hehe pak BTS,
kalo pengen tau jadi makin ga keruan, itu kenyataannya. Dalam proses nya secara 
sahibul hikayat terkisahlah penghuni di rusun samping kiri itu ingin menambah 
bangunannya ke belakang rumah yang ada tanah kosong (ssst....ini sudah banyak 
juga lho dilakukan oleh penghuni lain dibeberapa unit rusun ps jumat 
itu.....yang kalau diberesin jadi membengkak urusan penertibannya). Nah oleh 
kantor (ga tau unit mana di Dep.PU) denger2 dilarang dan ybs kelihatannya nurut 
ga meneruskan lagi pembangunan rumah itu, tapi juga ga mau lagi keluar uang 
buat membongkarnya...lama2 ya kayak rumah buat uka-uka....tau khan itu acara 
beruji nyali yang dulu populer di beberapa TV.
Nah tahun yang lalu denger2 lagi itu rusun dapat proyek dari DJCK untuk bikin 
pagar (tapi ya ga ada dong biaya khusus buat membongkar bangunan uka-uka itu), 
ga tau pimpronya sangat patuh pada PO ya bikin sajalah pagar menembus bangunan 
itu...... ini contoh kerja robot sok patuh aturan proyek tapi hasilnya 
menggelikan...eh memalukan ya....soalnya PUnya itu lho !! Secara tujuan 
membangun pagar itu juga ga tau kenapa baru sekarang inget bikin pagar secara 
bertahun-tahun dibiarkan tanpa pagar....apa supaya ga ada yang membangun 
dibelakang rusun itu...entahlah, saya ga baca apa isi DIPA pagar itu, wallahu 
alam...
Ya begitulah kisahnya......mudah2an ga ada yang tersinggung saya kirim foto 
itu, soalnya sudah lama saya jepret (Feb 2008 yl) dan ga tau mesti dilaporkan 
kepada siapa biar agak sedikit patut itu lingkungan komplek PU gheto 
lhoooo.....sampai sekarang masih demikian. Secara ilmu PU ya saya malu 
berkantor di pusdiklat yang bertetangga dengan pusbinlatjakon yang tempatnya 
belajar ilmu PU tapi langsung bisa lihat hasilnya yang ngaco itu, yang siapapun 
yang akan ke kantor2 tersebut bisa lihat situasi itu. Hik hik hiks.....
Sekian. Eh bangunan dan pagar itu menurut pak BTS bisa kena UU Pornografi yang 
baru itu kayaknya ya hahaha......
Salam - 2ny


--- On Sun, 11/2/08, Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: RE: [referensi] Re: Ibukota...Pagar dan Bangunan Mesra.
To: [email protected]
Date: Sunday, November 2, 2008, 7:11 PM










    
            Bu Reny, gambar yang dikirimkan sangat lucu. Siapa sih yang duluan? 
Pagarnya yang duluan dibangun, atau bangunannya dulu yang dibangun?
 
Ah... mungkin itu bangunan perempuan sama pagar laki-laki. 
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Mon, 11/3/08, Reny ansih <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Reny ansih <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: RE: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Monday, November 3, 2008, 2:44 AM








Yes, yes, yes.....betul itu p. Dwi.
Saya ga tau sudah sejauh mana urusan pulisi taru itu diproses. Saya merasa itu 
adalah jabatan fungsional baru untuk taru. Dan harus diingatkan agar jabfungnya 
itu jangan hanya berhenti lagi pada level menengah sebagaimana halnya pada 
jabfung penataan ruang yang ada itu. 
Saya tertarik ingin tau urusan pulisi taru itu, rasanya gemes lihat situasi 
yang ga ada pengendalian itu. 
Mosok di komplek PU ada pagar dibangun memotong bangunan hehehe (lihat foto 
terlampir ya). 
Pertanyaannya adalah ini urusan siapa ya.... Secara instansi kayaknya urusan 
kecil gitu aja kok repot...
Secara otonomi daerah kayaknya harusnya pemda DKI yang menertibkan tapi denger2 
pemda ga mau masuk menertibkan komplek PU karena itu instansi embahnya urusan 
penertiban
 bangunan hehehe mosok harus dikasitau, takut kualat mungkin ya? .....huuuu 
capek de..... 
Soal malu permalukan ini sebenarnya ga perlu ada kalau memang masih punya rasa 
malu. Kalau ga punya ya percuma dipermalukan juga ga terasa tuh..... Malah yang 
malu itu yang ga terlibat atau yang ga berdaya, .....
gimana nih ?!!
Salam - 2ny
 

--- On Sun, 11/2/08, Benedictus Dwiagus S. <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: Benedictus Dwiagus S. <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: RE: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Sunday, November 2, 2008, 5:08 PM






Bu Reny, dan Pak Aunur,..dan rekan milist sekalian
 
Mengingat desentralisasi, .. apakah polisi tata ruang ala bu reny itu bisa 
diterapkan,… ?
 
