Kutipan dari “Metropolitan di Indonesia”; Kenyataan dan Tantangan Dalam
Penataan Ruang, DJPR Dep.PU, 2006, editor : Haryo Winarso. Bab Penutup, hal.
321-323 :
Bab 9
Penutup
…………
(1) Bukan Sumber Penyakit
Kawasan metropolitan terbentuk karena urbanisasi yang tidak hanya berarti
migrasi dari desa kekota, tetapi lebih berarti pada perubahan atau transfomasi
dari keadaan desa kekeadaan kota dibeberaa desa/ kota kecil yang letaknya
berdekatan dengan suatu kota yang mempunyai aktivitas sosial ekonomi dominan.
Walaupun sering dikatakan bahwa dikawasan metropolitan sering terjadi
kemacetan, polusi, banjir, penyakit sosial, dsb., namun jelas bahwa kawasan
metropolitan di Indonesia, sampai saat ini, masih memberikan pelayanan yang
lebih baik kepada penduduknya dibandingkan dengan pelayanan dikawasan
perdesaan.
Kawasan metropolitan menyumbang pada perkembangan ekonomi negara, memberikan
pelayanan pendidikan yang lebih baik kepada penduduk, memberikan lapangan
pekerjaan yang juga lebih baik. Dari sisi perumahan pun, walau masih terdapat
slum dan squatter, namun secara keseluruhan menunjukkan perbaikan yang berarti
dan menyediakan perumahan yang baik berkualitas daripada perumahan diperdesaan.
Dengan demikian, jelas bahwa kawasan metropolitan bukan sumber “penyakit”
seperti yang sering dikhawatirkan oleh banyak pihak, kawasan metropolitan masih
merupakan “engine of growth’. Hanya saja tentu masih ada hal-hal yang perlu
diperbaiki, terutama secara sektoral, jika kawasan metropolitan yang sudah ada
di Indonesia hendak dibuat lebih baik lagi. Perbaikan yang paling penting
adalah pada penataan ruangnya.
Tanggapan :
Sebagai “engine of growth” ….. bagi metropolitan diluar Jawa… khususnya yang
di KTI atau katakanlah dikawasan non Jawa-Bali-Sumatera…… kiranya tidaklah
cukup hanya dilakukan “perbaikan pada penataan ruangnya” saja…… tetapi juga
sangat perlu terlebih dulu upaya dinamisasi pada fungsi ekonomi maupun
sosialnya dengan antara lain memantaskan kehidupan industri manufakturnya…….
Terutama justru dalam kaitan dengan namanya/ perannya sebagai “engine of
growth”……...
Selanjutnya….. sebagai “engine of growth”…. Tak bijak juga kalau
“kemunculan/pertumbuhan” kota metropolitan dibiarkan saja semaunya….
Terserah…. Mau tumbuh dan muncul yg baru (dengan sendirinya) entah dimana ya
situ silahkan…. Nggak juga gak papa…..
Bahwa kota metropolitan “diakui” sebagai “engine of growth”…. maka jelas bahwa
teknologi (juga masyarakat, juga otoritas keruangan) ‘perencanaan ruang”
seharusnya juga secara tegas mau mengatakan dan mengakui bahwa “metropolitan
(baru) pun perlu “direncanakan dan dikembangkan”…… dan bukannya “kalau benar2
muncul yg baru (entah dimana) ‘secara alamiah’ ya barulah mari kita urusin”
….alias tapi “kalau sengaja bikin yg baru ya nggak lah ya”……
Kalau telah jelas2 diakui perannya sebagai “engine of growth”…. maka tentu pada
suatu saat yg tak terlalu lama perlu diagendakan secara ilmiah dan secara resmi
tentang “teknik keruangan (bgmn) mengembangkan kota metropolitan”……… jadi agar
agenda demikian ini bukannya sekedar menjadi omongan ‘liar’ terus dan seakan
sekedar menjadi “omongan kurang waras”terus oleh rakyat jalanan macem saya
gini……...
DI AS yang penduduknya 300-an juta jiwa…. semua negara bagian di AS yg 50 buah
banyaknya masing2 memiliki satu atau lebih kota-kota metropolitan sebagai
bagian dari “Sistem kotanya secara nasional” yang tentu masing2 menjadi peran
“national engines of growth”…… maka tak berlebihan kalau dari sekitar 33
propinsi kita…. Dengan penduduk total diatas 235 juta jiwa…… diperlukan juga
pada masing2 propinsinya setidaknya berkembangnya 1 buah kota metropolitan………
Sayangnya bahwa dari antara planner kita seperti tidak sedikit yang masih
secara irasional senang membayangkan “kota-kota yang paling ideal adalah
“kota-kota kecil” yang hijau” (atau pada kesempatan lain mengidamkan “kota
perawan”)…… yg sulit dibayangkan apakah kota2 semacam itu juga sekaligus mampu
menyandang peran “kota mandiri”, kota “engine of job creation” dan sekaligus
“engine of growth” juga yang dinamis…….. karena kemampuan job creationnya
kota2 kecil pastilah amat sangat terbatas….. dan kota2 kecil hanya lebih
pantas menjadi kota tempat tinggal (dan kunjungan singkat) para salaryman atau
kaum pensiunan dan satelit dari kota besar yg….walau banyak tak disuka.. tapi
kenyataannya dari kota besar itulah mengalir job, gaji, KPR, kredit mobil,
kredit barang mewah rumahtangga, mode, teknologi terbaru dan banyak kenikmatan
hidup lainnya …….
Salam,
aby