Dear Sahabats,

Pak Ekadj saya kira panjenengan melontarkan gagasan yang menarik. Pengalaman 
saya pada jam pertama hari pertama ketika berkunjung ke RSUD Bantul tahun 2006 
mengajarkan bahwa perlu ada pencermatan tentang "kebutuhan pertama" yang paling 
diperlukan para korban. Sore hari saya pulang dari RSUD saya kabarkan kepada 
para tetangga di perumahan kami, termasuk ke masjid di dekat rumah, bahwa 
kebutuhan yang mendesak di RSUD adalah makanan siap santap dan alas badan untuk 
korban yang dibawa dari desa-desa ke RSUD.

Pada petang hari pengumuman masjid di dekat rumah hanya meminta warga berkumpul 
tanpa menjelaskan korban membutuhkan apa. Waktu itu saya datang dan saya 
jelaskan pengamatan saya pagi dan sore itu. Mereka mengerti kemudian segera 
menghimpun bantuan berupa nasi bungkus, karton dan tikar untuk alas tidur. Saya 
hanya berpikir tentang Pertolongan Pertama Korban Gempa, mirip PPPK itu.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 10/1/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Disaster Management
To: [email protected]
Date: Thursday, October 1, 2009, 7:05 AM






 




    
                  Referensiers ysh.
Cukup menyentak berita bencana gempa di Sumatera Tengah sejak kemarin, dengan 
fokus di Sumatera Barat. Kelihatannya magnitudo dan dampak bencananya jauh 
lebih besar dari kejadian gempa Maret 2007 yang lalu. Kebetulan dua tahun lalu 
seminggu setelah kejadian gempa, saya berkesempatan ke Padang, dan sempat 
membuat catatan sebagaimana disampaikan di bawah. Pada waktu itu wilayah gempa 
belum mencapai Kota Padang, masih sekitar Kabupaten Tanah Datar, Solok, dan 
sedikit Agam. Kondisi saat ini yang meliputi wilayah sangat luas dan padat 
penduduk, tentulah kerusakan dan korban jiwa jauh lebih besar.
Perlu bagi kita untuk memikirkan ulang metode disaster management, khususnya 
tidak sebatas apa yang seharusnya dilakukan pemerintah dan UUPB. Salam.
-ekadj
 
Hari Minggu-Senin minggu lalu saya berkesempatan ke Padang, dan sedikit melihat 
akibat-akibat bencana. Dari Padang ke Padang Panjang kerusakan terlihat 
terutama di lembah Anai, khususnya longsoran pada beberapa titik dan hingga 
terakhir pulang longsoran itu masih ada. Beberapa bangunan di depan pelayanan 
wisata terlihat sudah rusak secara struktur. Sebagian penghuni tinggal pada 
tenda-tenda di atas rel kereta api di seberang jalan. Pada rel kereta api yang 
merapat ke tebing masih ada guguran batu besar dan sampai saat ini kelihatannya 
belum dapat dipindahkan. Upaya Pemda dan masyarakat membersihkan jalan arteri 
sebagai urat nadi transportasi ini patut dihargai. Menjelang masuk Kota Padang 
Panjang di panorama, struktur jalan sangat kritis dan telah rawan longsor, 
sehingga perlu antisipasi segera. 
Di Kota Padang Panjang masih banyak masyarakat mendirikan tenda-tenda di depan 
rumah. Cukup banyak struktur bangun-bangunan yang rusak, khususnya bangunan 
umum. Diperoleh informasi bahwa memang sudah 3 hari ini belum ada lagi gempa. 
Biasanya cukup intens gempa setiap harinya walaupun dalam skala kecil. Jalur 
kereta api merupakan wilayah favorit untuk mendirikan tenda, kemungkinan karena 
pertimbangan struktur yang lebih aman. 
Dari Padang Panjang ke Solok khususnya daerah Batipuh dsk memang tidak terlihat 
kerusakan terlalu besar, dikabarkan Sumani hingga Singkarak dan Solok menderita 
kerusakan cukup luas. Perkiraan saat ini pusat gempa berada di Gunung Rajo, 
sekitar 2-5 km dari jalan arteri, di utara Danau Singkarak. Kerusakan bangunan 
hingga 80%. Namun wilayah sekitarnya kerusakan tidak terlalu besar. Saya tidak 
sempat melihat kondisi di Solok karena pulang malam hari. 
Catatan sementara, terdapat beberapa infrastruktur umum yang rusak dan 
membutuhkan 'perhatian bersama', terutama: jalan-jalan arteri dan kolektor yang 
rusak struktur (retak) dan rawan longsor, bangunan peribadatan, sekolah, dan 
kesehatan, jalur kereta api, dan fasilitas umum lainnya. Kemudian adalah 
bangunan-bangunan pribadi yang dibangun dengan konstruksi permanen, hingga semi 
permanen. Serta bangunan-bangunan lainnya, dengan tingkat kerusakan: berat, 
sedang, dan ringan. Selanjutnya adalah kondisi psikologis masyarakat yang 
senantiasa perlu mendapatkan dukungan khususnya dari perantauan. 
Masalah sumbangan. Dari Padang Panjang saya memenuhi mobil kijang dengan bahan 
makanan seperti mie instan, gula, kopi, dll. Pada beberapa tempat saya 
memberikan bantuan, rasanya bantuan seperti ini kurang tepat, karena persediaan 
makanan masih cukup dan ada yang baru panen. Seperti contoh, ada bantuan dari 
salah satu organisasi perantauan (ratusan juta?) kepada Pemda Kabupaten, yang 
kemudian dibelikan beras, mie instan, dsb ternyata hal itu dirasakan kurang 
signifikan dengan kebutuhan masyarakat. Mungkin bantuan seperti ini cocok untuk 
'masa tanggap darurat', yang durasinya sekitar 3 hari hingga seminggu pasca 
bencana untuk kondisi Sumbar. 
Kebutuhan yang paling tepat ke depan adalah bahan-bahan bangunan, seperti 
semen, pasir, dsb. yang dapat digunakan untuk 'memulai pekerjaan konstruksi'. 
Kemudian perlu adanya prioritas terhadap penanganan, yang menurut saya: bisa 
dimulai dari infrastruktur umum hingga bantuan ke rumah tangga. 
Dengan demikian pada saat ini yang sangat dibutuhkan adalah suatu bentuk 
'manajemen bencana' (disaster management), yang menurut penilaian saya, maaf, 
sepertinya belum dikuasai sepenuhnya oleh pejabat Pemda. 
Beberapa catatan lain akan saya sampaikan kelak. 
Sewaktu berangkat dari Padang hari Senin paginya, saya melihat dari pesawat 
bila Gunung Talang belum menunjukkan 'aktivitas vulkanik'. Kemungkinan gempa 
dari informasi terakhir adalah masih 'gempa tektonik'. 
Demikian sementara yang dapat disampaikan. Wassalam.

--- In refere...@yahoogrou ps.com, Ramalis Prihandana <rama...@...> wrote:
>
> [Attachment( s) from Ramalis Prihandana included below] 
> 
> Ass.w.w
> Terlampir data gempa Jabar yang terakhir.
>  
> Saat ini sesuai dengan permintaan Jabar, sedang disiapkan proses recovery 
> yang dimulai sejak selesainya tanggap gawat darurat tanggal 17 September. 
> Pada tahap I recovery akan dilakukan sampai dengan akhir bulan Februari.  
> Pola yang akan dipakai adalah pola yogya dimana pemulihan dilakukan secara 
> kelompok, dan pengelompokan yang dipilih adalah kelompok dasawisma (atau 2 x 
> dasawisma), dengan pengerahan sumber daya dan pendampingan juga secara 
> kelompok.
>  
> Untuk itu kami telah mengontak seluruh ketua himpunan di ITB dan BEM se jabar 
> via sdr. Zuhdi Allam untuk mengiventarisasi dan menyusun pola pengaturan 
> tenaga mahasiswa. Dalam hal ini kami tengah mengatur koordinasi dengan forum 
> perguruan tinggi, sehingga relawan mahasiswa bisa mendapatkan backup akademik 
> dari PT/Univ nya. 
>  
> Salah satu pesan yang kami terima dari Pemda, adalah untuk tidak membebani 
> Pemda dengan mobilisasi relawan ini. Untuk itu kami mohon saran dan akses 
> dari teman teman alumni untuk back up logistik yang diperlukan sampai dengan 
> Februari.
>  
> Terimakasih atas dukungan anda semua.
>  
> Salam 
>  
> Ramalis
> 
>  
> 
>  
> 
> 
> Attachment(s) from Ramalis Prihandana 
> 2 of 2 File(s) 
> 
> 
> 
> 
> LAPORAN_GEMPA_ 110909_pkl_ 17.00.xls
> 
> 
> 
> Data
>


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke