalam tulisannya > (lihat: .... makan,minuman, seks dan uang adalah sesuatu.... dst... dst), > kebutuhan seorang (diri) manusia, relatif tidak berubah. Dalam istilah > ekonominya (mungkin), bisa diistilahkan dengan "tingkat elastisitas yang > rendah" (mohon agar Pak BTS mengkoreksi apabila ada kekeliruan...). Walaupun > dalam tulisan tersebut disebutkan bahwa "selalu dinafsui secara tak > terbatas", namun tetap memiliki suatu batasan pasti tentang kebutuhannya > apabila dilakukan pengukuran per satuan waktu. Artinya, (setelah sampai pada > usia dewasa tentunya) walaupun usia bertambah banyak kebutuhan makan dan > minum akan relatif tetap per harinya atau per kali makannya, dan tidak > terdapat perubahan yang signifikan. Misalnya tetap 3000 kalori makanan dan 2 > liter setiap hari. Seandainya pendapatannya bertambah 10 kali lipat pun > tidak berarti kebutuhan makanan dan minumannya bertambah 10 kali lipat. > Kebutuhan makan dan minum tersebut relatif tetap seperti semula (dalam > kalori), walaupun dalam bentuk harga bisa bertambah. Namun diyakini > pertambahan harga makanan dan minuman yang dikonsumsinya (biasanya) tidak > terlalu banyak, misalnya hanya satu setengah sampai dua atau tiga kali > lipat. Oleh karena itu, penting di sini apa yang disarankan/dihimbau oleh > Mas Setyo Wibowo agar setiap manusia mampu "bertindak bijaksana", "mengenali > diri sendiri", "mengendalikan nafsu", dan "menempatkan diri kembali ke dalam > rasio/ukuran manusia". Karena hal-hal tersebut diperlukan untuk "mengenali > kebutuhan nyata" dari dirinya dan "tidak bertindak berlebih-lebihan". > > Namun suatu wilayah berbeda dengan sorang diri manusia. Suatu wilayah > terbangun atas beberapa komponen: "komponen material" dengan memiliki wujud > fisik ruang, kondisi geologis, keberadaan masyarakat/manusia di dalamnya, > jaringan infrastruktur, bangunan, kekayaan alam, dll; "komponen identitas" > dengan memiliki nama, batasan, sejarah, tingkat dominasi dan terdominasi > terhadap wilayah lain, dll; dan "komponen organisasional" dengan memiliki > pemerintahan, sistem organisasi masyarakat, sistem dan organisasi bisnis, > social capital, dll. Dimana seluruh komponen tersebut berubah (berkembang > secara dinamis) dari waktu ke waktu secara kontinu. Dengan adanya > komponen-komponen tersebut yg berkembang dari waktu ke waktu, ukuran > "kebutuhan" dari suatu wilayah tidak menjadi sesuatu yang relatif statis > seperti "kebutuhan" dalam diri seorang manusia. > > "Kebutuhan" suatu wilayah akan berkembang dengan terjadinya perkembangan > jumlah anggota masyarakat yang hidup dan beraktivitas di dalamnya. Kebutuhan > tersebut juga berkembang apabila terjadi perkembangan aktivitas di dalamnya. > Bahkan, kebutuhan dari suatu wilayah bisa berkembang apabila aktivitas dari > wilayah saingannya juga berkembang. > > Dari sudut pandang tersebut saya memahami pernyataan Mbak Nita yang > menyatakan bahwa "...MRT sudah merupakan suatu kebutuhan bagi Jakarta", Mas > Eko (... sangat wajar kalau anggaran pemeliharaan infrastruktur di Jawa jauh > lebih banyak daripada di luar Jawa...), dan Pak Risfan (... infrastruktur di > Jawa sudah dibiayai oleh swasta....). Namun, dari sudut pandang tersebut, > agak sulit bagi saya untuk memahami pernyataan dari mas Andri yang secara > tersirat menyatakan kalau pembangunan MRT di jabodetabek merupakan suatu > pengingkaran terhadap kebutuhan di wilayah lain (khususnya Aceh, tanpa > secara spesifik menjelaskan bagian mana dari Aceh dan apa yang menjadi > kebutuhan tsb walaupun saya mampu mengasumsikan bahwa kebutuhan tersebut > adalah kebutuhan