Iya, pak Bambang,..dan rekan sekalian

 

Iya,saya liat 37 (atau 35 sih) indikator itu saling terkait,.. karena ada
indikator proses yang menghasilkan indikator output/outcome,. jadi bisa
double counting dong.. 

 

Kalau dari kata bahasa inggrisnya, arti livable itu layak huni ya? 

 

Saya mikirnya,.  langsung saja indikatornya di tingkat outcome atau hasil
akhir,...Indikator yang bisa menggambarkan bahwa sebuah kota itu layak
huni,.. 

 

Kalau indikator tata ruang, itu khan indikator  masih tataran proses,..
Tapi kalau kualitas ruang mungkin bisa,... tapi kira-kira apa yah indikator
kualitas ruang yang layak huni,.. 

 

Ditunggu deh hasilnya,.. semoga gak rumit-rumit amat,. 

Saya sih pengennya juga yang simple-simpel,.. Sehingga nanti assesmentnya
bisa dilakukan oleh pemda sendiri,.dan sebaiknya diintergasikan jenis
datanya ke dalam sistem data dan informasi untuk evaluasi kinerja pemda
bersangkutan,. biar pemda bisa self-assesment dan pamer ke warganya, atau ke
orang lain,. 

 

Kalau udah pamer dan menunjukkan kinerja yang baik sebagai kota yang layak
huni,..bolehlah silahkan "mengkudeta" Jakarta ,mengambil alih fungsi ibukota
Negara ini,..

*loh, kok . balik ngomongin pindah ibukota lagi,..hehehehhe.*

 

 

Best Regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to
the work on monitoring and evaluation and other related development issues
including development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to:  [email protected] 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of Bambang Tata Samiadji
Sent: 19 December 2008 17:33
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Liveable City Index [Oleh-oleh dari IAP : Simposium
Nasional, Metropolitan Indonesia]

 


Halo Dwiagus.

 

Mengukur Liveable City Index  (LCI) itu memang penting dan perlu. Tapi kita
sering terjebak pada pemikiran yang sok akademis, sok rumit, ..padahal yang
disebut akademis itu yang sulit jadi gampang, bukan sebaliknya.

 

Juga dalam mengukur LCI ini, idenya ada 37 variabel. Wah trus gimana
ngukurnya? Paling-paling nantinya pakai model scoring dan pembobotan lagi.
Padahal kita tahu khan kalau metode scoring dan pembobotan itu
variabel-variabelnya harus independen, lha yang 37 variabel itu sebagian
besar saling dependen. Saran saya pakai Analisis Faktor dulu sehingga bisa
terkelompok menjadi 2 kelompok variabel yang independen, baru kemudian
diperoleh klasifikasi LCI. Cuman sayang, penggunaan Analisis Faktor tidak
menghasilkan pemeringkatan (ranking : i, 2, 3, 4...) LCI, tetapi hanya
klasifikasi LCI dalam 4 kuadran saja. Cara kuadranisasi ini lebih sederhana
dan lebih akurat daripada scoring dan pembobotan yang menghasilkan
ranking.... tapi bisa misleading (karena salah metode).

 

Bukankah begitu?

 

Thanks. CU. BTS.

--- On Wed, 12/17/08, Benedictus Dwiagus S. <[email protected]> wrote:

From: Benedictus Dwiagus S. <[email protected]>
Subject: [referensi] Liveable City Index [Oleh-oleh dari IAP : Simposium
Nasional, Metropolitan Indonesia]
To: [email protected], [email protected],
[email protected]
Cc: [email protected]
Date: Wednesday, December 17, 2008, 11:13 AM

Dear Rekans

 

Sudah ada yang memperhatikan hasil symposium nasional IAP (Ikatan Ahli
Perencana) di Medan beberapa waktu lalu?

Berikut saya lampirkan di bawah email ini.

Maaf, kalau udah dapat 

  

Menarik juga ya, dari symposium tersebut keluar variable dan kriteria untuk
livable city index. 

  

Saya penasaran sebenarnya, dari ke 8 variable dan35 kriteria tersebut,
disebutkan akan diturunkan menjadi indikator dalam bentuk kuesioner. 

  

Berikut: 

1. Fisik Kota : Tata ruang, arsitektur, RTH, ciri dan karakter budaya lokal
2. Kualitas Lingkungan : kebersihan kota dan tingkat pencemaran.
3. Transportasi- Aksesibilitas : angkutan umum, kualitas jalan, waktu tempuh
ke tempat aktivtas, pedestrian
4. Fasilitas : Fasilitas kesehatan, pendidikan, peribadatan, rekreasi, taman
kota.
5. Utilitas : Air bersih, listrik, telekomunikasi
6. Ekonomi : tingkat pendapatan, biaya hidup, ramah investasi
7. Sosial : Ruang publik, ruang kreatif, interaksi sosial, kriminalitas,
tingkat kesetaraan warga kota, partisipasi warga, dukungan terhadap orang
tua, penyandang cacat, dan wanita hamil.
8. Birokrasi dan Pemerintahan : Leadership yang kuat, dukungan kebijakan,
kepastian hukum, akuntabilitas pemerintah, tingkat penerapan rencana kota,
dukungan program pembangunan, dukungan pembiayaan

  

Kalau dibilang dalam laporan IAP itu, . "Indikator dalam bentuk kuesioner?" 

Apakah itu artinya indikator untuk penyusunan indeks ini akan dihasilkan
dari kuesioner. 

Atau indikatornya akan disusun dulu baru nanti di kirim ke responden ? 

Respondennya ini sample penduduk kota itu atau pemdanya ya ? 

  

Kalau indikator ini sudah tersusun saya mau dong intip-intip,. apa data-data
untuk menggambarkan indikator itu data mengenai persepsi pendudk/pemda, ..
atau data kuantitatif, juga ya ?. 

  

Sebenarnya kalau sudah didapat indeks ini,... bisa menjadi acuan membuat SPM
Pembangunan Kota nih,... 

Sehingga bisa menjadi dasar bagi monitoring dan evaluasi kinerja pembangunan
kota,. 

Lantas dibuat sistem informasi /data collecting yang bisa menjawab kinerja
berdasarkan SPM tersebut,. Jadi index ini diintegrasikan kedalam sistem
evaluasi kinerja pembangunan daerah,. dan tidak menjadi kegiatan survey
musiman, .. tapi sudah masuk dalam sistem,.. 

atau sudah ada SPM untuk Pembangunan Kota ya?? 

bedanya indeks Liveable City ini dengan indeks yang digunakan untuk Kota
Adipura apa yah kira ? Lebih complexhensive (complex tapi comprehensive)
ya,.. ? 

  

Kalau di sektor kesehatan dan pendidikan,... 

Sudah terbentuk SPM  yang sangat memabntu,.. jadi ketika kita ingin melihat
kinerjanya, tinggal mengacu ke SPM itu,... 

Dan kalau sudah ada SPM, tinggal sistem informasi/data berdasarkan SPM itu
yang dikembangkan,.. 

Kalau di sektorkesehatan,... kalau ingin bicara kinerja sudah jelas
patokannya, misalnya, angka kematian ibu, angka kematian bayi, gizi buruk,
dll 

  

Maaf, saya jadi keliatan meracau. 

  

Akhir kata,... 

Ditunggu dengan penuh harap Indeks ini. 

  

Salam 

dwiagus 

  

---------hasil symposium nasional itu--------- --------- --------- ---------
--------- --------- ----- 

  

http://www.iap. or.id/detail_ brt.asp?id= 48
<http://www.iap.or.id/detail_brt.asp?id=48>  


Tanggal

:

4 Desember 2008 WIB


Judul

:

Simposium Nasional : Masa Depan Kota Metropolitan Indonesia


Sumber

:

Panitia

  

Pada tanggal 4 Desember 2008, Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP)
bekerjasama dengan Balitbang Kota Medan menggelar symposium nasional dengan
tema : Masa Depan Kota Metropolitan di Indonesia. Pada acara ini juga
dihasilkan suatu rumusan kriteria Liveable Cities yang akan dijadikan bahan
dasar bagi penyelenggaraan Most Liveable City Index yang akan
diselenggarakan oleh IAP pada pertengahan tahun 2009.

Kegiatan Simposium ini dihadiri oleh 80 orang peserta dari berbagai
institusi perencanaan nasional yang meliputi pemerintah kota Medan,
pemerintah propinsi sumatera utara, dinas tata kota dan bappeda di beberapa
kota metropolitan, REI, IAI, URDI, perwakilan institusi pendidikan serta
beberapa pengurus daerah IAP.

Pembukaan symposium dilakukan oleh Pejabat Walikota Medan Yaitu Drs.
Afifuddin Lubis, M.Si, yang menekankan pada pentingnya kualitas lingkungan
perkotaan untuk menunjang kualitas hidup yang sehat dan berkualitas dan
harapannya untuk menjadikan Kota Medan sebagai Kota Metropolitan yang
nyaman. Keynote Speech di berikan oleh Ir. Bambang Guritno, MBA, Staf Ahli
Menteri Pekerjaan Umum yang memaparkan tantangan perkembangan perkotaan
secara nasional yang harus disikapi oleh semua pihak dengan cermat untuk
mewujudkan suatu keseimbangan antara pembangunan fisik dan ekonomi disatu
sisi dengan kelestarian lingkungan dan kenyamanan hunian pada sisi yang
lain.

Sesi diskusi panel I diisi oleh pemaparan dari Ir.Iman Soedradjat, MPM
(Ketua Umum IAP), Dra. Indah Suksmaningsih, MPM (Ketua Umum YLKI) dan
Ir.Wicaksono Sarosa, PhD dari URDI. 

Iman Soedradjat mengatakan bahwa di tahun 2008, secara global jumlah
penduduk kawasan perkotaan sudah melebihi jumlah penduduk yang tinggal di
kawasan rural. Kondisi ini menyebabkan terjadinya urban paradox : Pada satu
sisi kota sebagai kekuatan ekonomi tetapi pada sisi lain kota juga menjadi
pusat kemiskinan dan kekumuhan. Kebijakan yang ada sekarang meskipun secara
konseptual sudah cukup baik tetapi pada tataran praksis masih belum
menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pada gap antara kesenjangan antara
konsep dan praksis inilah diharapkan planner dan asosiasi profesi (IAP)
dapat memberikan kontribusinya dan professional responsibility untuk
mewujudkan harmonisasi perkembangan kota melalui : keseimbangan dan
keselarasan antar elemen-elemen perkotaan, kebijakan penataan ruang yang
kondusif bagi sektor informal, menjaga keunikan identitas kota serta
peningkatan keterlibatan masyarakat kota.

Indah Suksmaningsih menekankan perlu adanya suatu kesetaraan antara
penyelenggara pemerintahan dan seluruh lapisan masyarakat kota dalam
mewujudkan lingkungan kota yang berkualitas. Perlu adanya fasilitasi
terhadap para penyandang cacat, wanita hamil dan orang tua serta dari sisi
kelembagaan perlu adanya akuntabilitas dari penyelenggara pembangunan dan di
sisi lain kepatuhan terhadap hukum dari sisi konsumen/ masyarakat. 

Wicaksono Sarosa memaparkan bahwa adanya harga yang harus dibayar untuk
menciptakan kenyamanan hidup. Paradox yang terjadi etika dikawasan perumahan
mewah yang sangat nyaman dibandingkan dengan fasilitas publik yang buruk
menjadi bukti bahwa ada aktor biaya yang bermain. Oleh karena itu Wicaksono
menekankan perlu adanya dukungan anggaran pemerintah untuk mewujudkan kota
yang Liveable. Wicaksono juga menekankan faktor leadership, kretaivitas dan
fungsu waktu sebagai solusi untuk mewujudkan kota yang nyaman.

Pada Sesi II, diskusi panel menghadirkan Ir. Hari Ganie, MM (DPP REI), Djodi
Trisusanto, MBA (Jones Lang La Salle, international property consultant )
dan Dr.Icwan Azhari seorang Sejarawan Kota Medan. 

Hari Ganie memberikan sebuah perspektif developer dalam mewujudkan
lingkungan yang liveable. Kata kunci nya adalah kompetitiveness, daya saing
dan kreativitas. Bahwa kota-kota sekarang bersaing secara global untuk
menarik investasi dan kaum terdidik. kota-kota metropolitan di indonesia
tidak hanya bersaing secara nasional, tetapi secara regional dan global,
contohnya dengan Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Hanoi. Kesadaran mengenai
iklim kompetisi ini penting untuk memberikan dorongan dan kreativitas dalam
rangka meningkatkan daya saing kota. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah
: Infrastruktur, fasiltitas dan pengembangan lingkungan hunian, sustainable
transportation, high cost economy dari birokrasi, kualitas SDM yang
berpendidikan.

Djodi Trisusanto dari JLL memberikan gambaran pola pikir dari internasional
real estate investor dalam melihat perkembangan suatu kota. Djodi memaparkan
adanya 3 elemen penting yang mempengaruhi perkembangan real estate kota,
yaitu : Consumer group (individual & Institution) , Space Producer
(Architect, Planners, Developers) dan public yang semuanya mempunyai harapan
yang sama akan tingkat kualitas lingkungan perkotaan. Faktor yang diharapkan
oleh ketiga elemen tersebut adalah : Kepastian kepemilikan lahan, kemudahan
proses perijinan, ketersediaan infrastruktur, kepastian rencana pembangunan
kota, keamanan, tingkat transparansi bisns, tingkat korupsi yang rendah,
akses terhadap fasilitas kesehatan dan pendidikan yang berkualitas,
ketersediaan fasilitas rekreasi dan budaya, dan kualitas lingkungan udara,
polusi.

Sedangkan Dr. Ichwan Azhari menekankan perlunya sebuah kota yang berkarakter
dan memiliki penghargaan terhadap budaya lokal dan tetap mempertahankan ciri
khas lokal.

Acara simposium ditutup dengan perumusan kriteria Liveable Cities yang
terdiri dari 8 Variabel dan 35 kriteria sebagai berikut :
1. Fisik Kota : Tata ruang, arsitektur, RTH, ciri dan karakter budaya lokal
2. Kualitas Lingkungan : kebersihan kota dan tingkat pencemaran.
3. Transportasi- Aksesibilitas : angkutan umum, kualitas jalan, waktu tempuh
ke tempat aktivtas, pedestrian
4. Fasilitas : Fasilitas kesehatan, pendidikan, peribadatan, rekreasi, taman
kota.
5. Utilitas : Air bersih, listrik, telekomunikasi
6. Ekonomi : tingkat pendapatan, biaya hidup, ramah investasi
7. Sosial : Ruang publik, ruang kreatif, interaksi sosial, kriminalitas,
tingkat kesetaraan warga kota, partisipasi warga, dukungan terhadap orang
tua, penyandang cacat, dan wanita hamil.
8. Birokrasi dan Pemerintahan : Leadership yang kuat, dukungan kebijakan,
kepastian hukum, akuntabilitas pemerintah, tingkat penerapan rencana kota,
dukungan program pembangunan, dukungan pembiayaan

Selanjutnya variabel dan kriteria ini akan diturunkan menjadi indikator
dalam bentuk kuestioner yang akan dibagiakan kepada para responden di 15
Kota Metropolitan di Indonesia. Penyusunan kuestioner akan dilakukan pada
Bulan Januari 2009, survei akan dilakukan pada bulan Maret dan April 2009,
dan pada Bulan Juli 2009 sudah dihasilkan Indonesia Most Liveable City
Index. 

------------ --------- --------- ----end of quote ------------ ---------
--------- --------- --------- --------- -- 

  

Best Regards, 

  

Benedictus Dwiagus S. 

http://bdwiagus. blogspot. com 

http://bdwiagus. multiply. com 

  

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White 

  

:::.... Indo-MONEV ...::: 

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to
the work on monitoring and evaluation and other related development issues
including development aid works, particularly in Indonesia. 

Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com 

 

 

 

Kirim email ke