Milisters ysh,

Kali ini saya coba jawab pertanyaan khusus  utk rekan EkoBK saja….
“…Mengapa hanya Ka Bappenas yg dirasa perlu dari Planologi? Mengapa tidak 
Menteri PU, Menteri KLH, Menpera, atau Menteri Penataan Ruang, misalkan? ”……… 
tapi istilah planologi mungkin kini  jadi terdengar jadul banget trtama olh yg 
abege…maka kebetulan sdg inget maka saya coba ganti pake istilah yg lbh masa 
kini….yaitu planner saja…. Walau kalau ingat bhw Indonesia dijajah oleh Belanda 
sekitar 350 th maka konon ada  sekitar 5.000 kata-kata bahasa Indonesia yg 
berasal dari bhs Belanda, tetapi tdk semua kata2 lazim dan sering digunakan 
sebagai bahasa sehari2 (contoh : baskom, wekker, bengkel, parkir, perangko, 
pol, dipan, panili, persneling, persekot, amplop, ahteret, ritsleting, korslet, 
puing, kakus dari kakhuis, laci, karcis, peci, poci)……….

Tapi mohon maaf kalau jwb utk mas Eko ini agak kurang enak didengar oleh 
masyarakat perencanaan……namanya saja sekolah tinggi Perencanaan dan 
Pengembangan Kebijakan atau sebelumnya Perencanaan  Wilayah dan Kota……atau 
sebelumnya lagi Teknik Planologi….maka bukankah agak sedikit kebangetan  
presidennya  (maupun plnolognya ekh plannernya )…..kalau sekali sajapun belum 
pernah KaBappenasnya planolog/ planner?.......
Kalau kenapa MenPU tdk terlampau terasa perlu hrs dari PWK …..jawabnya ya krn 
para presiden terpilih (trmsk yg ngotot minta dipilih sampai lbh 30thn lamanya) 
selalu lbh memahami  urusan DepPU lbh pada masalah jalan, jembatan, gedung dan 
pengairan ….. maka  mereka berpikir teknik sipillah yg lbih cocok utk itu… atau 
sekali pernah seorang MenPU wanita dari teknik kimia dipilih krn pertimbangan 
khusus dari presiden terpilihnya (Cuma waktu saya tanyakan ke bu menteri waktu 
itu / Dlm kaitan dgn tata ruang pusat desa/….ttg bgmn prospek hubungan PU dan 
LSM tt ruang  setelah baru saja reformasi /kala itu/…. Jwbnya krg spt yg saya 
harapkan… katanya dgn nada agak tinggi:… “saya pengamat LSM…..tata ruang utk 
pusat desa khan ya paling alun2….saya dpt kuliah tata ruang 2SKS”…hehe)………
Kalau planner kenapa tidak jadi MenKLH ….ya jawabnya krn  ahli lingkungan 
(mungkin juga ahli kimia spt bu mentri tadi) brkali masih lbh dekat utk jadi 
MenKLH dibanding  planner….kalau Menpera dari planner tentu saja masih kuat 
relevansinya….krn  lokasi dan persebaran dari perumahan rakyat yg backlognya 
sebanyak 16.000.000 unit rumah rakyat diperkotaan tentu memerlukan kaitan dgn 
lokasi2/ sistem kota2 secara nasional……dan kalau menperanya paham juga 
demografi dan migrasi serta teknik semai industri foot loose…. Nah itu baru 
namanya Menpera ideal……..
Kalau yg namanya Kementerian Tata Ruang khan sampai saat ini blm pernah dirasa 
perlu dibuat oleh para presiden terpilih kita.... justu krn mereka tak 
terlampau memahami tataruang…... atau sebaliknya…..bisa jadi mereka jg 
bepikir…akh..tata ruang urusannya ternyata cuma gitu2 aja …kenapa mesti dibuat 
kementerian tersndiri (lagi2 salah sendiri masy. Perencanaan )….. walau kalau 
dinegeri  Belanda yg kecil  dn dari kabinet yg isinya hanya 13 departemen… 
Kementerian Tata Ruang dan Water Management adalah salah satunya……..  
Yg sdh  jelas2 menyangkut ‘Wilayah’ saja (dari studi  PWK/ Perencanaan Wilayah 
dan Kota).. sdh bbrp kali kabinet trdpt Kementerian PDT (atau sebelumnya di-era 
Pres GusDur malah ada Kementerian Percepatan Pembangunan Indonesia timur)…. 
Kita lihat selain menterinya dari PKB melulu dan jelas bukan planner…. Dari 
staf ahlinya juga tidak planner2 amat…… dan kalaupun ada planners didalamnya 
entah juga apakah warna mainan muter2 didesa2 tertinggal terus itu juga akan 
diubah atau tidak……..konon di DPR para wakil rakyat maunya yg namanya daerah 
tertinggal itu ya jangan hanya KTI…namun semuanya dimana saja… termasuk diJabar 
selatan (kok nggak sekalian  trmsk desa terisolir yg diutaranya Bandara Sukarno 
Hatta itu ya?..) ……..padahal jelas2 KTI  itu wilayah tertinggal (dibanding 
KBI)…..dan pastilah metropolitannya (Makassar) jg tertinggal dibanding dgn Jkt, 
Bdg atau Sby ……
Makassar adlh metropolitan tertinggal…. krn ga punya industri mnufaktur 
perkotaan, dan diakui mhsnya kerjanya berantem melulu…krn frustrasi tak ada 
visi peningkatan internasionalisasi / industrialisasi metropolitan 
disana….kalau sdh lulus lalu pada ke Jawa dan pusat2 industri lainnya…… jadi 
boleh bilang nyaris sia2 saja itu kementerian PDT selama visi dan aksinya masih 
ndeso2an terus gitu…...
Tapi  ngomong2 mas Eko sendiri khan ada juga peluang kuat utk nanti kalau sudah 
cukup umur jadi MenPU atau juga KaBappenas juga  (atau setidaknya dibawahnya 
sedikit) khan?.......maka visi multidimensinya biar yg kenceng banget 
mas….pasti wise.....tak doain dekh…..
Salam,
 