pembangunan untuk mensejahterakan penduduk di dalamnya). > > "Agak sulit" tersebut bukan untuk mengingkari bahwa wilayah lain (seperti > Aceh) juga membutuhkan aktivitas pembangunan. Tetapi sulit untuk memahami > bahwa kedua hal itu saling berhubungan secara langsung, dalam suatu pola > hubungan yang "zero summation", yang artinya apabila dilakukan pengalokasian > dana bagi pembangunan MRT di Jabodetabek maka akan mengurangi alokasi dana > pembangunan di wilayah lainnya. > > Saya berkeyakinan bahwa apabila dibangun MRT di jabodetabek, hal itu tidak > akan mengurangi alokasi anggaran yang akan disalurkan pemerintah (lewat DAU, > DAK, dll) ke wilayah-wilayah lainnya (termasuk Aceh). Juga agak sulit untuk > menerima apabila ada pendapat yang menyatakan bahwa MRT bukan kebutuhan bagi > Jabodetabek. Hal ini karena, setidaknya, dengan jumlah penduduk yang lebih > dari 12 juta jiwa, tingginya intensitas dari aktivitas sosial ekonomi yang > ada, dan luasnya wilayah Jabodetabek, maka MRT merupakan suatu kebutuhan > mutlak yang dia bukan hanya akan mengurangi pergerakan angkutan pribadi > tetapi juga akan berpotensi menurunkan biaya transportasi yang dibutuhkan > oleh segenap lapisan masyarakat (baik yang kaya maupun yang miskin). > > Persoalan kesenjangan/disparitas wilayah yang ada di Indonesia, memang > merupakan suatu persoalan bagi bangsa kita hingga saat ini. Saya setuju > untuk kita urun rembug untuk mendiskusikan alternatif solusi untuk mengatasi > persoalan itu (Oleh karena itu saya pernah mengemukakan pengembangan > metropolitan kita di luar Jawa untuk mengimbangi perkembangan > metropolitan-metropolitan kita di Jawa, dengan konsep "Membangun Mangkok > Indonesia" di sekitar awal-pertengahan tahun 2007 lalu). Namun, bukan > berarti saya setuju untuk menghambat perkembangan suatu wilayah yang maju > (misal jabodetabek) untuk memajukan wilayah lainnya. Karena saya yakin hal > itu bukan bagian dari konsep "Keadilan bagi seluruh Rakyat (baca: > juga Wilayah) Indonesia. > > Saya lebih setuju dengan pendapat Mas Eko yang menyatakan bahwa pembangunan > di suatu tempat (misal: Jabodetabek) perlu diarahkan agar juga memberi > kemanfaatan penuh bagi mereka yang tidak tinggal di Jabodetabek, seperti > ketika Beliau menyatakan bahwa pembangunan Tokyo mampu memberikan kesempatan > bagi mereka yang tinggal di Kyusu untuk liburan ke Bali atau ke Hawai. > Artinya, pembangunan di suatu tempat harus bukan merupakan suatu pareto > negatif bagi pembangunan di wilayah lainnya. > > Mohon maaf apabila terlalu panjang. saya memang punya kesulitan untuk bicara > secara singkat he... he... he... (makanya jadinya lebih banyak diam, he... > he... he...) > > Salam untuk semua milister referensi. Semoga postingan ini bisa ikut > berkontribusi dalam pencerahan bagi kita semua.... > > Dan dalam rangka mejelang 28 Oktober, saya berharap bahwa mudah-mudahan bisa > berkontribusi menuju Indonesia Mulia.... Mulia Bangsanya...Mulia Rakyatnya > > Salam, > > Fadjar Undip > > > --- On Mon, 10/27/08, Eko B K <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > From: Eko B K <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (Rekan2 Planolog) > To: [email protected] > Date: Monday, October 27, 2008, 1:31 AM > > ah Romo Setyo Wibowo, romo Jesuit sahabat saya minum kopi di cafe2 pinggiran > sungai Seine sambil berdiskusi macam2 dan sesekali bergosip :)... tidak > heran walau tulisannya berawal dari Sokrates tapi berakhir dgn > pemikiran Sarkozy... > > thanks atas sharing artikelnya.. .:) > > --- On Sun, 10/26/08, Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: > > From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] com> > Subject: Re: [referensi] Prinsip DJARUM (Rekan2 Planolog) > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > Date: Sunday, October 26, 2008, 7:10 PM > > Mohon maaf belum bisa memberikan tanggapan terhadap tulisan Mas Risfan dalam > ranah akademis mengingat ke-Minggu-an hari ini. :-) Mudah-mudahan dengan > "izin Tuhan" -- saya tidak pakai "insya Allah" karena bisa timbul kesan > "tidak akademis", "koridor lain", atau "uncommon/sixth sense" ;-) -- saya > bisa melanjutkan diskusi kita ini secepatnya dan seakademis-akademis nya. > Jadi malam ini, saya hendak sampaikan forward-an satu artikel lagi saja. > Mohon maaf, Pak BTS, ini masih dalam koridor "dunia lain" -- namun saya > ambil dari "sekte" yang lain lagi. :-) Saya harapkan masih ada hubungannya > dengan tema kita. > Semoga berkenan. Salam, Andri > ---forwarded article begins--- > From: resonansi_2002 <resonansi_2002@ yahoo.co. uk> > > Date: Oct 26, 2008 4:47 PM > Cukupkan Diri, Jangan Berlebihan > > Para ahli ekonomi dan keuangan sepakat, akar meledaknya busa sabun > moneter di Amerika Serikat adalah ketamakan akan uang. Kredit > perumahan yang awalnya baik karena didasarkan pada kreditor prima > menjadi awal terbentuknya gelembung hampa spekulasi. > > Uang memperanakkan uang, menjauh dari yang riil, menggelembung > menebarkan janji memikat. Ketika pecah, kehampaan siap menyeret > dunia ke jurang kekosongan. Di balik itu, ketamakan akan uang adalah > penyebab utama. > > Bagaimana menyikapi ketamakan? Sokrates, pemikir Yunani abad ke-5 > SM, bapak segala filsafat, mengatakan, kenalilah dirimu sendiri dan > jangan berlebih-lebihan. Puncak kebijaksanaan adalah ketika manusia > tahu jati dirinya adalah jiwanya (bukan hartanya). Bila jiwa diakui > sebagai yang terpenting dari manusia, dan diberikan prioritas, maka > terhadap segala sesuatu, diri sejati itu akan mengatakan, jangan > berlebihan, cukupkan dirimu. > > Utama sama dengan sukses > > Maksim ini terlalu moralistik? Pada titik tertentu iya, > meski "moral" di sini harus dimaknai bukan dalam arti baik dan > jahat. Bagi Sokrates, keutamaan (arete) tidak pertama-tama judgement > moralistik. Keutamaan adalah excellency, kinerja optimal sesuatu, > atau katakanlah kesuksesan. > > Penting ditekankan, keutamaan dalam filsafat Yunani belum > ditunggangi pemahaman modern tentang moral dan agama. Keutamaan > adalah optimalnya inti kemanusiaan, tidak lebih dan tidak kurang. > Penjelasan ini urgen karena masyarakat modern justru lebih concern > secara instingtif pada kesuksesan hidup daripada kepada moral atau > agama! Inilah ironi kita: di mulut berteriak "moral dan agama mesti > ditegakkan", tetapi setiap hari yang diupayakan hanya kesuksesan > hidup. Maka, tanpa meminggirkan pentingnya moral dan agama, mari > kita tilik makna kesuksesan hidup tawaran pemikir Yunani 25 abad > yang lampau. > > Bagi Sokrates, keutamaan pisau adalah mengiris. Pisau bersifat > optimal kalau mampu mengiris. Tumpul, pisau tidak excellent, tidak > sukses. Bagaimana dengan manusia? Keutamaan manusia ada pada > jiwanya. Manusia optimal, sukses adalah manusia yang hidup dengan > memprioritaskan jiwanya. Inilah bagian pertama maksim, "kenalilah > dirimu sendiri". Kita hanya menjadi manusia sukses sejauh mengakui > bahwa jiwa adalah orientasi hidup kita, bukan harta benda. > > Seperti makan, minuman, dan seks, uang adalah sesuatu yang kita > nafsui secara tak terbatas. Nafsu (epithumia) makan memasukkan kita > dalam lingkaran lapar-makan- kenyang-lapar lagi dan seterusnya. > Demikian