Halo, salam kenal pak Efha dan pak Jehan,
saya seringkali tertarik dengan masalah pertanahan ini. Waktu penyusunan UUPR 
24/1992, sangat banyak sekali kendala yang dihadapi terhadap hubungan ruang dan 
tanah ini. Akhirnya pertanahan dapat dicantumkan dalam UUPR itu sebagai salah 
satu sub-sistem dari penataan ruang (baca UUPR 24/1992 pada penjelasan umum dan 
penjelasan pasal 30 kalau tidak salah). 
Saya tidak tahu lagi bagaimana pengertian ini dalam UUPR 26/2007 (yang disebut 
kering itu....hehe ya so pasti kering karena urusan laut, pesisir dan pulau 
kecil yang basah ya, sudah dilepas jadi UU tersendiri - baca UUP3K 27/2007). 
Mungkin perlu juga para milister yang tertarik dengan masalah pertanahan ini 
menelaah adanya PP 16/2004 tentang Penatagunaan Tanah. Soal "pemilikan" memang 
kelihatannya tidak begitu disebut, karena mungkin memang ibarat "pisau"  
(contoh yang baik sekali nih ! ) boleh saja dimiliki asal mampu memiliki 
(mungkin maksudnya membeli atau diberi seseorang, atau cara-cara lain 
ya...hehe...direbut, dicuri ), tetapi untuk menggunakan "pisau" itu mungkin 
tidak setiap orang bisa atau tahu sehingga akan lebih terasa "manfaat"nya, dan 
bukan mudharat nya.
Dalam PP 16/2004 itu yang agak dielaborasi memang aspek "penggunaan" dan 
"pemanfaatan" ruang berupa tanah itu. Mungkin hal inilah yang dianggap sangat 
terkait dengan "penataan ruang", dan bukan aspek pemilikannya. 
Kalau ingin lihat tentang penggunaan dan pemanfaatan ini bisa juga dikaji dalam 
UU no.28/2002 tentang Bangunan Gedung sebagai salah satu wujud pemanfaatan 
ruang. 
Saya juga tidak tahu siapa ahli pertanahan yang terlibat intensif dan bisa kita 
tanya dalam perumusan UUPR 26/2007 itu. Ada yang tahu ? Atau ada yang terlibat 
dalam milis ini ? 
Salam - 2ny 

--- On Mon, 12/29/08, [email protected] <[email protected]> 
wrote:
From: [email protected] <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Mengutamakan Manfaat Tanah - makalah
To: [email protected]
Date: Monday, December 29, 2008, 2:34 PM










    
            Salam lagi tuk Mas Jehan dan rekan milist lainnya,

Saya sepakat untuk pendapat ttg revisi hukum pertanahan dalam konteks 
perencanaan pembangunan wilayah dan kota. Saya merasakan bahwa selama ini 
masyarakat memandang sama antara hak kepemilikan dan hak pemanfaatan, dimana di 
dalam hak kepemilikan sudah termasuk/mencakup hak pemanfaatan, dimana saya 
memandang bahwa kedua hal tsb merupakan suatu hal yang tidak sama dan tidak 
harus sama. 

Sementara itu, saya merasa bahwa masalah hak pemanfaatan lahan ini merupakan 
suatu aspek yang kurang terelaborasi di dalam hukum pertanahan kita. Namun, 
karena saya bukan seorang yang ahli di dalam hukum pertanahan, maka penting 
bagi saya untuk mengkonfirmasikan "perasaan" saya tersebut agar saya tidak 
berpendapat dengan suatu basis "perasaan", melainkan suatu kebenaran. Oleh 
karena itu, saya perlu mencoba
 mengkonformasikan kebenarannya, dan sekaligus mengindikasikan kepada 
rekan-rekan pembaca lain bahwa saya tidak terlalu pasti akan kebenaran dasar 
informasi yang saya kemukakan. 

Namun, bukan berarti bahwa dengan upaya konfirmasi tsb saya berserah diri 
kepada ahli hukum pertanahan tentang bagaimana cara pengaturan dan pengelolaan 
lahan, terutama pada lahan perkotaan. Saya malah berpendapat agar para ahli 
hukum pertanahan mau melakukan evaluasi apakah hukum pertanahan kita (UU Pokok 
Agraria?) masih sesuai dengan situasi jaman yang sudah berubah jauh dari saat 
dirumuskannya UU tsb. Saya yakin sudah banyak perubahan yg terjadi yg sudah 
tidak lagi tercakup oleh pasal-pasal di dalam UU tsb. Salah satu hal yang tidak 
lagi terwadahi adalah perlunya pembedaan/pemisahan yang tegas di antara hak 
kepemilikan dan hak pemanfaatan lahan. Kedua hal tersebut sangat penting untuk 
diatur secara baik di dalam hukum pertanahan mengingat kepemilikan merupakan 
atribut
 dari sistem pengadministrasian tanah sebagai implikasi berkembangnya 
tanah/lahan sebagai suatu barang komoditas (privat), sementara hak pemanfaatan 
lahan juga merupakan hal yang juga sangat penting sebagai atribut dari 
pengelolaan sumber daya lahan bagi kepentingan hidup manusia dan masyarakat 
saat ini maupun di masa depan.