Kadang kit alupa bahwa fungsi  tur bin was itu gak berhenti di situ saja,….. 
Mungkin fungsi tur bin was itu dilanjutkan dengan mekanisme feedback … 
Bagaimana hasil tur bin was itu,…… disampaikan ke publik, ke pemerintah daerah 
bersangkutan,… 
 
Buat ranking, mana daerah yang paling jeblok dankenapa,… buat mana daerah yang 
best performance,… . 
 
Kalau desentralisasi membuat ‘tangan intervensi untuk tur bin was’ terhalang,.. 
maka mekanisme public expose itu penting saya rasa,…. Biar pemda bersangkutan 
malu atau mendapat pressure khusus,.. juga biar masyarakat setempat juga tahu, 
bahwa kualitas ruang mereka buruk yah karena gak perform-nya penataan ruang 
daerah mereka, sehingga mereka bisa protes, appeal,.. atau melakukan 
‘revolusi’…… 
 
 
 

Best Regards,
 
Benedictus Dwiagus S.
bdwiagus.blogspot. com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White
 
:::... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib [EMAIL PROTECTED] com 
 


From: [EMAIL PROTECTED] ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf 
Of Aunur rofiq
Sent: 02 November 2008 10:13
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Subject: Re: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
 




Bu reny,

mohon maaf kalau saya salah, DJPR memang kwajibannya adalah Tur Bin Was, bukan 
membuat Perencanaan Tata Ruang Prov/Kab/Kot, tapi kenyataannya saat ini masih 
ada tuh konsultan yang mengerjakan rencana tata ruang meskipun dibungkus dengan 
"tata ruang pulau", "sinkronisasi tata ruang prov/kab/kot" , "tata ruang 
kawasan strategis" dll. Saya setuju usulannya bu reny kembalikan pada tupoksi 
sesuai UU.

 
Salam
Aunur Rofiq

 

 




From: Reny ansih <[EMAIL PROTECTED] com>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Sunday, November 2, 2008 8:52:06 AM
Subject: Re: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?




Halo pak Risfano
hehe...bener juga nih ya yang dipikirkan oleh p.Risfano ini.
Saya jadi terpikir untuk revisi lagi tuh organisasi DJPR. Harusnya sudah mulai 
berpikir masing2 direktorat wilayah itu tupoksi nya adalah pelaksanaan dan 
pemanfaatan dan pengendalian RTRWN di masing2 provinsi, kabupaten/ kota. Supaya 
RTRWN itu benar2 membumi (siapa nih yang digantung kalau dikuti ternyata 
salah/ngaco? ). Jadi ga ada tuh DJPR yang kerjanya bikin perencanaan tata ruang 
di Provinsi/Kabupaten/ Kota lagi....apalagi cuma bikin rencana ruang terbuka 
hijau di perkotaan... .... atau sekedar sosialisasi tanpa pengendalian terhadap 
penyimpangan.
DJPR harus rajin memelototi RTR mana yang ga sesuai dengan RTRWN. Kalo perlu 
bawa pulisi penyidik kenapa itu menyimpang.. ....hehe ada ga ya pos biaya utk 
itu? DJPR harus sedikir galak punya prinsip dan tentu saja ada wibawa 
dong....harus ada
 biayanya ya?! Bagaimana meluruskan kalau ada kewenangan otonomi daerah (baca 
kepentingan  strategis provinsi/kabupaten/ kota) saling tabrakan dengan 
kewenangan di kawasan strategis nasional misalnya lho.
Salam - 2ny


--- On Sat, 11/1/08, risfano <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: risfano <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Date: Saturday, November 1, 2008, 5:51 PM


Ref Ibukota ke2

Sinyalemen Bung Aunur perlu dipertimbangkan. Kok diskusi ini selalu berujung ke 
"pusat kedua" dan "ibukota" baru di luar Jawa. Apa betul dua pusat menjawab 
masalah ribuan pulau.

Pusat kedua berarti masalah perkotaan baru. Kenapa tidak "tiga puluh pusat" 
atau "empat ratus pusat" - yang sudah punya otonomi daerah itu.

