Rekans ysh, Mengenai Suramadu, menurut saya, kecuali bahwa itu proyek raksasa, jembatan terpanjang di negeri ini, secara substansi konsep pengembangan wilayah, tata ruang kok tak ada yang baru. Paling nambah lahan dengan akses ke Surabaya. Sementara wilayah Tuban ke barat, Pasuruan ke timur sesungguhnya masih luas. Menyangkut masyarakat Madura, diskusi kita terlalu stereotyping, mengunder-estimate dan melihat masyarakat Madura versi ludruk (Madura = carok, Jawa = babu, Batak = kenek bus). Sebetulnya sekitar sepertiga warga Jawa Timur kan etnis Madura. Kalau Surabaya - Malang ditarik garis, maka belahan timur sampai Banyuwangi adalah komunitas berbahasa Madura. Stereotype yang lebih positif, katanya jiwa kewirausahaan mereka jauh melampaui etnis Jawa yang sering diledek cenderung jadi pegawai (priyayi, buruh, batur). Yah, itu dunia ludruk, bukan planning.
Mengenai pengembangan kawasan pasca Suramadu, nampaknya ya kalau memang tidak ada konsep yang baru diperkenalkan. Mungkin ya jadi seperti Bodetabek, ada kawasan industri, perumahan sporadis, dst. Soal pengelolaan, ya seperti kawasan industri yang ada di Tangerang, Bekasi, SIER, kawasan industri Ngoro, Mojokerto, Pasuruan, dst. Yang layak dikuatir mungkin, soal klasik, berkurangnya lahan pertanian, tanpa kesempatan kerja bagi yang pendidikannya terbatas, pindah ke Surabaya, menambah jumlah sektor informal perkotaan. Atau ada inovasi yang baru? Salam, Risfan Munir --- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote: > > Bagaimana kalau developernya dan pembelinya orang Madura juga? Apakah ini > termasuk meminggirkan orang2 Madura di Pulau Madura? Banyak developer di > Surabaya yg dimiliki orang Madura, Gunung Sari Indah misalkan... Orang2 > Madura juga banyak yg sukses di Surabaya, Situbondo, Jember, Kalimantan, dll > yg potensial sebagai pembeli lahan di Madura... > Apakah bukan orang Madura tidak boleh membeli lahan di Madura? Bukankah > sesama warga negara Indonesia? Di Prancis Selatan banyak villa2 dimiliki oleh > orang2 kaya Rusia. Itu pdhal beda warga negara, mengapa yg sesama warga > negara tidak boleh? Kalau orang2 Madura boleh membeli lahan di Surabaya, > Bojonegoro, Jember, Kalimantan, dll, mengapa orang non Madura tidak boleh > membeli lahan di Madura? > Madura Surabaya vs Madura Madura...Madura Kaya vs Madura Miskin... non Madura > vs Madura...mengapa harus dipertentangkan? Toh dgn terbangunnya Madura, > rakyat Madura di Madura mendapatkan banyak keuntungan: pekerjaan, nilai lahan > yg meningkat, tambahan market utk dagang, dll.. Saya kira tidak perlu kuatir > masyarakat Madura terpinggirkan, karena mungkin menjual Madura saja sudah > bukan perkara mudah... > > salam. > > --- On Tue, 6/23/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@...> wrote: > > From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@...> > Subject: RE: [referensi] Re: SURAMADU > To: [email protected] > Date: Tuesday, June 23, 2009, 7:52 AM > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Kalau land developer publik yah memang tuntutannya memang tidak > sekedar jualan,⦠harus dicari mekanismenya bagaimana berjualan tanah sambil > memastikan bahwa warga Madura tetap menjadi tuanrumah di daerahnya > sendiri,â¦â¦  itu > yang perlu dcari,â¦. > > Kalau tidak seperti itu, â¦. Yah, tinggal menunggu saja swasta yang > berjualan dan malah tidak terkontrol,⦠bagaimana mengontrol > swasta,coba,â¦. > > Kalaow diam-diam saja, dan bapel tidak bergerak di area âberjualan > tanahâ ini yah tinggal tunggu waktunya para developer swasta yang malah > cenderung mendorong proses meminggirkan warga Madura itu,⦠> >  > > > > Regards, > >  B.Dwiagus