  

Re:[referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa? 
Saturday, October 24, 2009 7:30 PM 
From: "Eko B K" <ekobu...@.........> 
To: [email protected] 
  
Pak Risfan dan rekan2 ysh., 
Betul Pak, bicara masalah "pembangunan" memang luas Pak... kalau kita bicara 
ttg ilmu sosial, misalkan, masih sangat jelas terlihat benang merah satu sama 
lain, antara geografi, sosiologi, ekonomi, anthropologi. .. tapi ketika 
berbicara ttg "studi pembangunan" misalkan, lebih sulit lagi... ada satu 
institut studi pembangunan di Bonn yg risetnya mulai dari biodiversity sampai 
international trade. Di mana benang merah nya, mungkin para prof di sana juga 
bingung hehe...
Tapi bisa juga kita katakan bahwa penekanan dr "pembangunan" dlm hal ini 
sebenarnya lebih pd pembangunan ekonomi... utk konteks Indonesia yg keragaman 
antar wilayahnya tinggi tentu pemahaman akan aspek keruangan mutlak 
diperlukan.. . karenanya, di luar pendapat bahwa pemilihan menteri lebih 
terkait aspek politis, selain itu, menurut saya idealnya Ka Bappenas memiliki 
pengetahuan ttg ekonomi dan spasial seperti Bu Armida misalkan... tapi yg 
memilih kan ya Presiden RI Pak, jadi bisa saja suatu saat Ka Bappenas dr FISIP 
.... saya sebetulnya lebih tertarik utk menanyakan ke Pak Aby yg mengangkat isu 
ini: Mengapa hanya Ka Bappenas yg dirasa perlu dari Planologi? Mengapa tidak 
Menteri PU, Menteri KLH, Menpera, atau Menteri Penataan Ruang, misalkan? 
Memang idealnya ada dosen PL yg ke KSG Harvard ya Pak, tapi mungkin masuknya 
saja sudah cukup sulit, dan lebih sulit lagi mencari beasiswanya, walaupun 
sekrg sudah ada beasiswa dikti yg saking banyaknya duitnya bahkan kuota 
menyekolahkan S3 ke negara2 maju pun sering tidak tercapai sehingga Malaysia 
pun ikut menjadi negara tujuan dan diturunkan hingga ke program S2... kadang 
takjub juga melihat list staf pengajar MIT yg banyak juga orang2 India, Cina, 
bahkan Korea...
salam.. 
  
  
RE: [referensi] Re: KaBappenas Blm Pernah Planolog, Kenapa? 
Saturday, October 24, 2009 6:38 PM 
From: "Risfan Munir" <risf...@.........> 
To: [email protected] 
  
Trims atas koreksinya. Pengetahuan saya tentang mereka memang kabar burung 
saja. Tapi kalau tak salah jaman kejayaan ekonom Berkeley dulu, Emil Salim 
doktornya juga Public Administration, Widjojo N. Demografi?
Tapi kembali ke soalnya, kata kuncinya kan "pembangunan" , dan ekonomi satu 
aspek saja disamping aspek fisik, lingkungan, sosbud, dst. 
Ekonom sendiri dalam sektor riil tidak terlalu mengesankan sebetulnya. 
Mereka berhasil mengajari bangsa dengan angka pertumbuhan dan indikator 
moneter, tapi soal lapangan kerja, sektor riil pertanian, industri, jasa  
kadang "dominasi ekonom" yang kurang tahu aspek riil malah sering jadi 
penghambat. 
Sekali lagi, apa ya mesti jadi ekonom? Saya sendiri hampir 8 tahun 
memfasilitasi klaster-klaster UMKM dan stakeholder ekonomi di berbagai daerah 
dalam payung "pengembangan ekonomi lokal", ternyata masalahnya terutama 
kelembagaan. 
Mungkin karena itu, sejak 3 tahun lalu istilah "local economic governance" 
lebih ditonjolkan daripada PEL (LED). 
Mungkin juga sedang jadi trend dunia, sehingga Nobel pun diarahkan ke economic 
governance. Tapi saya praktisi ya, Bang Nuzul tentu lebih tahu petanya.
Mungkin perkawinan ilmu-ilmu "pembangunan" itu yang dicari ya. Tapi mungkin 
bukan model regional science yang makin menjauhkan planner dari "dunia". Ada 
baiknya ada dosen yang ambil S3 ke KSG Harvard atau sejenisnya, biar kita lebih 
faham aspek governance, public administration. 
Salam,
Risfan Munir
www.samuraisejati. blogspot. com 
  
  
  
  
 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke