Pak Nuzul ysh, maaf  terlambat balas…. 
  
Pada studi kasus Morotai….  ttg PSO (Public Service Obligation)……setidaknya 
jasa-jasa pos, pelayaran   dan PLN ada terdpt disana….. hanya jasa penerbangan 
saja yg  absen… 
Utk PSO penerbangan… sepertinya sampai 2003 msh terdapat flight route Merpati 
Ternate-Galela-Morotai….. tapi Merpati itu sungguh kasihan betul nasibnya krn 
terlalu berat bebannya (kabar terakhir konon perlu disuntik dana 1.6 triliun 
rp. dan  China marah2 karena dari pesanan 15 pesawat ke China …… baru 2 (dua)  
buah yg dikirim dan selebihnya Merpati seperti nggak nanyain lagi… krn kondisi 
keuangan yg memburuk….. 
Dari sekian banyak rutenya sepertinya sepersekiannya adalah setengah ‘rute 
bunuh diri’…. ia harus melayani 56 rute perintis dan 100 rute wajib…. walau utk 
tahun 2006 mendapat 67.5 milyar rp. utk kompensasi jasa PSOnya….. 
Walau terdapat subsidi….tetapi sepertinya PSO penerbangan (Merpati, Trigana, 
DAS)  juga harus pandai2 menyiasati ekonomisasi operasi rute2 
terbangnya….jangan asal… agar kerugian2  tak terlampau parah… mentang2 
disubsidi…….. 
Saya kira lack of air services di Morotai bukanlah ‘kegagalan pasar’…. tetapi 
memang  bermula dari demand semula  ‘tidak ada’/ terlampau rendah sekali….  
karenanya justru diperlukan analisis berbagai upaya kerjasama multisektoral  
agar dpt dikembangkan perekonomian Morotai yg ‘layak’…… dimana salah satunya 
diperlukan awalan jadwal penerbangan reguler… yg nantinya dpt menjadi sarana 
mobilitas yg tinggi…. dan sebagai bagian infrastruktur dasar dari leading 
activities disana....... 
Kalau semula Merpati pernah singgahi Morotai dalam rute Ternate-Galela-Morotai 
…… mungkin krn  alasan di Morotai sudah terdapat 7 airstripes…. yg akhirnya 
‘tewas’…. Walau itu memang dimaksudkan sebagai ‘penerbangan perintis’… namun 
dari sisi ‘demand’ potensi permintaan angkutan udara kawasan ini memang  
‘payah’ sekali… utamanya krn kondisi Morotai yg masih terlampau  ‘rural’ dan 
posisinya terpencil diseberang Halmahera sbg ‘dead end destination’…. belum 
terdapat leading activities yg berarti… selain  juga faktor ‘kerusuhan’ th 2000 
tentu sampai 2003 msh berdampak buruk (tapi skrg tidak).... 
Kiranya banyak sekali kawasan/ kota kecil dgn sedikit penduduk dikawasan 
terpencil …. termasuk  juga di NTT misalnya… yg banyak sekali dilayani rute 
penerbangan oleh Merpati harus dipelajari kembali ekonomisasi rute2nya…… 
seperti misalnya saja rute Kupang –Bima (kota ‘besar’  dari/ke ‘kota 
kecil’).... sementara orang Bima juga menginginkan rute Bima-Makassar (kota 
‘kecil’ dari/ke kota ‘besar’)… barangkali airlines bisa pertimbangkan 
ekonomisasi rute seperti  jangan perlakukan kota kecil terpencil sebagai ‘dead 
end destination’ tapi jadikanlah  sbg transit town antara sebuah regular route 
yg sudah berjalan baik antara 2 kota ‘besar’  … spt  lalukan perpanjangan 
routenya  menjadi Kupang-Bima-Makassar v/v.  (kota ‘besar’---kota 
’kecil’—kota’besar’)…. Masih dengan model  jatah seats….analog : 
Kupang-Ende-Mks.. Kupang Maumere-Mks… lalu mungkin perlu ‘local feeder route’ 
antar kota2 kecil
 menuju transit town tsb… spt. misalnya rute ‘pan-flores aiways’ dari pantai 
barat Labuanbajo/ Ruteng-Bajawa/Ende/ Maumere/ Larantuka sampai Alor 
(Kalabahi)..… dgn 8 seaters misalnya..  dsb. … ekonomisasi dan load factornya 
brgkali juga bisa lebih baik…… 
  
