Bang Eka dan rekan-rekan ysh,

Untuk Bali (dan wilayah Jabodetabek), saya kira kita perlu 
mempromosikan penggunaan istilah "growth management". Sebaiknya 
jangan pakai istilah pembangunan (development) lagi, karena dengan 
pengamatan sepintas saja, kita sudah melihat tanda-tanda akan 
dilampauainya ambang batas daya dukung lingkungannya.

Salam,
Risfan Munir



--- In [email protected], "ffekadj" <4ek...@...> wrote:
>
> 
> Pak Abim ysh, bagaimanapun hasta kosala kosali dan hasta bumi serta
> sekarang bertambah dengan tri hita karana diterapkan, tidak dapat
> menahan laju perubahan struktur 
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2923>  ruang 
sehingga
> tidak terkendali. Dampak terbesar dapat sampai kepada musibah
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4355>  , termasuk 
juga
> perubahan fungsi  
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4365>
> (infrastruktur) yang ada. Apa ini karena 'ekonomi wisata' terlalu 
cepat
> berkembang sehingga spill over ke Lombok? Namun setidaknya kasus 
ini
> menunjukkan realisasi melampaui prediksi/perencanaan pemerintah. 
Salam.
> 
> -ekadj
> 
> 
> --- In [email protected], "abimanyu takdir alamsyah"
> <takdir65@> wrote:
> >
> > Pak Eka ysh,
> >
> > Saya mungkin rindu dan kehilangan suasana Bali seperti waktu 
akhir
> tahun
> > 1960-an (kebetulan kakak ibu tinggal di denpasar) dan sempat 
tinggal
> di
> > Werdhapura di pantai Sanur pada awal tahun 70-an dulu. Bali yang 
belum
> > ternag-benderang dan hingar-bingar seperti sekarang, yang 
kekhasan
> kehidupan
> > masyarakatnya serta arsitektur budayanya masih kental dan tidak 
banyak
> > terpolusi oleh produk pendatang yang "mem-bali". Mungkin itu 
pula yang
> > dirasakan oleh rekan-rekan dari Australia pada tahun pertengahan
> 1980-an
> > ketika mulai memilih Lombok sebagai daerah wisata daripada Bali.
> Padahal
> > Lombok jauh dibawah suasana lingkungan Bali saat akhir 1960-an
> tersebut.
> >
> > Memang rekan-rekan di Bali masih merasakan bahwa para pemuka adat
> masih
> > lebih dipatuhi masyarakat Bali dalam pengembangan permasalahan
> sosial-budaya
> > setempat. Namun pembangunan fisik dan ekonomi ditentukan oleh 
pemda
> dan
> > pusat. Aparat setepat juga tidak dapat berbuat banyak misalnya
> terhadap
> > rusaknya sebagian hutan mangrove di daerah percontohan tanaman
> mangrove di
> > pantai Sanur akibat perubahan arus setelah terjadi reklamasi 
pantai
> > perluasan pulau dimukanya. Walaupun drill behaya Tsunami telah
> dilakukan di
> > kawasan setempat, namun bangunan-bangunan penyelamat maupun tata 
ruang
> > setempat maupun penyesuaiannya dengan tradisi rumah-halaman 
budaya
> Bali
> > kurang menjamin penyelamatan yang lebih aman apabila bahaya 
tersebut
> > benar-benar terjadi. Belum lagi apabila animasi rekan-rekan ITB
> mengenai
> > peluang tenggelamnya sebagian pulau dan pantai Sanur-Jimbaran
> benar-benar
> > terjadi. Pembangunan Bali masih bersifat sektoral (ekonomi-fisik,
> belum
> > menyeluruh).
> >
> > Sejak lama Bali telah lebih dikenal daripada Indonesia (melalui
> kekhasannya
> > dan pariwisata). Konferensi tingkat dunia banyak dilaksanakan 
disana,
> > termasuk aspek lingkungan hidup dan kelautan. Juga percobaan-
percobaan
> > pelestarian laut dan perikanan akibat pemutihan karang maupun
> perusakan oleh
> > manusia. Bagaimana Bali dapat membalikkan globalisasi dunia 
dengan
> menjadi
> > contoh pula bahwa serbuan "globalisasi modernisasi" dan
> "artifisialisasi
> > Bali" masih terkendali oleh keunggulan lokal yang justru
> "mem-Bali-kan" atau
> > bahkan "meng-Indonesia-kan" dunia, mengingat bahwa Bali merupakan
> bagian tak
> > terpisahkan dari kebhinekaan Indonesia.
> >
> > Begitu dulu pak,
> >
> > Salam,
> > Abimanyu
> >
> >
> >
> >
> >
> > On 12/25/08, - ekadj 4ekadj@ wrote:
> > >
> > > Pak Abim ysh,
> > >
> > > Sengaja diskusi Bali sebagai salah satu contoh 'success story' 
dalam
> > > penataan ruang di masa lampau ini saya tarik ke Referensi, 
berhubung
> banyak
> > > pakar di milis ini yang memahami masalah Bali. Ada Pak Aca, Pak
> Wayan, Pak
> > > Risman, dll yang diharapkan dapat memberikan pandangan.
> > >
> > >
> > >
> > > Point yang ingin saya tawarkan adalah: 'keberpihakan' Pusat 
secara
> intens
> > > dalam pengembangan kawasan baru adalah niscaya.
> > >
> > >
> > >
> > > Dari beberapa cerita yang saya dengar hingga tahun 1950an Bali 
belum
> > > dikenal, dan baru tahun 1960-an mulai dikenal secara luas. Saya
> kurang tahu
> > > mana yang dikembangkan dulu, apakah Sanur atau Kuta. Tapi 
sekitar
> tahun 1969
> > > Ditjen Cipta Karya membuat resor percontohan di Sanur, yang 
kita
> kenal
> > > sebagai Werdhapura. Resor ini merumuskan tipikal arsitektur
> permukiman Bali
> > > yang mengindahkan hasta kosala-kosali. Dan setelah itu 'pola' 
ini
> menjamur
> > > menjadi teladan resor wisata di Bali. Dengan kata lain, sedikit
> ungkitan
> > > dari Pusat telah merebak dan berkembang dalam berbagai bentuk.
> Apalagi era
> > > 1970an hingga 1980an didukung penuh dengan berbagai pembangunan
> > > infrastruktur.
> > >
> > >
> > >
> > > Mudah-mudahan Pak Aca mau cerita lagi ketika dulu 'pusat
> pemerintahan'
> > > dipindahkan ke Renon, suatu areal pertanian yang subur. Namun
> pertimbangan
> > > hasta bumi ditanamkan dan menjadikan bentuknya yang sekarang.
> Termasuk juga
> > > area karang Nusa Dua yang dulu direncanakan oleh alm Abukasan 
dan
> Joko Item
> > > menjadi bentuknya sekarang.
> > >
> > >
> > >
> > > Mungkin itu dulu Pak Abim. Salam.
> > >
> > >
> > >
> > > -ekadj
> > >
> > >
> > >
> > > ---------- Forwarded message ----------
> > > From: abimanyu takdir alamsyah takdir65@
> > > Date: 2008/12/25
> > > Subject: Re: [futurologi] Re: Kami, Jakarta
> > > To: [email protected]
> > >
> > >
> > > Menarik juga argumen pak eka berikut ini:
> > >
> > > "......Untuk aktivitas ekonomi kita pernah 'berhasil' 
mengembangkan
> kawasan
> > > baru ini, yaitu pariwisata di Bali 1970-an dan 'commercial 
area' di
> Batam
> > > tahun 1980-an. Di Referensi ada Pak Aca yang 
dulu 'merencanakan'
> Bali, dan
> > > ada beberapa rekan dari Otorita dan Pemda Batam......."
> > >
> > > Betulkah aktivitas ekonomi ini termasuk "berhasil"....?
> > > 1). Bali ?: ......saya malah merasa bahwa Bali yang beberapa 
kali
> saya
> > > kunjungi tahun-tahun ini sama sekali bukan Bali yang saya 
kenal 30
> tahun
> > > lalu. Sangat asing dan 'artificial'. Halo pak Aca, saya ingin 
tahu,
> apakah
> > > betul itu yang pak Aca "rencana"kan dahulu?. Padahal 'the 
real' Bali
> sudah
> > > dikenal dunia sejak abad lalu....
> > > 2). Batam? ......
> > > Salam,
> > > Abimanyu
> > >
> > > 2008/12/25 ffekadj 4ekadj@
> > >
> > >> Cak Andri, saysudah on lagi, walau masih harus mempelajari 
banyak
> > >> informasi baru.
> > >>
> > >> Isu pusat pemerintahan ini kelihatannya masih menarik 
dibicarakan.
> > >> Sebenarnya perlu ditawarkan beberapa alternatif metoda dan
> pendekatan,
> > >> karena sebenarnya 'kebuntuan' pemikiran dari banyak orang 
adalah
> berawal
> > >> dari hal itu. Varia[n]si 'lokasi ekonomi' kelihatannya selalu
> dominan dan
> > >> selalu menjadi debat, karena bicara 'hulu' dan 'hilir' yang 
tidak
> pernah
> > >> selesai. Coba juga dengan beberapa 'nilai mutlak lokasi' untuk
> aktivitas
> > >> lain yang lebih sedikit debatnya, seperti aktivitas sosial,
> iptek<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4309>,
> > >> dan sebenarnya ada satu lagi yang nanti coba saya ketengahkan,
> yaitu
> > >> 'pertahanan', dan beberapa
> contoh<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/5764>pernah 
saya
> sampaikan.
> > >>
> > >> Untuk aktivitas ekonomi kita pernah 'berhasil' mengembangkan
> kawasan baru
> > >> ini, yaitu pariwisata di Bali 1970-an dan 'commercial area' di
> Batam tahun
> > >> 1980-an. Di Referensi ada Pak Aca yang dulu 'merencanakan' 
Bali,
> dan ada
> > >> beberapa rekan dari Otorita dan Pemda Batam.
> > >>
> > >> Sementara demikian dulu. Salam.
> > >>
> > >>
> > >>
> > >> -ekadj
>


Kirim email ke