Sahabat Referensiers Ysm,

Masih suasana iedul fitri, terlebih dahulu izinkanlah kami mengucapkan
Selamat Iedul Fitri 1430H, Mohon maaf lahir dan bathin jika ada hal-hal
kurang berkenaan selama berinteraksi secara virtual di milis ini.

Karena berita G-20 di Pittsburgh sedang hangat-hangatnya, saya kirim tulisan
sisi lain dari G-20 yaitu revitalisasi ekonomi Pittsburgh dan imajinasi
untuk Kepulauan Riau. Sebuah kenangan ketika meliwati Pittsburgh dari
Washington DC kembali ke Illinois.

Rekan-rekan mantan Pittsburgher seperti Lae Budi Situmorang dan lain bisa
kasih komen tentang kondisi ekonomi kota Pittsburgh pada era 1990an yang
tampaknya mengalami kemunduran, tingkat pengangguran tinggi, polusi industri
juga tinggi. Saat ini Pittsburgh konon katanya satu di antara kota-kota
terbaik di AS. Kuncinya: innovasi. Terikasih juga untuk Lae Tiar yang saya
kutip informasinya dalam tulisan ini.

Salam hangat penuh hormat.



G-20 DAN MOMENTUM REVITALISASI PEREKONOMIAN REGIONAL

Oleh:

Nuzul Achjar

Perhatian dunia selama 23-24 September 2009 tertuju pada kota Pittsburgh,
kawasan di barat daya negara bagian Pensylvania, Amerika Serikat, tempat
diadakannya Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) negara kelompok G-20. Indonesia
termasuk salah satu negara anggota G-20 yang hadir dalam KTT tersebut yang
langsung dipimpin oleh Presiden SBY. Pertemuan di Pittsburgh ditujukan untuk
membicarakan masalah energi, lingkungan, pemanasan global, dan upaya untuk
mengatasi dampak sistemik krisis yang ditimbulkan kredit perumahan (*subprime
mortgage)* di  AS yang dampaknya sangat terasa secara global.

Latar belakang keputusan tuan rumah presiden AS Barrack Obama yang
menetapkan Pittsburgh sebagai tempat pertemuan berskala besar semacam G-20
menarik untuk disimak. Mengapa bukan kota besar yang sudah sangat dikenal di
AS seperti Washington DC, New York, Los Angeles atau Chicago sebagai
ajang  pertemuan
ini?

Rupanya alasan Obama cukup sederhana namun jitu, antara lain bahwa pertemuan
di Pittsburgh diharapkan dapat membangkitkan kembali (revitaliasi)
perekonomian
kota ini. Kota ini mendapat publikasi secara luas dari kegiatan skala besar.
Pihak kota sendiri diperkirakan mengeluarkan anggaran sekitar US$25 juta.
Kegiatan ini akan memberikan dampak pengganda (*multiplier*) yang besar bagi
kegiatan ekonomi kota  Pittsburgh dan sekitarnya.

Selama tiga dasa warsa terakhir,  Pittsburgh mengalami kemunduran ekonomi
karena  peranan industri baja, yang pernah menjadi primadona kota ini sudah
semakin pudar (*sunset industry*). Walau demikian, perusahaan baja  di  kota
ini masih menempati ranking ke 10 produksi baja terbesar dunia. Bukan suatu
kebetulan jika masalah baja diperkirakan akan menjadi salah satu agenda
pembicaraan bilateral antara AS dan Cina pada pertemuan G-20.

Dapat dibayangkan, hotel di Pittsburgh akan penuh terisi oleh tamu-tamu,
tidak hanya oleh para rombongan peserta resmi, tetapi juga juru warta,
petugas keamanan dan lainnya dari delapan penjuru angin, termasuk masyarakat
dari negara bagian lainnya yang mempunyai kepentingan langsung atau tidak
terhadap pertemuan ini.

Perusahaan rental  kendaraan akan dibanjiri oleh penyewa. Para tetamu  akan
menyantap makanan di restoran, membeli souvenir, mengunjungi atraksi budaya
dan kesenian, museum dan lainnya. Pajak yang diterima dari kegiatan ekonomi,
sosial dan budaya sebagian akan menjadi  pendapatan kota Pittsburgh dan
negara bagian Pensylvania.

Jika suasana kesibukan Pittburgh selama pertemuan G-20 ini  kita bawa
menjadi sebuah imajinasi untuk Kepulauan Riau, khususnya Batam, Bintan dan
Karimun (BBK) , maka hal tersebut hendaknya dilihat dari semangat yang
terkandung di baliknya. Jika Pittsburgh adalah kisah tentang revitalisasi
kegiatan ekonomi, maka untuk BBK, semangat Pittsburgh adalah upaya untuk
memberi gairah (vitalisasi) untuk menggali potensi ekonomi regional BBK,
tidak hanya melalui kegiatan industri manufaktur tetapi juga jasa, termasuk
jasa logistik dan pariwisata bahari.

Di negara maju, proses transformasi ekonomi telah lama bergerak dari
industri manufaktur menuju ekonomi jasa (*service economy*). Demikian juga
halnya dengan Pittsburgh. Kota ini tidak hanya dikenal dengan sebutan
sebagai kota baja (*steel city*) tetapi juga sudah bergerak menuju kota
jasa. Di kota inilah terletak kegiatan  jasa berskala global seperti K&L
Gates, Reed Smith, and Burt Hill, dan jasa keuangan terkemuka seperti PNC
dan Federated Investors. Tidak boleh dilupakan bahwa Pittsburgh adalah
lokasi di mana pendidikan tinggi terkemuka berada seperi Universitas
Carnegie Mellon (CMU), Universitas Pittsburgh, dan University of Pittsburgh
Medical Center (UPMC).

Lima strategi yang dilakukan oleh kota Pittsburgh sehingga cukup berhasil
melakukan revitalisasi ekonomi mereka yaitu: pertama, inovasi dan
kewirausahaan; kedua, iklim investasi yang kompetitif; ketiga, kualitas
pendidikan; keempat, peningkatan kualitas hidup; dan kelima, promosi dan
pemasaran.

Untuk memberi vitalisasi perekonomian regional Kepulauan Riau, pembangunan
infrastruktur tampaknya perlu langkah cepat melalui kegiatan
(*event)*berskala nasional. Namun tentunya tidak mengorbankan anggaran
untuk
peningkatan kualitas pendidikan yang harus mendapat prioritas paling tinggi.


Melalui Pekan Olah Raga Nasional (PON), kota Palembang memperoleh manfaat
dari meningkatnya kapasitas infrastruktur, demikian juga halnya dengan kota
Pekanbaru yang saat ini sedang mempersiapkan PON. Tidak sedikit pula efek
pengganda yang ditimbulkannya bagi perekonomian daerah.

Bagi Kepulauan Riau, proses transformasi menuju sektor jasa mungkin tak
harus secepat di negara maju mengingat sektor industri baru saja berkembang
dan masih memerlukan pendalaman (*deepening*). Karena Pittsburgh
mempunyai  universitas
terkemuka dunia seperti Carnegie Mellon, ataupun pusat riset medis yang
terkenal, maka di sinilah kita mempunyai motivasi lain bahwa Kepulauan Riau
kelak dapat mempunyai pusat riset di bidang maritim yang tidak boleh
dipandang sebelah mata.

Dalam sebuah diskusi dengan penulis,  seorang pengamat mengatakan bahwa
salah satu peluang BBK adalah tempat labuh jangkar kapal-kapal kontainer
yang antri menuju pelabuhan Singapura. Walaupun pelabuhan Singapura memiliki
teknologi canggih dan cepat dalam bongkar muat kontainer, namun karena
Singapura sangat ketat dalam kebijakan laut bersih (*clean ocean*), beberapa
tahun belakangan ini banyak kapal-kapal tersebut berlabuh di pesisir
Barelang. Hal ini merupakan peluang untuk menangkap biaya labuh jangkar
sebelum sandar di dermaga Singapura.

Pembicaraan pada KTT G-20 di Pittsburgh tentang lingkungan hidup mejadi
relevan pula bagi Kepualuan Riau, bukan lagi sebuah imajinasi, tapi nyata
adanya. Provinsi ini  harus benar-benar memperhatikan persoalan lingkungan
hidup, belajar dari kesalahan daerah lain sebelum menjadi sesal yang tak
berguna.

Khususnya Kota Tanjung Pinang bahkan Kabupaten Bintan, izin pertambangan
bauksit perlu dipertimbangkan kembali karena sudah terlihat tanda-tanda
bahwa kerusakan lingkungan, lebih besar mudaratnya dari pada manfaat.
Tanjung Pinang perlu mencari alternatif pengembangan ekonomi yang tidak
tergantung pada pengelolaan tambang bauksit. Dampak yang akan ditimbulkannya
justru akan merugikan kota ini dalam jangka menengah dan panjang.

Tanjung Pinang harus tetap konsisten untuk pengembangan industri berbasis
maritim, termasuk pariwisata bahari, dan sektor jasa lainnya. Dengan luas
areal yang relatif tidak besar, daya dukung Bintan, khususnya Tanjung Pinang
sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan. Kasus sungai Pulai sebagai
daerah tangkapan air yang semakin terkulai seharusnya memberikan kita
pelajaran penting untuk tidak menggeser peruntukan lahan, apatah lagi
mengekspoitasi sumber daya alam secara tidak proporsional.

Kenangan pada senja yang temaram, dari sebuah bukit di tepi kota Pittsburgh,
memandang jembatan yang melintasi pertemuan sungai Allegheny dan
Monongahela,  sungguh membangkitkan imajinasi dan inspirasi tentang
Kepulauan Riau. Kelak di senja yang temaram, dari bukit pulau Dompak dan
bukit Senggarang, kita akan memandang pula  keindahan jembatan penghubung
kota Tanjung Pinang dengan pulau Dompak, serta jembatan Batam-Bintan. Namun
imajinasi dan inspirasi itu akan pudar jika bukit-bukit Tanjung Pinang
terkelupas karena eksploitasi sumber daya alam untuk kepentingan jangka
pendek.***

Kirim email ke