Saya pahami  smntara kebosanan dan kesebelan  yg muncul krn ulasan  tak ada 
habis2nya dengan kawasan ini…… utk itu tak ada yg dpt saya lakukan kecuali 
anjurkan bagi yg tak berminat utk silahkan menutup atau mendelete saja posting 
ini…dan tak usah malu hanya krn tak punya cukup apresiasi pada kws 
tertinggal.... tapi ini memang serba salah….  bicara  suatu hipotesa tapi kalau 
tak dikaitkan dengan lokasi  riil tentu akan dikomplain pula dan dibilang 
mimpi/ ide gentayangan juga ….. 
Negeri kita luas,  kawasan tertinggal kita  luas (90%)… keberhasilan 
pembangunan wilayah tertinggal kita rendah… maka  aneh juga kalau apresiasi 
wacana pembangunan regional lalu rendah juga….. padahal belum terdpt model  
‘kisah sukses’ pengembangan kws. tertinggal tanpa modal andalan daerah yg 
besar…. 
Sekali lagi …. Morotai hanyalah  a looking for model of  developing a depressed 
region/ island ….. dari belasan ribu pulau kawasan terpencil kita….. yg bila 
batu ujian yg rumit ini berhasil… tentu dapat dikembangkan replikasinya 
dibanyak tempat lain dgn  cara lbh mudah, lbh cepat dan buah hasil yg 
menggembirakan….… 
Setengah alasan lainnya adlh telah terdapat ‘planning kenegaraan’ bahkan juga 
sosialisasinya (secara kenegaraan pula) atas kwsn ini…. yg sesungguhnya itu 
membawa konsekwensi serius…. sama juga artinya itu dgn ‘mempertaruhkan’ 
kredibilitas sains perencanaan…. apakah benar ia adalah bagian dari alat 
strategis pembangunan…. Sbg sains perencanaan yg mampu operationally guiding 
dan bisa ‘breakthrough’…… hingga utk ini PU/DJPR juga kiranya perlu lakukan 
'breaktrough’ percontohan… terlebih karena fungsinya menjadi ‘pelaksana harian 
BKTRN' … sebab siapa lagi harus lakukan operation plan menyangkut ‘ruang’ .... 
'aktivitas'... dan 'mobilitas'… 
Resikonya kalau tidak… ya jangan kecewa kalau oleh masyarakat dan lintas 
disipliner lainnya ia hanyalah dipandang sekedar  tak lebih dari  sebuah cabang 
sains enjinering  ‘mimpi indah perencanaan’ belaka……. 
  
Salam, 
aby 
 
Re: [referensi] Re: Morotai Lagi (8)
Sunday, November 16, 2008 6:30 PM
From: "Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
 
Pak Aby dan Milister Ysh,
 
Aby: "Rasa2nya keduanya saling ogah utk konyol mulai duluan….. Jadi 
kesimpulannya kedua pihak harus janjian muncul  barengan….. karena bgmn 
passengers mau datang kalau tak jelas airlinernya…. . sebaliknya airliner 
(kecuali BUMN perintis,  gak takut rugi) ngapain  singgahi sebuah bandara… 
kalau tak jelas pasengersnya… . krn bisa rugi….. "

NA: Statement pak Aby adalah contoh konkrit kegagalan pasar (marke failure) 
sehingga perlu campur tangan pemerintah. Kalau tidak begitu banyak kegagalan 
pasar di negeri ini, tak perlulah ada Kementrian Perencanaan/ Bappenas di 
negeri ini, cukup ditempelkan saja di Kantor Kementrian Daerah Tertinggalnya Pa 
Aunur misalnya... he he he .. . Lah wong Masyakat Eropa saja PSO masih ada koq. 
Ferry untuk melayani daerah terpencil di Norwegia masih jalan, padahal income 
per kapita negara Skandinavia termasuk tinggi di dunia.
 
Tapi inilah keanehan di negeri Pak Aby ini,  perencanaan sebagai bagian dari 
tugas utama pemerintah untuk mengatasi kegagalan pasar ini, kebijakan public 
service obligation (PSO) tidak sepenuh hati, kemajuan Universal Service 
Obligation (USO) untuk telekomunikasi pedesaan pun masih tersendat. 
 
Dulu Merpati disubsidi untuk melayani daerah frontier, tetapi sekarang? 
lihatlah nasibnya.... Tapi mungkin alasannya klasik sekali, APBN tidak cukup 
untuk memberi subsidi karena habis untuk subsidi listrik, pupuk, dan lain-lain. 
 
Di Eropa PSO masih jalan untuk memberi subsidi kepada daerah. Apakah ini akibat 
Washington Concensus kali ya... 
 
Wassalam,
Nuzul Achjar
 


      

Kirim email ke