Pak Risfan dan Pak Aslim ysh, Terima kasih atas informasinya. Mengenai kopi daratnya mohon Pak Risfan dan Pak Onnos menentukan tempat dan waktunya dari tabel<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/1/JHFI08351632/>ini: *Bioskop* *Studio* *Jam 1* *Jam 2* *Jam 3* *Jam 4* *Jam 5* *Blok M Plaza*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/123123123124/blok-m-plaza> 3 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - *Pondok Indah*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/ELHG12024629/pondok-indah> 2 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - *Kelapa Gading*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FANH01123163/kelapa-gading> 4 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - *Citraland*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FANH01232525/citraland> 2 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - *Atrium Senen*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FANH01472330/atrium-senen> 3 12:00 WIB 14:45 WIB 17:30 WIB 20:15 WIB - *Metropole XXI*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FANH01537686/metropole-xxi> 2 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - *Setiabudi*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FASC01037005/setiabudi> 1 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - *Cilandak*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FASK01221139/cilandak> 3 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - *Hollywood KC*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FASK01313406/hollywood-kc> 5 13:30 WIB 16:15 WIB 19:00 WIB 21:45 WIB - *TIM*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FAfF01357879/tim> 2 13:00 WIB 15:45 WIB 18:30 WIB 21:15 WIB - *Palladium*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FBDB02117859/palladium> 1 13:00 WIB 15:45 WIB 18:30 WIB 21:15 WIB - *Tunjungan Surabaya*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FBDB02252208/tunjungan-surabaya> 5 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - *Puri Indah Mall*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FBDC02318487/puri-indah-mall> 7 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - *Plaza Senayan XXI*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FBDC02351416/plaza-senayan-xxi> 4 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - *Kalibata*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FBDC02554474/kalibata> 1 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - *Empire BIP Bandung*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FBDL02297729/empire-bip-bandung> 2 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - *BSM Bandung*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FBDL02395147/bsm-bandung> 4 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - *Bintaro*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FBDL02498094/bintaro> 2 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - *Int'l Plaza Palembang*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/FBDL02524649/intl-plaza-palembang> 2 13:30 WIB 15:45 WIB 17:55 WIB 20:30 WIB - *Studio Yogyakarta*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/GEDJ05251486/studio-yogyakarta> 4 10:30 WIB 13:15 WIB 16:00 WIB 17:45 WIB 21:30 WIB *Mega Bekasi XXI*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/GHVK08159573/mega-bekasi-xxi> 6 13:00 WIB 15:45 WIB 18:30 WIB 21:15 WIB - *Tamini*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/GKFK11255251/tamini> 1 12:00 WIB 14:45 WIB 17:30 WIB 20:15 WIB - *Ciwalk XXI Bandung*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/GKQA11138544/ciwalk-xxi-bandung> 8 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - *Ayani Pontianak*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/GKQA11254713/ayani-pontianak> 3 12:45 WIB 15:30 WIB 18:15 WIB 21:00 WIB - *Detos*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/HBTJ02056384/detos> 1 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - *Pacific Place Blitz Megaplex*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/IDdA04381301/pacific-place-blitz-megaplex> 4 12:30 WIB 15:30 WIB 18:30 WIB 21:30 WIB - *Paris Van Java Blitz Megaplex*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/IDdA04441034/paris-van-java-blitz-megaplex> 2 12:30 WIB 15:15 WIB 18:00 WIB 20:45 WIB - *Grand Indonesia Blitz Megaplex*<http://www.detikhot.com/jadwalbioskop/2/IDdK04436915/grand-indonesia-blitz-megaplex> 12 13:00 WIB 16:00 WIB 19:00 WIB 21:45 WIB -
Diharapkan kalau bisa Pak Aslim (Sekjen IPSI) bisa ikut menemani. Sementara demikian. Salam. -ekadj 2009/8/13 ASLIM NURHASAN <[email protected]> > > > Bp/Ibu (mohon maaf saya samar2) Eka, yang mulia; > > Menurut info yang beredar dari Guru Gadang ke Guru Gadang ada 600 aliran > silat di Indonesia (sumber Bp Eddie M. Nalapraya), sementara di Minangkabau > juga beredar info bahwa aliran silat si sana juga ada 600 aliran; > wallahualam; > > mdh2an rencana riset yang sedang kami rancang, sekaligus akan buat > ensiklopedi silat tradisi indonesia (audio, auido-visual, dan buku) segera > terwujud; > > Bagi anggota milis yang ingin bersinergi, silahkan kontak; > > Silat Harimau, memiliki kelebihan sebagaimana Harimau; ada kecepatan, > kelincahan, waspada, sabar, mematikan, dan tentu saja ada kekuatan; > > Silat Harimau, memang agaka berbeda dengan Silek Kumango yang > diformulasikan oleh Syech Abdurrahman Al-Khalidi (Syech Kumango) dalam > rumusan "Alif Lam Lam Ha, Min Ha Min Dal"; > > Mudah2an berkenan; selamat nobar; > > Salam ta'zim; > > ASLIM NURHASAN +62811103234 > Berbuat Nyata, Produktif, Positif, Konstruktif, dan Sinergis® > > ------------------------------ > *From*: "ffekadj" [email protected]> > *Date*: Thu, 13 Aug 2009 01:17:01 -0000 > *To*: <[email protected]> > *Subject*: [kebudayaan] Merantau > > > > Pak Aslim Nurhasan ysh, > > Saat ini sedang beredar film > 'Merantau<http://www.youtube.com/watch?v=J1S8oa46MTY>' > yang mengetengahkan seni silat harimau. Boleh bertanya ada berapa jenis > silat di Minangkabau, dan apa kelebihan dari silat harimau ini? Ada rencana > kita mau nonton bareng nih, butuh referensi sebelumnya. Terima kasih. Salam. > > -ekadj > > > --- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote: > > Uda Ekadj dan Rekans ysh, > > Kelabihan puisi yang bagus memang bisa diartikan dari multi-dimensi dan > interpretasi. Culture shock terkait urbanisasi dan globalisasi. Ada > peralihan budaya. > > Soal "merantau" saya pernah baca disertasi Muhtar Naim, yang pakai metode > sejenis fenomenologi (?), ternyata dibalik romantisme budaya merantau orang > Minang, asalan mendasarnya keterbatasan sumber daya (ekonomi) juga, > disamping keleluasaan lelaki secara adat. > > Soal "malin kundang" dalam salah satu analisis (fenomenologi?) budayawan AA > Navis pernah mengatakan bahwa yang salah bisa saja ibunya. Bukankah umumnya > do'a ibu supaya anaknya menjadi "orang kaya, pembesar" seperti idolanya > (lepas dari sikon asalnya). Tidak fair kalau anak sudah jadi yang dicitakan > Amak nya, setelah sampai di Rotterdam, tiba-tiba diharapkan berlaku persis > spt ketika masih di Rangkas. Gitu kali? > > Bagaimana kopi daratnya? > > Salam, > Risfan Munir > > --- In [email protected], "ffekadj" 4ekadj@ wrote: > > > > > > Pak Risfan ysh, sekarang tentang puisi. Apa yang saya tangkap dari puisi > > itu adalah 'culture shock' yang tidak bisa dihindarkan. Anak > > Rangkasbitung itu berada dalam persimpangan, setelah terbiasa dengan > > locality kemudian menatap sistem budaya yang jauh berbeda. Keinginannya > > sih pengen tetap menjadi anak kampung, namun godaan untuk menjadi Malin > > Kundang <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/187> juga > > cukup besar. Saya kira fenomena ini dihadapi oleh siapa pun yang pernah > > 'merantau', termasuk seorang sahabat saya yang lagi nongkrong di > > Champs-Élysées dsk. > > > > Mungkin perbenturan budaya bisa melahirkan kreativitas, siapapun yang > > pergi merantau cenderung lebih kreatif, seperti Shibusawa Eeichi > > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3433> . Nah ini menarik > > dalam kajian budaya kita. Beberapa sistem budaya kita juga menyuruh > > anak-anak muda untuk pergi merantau : kerakap madang di hulu - berbuah > > berbunga belum - merantaulah bujang dahulu - di rumah berguna belum. > > > > Ah bicara merantau, saya melihat di bioskop ada poster baru : film > > "Merantau <http://www.youtube.com/watch?v=jPEOXiXVlbI&feature=related> > > ". Teringat ajakan Pak Onnos untuk kopi darat, bagaimana kalau kali ini > > kita nonton bareng. Yuuk. > > > > -ekadj > > > > > > --- In [email protected], "risfano" <risfano@> wrote: > > > > > > Rekans ysh, > > > > > > Mungkin untuk merasakan benturan budaya "desa vs global" dalam > > pemahaman seseorang bisa dirasakan dalam potongan Sajak WS Rendra > > berjudul "Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam" (Kompas, 9 > > Agustus 2009). Dalam kajian kualitatif pengalaman seseorang kan jadi > > obyek observasi juga (?). Sajak yang ditulis tahun 1990 ini bisa juga > > dianggap sebagai potret yang bisa diproyeksikan ke depan ala futurolog > > seperti Toffler, Naisbitt, dst. > > > > > > "................... > > > Aku merindukan desaku lima belas kilo dari Rangkasbitung. Aku > > merindukan nasi merah, ikan pepes, desir air menerpa batu, bau khusus > > dari leher wanita desa, suara doa di dalam kabut. > > > > > > Musna. Musna. Musna. Para turis, motel dan perkebunan masuk desa. > > Gadis-gadis desa lari ke kota bekerja di panti pijat, para lelaki lari > > ke kota menjadi gelandangan. Dan akhirnya digusur atau ditangkapi > > disingkirkan dari kehidupan. Rakyat kecil bagaikan tikus. Dan para > > cukong selalu siap membekali para penguasa dengan semprotan antihama. > > Musna. Musna. Musna. > > > > > > Kini aku di sini. Di Rotterdam. Menjelang subuh. Angin santer. Jendela > > tidak terbuka, tapi tirainya aku singkapkan. Kaca basah. Musim gugur. > > Aku mencium bau muntah. Orang Negro histeri ketakutan dikejar teror > > orang kulit putih di tanah leluhurnya sendiri di Afrika Selatan. > > Kekerasan. Kekuasaan. Kekerasan. Dan lantaran ada tambang intan di sana, > > kekuatan adikuasa orang-orang kulit putih juga termasuk yang demokrat, > > memalingkan muka, bergumam seperti orang bego, dan mengulurkan tangan di > > bawah meja, melakukan kerja sama dagang dengan para penindas itu. Dusta. > > Dusta. Dusta. Ya, Allah Yang Maharahman! Tanganku mengambang di atas air > > bersama sampah peradaban. > > > > > > Apakah aku akan berenang melawan arus? Langit nampak dari jendela, Ada > > hujan bulu-bulu angsa. Aku hilang di dalam kegagapan. Ada trem lewat. > > Trem? Buldoser? Panser? Apakah aku akan menelpon Linde? Atau Adrian? > > Berapa lama akan sampai kalau sekarang aku menulis surat kepada Makoto > > Oda di Jepang? Sia-sia. Musna. Dusta. > > > > > > Rotterdam! Rotterdam! Hiruk-pikuk suara pasar di Jakarta. Bau daging > > yang terbakar. Biksu di Vietnam protes membakar diri. Perang saudara di > > India yang abadi. Aku termangu. Apakah aku akan menyalakan lampu? > > Terdengar lonceng berdentang. Berapa kali tadi? Jam berapa sekarang? > > Ayahku di Rangkasbitung selalu bertanya: Kapan kamu akan menikah? Apakah > > kamu akan menikah dengan perempuan Indonesia atau Belanda? Kapan kamu > > akan memberiku seorang cucu? Apakah lampu akan kunyalakan? Di > > Rangkasbitung pasti musim hujan sudah datang. Kenapa aku harus punya > > anak? Kalau perang dunia ketiga meletus nuklir digunakan, angin bertiup, > > hujan turun, setiap mega menjadi ancaman. Jadi anakku nanti harus > > mengalami semua ini? Rambut rontok. Kulit terkelupas. Ampas bencana > > tidak berdaya. Ah, anakku, sekali kamu dilahirkan tak mungkin kamu > > kembali mengungsi ke dalam rahim ibumu! > > > > > > ......................." > > > > > > (selangkapnya bisa diklik di > > http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/09/02555438/sajak-sajak.rendra > > ) > > > > > > Salam, > > > Risfan Munir > > > > > > --- In [email protected], "risfano" risfano@ wrote: > > > > > > > > Rekans, > > > > > > > > Kalau gak salah para futurolog juga mendeteksi adanya "global > > paradox", makin global masyarakat dunia, justru lebih menyukai hal-hal > > yang berbau lokal, karena bagi mereka yang sering bepergian adanya > > gejala "seragam" dalam hal musik, fashion, makanan "membosankan" > > sehingga merindukan hal-hal yang punya nuansa lokal. Toffler juga > > bilang,justru di tengah globalisasi banyak muncul koran-koran > > komunitas/lokal. > > > > Saya pernah mendampingi expatriat yang setiap masuk hotel dan > > restoran selalu protes ke pengelolanya supaya jangan muter musik itu > > (Kenny G. waktu itu). Muak katanya, di LA, di Beijing, di Bangkok, di > > Solo kok semua hotel/cafe musiknya itu. > > > > > > > > Masyarakat kita umumnya (termasuk yang di pelosok) pengetahuannya > > tentang berita global mungkin lebih luas dari mereka yang di negara > > maju, karena program global disini banyak ditayangkan/ditonton. > > Sebaliknya masyarakat di negara maju malah cuma nonton acara lokal > > mereka saja. Pengetahuan global ini bisa membuka pikiran,tapi juga > > menciptakan harapan berlebihan,sehingga mereka (yang muda) resah dan > > memilih pindah ke Jakarta/Jawa. > > > > > > > > Di sisi lain, kalau mau mengembangkan produk kreatif (lokal), juga > > pariwisata, selain mengenali dan menonjolkan budaya lokal, harus tahu > > pula bagaimana "perilaku" pelancong dalam menikmati, menggunakan produk > > kreatif budaya lokal tersebut. Mungkin cara menikmati/menggunakannya > > beda dengan komunitas (pemilik) nya. Artinya produk lokal perlu dikemas > > sesuai selera global. > > > > > > > > Pemasar HP misalnya mempelajari (mungkin dengan etnografi) perilaku > > pengguna HP di Indonesia yang gandrung model baru itu. Sehingga yang > > ditojolkan adalah hal yang disukai masyarakat disini,misalnya Facebook. > > Sehingga dalam iklan-iklan sekarang untuk kelas produk tertentu yang > > ditonjolkan adalah tersedianya fasilitas Facebook,dari pada keunggulan > > lainnya. Ini produk global yang di"lokal"kan penggunaannya disini. > > > > > > > > Ada juga istilah "glocal",nah apapula ini..... > > > > > > > > Salam, > > > > Risfan Munir > > > . > > >