Salam,

Fadjar Undip


--- On Tue, 12/30/08, Jehan <jehansiregar@ yahoo.com> wrote:

From: Jehan <jehansiregar@ yahoo.com>
Subject: [referensi] Re: Mengutamakan Manfaat Tanah - makalah
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, December 30, 2008, 1:12 AM







    
            Salam kembali Mas Fajar.. salam kenal juga.



Ya, itu dia Mas istilah yang lebih pas: status hukum dari 

pemanfaatan tanah. Tapi di kalimat berikutnya Mas mengulang lagi 

istilah ini: status kepemilikan tanah, yang kurang tepat dan yang 

menurut saya bias. 

Intinya sebenarnya yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa para 

perencana guna tanah sudah teracuni oleh cara pandang hukum tanah 

semata. Hukum bukan segalanya, cuma koridor, pagar, batas-batas. 

Sedangkan yang kita bahas ini adalah game play di dalam pagar. Duduk 

perkara, konsepsi, konstelasi dan bentuk hubungan-hubungan. Contoh 

sederhananya, konsep permainan sepakbola bukan ditentukan oleh batas 

lapangan bola toh? tapi sebaliknya.



Ini kekeliruan para planner guna tanah, selalu bertanya kepada ahli 

hukum tanah. bahkan bertanya ke administratur tanah. Hahaha... kayak 

yang Mas tanya di bagian akhir itu... Menurut saya justru merekalah 

yang harus bertanya sama Mas. Apanya yang mau diatur nih? 



Contoh kasus, UU 26/2007 ttg Tata Ruang. Isinya kering! Didominasi 

definisi dan istilah-istilah semata kayak yang ada di buku kuliah. 

Terus diakhiri dengan pasal ancaman ancaman. Inilah contohnya kalo 

penyusunannya mengandalkan ahli hukum dan hanya melibatkan 

segelintir pakar planning.   



Jangan pula melihat masalah ini hitam putih, diartikan planner tanah 

menafikan hukum tanah (Mas Aby). Tidak, konsekwensi dan aturan hukum 

tetap perlu dipahami secara umum. Poinnya disini bukan penegakan 

hukum tnah, tapi tentng menyusun konsepsi dasar pemanfaatan tanah.



Di atas hukum positif masih ada asas keadilan. Ini yang sering 

menjadi perdebatan di pengadilan, antara pengacara/jaksa dan ahli/ 

akademisi hukum. Karena yang teakhir biasanya adalah dosen yang 

pertama, maka sidang pengadilan (bukan sidang penghukuman) jadi 

ajang kuliah tambahan.



Demikian juga, di atas hukum positif tanah masih ada asas keadilan 

tanah, yaitu asas-asas keadilan dalam pemanfaatan tanah. 



Urutan pembagian perannya (mulai dari nilai-nilai, prinsip, arah, 

konsepsi, kerangka hukum, tata cara administrasi) begini:



Peramal (kalau mau diselipkan :)

Ulama

Negarawan (kalau ada)

Politisi

Birokrat (pembuat kebijakan)

Perencana (praktisi profesional, birokrat perencana, akademisi)

Ahli dan praktisi hukum

Administratur

Pelaksana



Jadi perencana jangan mau disalip ahli hukum, karena jadinya kaku. 

Sama halnya, arsitek saja tidak mau bertanya kepada ahli struktur 

ketika mendesain struktur suatu bangunan. karena desain bangunannya 

bisa jadi kaku. Mungkin para planner perlu ikut kalangan (industri) 

kreatif, supaya bisa lebih produktif memberi masukan ke kalangan 

birokrat, politisi, negarawan, dan ulama, tentang berbagai 

alternatif konsep perencanaan, cara-cara dan mekanisme dalam 

penataan ruang dan tanah.



Salam damai,

Jehan



--- In refere...@yahoogrou ps.com, efha_mardiansjah@ ... wrote:

>

> Salam untuk Mas Jehan dan rekan-rekan milist semua...

>  

> Terdapat beberapa kesepakatan dan ketidak-sepakatan saya terhadap 

opini yang dikemukakan Mas Jehan dalam tulisannya ttg "Mengutamakan 

Manfaat Tanah:..."

>  

> Satu hal utama yang saya sepakat adalah perlunya 

dikembangkan 'mindset' status hukum atau hak dari 'pemanfaatan 

tanah/lahan' . Ini diperlukan, terutama dalam pembangunan wilayah dan 

perkotaan, karena selama ini, secara hukum, yang berkembang 

hanyalah 'pemilikan tanah'. Padahal kedua hal tersebut berbeda dan 

tidak dapat dipersamakan, walaupun dalam benak banyak kita bahwa hak-

hak dari status kepemilikan tanah (terutama dari hak milik) 

seringkali juga dianggap sebagai status hak pemanfaatan tanah yang 

bersangkutan. Dalam bahasa awamnya, kalau status kepemilikan tanah 

saya dalah hak milik, maka saya berhak memanfaatkan tanah saya 

tersebut sekehendak hati saya. Mindset seperti ini lah yang lebih 

banyak berkembang di dalam masyarakat kita, walaupun hal tersebut 

tidak benar. Akibatnya, pengaturan dan pengelolaan lahan perkotaan 

menjadi sulit untuk dilakukan. Dalam konteks ini, secara analogis, 

saya sering memperbandingkan tanah dengan pisau. Di sini, saya

>  selalu mengatakan bahwa kita berhak untuk memiliki sebuah pisau, 

sebesar apa pun pisau tersebut, asal kita mampu memilikiya. Namun 

ketika kita sudah memiliki pisau tersebut, terdapat aturan-aturan 

yang mengatur pemanfaatannya sehingga kita tidak berhak 

menggunakan/ memanfaatkan pisau tersebut untuk memotong bagian tubuh 

dari seseorang (walaupun bagian tubuh tsb adalah rambut dari orang 

ybs) tanpa ijin dari orang tersebut. Oleh karena itu, ketika kita 

menggunakan pisau milik kita tadi untuk memotong bagian tubuh 

seseorang (rambutnya, misalnya) tanpa ijin ybs, maka kita bisa 

berurusan dengan hukum dan penegakan hukum. Mestinya analog dengan 

itu, maka kita boleh/berhak untuk memiliki tanah, namun walaupun 

kita sudah memiliki tanah tersebut maka kita tidak berhak untuk 

memanfaatkan tanah terssebut sekehendak hati kita. (Semestinya) 

Hanya pemanfaatan yang sesuai dengan aturan-aturan yang 

diperbolehkan untuk dilakukan. Dalam hal ini, perbedaan antara pisau

>  dengan tanah/lahan adalah pada aspek spasial, dimana pisau tidak 

memiliki atribut spasial sehingga aturan-aturan pemanfaatannya bisa 

sama di seluruh tempat, namun karena lahan memiliki atribut spasial 

maka aturan pemanfaatannya bisa berbeda antara suatu tempat dengan 

tempat lainnya. Oleh karena itu, penting untuk dikemukakan bahwa hak-

hak kepemilikan tanah, (semestinya) tidak sama dengan hak-hak 

pemanfaatan tanah. (Apabila ada di antara rekan-rekan milist yang 

merupakan ahli hukum pertanahan, mohon memberikan pencerahan ya... 

tks sebelumnya lho....).

>  

> Itu adalah hal utama dari kesetujuan saya. Namun, saya tidak 

setuju apabila paradigma pemanfaatan tanah ini harus ditempatkan 

sebagai asas utama yang menggantikan paradigma pemilikan tanah, 

seperti apa yang disampaikan Bung Jehan sbb: "... pemanfaatan atas 

tanah harus ditempatkan sebagai asas utama, dan bukannya pemilikan 

tanah." Setidaknya saya belum setuju dengan pendapat tsb, walaupun 

saya sangat mendorong pengembangan konsep pemanfaatan tanah/lahan 

sebagai salah satu aspek utama dalam pengelolaan lahan, sehingga 

bisa menjadi aspek utama lain dalam pengelolaan lahan 

bersama 'kepemilikan lahan', administrasi lahan, dll. 

>  

> Salam,

>  

> Fadjar Undip

>  

> 

> 

> --- On Mon, 12/29/08, Jehan <jehansiregar@ ...> wrote:

> 

> From: Jehan <jehansiregar@ ...>

> Subject: [referensi] Mengutamakan Manfaat Tanah - makalah

> To: refere...@yahoogrou ps.com

> Date: Monday, December 29, 2008, 12:17 PM

> 

>




      


         
        
        




      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke