Dear all. Ah ikut nimbrung ah..walaupun nantinya "dicincang" juga. Apakah yang dikemukakan industri ontel, mesin kapal, sepeda motor... apakah trickling down.. apakah afiliasi..... apapun...menurut saya pola pikirnya Teori Koldib (Koleksi Distribusi) diramu dengan Input-output.... sedikit banyak mirip dengan Teori Pengembangan Wilayahnya Pornomosidhi. Dan pola pikir macam ini posisinya ...atau sudut pandangnya masih berpijak di Jakarta (Jawa). Misalnya kita berpijak di KTI, say di Makassar. Kita pake Teori Persaingan saja, misalnya SWOT. Apa sih kekuatan Makassar, apa kelemahannya, apa peluangnya, dan terus tantangannya seperti apa? Tapi hati-hati, kalau analisis SWOT jangan "stand alone", tapi harus ada konstelasi pesaing-pesaingnya. Kalau analisis SWOT itu "stand alone", atau independent, maka hasilnya bisa misleading. Yang dianggap sebagai kekuatan, malah bisa menjadi kelemahannya. Misalnya di Makassar itu kekuatannya SDM, tetapi ternyata pesaingnya, misalnya Jabodetabek, SDMnya lebih bagus. Jadi yang dianggap kekuatan malah menjadi kelemahannya. Analsis SWOT tidak cukup, harus pula dilihat "environment"nya juga, kondusif atau tidak. Misalnya benar diperoleh bahwa industri manufaktur sepeda motor adalah salah satu Strategi Progresif (kombinasi S-O), maka lanjutnya adalah analisis finansial (Financial IRR), apakah benar bagi pengusaha itu mendirikan pabrik di Makassar lebih profit? Jangan masuk ke analisis ekonomi (Economic IRR), nanti rancu,..karena soal afiliasi industri...apapun namanya.. adalah aspek finansial...orientasi profit bukan benefit...dedikasi ke stockholders....bukan stakeholders. Nah coba disimulasi saja.... baru nanti bisa didiskusikan lagi. Thanks. CU. BTS.
--- On Wed, 1/21/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote: From: hengky abiyoso <[email protected]> Subject: [referensi] Perkapalan Re: (3) Menyemai Industri Manufaktur di KTI To: [email protected] Cc: [email protected] Date: Wednesday, January 21, 2009, 1:02 AM Sahabat H. Ekadj dan milisters ysh, +++: Selain saran relokasi, sebenarnya ada industri manufaktur yang potensial dikembangkan di KTI, yaitu industri katinting (mesin tempel kapal) dan kapalnya sendiri. Katinting digunakan meluas di KTI, cenderung memperbesar kapasitas dan volume. >>>: Bukan “saran relokasi”… tapi saran “filialisasi” industri manufaktur >>>(pembukaan cabang kecil dilokasi jauh sambil tak mengganggu lokasi >>>lamanya)…… Tentang industri manufaktur mesin kapal……. Ya… ini adalah industri manufaktur berikut yang nampaknya prospectable utk dikembangkan juga di KTI…. segera sesudah dilakukan perintisan oleh “industri memimpin” yg riil hari ini……. Namun kalau ia mau dicoba langsung menjadi “leading industries” untuk perintisan industri manufaktur di KTI ….. saya khawatir jalannya rasanya masih amat jauh lbh panjang dibanding dgn peran signifikan yg dpt dimainkan oleh industri manufaktur memimpin kita saat ini hari ini… ialah spdmotor……. Namun utk tak mengesankan bahwa ini sekedar masalah adu pendapat “suka/ tak suka jenis industri tertentu”……atau sekedar masalah”ide siapa lbh baik dari punya siapa”…. baiklah .... Mari kita kaji prospek peluang dan masalah dari “ide