S. > > http://bdwiagus. blogspot. com > > http://bdwiagus. multiply. com > >  > > > > > > > > From: > refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf Of > isoedradjat@ yahoo.com > > Sent: 23 June 2009 12:29 > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > Subject: Re: [referensi] Re: SURAMADU > > > > > >  > > > > > > > > > > > > > > > > Pa Eka, Dwi dan lainnya. > > P. Jawa di bangun jl Deandles oleh Belanda, daerah yg subur, infrastruktur yg > lengkap jd Pulau yg paling cepat berkembang, dan merupakan pulau terpadat di > dunia dan pusat pertumbuhan ekonomi Nusantara. Sumatera bagian Timur > berkembang > lebih cepat di bandingkan bagian Barat, saya tdk melihat adanya infrastruktur > yg lebih memadai, tapi karena adanya pasar komoditas dunia (udang, kelapa > sawit, kayu, dlnya) dan relatif punya akses keluar. Bisa juga kalau pake > contoh > Bali, dia tidak jual lahan, Bali jual pelayanan dan culture. Ut Batam, sejalan > dgn pemikirannya pak Eka, yaitu jualan tanah, diberikan kewenangan penuh > kepada > Otorita Batam, jualan kawasan Industri, Pariwisata, Housing, sempat Boom dan > sekarang menjadi fastest growing City di Indonesia. Tapi berbeda dgn Pulau > Bintan, Kawasan Wisata Lagoi diberi konsesi (33 000 Ha) dan Kawasan Industri > Lobam (4 000 Ha) tdk laku tuh jualan tanah, hanya siap tdk lebih dr 10 % yg > bisa dijual, dan relatively P. Bintan tdk terpengaruh berkembang. > > Pertanyaannya sekarang thd P. Madura yg sdh punya Jembatan, apakah akan > berkembang atau mau jualan tanah supaya berkembang. Sepertinya kita perlu obat > obat perangsang yg di tempatkan di P. Madura, bukan jualan tanah. Jangan > jualanlah nanti orang Madura tdk lagi jadi tuan rumah di pulaunya. > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > > > > > > > > From: "Benedictus Dwiagus Stepantoro" > > Date: Tue, 23 Jun 2009 11:06:07 +0700 > > To: <refere...@yahoogrou ps.com> > > Subject: RE: [referensi] Re: SURAMADU > > > > > > Pak Eka,.. setuju deh denganbapak > >  > > Mungkin bukan jualan tanah, pak,.. tapi > jualan lahan.. kalau jualan tanah, kesannya ini tanah buat urukan,.. > hehehehhe > >  > > Memang pada akhirnya seperti itu: > pengembangan kawasan è pengembangan > lahan è jualan lahan. > >  > > Kalau memang berniat mengembangkan > kawasan, yah jangan lantas berkutat pada perencanaan tata ruang saja,.. tapi > sudah harus berani bagaimana mengembangkan lahan, dan bagaimana berjualan > lahan,⦠> > Jangan cuman bermain dengan spidol dan > mewarnai zona-zona, dan kemudian mencoba âfreeze the landâ,.. saya sendiri > kurang begitu mengerti bagaimana âmembekukan lahanâ ⦠efektif kah itu > dengan > membekukan lahan? Setelah dibekukan, terus diapain,.. bukan kah begitu > pertanyaannya,⦠> > Para pengelola perkotaan atau badan > pengelola kawasan saatnya sudah harus belajar layaknya private land > developer,â¦.. > yang tahu sebuah potensi,.. tahu market,.. dan tau bagaimana mengelolanya jadi > sbuah benefit,â¦Â dan yanglebih penting act seperti land developer,â¦.. > > Jangan cuman modal rtrw baru dan perda, > lantas dibekukan lahan,⦠Atau cuman modal insentif dan disinsentif > pajakâ¦â¦. > Ngontrol perijinan â¦. > > Yang ada nanti dikadalin market,⦠> > Beda kalau badan pengelola itu juga act > sebagai land developer â¦. > > harus investasi, beli lahan itu, dan > maksimasikan,⦠kalau perlu seimbangkan profit interest dan social > interestnya,⦠> > > artinya badan pengelola SURAMADU hukum > wajibnya adalah sebagai vehicle dalam bentuk sebuah land developer,â¦â¦ dia > mengelola kawasan, berarti mengelola lahan,⦠> > dan syarat seorang land developer untuk > dapat mengelola lahan, ya dengan memiliki akses kepada kempemilikan > lahan,â¦.. > alias mengakuisisinya,â¦.. > > untuk kemudian dikelola,â¦. > > Bagaimana dengan dananya,â¦. Khan ada BPD, daripada duit > nganggur disimpan disertifikat BI,â¦â¦ atau mau PPP, bikin joint > venture,â¦. >   > > Pada akhirnya yah harus kreatifdan > inovativ buat jadi pengembang lahan,.. dan Bapel suramaduharus menjadi > pengembang lahanyanghandal, .. jangan kalah dengan private land developer,.. > >  > > Kalau gak salah, seperti itu ya > yang terjadi di Kop Van Zuid-nya Rotterdam, Pak Eka? > > Ketika jembatan erasmus mulai > membentang  menghubungkan antara wil utara rotterdam yang lebih livable > dengan wil selatan yang deprived,⦠> > Upaya pengembangan lahan, melalui > redevelopment, revitalisation, â¦wajib dilakukan,â¦Â jangan malah pembekuan > lahan,â¦.. > > Justru si RotterdamDevelopmen t Cooperation > sebgai BUMD yang bisnis land development ini langsungbergerak,â¦â¦ > mangakusisi > lahan, bikin rencanapengembangan lahan, dimatangkan lahannya, kemudian di > kelola, disewa,â¦.. dengan demikian sambil mengalirkan profit, ia masih >  bis apunya control,.. karena perjanjian sewanya punya klausul2 yang > jelas, untuk tetap menjaga kulaitas ruang fisik, social dan budaya,⦠mungkin > pak Eka atau rekan-rekan lain mau nambahin lagi,.. hehehehehhe. > >  > > Yah, ini coret-coret ngawur saya sebelum > terbang ke Surabaya siang ini,â¦. hehehehehe > >  > >  > > > > Regards, > >  B.Dwiagus S. > > http://bdwiagus. blogspot. com > > http://bdwiagus. multiply. com > >  > > > >  > > > > > > From: > refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On Behalf Of > ffekadj > > Sent: 22 June 2009 18:59 > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > Subject: [referensi] Re: SURAMADU > > > > > >  > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Pak DwiAgus, saya lanjutkan sedikit lagi mengenai 'kunci' dalam > > pengembangan kawasan di manapun di dunia ini, mudah-mudahan berguna bagi > > yang sedang mendalami, yaitu 'pengembangan kawasan' adalah 'jualan > > tanah'. Sebenarnya ada faktor manajemen perubahan nilai lahan yang > > dilakukan oleh pengembang kawasan, apakah real-estate, KEK, Kapet, dll. > > Persamaan matematisnya saya turunkan sebagai berikut : > > > > pengembangan kawasan = jualan tanah, atau fungsi diferensialnya : > > > > f [pengembangan kawasan] = f [jualan tanah] > > > > Sehingga sebenarnya sangat sederhana, dan tidak perlu terlalu repot > > memikirkan yang lain. Mudah-mudahan berguna. Salam. > > > > -ekadj > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, > "ffekadj" <4ekadj@> wrote: > > > > > > > > > Pak DwiAgus, pengembangan kawasan seperti Madura, Batam, KEK, dll > > memang > > > perlu ilmu/pengetahuan khusus, yang disebut dengan 'urban/area > > > management'. Jadi hal seperti ini tidak bisa dijawab dengan memuaskan > > > oleh planning, civil engineering, dan public policy. Untuk 'area > > kecil' > > > dipelajari secara khusus di PL-Untar. Beberapa pakar yang menguasai > > > urban management ini di Surabaya yang saya kenal di antaranya: > > > Alisyahbana dan Hendro Gunawan. Mengenai Kop van Zuid, silahkan > > merujuk > > > ke link <http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ message/2800> > ini. > > > Salam. > > > > > > -ekadj > > > > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, > "Benedictus Dwiagus Stepantoro" > > > bdwiagus@ wrote: > > > > > > > > Mungkin Proyek Kop van Zuid-nya rottedam bisa dipakei Bappel > > SUramadu. > > > Agak > > > > mirip polanya,.. > > > > > > > > Pak Eka Dj, kuncen Rotterdam bisa mengimpartasi knowledgenya, > > > mungkin,.. > > > > hehehehe. > > > > > > > > Regards, > > > > > > > > dwiagus >

