Rekan-rekan ysh.,

Terima kasih untuk paparannya yang sangat menarik untuk topik regional
inequalities.
Izinkanlah saya untuk memaparkan bagaimana contoh pelaksanaan otonomi daerah
di daerah saya, Sumatera Utara.

Masyarakat Sumatera Utara mempunyai bandara berpredikat internasional
bernama Bandara Polonia. Patut dicatat, bahwa Bandara Polonia yang dibuka
pada tahun 1928 sudah dinyatakan tidak layak sejak tahun 1991. Sebelum tahun
1991, ada empat kecelakaan pesawat dari atau menuju Polonia,  yaitu tahun
1979, 1981, 1985, dan 1987. Setelah tahun 1991, ada tiga kecelakaan pesawat
dari atau menuju Polonia, yaitu tahun 1993, 1997, dan 2005.

Pemerintah Pusat baru benar-benar bereaksi memindahkan Bandara Polonia ke
Kuala Namu  setelah tragedi Mandala 5 September 2005 yang menewaskan 145
orang termasuk Gubernur, mantan Gubernur, anggota DPD, dan masyarakat Padang
Bulan, Sumatera Utara -- yang dimulai dengan peninjauan Presiden ke lokasi
bandara baru pada tahun 2006, sebagai awal dari Pembangunan Tahap I.

Sebenar-benarnya saya  tidak berniat me-list secara khusus siapa saja korban
peristiwa itu -- karena mereka semua adalah manusia biasa seperti Anda-anda
yang berdomisili di Jakarta dan kematian pun adalah suatu hal yang lumrah.

Hanya sangat disesalkan, reaksi Pemerintah Pusat baru ada setelah ada
korban-korban juga dari pihak Pemerintah Daerah. Empat belas tahun sudah
kami menunggu perpindahan Bandara Polonia ke lokasi yang aman untuk
penerbangan dari dan menuju Sumut -- yang enam tahun di antaranya berada di
era Otonomi Daerah.

On the other hand, Anda boleh membayangkan, bila kumis Bung Foke secara
tidak sengaja tercabut sebelah, saya yakin ributnya akan se-Indonesia, dan
pastilah pada hari itu juga akan dicarikan kumis palsu penggantinya
karena adalah
sebuah "musibah nasional" apabila Bang Kumis berkumis sebelah. Mirip dengan
proses pemilihan Gubernur DKI yang selalu menjadi topik hangat pers manapun
di Indonesia -- termasuk di daerah-daerah non-DKI.

Wajar saja, karena Jakarta adalah Daerah Khusus, dan saya pikir logis
juga, karena banyak di antara Anda yang berdomisili Jakarta yang
termasuk orang-orang
penting berskala nasional bila dibandingkan dengan kami orang-orang
daerah. Orang-orang penting yang bila jalan berlubang merusak BMW Anda bisa
menjadi tragedi bangsa kita.

Namun, ashes to ashes, dust to dust, kami hanyalah manusia biasa yang akan
kembali menjadi tanah -- apakah barangkali Anda akan kembali menjadi api?

Salam,
Andri

Kirim email ke