juga seks dan uang. Nafsu digambarkan murid Sokrates > (Platon) sebagai gentong bocor: seberapa pun air dimasukkan, selalu > minta diisi. > > Sokratisme tidak membuang makan, minum, seks, dan uang. Itu semua > berguna bagi hidup manusia. Namun, justru karena bersifat > utilitarian, ia tidak pernah menjadi tujuan dalam diri sendiri. > Hidup manusia terarah pada sesuatu yang lain: jiwanya. > > Dan persis pada jiwanya inilah nafsu terdapat! Selain nafsu-nafsu > itu, Platon membuat kita sadar, jiwa juga memiliki rasa bangga diri, > hormat diri (thumos). Harga diri ambisinya juga tak terbatas, ia > bisa membuat manusia lupa segalanya. Harga diri bisa membuat orang > nekat. > > Survival yang menjadi tugas penting nafsu bisa diluluhlantakkan oleh > harga diri. Harga diri, yang berguna bagi pemaknaan hidup, bisa > membuat manusia menghancurkan diri, sesuatu yang tidak pernah > dianjurkan Sokrates dan Platon. > > Rasio manusia > > Tahu bahwa diri sejati adalah jiwanya, tahu bahwa jiwanya memiliki > nafsu dan harga diri, maka pentinglah unsur-unsur itu diberi tahu > agar "jangan berlebih-lebihan" . Makan boleh, mencari uang boleh, > tetapi jangan berlebih-lebihan. Merasa bangga, berani menentang arus > juga boleh, tetapi "secukupnya" saja. > > Apa arti secukupnya? Minimalis? Siapa yang bisa mengatakan "sudah > cukup" atau belum? Jawabannya ada di jiwa. Selain nafsu dan harga > diri, jiwa kita memiliki rasio. Akal budi akan mengatakan kepada > nafsu dan harga diri yang tak terbatas untuk "cukup, tahu batas". > > Bagaimana rasio bisa melakukannya? Tidak ada resep yang mudah. > Manusia yang tidak melatih mengendalikan nafsu dan harga diri > terbiasa menidurkan rasio sehingga ia tak mampu mengatakan "cukup". > Rasio hanya bisa mengatakan "cukup" manakala ia terbiasa > bernegosiasi dengan mereka. Inilah filsuf, pencinta kebijaksanaan. > Lalu, bagaimana? Tiap orang harus memilih, lingkaran yang > memerosokkan atau lingkaran yang membawa ke kebaikan. Pilihan > terakhir membuat orang hidup berkeutamaan atau sukses. Manusia > sukses adalah dia yang memilih memprioritaskan rasionya untuk > mengendalikan ketamakan tanpa batas yang konstitutif di dalam > jiwanya. > > Belajar bijaksana > > Berhadapan dengan ketamakan kapitalisme modern, kita berhadapan > dengan tembok paradoksal. Kapitalisme terbiasa hidup tanpa > pengendalian diri sehingga dari dirinya sendiri tidak bisa > mengatakan "cukup". Harus ada pihak luar yang mengatakannya. > Syukurlah, otoritas negara berani mengatakan "cukup". Semoga > kapitalisme mau belajar. Sebuah harapan paradoksal karena > memasukkan "kendali negara" dalam sistem kapitalisme dianggap bunuh > diri "isme" itu sendiri. > > Atau, sudah saatnya belajar bijaksana? Waspada dengan kredo kita > tentang kapitalisme? Mengapa pebisnis dan penanggung jawab ekonomi > negeri ini seakan lalai sila "keadilan sosial", horizon ultima > sistem ekonomi bangsa? > > Semoga kita tidak mudah percaya begitu saja hanya karena suatu > ajaran tampak canggih dan dari negeri hebat, semoga kita lebih > mengenali "diri kita sendiri" sehingga hidup bersama di republik ini > memiliki makna dan penuh sukses. > > Menjadi manusia utama, yang sukses hidupnya, adalah harapan kita > semua. Syukur-syukur ditambahi agamais dan moralis. Namun, en deça > (lebih di bawah lagi) dari sikap itu, keutamaan dalam arti rasional > dari Sokrates adalah apa yang kita butuhkan saat ini. > > Sumber: Cukupkan Diri, Jangan Berlebihan oleh A Setyo Wibowo, > Pengajar di STF Driyarkara Jakarta; Alumnus Universitas Paris-I, > Sorbonne, Perancis > > ---forwarded article ends--

