Assalamu'alaikum wr wb,

Berikut saya teruskankan cuplikan dialog di dunia maya antara saya dengan kakak 
kelas saya di ITB, Bapak Indra Bambang Utoyo, mantan Ketua Komisi IX DPR-RI. 
Tema sentral cuplikan ini adalah "Golkar, Pak Harto dan Orde Baru." 

Mohon maaf bila tidak berkenan dan semoga bermanfaat untuk mereformasi negeri 
kita ke arah yang lebih baik untuk seluruh lapisan masyarakat -- tidak hanya 
elite ataupun segelintir "inner circle" tertentu. 

Wassalamu'alaikum wr wb,
Andri

--begins--
Kuya Indra:
----------------
(saya agak gamang bila menyebut ORBA, karena kuya Indra adalah bagian dari 
ORBA). 

Kuya Andri (just swap the 'a' and 'i'):
---------------
Saya pikir Kuya Indra tidak usah gamang menyebut Orba dengan alasan bagian dari 
Orba -- karena nyaris kita semua yang ada di angkatan 90an, 80an, 70an sampai 
1966 adalah bagian dari Orba. Cuma bagian dari Orba ini kan artinya 
macam-macam, kan tidak semua harus masuk sel (ber-AC;) atau dibuang ke Pulau 
Buru:).

Saya mungkin juga termasuk "parah", Mas -- saya adalah cucu kandung dari 
pendiri Golkar dari SOKSI pada awal-awal Pemerintahan Orba dan hingga sekarang 
(beliau berumur 86 tahun) masih mendapat uang pensiunan sebagai anggota MPR. 
Saya yakin, pada awal Orba yang juga awal Golkar, pemerintahan masih relatif, 
ehm, idealis dan bersih -- sampai sebagian "inner circle" Orba bermain untuk 
kesejahteraan keluarga besar dan kroninya dhewe.

Jadi -- kalau meminjam istilah Orba -- saya juga tidak "bersih lingkungan" -- 
sama seperti Mas Indra. Ditambah: tante saya dan beberapa "teman" saya adalah 
caleg Golkar di Sumut (walau mungkin nggak(kan) menang:p), dengan mudah publik 
bisa menjadikan saya "sasaran tembak" -- sebelum mereka melihat dengan mata 
kepala sendiri bahwa saya *bukan* pendukung Golkar, tetapi (as everybody might 
have guessed it) adalah simpatisan dan pemilih PKS yang relatif masih bersihan 
(well, mudah-mudahan sih;).  

Saya kira nanti di "yaumil hisab" pertanggungjawaban kita bukan "per keluarga" 
apalagi "per fraksi" (lol)  namun sebagai individu dengan saksi kolosal, bukan 
parsial. Jadi, yup, saya kira tidak salah bila saya memilih jalan saya sendiri. 
Ini juga untuk mencegah agar nanti kalau ditanya oleh "Yang Menggenggam Jiwa 
Saya" di padang makhsyar apakah saya pernah "memanfaatkan" keluarga saya yang 
menjadi anggota dewan, pejabat publik dll, saya akan susah sendiri bila disuruh 
minta maaf kepada 220 juta penduduk Indonesia karena mengkhianati amanah 
mereka. "Nyalam" 1000 orang aja capek, apalagi minta maaf sama 220 juta orang 
-- dan belum tentu juga mereka mau memaafkan dan belum tentu juga Yang Maha 
Kuasa menyediakan "kesempatan mohon maaf" ini -- kabarnya sih bisa-bisa 
langsung dirajam di inferno (neraka). :(

Intinya, Mas Indra, kita ndak usah risih disebut sebagai "bagian dari masa 
lampau" karena manusia tidak ada yang bisa mengubah masa lampau. Bila dulu 
salah, ya akui saja, kemudian taubat, tidak mengulangi perbuatan yang buruk dan 
menjadi seorang reformis yang baik. Sorry, Mas, ini bukan sok tahu, tapi sok 
mantap aja:).

Kuya Indra:
---------------
Pada akhir ORBA, semangat pemimpin bangsa telah berubah, dan akhirnya jatuh. 
Celakanya Reformasi merubah sistem dan mengganti pemimpin. Saya termasuk orang 
yang sangat menyesalkan, mengapa pada reformasi, sistem turut berubah keluar 
dari jati diri bangsa seperti pada pre ambule. Lihat saja isi amandemen UUD 45 
bertentangan dengan makna Pre ambule, dan kita melihat sampai hari ini terus 
saja kita berputar pada keinginan politik masyarakat yang tidak jelas. 
Seharusnya Reformasi 98 hanya meruntuhkan Pak Harto saja. 

Kuya Andri:
----------------
Kuya Indra, saya mau nanya nih, apakah Golkar juga dulu tidak "mengkhianati" 
bukan saja Preambule UUD 45 tapi juga beberapa Pasal dari UUD 45? ;-) Semua 
aktivis 1998 (kecuali yang mati ditembak) yang masih lurus dan konsisten pasti 
tahulah mengenai hal ini.

Dan kemudian, bukankah Munas Golkar dan Ketua MPR Harmoko yang meminta Pak 
Harto memimpin lagi di masa jabatannya yang terakhir (1998) dan bukankah 
Harmoko pula yang kemudian justru meminta Pak Harto mundur? 

Mengapa hanya membebankan semua tanggung jawab kepada Pak Harto saja? Ini mirip 
dengan pameo  "Tinggal glanggang colong playu", Habis manis sepah dibuang, dan 
memang betul, *sangat kental* nuansa bahwa Golkar ingin "cuci tangan" setelah 
"pesta pora selesai". Kami pernah dengar secara organisatoris Golkar telah 
meminta maaf atas kesalahan di masa lampau, but hey, bentuk responsibility-nya 
apa?

Kuya Indra:
----------------
Berkaitan dengan pembubaran Golkar, saya tidak setuju Golkar dibubarkan, karena 
saya sangat mengerti kaidah dasar berdirinya Golkar. Sesuai dengan apa yang 
disampaikan oleh para Founding Fathers kita, bila figur pemimpin yang ada 
tergerus semangatnya (ini yang terjadi di Golkar), ya ganti aja pemimpinnya, 
tidak perlu harus membubarkan organisasinya, kecuali dasar berdirinya 
organisasi itu bertentangan dengan kesepakatan berdirinya bangsa tercinta, 
seperti tercermin pada Pancasila.

Kuya Andri:
----------------
Saya pikir "trademark" Golkar sudah kadung jelek di kalangan orang-orang yang 
terdidik yang masih lurus. Saya lihat di masa lalu kalau ada "apa-apa" biasanya 
Golkar beralibi seolah-olah sebagai "Pancasilais" sejati dan kemudian bisa-bisa 
orang yang "dianggap tidak Pancasilais" akan dikategorikan sebagai komunis atau 
paling tidak makar:). Mungkin bisa ditanyakan kepada anggota Petisi-50 atau 
barangkali bisa di-vote di milis ini -- apa betul Golkar adalah Pancasilais 
sejati? ;-) 

Saya pikir, hanya kalangan masyarakat yang "sengaja dikondisikan" 
hidup-segan-mati-tak-mau saja yang bisa ditipu-tipu dengan jargon seperti "Wah, 
enak sekali di zaman Soeharto, aman dan nggak susah dapat kerjaan walaupun 
cuman jadi buruh untuk memperkaya cukong":). Giliran masa enak, Pak Harto 
disebut-sebut. Giliran masa susah, Pak Harto dihujat. Ini apa namanya kecuali, 
maaf, hypocrisy?

Thus, rekomendasi saya, lebih baik Golkar dibubarkan atau membubarkan diri, dan 
bila ada yang terlibat KKN bisa di-KPK-kan dengan segera dan tanpa hambatan 
politis. 

Bukankah anggota-anggota (eks-)Golkar yang masih bersih dan lurus, seperti Mas 
Indra bisa membuat partai baru?

Salam,
Andri
SI93
--ends--

Background messages:
Sent from my BlackBerry® Bold  smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung 
Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "Bambang Indra, IBU" <[email protected]>

Date: Wed, 29 Apr 2009 08:07:37 
To: <[email protected]>
Subject: Fw: Bls: [milis kuyasipil euy] [OOT] MA Segera Memproses Langkah Hukum 
Bubarkan Golkar


Wah, udah lama sekali ngga kasih komentar di milis ini. Cuma karena menyangkut 
masalah pendapat an meminta kuya Indra utk menyetujui pembubaran Golkar, 
terpaksa kita bicara sedikit.
Pertama, sejarah berdirinya Golkar, sangat berkaitan dengan upaya melawan 
hebatnya perkembangan PKI, yang sebelum 1965, telah dua kali melakukan kegiatan 
melawan NKRI. Dapat dimengerti, karena PKI tidak ikut serta dalam penyusunan 
berdirinya bangsa dan negara kesatuan RI, di sidang2 BPUPKI, Mei-Juli 1945. 
Padahal semua kekuatan politik dan ormas sipil maupun keagamaan serta Ras ikut 
serta menyusunnya, sehingga akhirnya konsep NKRI disetujui dalam sidang KNIP 
tanggal 18 Agustus 1945. Inti dari kesepakatan bernegara itu adalah pada 
preambule UUD 45 yang tercermin pada alinea terakhirnya, dan sering disebut 
sebagai Pancasila.

