Dari dulu saya berusaha mengingatkan, kalau "repot"nya bidang Planologi ini ada di "perbatasan". Ada yang menganggap "ilmu teknik" (eksak), tapi sesungguhnya produknya adalah kebijakan publik. Beda dengan sipil/arsitek yang bohir-nya satu, pelaksananya ditunjuk, dananya sudah dianggarkan. Produk planning sebagai kebijakan publik, pelaksanaannya tergantung pemerintah (sumber daya, konsistensi, hubungan dengan policy lain), tergantung situasi politik/ekonomi dst, dan tergantung kemauan masyarakat. Jadi kalau skalanya mikro (site plan), mungkin boleh dibanding dengan produk kerja arsitek. Tapi kalau skalanya kota, wilayah - layaknya dibandingkan dengan karya ekonom, sosiolog. Tidak bisa diperlakukan sebagai blue-print. Kalau mau lebih jauh belajar, ya sebaiknya belajar juga "development studies". Kesenjangan, ketidak-adilan, gender, adalah perjuangan skala universal. Makanya ada "kapitalis vs sosialis", ada partai republik vs demokrat, ada Tory vs Labour party. Saya kira telaah pilihan "ideologi pembangunan" banyak berkembang tahun 70-80an. Pertumbuhan vs pemerataan vs kestabilan - dan utak-atik TRILOGI PEMBANGUNAN waktu itu. Ekonom stereotipe nya mengejar pertumbuhan, sedang Sosiolog membela pemerataan. Mereka sekolah di kampus yang sama (UI, UGM, dst), bidangnya jadi musuh bebuyutan. Kok tidak apa-apa? Jadi, saya ingatkan - lihatlah konteks nya. Produk planning tak lepas dari situasi "pergulatan" kebijakan, ideologi pembangunan, keterbatasan dana, perilaku birokrasi dan masyarakat, yang di luar kendali planner. Dokter saja tidak kuasa atas kesembuhan pasien. Dia mendiagnose, menulis resep. Kalau pasien tak beli obatnya, atau beli tapi tak meminumnya, atau tetap merokok. Mau apa dia? Lalu soal lingkup - Sekolah Planologi itu nama lainnya "perencanaan WILAYAH dan KOTA", bukan perencanaan pemerataan nasional (programnya Bappenas dan Departemen - bukan core menu sekolah Planologi). Sebagai misi profesi boleh saja. Tapi kendala eksternalnya harus dia ketahui. Boleh saja berharap tinggi, tapi kalau kecewa, jangan salahkan sekolahnya, lalu mau ganti nama segala. Kalau bicara program/kegiatan di wilayah/kota yang spesifik, sebaiknya pakai LOG-FRAME, seperti saya singgung di posting sebelumnya. ada batasan TUJUAN, SASARAN spesifik dari rencana yang dibuat, sehingga bisa dilihat bagaimana capaian OUTPUT nya, dari waktu ke waktu. Apakah OUTPUT tercapai, kalau tidak mengapa? Ada masalah di PROSES? atau karena INPUT nya tidak dicukupi. Hal yang lebih luas menyangkut OUTCOME, yang dipengaruhi faktor-faktor lain, yang biasanya kita asumsikan. Apakah ASUMSI terjadi, atau menyimpang dari perkiraan? Bagaimana meng-adjust-nya? Demikian, mudah-mudahan selanjutnya kita lebih fokus pada diskusi membantu daerah MENCARI SOLUSI, dengan kondisi SWOT yang ada. Salam, Risfan Munir
--- On Mon, 4/27/09, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> Subject: Re: [referensi] [OOT] Perubahan Nama Jurusan Planologi? To: [email protected] Date: Monday, April 27, 2009, 1:44 AM ya gak usak ...-sor...-ri segala toh pak. gen kita kan memang suka lupa kalau tidak semua punya the gun... kalau saya suka degan, karena ga ingin deg-degan ga pa pa kan eyang Aby... Kadang-kadang baca tulisan di refernesi ini suka...cape deh... ATA On 4/27/09, Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com> wrote: Ya .. sih..tapi kalau the gun cuma tergantung doank, ya.. nggak jalan juga toh. He-he..sorry. Thanks. CU. BTS. --- On Mon, 4/27/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. .com> Subject: Re: [referensi] [OOT] Perubahan Nama Jurusan Planologi? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, April 27, 2009, 5:53 AM Semua tergantung "the man behind the gun".... On 4/27/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ gmail.com> wrote: Tolong Bedakan antara masalah ke-profesi-an dan kegagalan pemerintahan (government failure). Harus diakui; environmental management bukanlah keunggulan Indonesia, mungkin ini yg dimaksud dengan dam yang bobol. Bentuk negara dan perilaku birokrasi adalah given bagi seorang penjaja jasa tenaga ahli perencana. Kalau masalahnya adalah perilaku birokrasi dan sentralisme pengelolaan sumberdaya; maka mungkin solusinya adalah reformasi birokrasi dan federalisasi. .. bukan lantas berharap bisa selesai dengan diproduksinya 'dokumen-2 rencana'... Salam, -K- 2009/4/24 Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com> Saya pikir tidak selalu harus begitu. Alam semesta sebagai sebuah sistem terbuka tentu saja mempunyai equilibrium. Yang tidak setimbang sebetulnya akan setimbang -- terkadang tanpa "campur tangan asing". Misalnya, beberapa waktu yang lalu sebuah dam