Rekan-rekan yth, Sebagian dari kita tentu telah mengikuti berita di detiknews bahwa Boediono *disinyalir* akan dipasangkan dengan SBY untuk "bertarung" pada Pilpres y.a.d. Link-nya adalah sbb.:
http://pemilu.detiknews.com/read/2009/05/11/195952/1129794/700/boediono-disebut-sebut-jadi-cawapres-sby Menarik untuk diikuti, karena SBY adalah salah satu kandidat yang paling kuat untuk memenangi Pilpres -- kalau tidak boleh disebut "yang paling besar potensinya untuk menang". Jadi, siapa yang akan berpasangan dengan SBY tentu saja akan ikut menentukan bagaimana nasib negeri kita di masa mendatang. ** Saya kira sebaiknya memang calon pimpinan Nasional bukan orang parpol -- apalagi bila pasangannya sudah berasal dari parpol. Dan, apalagi, kalau orang tersebut pernah punya "hutang" di masa lalu atau tidak berprestasi selama menjadi pejabat di tingkat lebih rendah dari jabatan yang hendak dituju (in this case: Wapres). Sudah saatnya (well, sebenarnya *seharusnya sudah sejak dari dulu* -- just to be very clear) negara ini diperintah oleh pemimpin *berbasis kinerja*. Bukan berbasis kedekatan, golongan darah, keturunan mantan penguasa, "mewarisi kharisma", inner circle mafia setempat, "dapat wangsit dari Ifrit" atau lobby sana lobby sini. Padahal, mungkin saja yang hendak menjadi pemimpin tidak punya kinerja yang baik, akhlak yang mulia atau cuma mengandalkan etiket (tampak luar seperti baju jas yang (tampak) sopan dan "sopan-santun kepada keluarga koruptor") daripada etika (yang sebenarnya di dalam -- yang mungkin hanya akan terlihat ketika tidak sedang berada di muka umum). ** Baiklah, tentu banyak yang akan bertanya bagaimana sih kinerja Boediono? Bagaimana masa lalunya? General statement yang hampir menjadi klise karena too obvious: "Setiap orang tentu punya masa lalu yang tidak selamanya indah" -- in terms of political correctness yang hampir selalu bias itu. Jadi, saya kira *kalau* nanti ada perdebatan di mana-mana soal kinerja Boediono, tentu akan sangat timpang kalau kita tidak membicarakan juga kinerja dua "mantan cawapres" yang lain yakni Akbar Tanjung dan Hatta Rajasa. Bagaimana kinerja Akbar Tanjung sewaktu menjadi Menteri di zaman Soeharto dan Ketua DPR? Adakah masalah yang masih tersisa dan tidak tersentuh hukum (*bukan* politik) dengan baik? Bagaimana dengan B*gate? Bagaimanakah kinerja Hatta Rajasa ketika menjadi Menteri Perhubungan dan Menteri Sekretaris Negara? Dan terakhir yang terpenting karena mungkin ada di antara kita yang kebetulan adalah alumni ITB yang mengalami sendiri: Bagaimana sebenarnya kinerja Hatta selama ini menjadi Ketua Ikatan Alumni ITB? Thus, dengan semua pertimbangan yang ada dan adil, dari ketiga orang ini, siapa yang sebetulnya paling tepat untuk mendampingi SBY? Khusus untuk Rekan-rekan yang kebetulan adalah alumni ITB, amat diharapkan semoga kekritisan dan kepedulian kita sebagai alumni ITB tidak berakhir sampai di Student Centre, himpunan dan lapangan basket saja. Salam, Andri Sent from my BlackBerry® Bold smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/referensi/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