Kedua, menjelang 1965, kelompok agama, khususnya Islam (NU dan Muhammadiyah) 
dan tentara sangat khawatir atas perkembangan PKI yang terus berusaha untuk 
mengganti kesepakatan bernegera kita dengan paham komunisme. Atas prakarsa 
TNI-AD (Jendral A.Yani), berdirilah sekber Golkar untuk menahan lajunya paham 
komunisme di Indonesia. Dan setelah peristiwa 1965, Sekber Golkar terus 
berkembang menjadi satu kekuatan politik, dimana dalam era ORBA menjadi 
kendaraan Pak Harto untuk berkuasa.

Ketiga, pesan dari para founding fathers, bahwa suatu perjalanan bangsa akan 
sangat tergantung pada 2 (hal), yakni sistemnya dan yang lainnya 
penyelenggaranya. Kata beliau-beliau itu (silahkan baca risalah sidang BPUPKI), 
sesempurnya suatu sistem, bila semangat penyelengaranya tidak baik, sistem 
tidak ada gunanya. Begitupun sebaliknya biarpun sistem tidak sempurna, bila 
semangat penyelenggara negaranya baik dan jujur, kekurangan pada sistem itu 
tidak akan menghalangi jalan perjuangan bangsa tersebut.

Keempat, Kita semua tahu bahwa semangat Bung Karno telah bias pada akhir 
pemerintahan beliau, dan akhirnya jatuh. BegitupunPak Harto telah menggunakan 
sistem untuk kepentingan diri dan kelompoknya secara berlebihan, maka dia jatuh 
juga. Ini bukti bila semangat penyelenggara itu telah berubah menjadi semangat 
pribadi, bukan kepentingan yang lebih luas, akan gugur dengan sendirinya.

Golkar adalah kendaraan yang digunakan kelompok Nasionalis untuk melawan PKI. 
Di awal bagus, belakangan menjadi kepentingan pribadi di jaman ORBA (saya agak 
gamang bila menyebut ORBA, karena kuya Indra adalah bagian dari ORBA). Pada 
akhir ORBA, semangat pemimpin bangsa telah berubah, dan akhirnya jatuh. 
Celakanya Reformasi merubah sistem dan mengganti pemimpin. Saya termasuk orang 
yang sangat menyesalkan, mengapa pada reformasi, sistem turut berubah keluar 
dari jati diri bangsa seperti pada pre ambule. Lihat saja isi amandemen UUD 45 
bertentangan dengan makna Pre ambule, dan kita melihat sampai hari ini terus 
saja kita berputar pada keinginan politik masyarakat yang tidak jelas. 
Seharusnya Reformasi 98 hanya meruntuhkan Pak Harto saja.

Berkaitan dengan pembubaran Golkar, saya tidak setuju Golkar dibubarkan, karena 
saya sangat mengerti kaidah dasar berdirinya Golkar. Sesuai dengan apa yang 
disampaikan oleh para Founding Fathers kita, bila figur pemimpin yang ada 
tergerus semangatnya (ini yang terjadi di Golkar), ya ganti aja pemimpinnya, 
tidak perlu harus membubarkan organisasinya, kecuali dasar berdirinya 
organisasi itu bertentangan dengan kesepakatan berdirinya bangsa tercinta, 
seperti tercermin pada Pancasila.

Bangsa kita tercinta ini sayangnya masih berkutat pada keinginan berkuasa saja. 
Ya kita bisanya berdoa saja.
Demikian pendapat kuya Indra.


Tabek!

\

----- Original Message ----- 
From: Mohammad Andri Budiman 
To: Kuya 
Sent: Saturday, April 25, 2009 10:11 PM
Subject: Re: Bls: [milis kuyasipil euy] [OOT] MA Segera Memproses Langkah Hukum 
Bubarkan Golkar


Recent Activity
  a..  2New Members
Visit Your Group 
Give Back
Yahoo! for Good

Get inspired

by a good cause.

Y! Toolbar
Get it Free!

easy 1-click access

to your groups.

Yahoo! Groups
Start a group

in 3 easy steps.

Connect with others.
. 


Kirim email ke