Milister ysh, 
Maafkan ya, saya ikutan nimbrung bicara ngawur ttg sistem ekonomi alternatif yg 
sdg rame dibahas.....berikut dibwh adlh 2 posting kutipan yg nampaknya 
mengilustrasikan ttg  praktek kehidupan ekonomi pasar sayur..…… yg kalau 
ditilik dr bbrp unsur/ aspeknya sptnya itu bukan  bagian dari ekonomi neolib…. 
Dan sptnya bukankah itu  lbh merupakan bagian dari ekonomi kerakyatan yg skrg 
sdg ramai  dikedepankan sbg sebuah bentuk serangan utk style ekonomi yg mereka 
sebut sebagai neolib……. 
Wah kalau benar begitu….. ekonomi kerakyatan yg sekarang sdg ramai 
dikampanyekan brngkali juga bukan  suatu bentuk sistem perkonomian yg 
sepenuhnya manis juga ya?.......atau boleh jadi ekonomi kerakyatan itu betul 
manis dan hanya ekonomi pasar sayur saja tak termasuk didalam ekonomi 
kerakyatan gitu brkali ya?.......saya bingung mohon pencerahannya.... 
Salam, 
  
  
----Original Message ----- 
From: rubayat2001 
To: Forum-Pembaca- kom...@yahoogrou ps.com 
Sent: Tuesday, June 02, 2009 8:50 PM
Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Re: Kwik, Carrefour

Pengalaman teman Pak rzain ini mirip dengan pengalaman teman saya yang terjun 
jadi petani di suatu desa pegunungan di Jawa Tengah walaupun dia sebenarnya 
seorang tenaga akhli yang malang melintang tinggal di Luar negeri karena dia 
juga lulusan sebuah perguruan tinggi di Eropa. Dengan tulus ikhlas dia terjun 
jadi petani sayur bahkan dia juga menyunting istri dari desa dimana dia 
bertani, jadi istilahnya "terjun total meleburkan diri" dengan kehidupan petani 
di desa kita dengan cita2 ingin membantu merubah nasib mereka tetapi dia 
menemui kenyataan sebagai berikut:

Dia menanam kol(kubis), modal atau total biaya penanaman yang dilakukan itu 
rata2 Rp 300,-/per kg, datang tengkulak menawar waktu panen Rp 50,-/kg. Teman 
saya itu menjelaskan bahwa modalnya saja Rp 300,- bagaimana si tengkulak 
menawar hanya Rp 50,-, jadi jelas ditolaknya. Dengan hati dongkol dan 
menggebu-gebu teman saya itu langsung ke pasar dan mencek berapa harga kol di 
pasar ternyata Rp 1000/kg. Dia menanyakan kepada si pedagang berapa harga 
kulakan kolnya kok dia jual Rp 1000,-/kg, dengan tegas dijawab si pedagang Rp 
800,-/kg. Dengan semangat kawan saya menawarkan kolnya yang lebih bagus2 dan 
lebih mulus dari kol yang dijual si pedagang Rp 400,-/kg tetapi apa lacur 
ditolak oleh si pedagang. Dari dialoq dengan si pedagang ternyata pedagang itu 
takut dengan tengkulak yang biasa menjual kepada si pedagang karena berbagai 
alasan yaitu si pedagang takut tidak akan di supply lagi oleh si tengkulak 
karena tengkulak itu sudah secara total "membeli" si
 pedagang dengan mensupply kebutuhannya dan menjamin tempat (kios) jualnya dan 
secara psikhologis menguasai mentalnya karena hutang budi thd "kebaikan2" si 
tengkulak yang notabene kalau si pedagang berani "membelot" berarti pedagang 
itu tidak akan menerima selama-lamanya budi baik dari si tuan tengkulak 
tersebut dan kepada siapa lagi nasibnya akan digantungkan karena bakal dimusuhi 
oleh lingkungan si tengkulak. 

Inilah fakta suasana kehidupan petani di INDONESIA pada umumnya,hal ini karena 
mereka sudah tidak mungkin hidup bebas dan merdeka disebabkan adanya total 
ketergantungan thd kebaikan si tengkulak yang menjadi tumpuan hidupnya. 
Jelasnya petani kita sudah terjajah lahir dan bathin, entah sejak kapan. 
Pertanyaan saya bilakah orang2 semacam petani ini bakal menikmati kemerdekaan 
di negara Republik Indonesia tercinta yang sebentar lagi merayakan 
kemerdekaanya yang berusia 64 tahun ini??? Moga-moga ada advisor akhli yang 
mampu memecahkan persoalan rumit ini, minimal dari kalangan teman2 miliser. 
  
[Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Kwik, Carrefour 
Tuesday, June 2, 2009 9:09 AM 
From: "rzain" <[email protected]> 
To: [email protected] 

Seorang teman berkebun kecil2an di Ciwidey, tomatnya dijual di pasar lokal 
Rp.250/kg. Mengetahui harga tomat di Jakarta Rp. 4000/kg di Kramat Jati, dia 
mencoba membawa tomatnya termasuk yang dibeli dari tetangganya ke Keramat Jati. 
Sesampainya di sana tidak seorang pun pedagang yang mau membeli tomatnya, 
alasan mereka tomat dari Ciwidey hanya yang dari Haji Usman ( nama samaran ) 
yang laku di K. Jati. Temam itu lalu membuang tomatnya ketempat sampah. 
  
-   -  -  -
 
From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@........>.
Subject: Re: [referensi] Re: Re: Ekonomi Bejo
Date: Tuesday, June 2, 2009, 4:59 PM
 
FW: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
Friday, May 29, 2009 2:43 PM
From: "Risfan M" <risf...@.................>
 
 Re: Re: Ekonomi Bejo
Tuesday, June 2, 2009 5:06 PM
From: "Djarot Purbadi" <dpurb...@................>
 
 [referensi] Re: Ekonomi Bejo
Wednesday, June 3, 2009 7:07 PM
From:  "ffekadj" <4ek...@.............>
 
Re: FW: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
Friday, May 29, 2009 8:09 PM
From: "Bambang Tata Samiadji" <btsamia...@..........>
 
From: Nuzul Achjar <ach...@...........>
Subject: Re: FW: Re: [referensi] Re: Ekonomi Bejo
Date: Saturday, May 30, 2009, 2:07 AM
 
Re: [referensi] Ekonomi Bejo
Thursday, May 28, 2009 11:35 PM
From: "bspr...@............>
 
Re: [referensi] Ekonomi Bejo
Thursday, May 28, 2009 11:12 PM
From: "efha_mardians...@............> 
 
 
 


      

Kirim email ke