pengembangan industri mesin kapal di KTI”…. Dibanding dgn ide ‘filialisasi’ industri spd motor……. Dari berbagai aspek yg dapat dianalisis…. Baiklah kita buat satu analisis saja dulu yg berkait dgn beda karakter antara produk mesin motor tempel (outboard motor) dan spd motor…… Dari yg lebih sederhana dulu….. produk spd motor yg lbh dulu disuggest adalah keluaran dari the big-3 (Honda, Yamaha, Suzuki)… tipenya paling2 adalah bebek (mayoritas) dan motorsport (minoritas)…. . dan cc-nya pun paling2 umumnya 100cc dan 125 cc….. selain ini menyederhanakan segmentasi pasar….. jelas juga bahwa pasar dari ketika merk the big-3 spdmotor ini di KTI sudah nyata (datanya nggak tahu)……. Tapi katakanlah setidaknya 1/8 saja dari total pasar nasional… atau utk mudahnya angkanya 750.000 unit/ tahun…… atau utk tiap merk katakanlah mendapatkan pasar sebanyak masing2 @ 250.000 unit/ thn…… dan umumnya jelas bahwa spd motor kepemilikannya ataupun penggunaannya umumnya lbh bersifat pribadi/ penggunaan oleh keluarga…. kapasitas angkutnya terbanyak 2 orang… ia tidak banyak bersifat menjadi “kendaraan umum” (kecuali ojek)…... sehingga dpt dibayangkan bahwa proporsi keberadaan spdmotor (sbg kendaraan keluarga) dibanding jumlah penduduk spt masih lebih tinggi dibanding proporsi keberadaan motorboat/ kapal (sbg kendaraan umum) dibanding jumlah penduduk di KTI ……… Sementara itu bagi total penduduk KTI yg katakan saat ini sekitar 35-40 juta jiwa…… kita tahu bahwa produk kendaraan dilaut/ diair (motorboat, kapal) itu selain pada umumnya lbh bersifat ‘public transporter’…. tipenyapun amat bermacam-macam sekali….… setidaknya dipasaran terdapat produk2 motor tempel (outboard motor) sejak dari ukuran 2hp, 6hp, 15hp, 20, 25, 50, 115, dst. sampai 300hp bahkan lebih…… dan untuk inboard motor terdapat ukuran2 yg lebih besar lagi…..… “Beruntung” bahwa banyak motorboat memakai ukuran2 horsepower yg agak dapat disederhanakan …. seperti bahwa banyak dipakai mesin2 ganda dgn horsepower yg agak umum/ standar seperti katakanlah @ 20PK, 40PK atau 50PK… lalu orang memakai masing2 mesin tunggal, mesin ganda, mesin 3 sampai 4 buah mungkin juga lebih … dan di KTI seperti lumayan populer dipakai merk2 Yamaha……yg ini menjadi peluang kuat bagi Yamaha….walau kita tahu 2 merk lain disini (Honda,Suzuki) juga memiliki produk outboard motor juga (tapi tak populer di Indonesia)….. tapi jelas bahwa populasi motorboat (apalagi per kelasnya) dibanding jumlah penduduk KTI dapat diperkirakan jauh lbh rendah dibanding proporsi jumlah spd motor (umumnya berkelas 100 dan 125cc) dan penduduk di KTI…..… Dengan demikian dari satu sisi proporsi…. untuk “perintisan awal pengembangan industri manufaktur di KTI”….. dpt dikatakan bahwa merk 3 besar spd motor masih setidaknya tetap akan ‘selangkah’ lbh mampu utk mengambil peran signifikan ‘kelayakan industri’ dibanding industri mesin tempel…….. Kedua….. Dari sisi financing….. belakangan kita tahu….. syarat kredit spd motor telah demikian mudahnya (dgn uang muka 500rb, cicilan 500rb juga, KTP/KK)…… sehingga penjualan spd motor menjadi demikian maraknya…… dan krnnya industri spdmotor berkembang semakin demikian pesatnya…… Tapi sementara itu…… bgmn dgn kredit pembelian mesin motorboat?.. ..... atau sekaligus ttg kredit pembelian motorboat lengkap beserta mesinnya?... .... rasanya itu belumlah semeluas spt kredit otomotif…….. setidaknya bbrp faktor adalah pertama.. harga per unit motorboat tipe paling kecil msh lbh mahal dari hrg sebuah spdmtr…… setidaknya bisa 2 atau 3 kali lipat dan lebih…. Kedua,… utk jaminan bagi perusahaan pembiayaan…. Brngkali juga motorboat itu sendiri tidaklah seberharga seperti kendaraan bermotor….. selain itu jaminan tambahan berupa rumah atau tanah (didaerah terpencil) juga belum tentu dipandang cukup mantap dan praktis oleh lembaga pembiayaan…… Belum lagi bahwa utk after sales service….. belum tentu juga jaringan jasa service industri motorboat dapat “mendekati konsumen” sama luwesnya seperti konsumen kendaraan bermotor….. krn karakter motorboat sbg “kendaraan diair” dan “dialam” cenderung akan agak jauh dari jalan raya dan ‘kota’…… sbg lokasi layanan yg strategis (sehingga didaerah yg semakin tipis jumlah penduduknya …. Jasa servis dan sukucadang semakin kurang ekonomis utk diselenggarakan)… . sementara itu hari ini “kesiapan” jaringan aftersales industri spdmotor 3 merk besar ini telah terbentuk diseluruh pelosok tanahair….. Jadi sekali lagi kemudahan kredit pemilikan motorboat/ penjualan motorboat … terlebih yg berukuran besar (proporsi populasinya relatif sedikit)…… brngkali tidaklah akan semudah dan semeluas spt jumlah kredit/ penjualan spd motor…… Atau dengan kata lain… sejauh ini industri spd motor sbg “industri memimpin” nasional (yg akan dimanfaatkan bagi "langkah awal" pendorong/ penggerak utama pembangunan wilayah) dlm bbrp aspeknya belumlah ada tandingannya yg setara….. Salam, aby [referensi] Re: (3) Menyemai Industri Manufaktur di KTI Monday, January 19, 2009 4:47 PM From: "ffekadj" <4ek...@..... ......> To: refere...@yahoogrou ps.com Pak Aby ysh, Selain saran relokasi, sebenarnya ada industri manufaktur yang potensial dikembangkan di KTI, yaitu industri katinting (mesin tempel kapal) dan kapalnya sendiri. Katinting digunakan meluas di KTI, cenderung memperbesar kapasitas dan volume. Kemarin di Ternate kita pernah coba 4x20 PK, malah teman di Sorong pakai 4x50 PK, hanya untuk perahu kecil. Saya kira katinting yang ada masih built-up dari Jepang atau assembling Surabaya. Anehnya juga sedikit sekali bengkel reparasi mesin di KTI. Dinas DKP Malut juga punya program rutin motorisasi nelayan, sekitar 500 unit/tahun. Kalau untuk kapal, dulu saya pernah tinjau-tinjau di Bitung dan ketemu orang bikin kapal 10 ton, dan teman-teman UNCRD itu cukup antusias. Saya kira pusatnya di Buton-Selayar Sulsel. Kalau disemai di beberapa tempat, kita bisa jadi negara maritim. Di Ambon di samping penyeberangan itu juga ada satu galangan kapal, tapi lebih sering sepi. Memang ketika saya tanyakan si Ahmad dari Asmat mengenai perlunya membeli kapal-kapal perikanan yang baru ukuran besar, dia menyarankan, "Ngapain beli yang baru pak, beli saja yang bekas di Probolinggo, murah-murah kok." Saya baru tahu rupanya Probolinggo menjadi sentra perdagangan kapal (bekas), mungkin sejak era Majapahit. Untuk sepeda, saya belum melihat pasar. Sementara demikian dulu pak. Salam. -ekadj