di dekat "Pusat Segala-galanya" bobol.. Berikutnya mungkin saja gempa atau tumbukan meteor raksasa. Ya berdoa sajalah yang mana yang sebaiknya. Salam, Andri Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... ! From: Date: Fri, 24 Apr 2009 08:43:54 -0700 (PDT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] [OOT] Perubahan Nama Jurusan Planologi? Ha... ha... ha... Daripada terus nyalah-nyalahin orang yang bukan menjadi penyebabnya, Bikin aja PRRI jilid kedua.... kalau berani.... Kalau nggak berani, ya fokus aja sama domain dan profesi masing-masing. . ... Kalau kita fokus pada profesi dan domain masing-masing, insya Allah kita akan lebih bermakna.... dan lama kelamaan kita akan lebih mampu untuk berkontribusi secara lebih besar lagi... Itu lebih positif daripada terus menggerutu dan menyalahkan orang atau pihak lain yang bukan menjadi penyebab dari adanya ketidak-equal- an dunia ini..... Salam, Fadjar --- On Fri, 4/24/09, Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com> wrote: From: Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com> Subject: Re: [referensi] [OOT] Perubahan Nama Jurusan Planologi? To: "Referensi" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Friday, April 24, 2009, 10:01 PM Sebenarnya bukan menyalahkan PLN (PLaNologi), lho Pak Catur. Tapi memang lagi kesel, kenapa PRRI tidak "berbuat sesuatu" terhadap kesenjangan wilayah ini... Salam, Andri Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... ! From: elkana.catur@ gmail.com Date: Fri, 24 Apr 2009 14:51:02 +0000 To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] [OOT] Perubahan Nama Jurusan Planologi? Pa andri jangan desperate gitu dunk sampe nyalah2in jurusan orang... Saya pikir wacana seperti itu sudah kurang laku dijual sekarang... Mungkin complain bisa disalurkan ke PLN kali ya...kenapa pembangkit gak pernah beres.. Yang dibeli ternyata barag bekas.. Atau mungkin karena mas andri kenal dgn pejabat PLN yg anak planologi... . Jadi dendam Elkana Catur H. Sent from caturberry® nya XL From: "Mohammad Andri Budiman" Date: Fri, 24 Apr 2009 13:53:01 +0000 To: Referensi<refere...@yahoogrou ps.com> Subject: [referensi] [OOT] Perubahan Nama Jurusan Planologi? SP: saya cuma mengarisbawahi bahwa semua lampu di sumatera setidaknya di jambi dapat giliran mati ga peduli dia itu pedagang pkl atau bahkan rumahnya kepala cabang pln di jambi. MAB: Even worse.. all dark.. doom and gloom.. Tapi coba bayangkan, Rekan-rekan yang bijak, betapa ributnya pemberitaan di berbagai media -- terutama TV -- di seantero Nusantara apabila *daerah di radius seratus kilometer dari Monas itu* yang mati lampu -- barang sehari saja. Maaf, sudahlah, sekali lagi saya mohon maaf. Saya sudah bisa menerima kondisi status quo non-reformis nan statis ini. Perencanaan Wilayah di Indonesia memang sudah sangat baik dan tidak bisa diganggu-gugat lagi. Pintu ijtihad perencanaan wilayah sudah tertutup bagi orang awam non-planolog. Orang-orang yang menjadi stakeholders akar-rumput non-menara-gading seperti saya. Namun, Rekan-rekan yang mulia, masih bolehkah saya usul, apakah mungkin nama jurusan PLANOLOGI bisa diganti dengan PLAN? NO LAGI... ? Salam, Andri Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... ! From: Soni Pratomo Date: Fri, 24 Apr 2009 06:25:00 -0700 (PDT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: Re: [referensi] Selamat, Mas Fadjar Undip dan 'Nurul', Mungkin Anda Sudah Tiba di Daerah Kami.. saya cuma mengarisbawahi bahwa semua lampu di sumatera setidaknya di jambi dapat giliran mati ga peduli dia itu pedagang pkl atau bahkan rumahnya kepala cabang pln di jambi...... --- On Thu, 4/23/09, Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com> wrote: From: Mohammad Andri Budiman <mand...@gmail. com> Subject: [referensi] Selamat, Mas Fadjar Undip dan 'Nurul', Mungkin Anda Sudah Tiba di Daerah Kami.. To: "Referensi" <refere...@yahoogrou ps.com> Date: Thursday, April 23, 2009, 9:20 AM Udah jelas nama beliau Nuzul, Mas Fadjar Undip kok teringat Nurul. Masih demam AAC ya? :) Atau mungkin Panjenengan sedang berkesempatan 'meninjau' daratan Sumatera yang sedang giliran mati lampu -- kecuali di dekat kediaman orang-orang terhormat public servant yang tentu saja harus tetap diprioritaskan untuk tetap hidup (lampunya). Ya mirip-miriplah seperti seonggok 'tanah harapan' ciptaan Tuhan yang teramat sangat penting always-priority di radius 100 km dari Monas itu. Salam, Andri Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss... ! From: Date: Thu, 23 Apr 2009 07:10:39 -0700 (PDT) To: <refere...@yahoogrou ps.com> Subject: [referensi] Pengembangan Kepulauan dan Aktivitas Maritim di Kepulauan Riau