Kalau mau realistis, melihat pertumbuhan Surabaya, Makassar, Medan, trend untuk 
menjadi counter bagi Jabodetabek sudah nyata kelihatan. Positif dan negatifnya. 
Sudah ada otonomi daerah, yang diikuti deregulasi "kepelabuhan" an, berbagai 
prasarana. Saya pikir yang bisa dilakukan pemerintah (pusat) sudah dilakukan, 
tinggal Daerah nya mau berinovasi dan membawanya kemana. 
Harus diakui, yag membangun (ekonomi) adalah swasta (besar dan UMKM), 
pemerintah daerah hanya bisa mengundang atau menumbuhkan mereka dengan 
memfasilitasi adanya iklim yang kondusif. Jalan tol, pelabuhan, pembangkit 
listrik,
 telekomunikasi, kawasan produksi, sebagian besar sudah mulai dibangun oleh 
kemitraan pemerintah-swasta, atau swasta murni. Tidak ada yang bisa memaksa 
mereka berinvestasi dimana.

Planner harus berpikir long-term pula dalam menganalisis dan mengantisipasi 
perubahan kelembagaan pembangunan setelah "otonomi daerah". Apakah masih ada 
pemusatan "perencana" di masa depan.. Apa bukan kerangka dasar atau struktur 
ruang makro saja dari pusat, selebihnya oleh daerah sendiri. Perubahan kultur 
birokrasi juga perlu dikaji. Cara Pemda menghadapi 'orang pusat' saat ini, jauh 
beda dengan sebelum otonomi daerah. Ini tentu punya implikasi juga pada 
penyebaran locus pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pelaksanaannya. 
Ilmu dan pendekatan perencanaan pun juga berkembang dari tahun ke tahun.
Banyak event internasional yang saat ini sudah tidak dilaksanakan di, atau 
dimotori oleh Jakarta lagi. Seperti pertemuan internasional urban heritage yang
 dilaksanakan di Solo minggu lalu, yang diikuti dengan ethnic music festival. 
Juga festival Tomohon, Jember, Salatiga. Pertemuan gubernur se Asia-Pacific di 
Medan, dst.
Perubahan telah terjadi, yang diperlukan oleh planner adalah kemampuan melihat 
tanda-tanda perubahan yang berdampak pada jangka menengah dan panjang.
Beberapa faktor seperti otonomi daerah, demokratisasi proses perencanaan dan 
pembangunan, keterbatasan anggaran (cicilan utang + bunga besar), resesi 
global, climate change, ketergantungan pada energi fosil yang harus diakhiri, 
konflik tanaman pangan vs biofuels, dst. Resesi di negara tetangga menyebabkan 
TKI banyak yang dipulangkan. Pengaruhnya besar dalam pengembangan wilayah dan 
pemerataan pembangunan.

Percuma kan diskusi pemindahan ibukota, kalau peran ibukota juga semakin tidak 
signifikan. Para pencari kerja dari desa saja lebih memilih Kuala Lumpur, 
Singapura dan Hong Kong, bukan Jakarta.

Salam,
Risfan
 Munir

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Aunur rofiq <aunurrofiqhadi@ ...> wrote:
>
> Memang di referensi ini kalau sudah mentok diskusi "regional inequality", 
> selalu berbuntut pada memindahkan ibukota keluar jawa. Saya setuju sama mas 
> eko dan mas BTS tentang kesenjangan regional ini yang penting adalah 
> bagaimana bisa memberi kesempatan yang sama pada penduduk Indonesia untuk 
> bisa meraih kesejahteraan. Kalau kita ingin mengambil contoh bahwa pemindahan 
> ibukota tidak sama dengan pemerataan pembangunan sangat banyak sekali, karena 
> itu lupakan jika pemindahan tersebut untuk tujuan mengurangi kesenjangan.
> 
> Mas Aby,
> Senang ya Morotai jadi Kabupaten... .....kita lihat beberapa tahun yang akan 
> datang..... ada perubahan?
> 
> Salam
> Aunur Rofiq
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From:
 Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED] >
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Sent: Thursday, October 30, 2008 11:38:28 AM
> Subject: Re: [referensi] Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
> 
> 2008/10/30 Bambang Tata Samiadji <btsamiadji@ ...>:
> 
> > Pindah di Palangkaraya? Ke sananya saja susah. Tidak ada pelabuhan. Yang ada
> > cuma sungai besar yang dangkal. Dukungan tanah juga tidak memungkinkan untuk
> > bangunan tinggi. Belum lagi sumber air baku untuk PDAM. Apalagi listriknya
> > yang masih ditransmisikan dari Banjarmasin.
> 
> Sebenarnya poinnya di situ, Pak. Memang di luar daerah Jakarta tidak
> ada fasilitas yang mendukung untuk dijadikan ibukota, bila
> dibandingkan dengan Jakarta. Dan sebentar lagi tentu akan semakin
> banyak fasilitas di Jakarta bila MRT gol.
 Dengan demikian,
> inequalities akan semakin besar -- meskipun Bapak bersikukuh bahwa ini
> tidak penting.
> 
> Salam,
> Andri
> 
> ------------ --------- --------- ------
> 
> Komunitas Referensi
> http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links
>
 
 




      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        









      

Kirim email ke