Saya tahu serba sedikit tentang "budaya", tapi kalau melihat pemilihan caleg dari pusat sd daerah, tampakny masyarakat masih cenderung mamilih figur: ningrat (raden, tengku, kiai, andi, dst), eks jenderal (yang dulu umumnya anak menak) dan keturunannya, keluarga tokoh partai, kepala daerah (dulu jg menak) dan keturunannya, lalu artis. Sebaliknya kalu calon tetangga, orang biasa, tukang ini dan itu, sesama rakyat, umumnya rakyat sendiri mencibir.
Kesimpulan saya yang awam, demokrasi dalam pemilu kita masih kuat dipengaruhi budaya spt itu (feodal atau apa?). Dan kalau kita banding-banding Malaysia, India, bahkan Singapore juga gitu. Dakam pemilu kali ini partai banyak, calon banyak, diberi kebebasan (walau ada bujukan, tapi mayoritas bebas). Tapi yang dipilih rakyat (dianggap pantas?) tetap menak-menak juga. Kesimpulan awam saya, calon menyodorkan simbol feodalnya, rakyat pun umumnya juga doyan milih itu. Mungkin intelektual politik justru masih terlalu optimis asumsinya soal kesetaraan di masyarakat? Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]> Sent: Saturday, May 02, 2009 8:42 PM To: [email protected] Subject: Re: [referensi] Tinjauan Satiris Kaderisasi Kita Ya.. kalau secara ekonomi, ini sudah sesuai dengan konstitusi kita (UUD 1945, amandemen kelima), pasal 33, ayat (1) yang berbunyi : PEREKONOMIAN DISUSUN SEBAGAI USAHA BERSAMA BERDASAR ATAS ASAS KEKELUARGAAN".. Jadi kekayaan negara asasnya dibagikan kepada sanak keluarga dulu... baru orang lain. He..he.. selamat bermalam minggu juga. Thanks. CU. BTS. --- On Sat, 5/2/09, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote: > From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]> > Subject: [referensi] Tinjauan Satiris Kaderisasi Kita > To: > Date: Saturday, May 2, 2009, 12:54 PM > Tanya: > Mungkinkah Republik ini tidak pernah bisa memiliki cara > yang tepat untuk memilih pemimpin? > > Jawab: > Cara yang tepat itu sudah dirumuskan dan bahkan sudah > diimplementasikan tanpa (harus) kita sadari sebagai > grass-root yang (hanya) lulusan perguruan tinggi. > > Saya tidak pandai menerangkannya cuma metode ini mirip > dengan *ancestor-descendant Presidentship* seperti pasangan > Presiden Bapak-Anak di USA: John Adams-John Quincy > Adams dan George Bush-George W. Bush, Jr. Atau keluarga > Gandhi (*bukan* Mahatma) di India dan Bhutto di Pakistan. > Kemudian Lee Kwan Yew dan Lee Hsien Loong di Singapura. > > Coba lihat sekarang pasangan "kader" kita: > Megawati & Puan Maharani, SBY-Eddie Baskoro, Amien > Rais-Ahmad Hanafi Rais, dan lain-lain. Ortu dan anak > sama-sama di partai yang (paling tidak bermindset) sama. > > Ini tentu sah-sah saja (menurut mereka). Alasan bisa saja > karena mereka ("the descendants") punya "kemampuan" dan > punya "pendidikan yang lebih dari memadai di Luar Negeri" > (please note the "quotes") sampai (hanya) mewarisi > "kharisma" atau "wangsit memerintah" dari nenek moyang > masing-masing. > > Tentu saja, faktor *kedekatan*, *fasilitas* serta *akses* > terhadap anything tak terkecuali informasi A1 yang > sebetulnya amat kentara bagi orang yang berakal sehat tidak > boleh disebut-sebut dengan terang-terangan ke muka publik > karena .. ehm .. Anda bisa dituduh mencemarkan *nama baik* > keluarga mereka yang hebat. > > Jadi, secara de jure, *kita* adalah *Republik*. > Namun, secara de facto, *mereka* adalah *Kerajaan* > > Selamat malam minggu semuanya. > > Salam, > Andri > Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal > Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! > > ------------------------------------ > > Komunitas Referensi > http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups > Links > > > mailto:[email protected] > > >

