Waduh Hengky dan teman lainnya kelihatannya tembus juga, sekali lagi merdeka, mumpung lagi makan internetnya, Pak Wawo
________________________________ From: Hannie Waworoentoe <[email protected]> To: [email protected] Sent: Fri, October 30, 2009 6:21:56 PM Subject: Re: [referensi] Re: (3) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai Hengky, rasanya sudah seabad lalu saya ikut milis ini, kayaknya sudah cukup lama milis ini masih sanggup tulis dan sekali-kali mengedit obrolan kita sampai jadi hardcopy yang dipikul oleh Eka kemana-mana rasanya itu sudah far past (masa lalu yang terlampau jauh) tapi saya mungkin salah barangkali masih juga tersimpan dalam awan-awan cloud computing yang ditemukan oleh microsoft apple google dan facebook dan apalagi yang mungkin nyusul asal jangan ass book, atau kitab bokong. At least kita masih setia pada written word, walaupun itu juga bisa ngelantur, amin. Tapi subyeknya khan nation, nationalism, dan apa yang anda telah kembangkan . Well sudah kita lampaui saja teori-teori barat yang telah berkembang sejak diketemukannya konsep nation atau bangsa (mungkin terutama secara kultural), tapi rasanya memang tidak bisa kita loncat lansung ke masa kini. Memang betul rasanya our founding fathers dan mereka yang hidup pada waktu sumpah pemuda itu telah menemukan konsep satu nusa satu bangsa dan satu bahasa, itu suatu prestasi yang luar biasa, but anyway it was primarily cultural (whatever this means) tapi mungkin implikasinya adalah juga political or legal and constitutional, waduh-waduh barangkali saya mulai goyah, but anyway sa yapun lahir dibawah bintang ibu sudibyo, tepatnya sih ikut nyanyi lagu ibu bintang sudibyo, do you follow me. , atau mungkin atas kasur bapaknya, wah salah lagi Pk Kasur maksudnya. Tapi begitulah generasi kami yang memang engga mikir lebih jauh daripada slogan-slogan di atas trem Jakarta "the right for selfdetermination' ' yah itu khan merdeka utk semua bangsa, ok Hengky gua cuma rada rindu ke masa yang begitu pragmatis. Saya loncat sekarang ke tahun 1975 atau 76, waktu saya sempat ke Cornell University lantas ketemu Ben Anderson, wah mestinya saya juga ketemu George Kahin, tapi cukuplah itu dulu, teman saya bapak dari Afganistan sebelum Taliban dan sebelum Russia pergi dari sana, dia tanya what nation are you , wah mestinya saya tanya where in heaven is afganistan, maaf Indonesia tidak atau belum masuk dalam kemelut global ini. Saya sedang baca-baca buku afganistan yang jelas bobot budayanya sangat berat, ada buku tentang layang-layang atau kite flying yang sangat poetic, tapi juga ada tentang penjual atau pembaca dan pengumpul buku. Lantas saya baru saja baca dan beli buku tentang Asia Style dari toko buku Periplus, yang suka bikin buku-buku coffeetable yang biasanya dipamer ibu-ibu celebreties atau temen-temennya dari Rockefeller atau Ford Foundation yang barangkali kebanyakan duit dikasih bangkir-bangkir Yahudi ataupun Arab. Wah dalam buku Asia style itu ada banyak contoh-contoh hotel dari Asean, Singapura, Malaysia malhan sampai Vietnam Kampuchea dan apalagi, tapi kok enda ada Indonesia , cari-cari ketemu Java dan Bali kayak merek kopi Starbuck cafe , mungkin kalau dibilang kopi Indonesia rasanya engga pahit atau cemplang. Well to bad for my national identity. Hengky barangkali saya sudah menyinggung terlampau banyak founding fathers atau pendekar-pendekar kesiangan Barangkali saya tutup saja dengan ceritera true story dari dua orang Asia yang mau belajar bahasa Inggris, yang satu dari Jawa dan satu lagi dari Singapore, guru bahasa memberi tugas : "Can you gentleman make a sentence with green, pink and yellow? ....Well what about you Abyoso (ini nama samaran)?" Si Abi garuk-garuk kepala tapi akhirnya dia bilang; " I ddho live in a verrry green valley, and there are many pingk flowerrrs, and in the morning the sun shines verrrry yellow" "Well that is very good Aby? but what about you Thim or Thung from Singapore?" Thim or Thung dari Singapore jelas engga mau kalah "Velly, velly simple -lah:.... this molning my telephone l(r)ang .... gleen, gleen, gleen .... I hully pink up the telephone and said ......yellow, ..... you see.. simple lah ... gleen, ping an(d)..... yellllow" (ini saya juga hanya kutip, dan sorry utkmereka yang sudah pernah baca.WJW) Hidup Indonesia Merdeka. ________________________________ From: hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> To: referensi <refere...@yahoogrou ps.com> Cc: plbpm <pl...@yahoogroups. com> Sent: Thu, October 29, 2009 4:27:01 PM Subject: [referensi] Re: (3) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai Milisters ysh, Ini sih kebetulan saja deket pada hari Sumpah Pemuda kemarin….atau nanti tgl 10 Nop adalah Hari Pahlawan……maka kalo nggak khan takut nanti ada yg koment…. hare gene kok ngomongin nasionalisme? ........ Ya kalau bagi orang Jepang, Amerika atau bangsa2 lain yg maju sih…. nasionalisme adalah perkara yg tak pernah ada hari liburnya utk dipikirin dan dibelain….…. tapi kalau menurut Nezar Patria…. Nasionalisme bagi generasi Indonesia saat inimungkin bukan termasuk barang asyik utk ditimbang, dibedah atau dipikirkan kembali……….. Banyak orang menyimpulkan, kita malah kini berada pada senjakala nasionalisme…… fajar baru dunia adalah globalisasikatanya…..yg telah menggerus tapal batas teritorial, dan mengaburkan persepsi atas ”borders’…….sesuatu yang justru sangat esensial dalam doktrin nasionalisme………. Karena itumenurut Nezar…..berbicara soal nasionalisme malah akan kedengaranspt’katrok’, dan mereka yang berapi-api membelanya terancam dicap pendekar kesiangankatanya…. Nasionalisme kita hari-hari ini memang terasa menjadi sesuatu yang ”banal”…..atau sesuatu yang mengalami pendangkalan makna…….Cukup sedih…ia hanya berarti sejenak saja, saatupacara bendera, atau saat bendera merah putih dikibarkan pada acara olahraga…... Boleh jadi banalitas itu terjadi karena ’state’ kita yang tak begitu berhasil memberi arah bagi ’nation’kita…..atau gagal melakukan konstruksi nasionalisme sebagai ’proyek bersama’ (common project) bagi seluruh warga…… Salam, On Mon, 9/7/09 abiyoso wrote : Re: (2) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai Milisters ysh, Sebelum sampai pada diskusi ttg nasionalisme bangsa dan negara kita sendiri…… marilah kita sedikit menyapu pandang sebentar pada diskusi nasionalisme dunia secara umum…….. Dlm diskusi ttg nasionalisme yg amat beragam coraknya didunia ini….. ‘Imagined Communities’ (1983) dari Benedict Anderson nampaknya menjadi referensi yg cukup populer yg banyak disebut2….. Intinya Anderson mengatakan bhw secara umum sebuah bangsa adalah sebuah komunitas yg dibentuk secara sosial…. Yg dikatakan sbg dibayangkan oleh orang2 yg menganggap atau merasa dirinya menjadi bagian dari sebuah kelompok.… walau orang-perorang didalamnya tidak semuanya saling mengenal dan pernah saling jumpa satu sama lain…… tapi boleh jadi memiliki interest atau identitas sbg bagian dari bangsa yg sama…… Komunitas ini membayangkan dirinya sbg eksklusif dan berdaulat…… Mediapun demikian juga…. Dikatakannya sbg seolah juga menciptakan komunitas imaginatip… dgn alat bahasa lalu membidik audiens massa… atau menggeneralisasikan dan menyapa penduduk kota sbg publik……. Anderson sampai kepada kesimpulannya bhw baik teori Marxis maupun liberal….. keduanya sama2 menjelaskan ttg nasionalisme atau ttg rasa kebangsaan………. Anderson terbawa hanyut kedlm studi ttg nasionalisme ‘historisist’ atau ‘modernist’ bersama Ernest Gellner dan Eric Hobsbawm dimana ia berkesimpulan bhw bangsa (nation) dan rasa cinta kebangsaan (nationalism) merupakan produk dari modernitas dan telah dicipta sbg alat utk tujuan2 politik dan ekonomi…… sementara itu sekolah tsb berpandangan sebaliknya – primordialist – yg percaya bhw bangsa2 (nations) atau kalau nggak ya rasa kebangsaan (nationalism) telah muncul bersama dengan sejarah kehadiran manusia dibumi ini…. ‘Imagined communities’ dpt dilihat sbg bentuk dari konstruksionisme sosial sejalan dgn konsep ‘imagined georaphies’ dari Edward Wadie Said, seorang Palestina-Amerika….. Sementara itu pada tahun yg sama dgn ‘Imagined Communities’…. Ernest Gellner juga menerbitkan “Nation and Nationalism”…... ia berpendapat bhw nasionalisme adalah utamanya sebuah prinsip politik yg percaya bhw unit politik dan unit nasional haruslah konkruen…… Menurutnya Nasionalisme muncul menjadi kebutuhan sosiologis pada dunia modern…. Berbeda dgn masa agro historis… menurutnya dlm dunia modern ini ‘bekerja’ kemudian menjadi masalah amat teknis… seseorang harus mengoperasikan mesin.. dimana utk itu trdpt kebutuhan bhw seblmnya seseorang harus mempelajarinya lbh dulu…. Lebih jauh masyarakat industri dihadapkan pada fakta bhw terdapat pertumbuhan jenis kesempatan kerja dan ketrampilan2 baru yg terus muncul dan itu harus terus menerus dipelajari….. sehingga utk itu diperlukan pelatihan2….dimana utk mempertahankan kelangsungan proses2 demikian serta kemajuannya maka factor negara dan budaya haruslah konkruen pula dan itu mulai menyangkut masalah kebutuhan teritorial …. Maka menurutnya disini nasionalisme menjadi amatlah diperlukan pula…… Sementara itu Charles Tilly (Coercion, Capital, and European States, 1990) berpendapat….. nation-state adalah sistem politik yg keberhasilannya paling menonjol dibumi ini….. dimana ia tak terlepas dari aspek inovasi militer pada masa pra Eropa modern… spt dgn adanya penemuan bubuk mesiu dan senjata2 massal yg membuat peperangan menjadi masalah amat mahal.. yg karenanya hanya negara2 dgn modal yg cukup serta dgn populasi yg besar sajalah yg mampu membiayai kebutuhan keamanan dan survivalitas dari lingkungan kebangsaan atau geografis yg dibinanya…….. Menurut Nizar Patria (2008)…. dlmkonteks Indonesia…. mengutip Tilly, Nizar katakan bhw nasionalisme kita adalah sbg ’state-led nationalism’….. yg artinya ia adalah semacam nasionalisme yang dibangun dari atas (apakah maksudnya Boedi Oetomo, Syarikat Dagang Islam, Soempah Pemoeda, Soekarno-Hatta dkk ?) dan lalu meluncur ke bawah……… Nizar merasa perlu utk menjernihkan lebih dulu salah kaprah yang menurutnya kerap muncul dalam membicarakan nasionalisme…… Menurutnya benar bhw wilayah perbincangan nasionalisme tak bisa dipisahkan dari soal ’nation-state’…. Namun hubungan keduanya (’nation’ dan ’state’) menurutnya tidaklah selalu identik……….. ’State’ pada banyak kasus dalam sejarah, menurutnya sering lebih dulu muncul daripada ’nation’…..dan sejarah membuktikan, perkawinan keduanya menjadi ’nation-state’, mengutip Ben Anderson, tidaklah selalu bahagia……..ia mengikuti terminologi neo-Weberian yang mengartikan ’State’ sebagai ”satu komunitas manusia yang berhasil mengklaim legitimasi penggunaan kekerasan fisik dalam satu wilayah tertentu”……… Kalau dipikir memang itu spt benar juga…. asal usul ’negara’ Indonesia kita ini misalnya…. bisa ditarik keabad ke-17…. saat Belanda dengan VOC-nya di Batavia menaklukan Jawa dan beberapa daerah lain di nusantara…..Penaklukan itu berpuncak lewat perang brutal di berbagai wilayah nusantara sepanjang abad 19….. Selama tigaratus limapuluh tahun, dimensi wilayah dari ’negara kolonial’ itu berubah-ubah…… dan ketika merdeka, teritori bekas jajahan itu menjadi semacam patokan batas dari apa yang kita kenal kemudian sebagai ’Indonesia’……. Jadi, dasar teritorial ’state’ kita saat ini dpt dikatakan adalah ’warisan kolonial’…….. Ia lahir dari proses pemutusan sejarah kolonialisme pada 1945, dengan upaya ”pemindahan kekuasaan (dari negara kolonial) dan sebagainya”, yang ”dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatny a”…….. Meski Sukarno dan Hatta kala itu melakukan klaim ”atas nama bangsa Indonesia”, tetapi ’nation’ yang dimaksud oleh mereka dalam kenyataannya masih berada dalam wilayah imajiner………... Batasnya adalah ”sentiment of belonging to a community”, rasa memiliki kepada suatu komunitas yang sama-sama tertindas (oleh kolonial Belanda), dan berkeinginan memutuskan nasib politik mereka bersama……... Karenanya jika ”nation” dari Indonesia itu diartikan sebagai suatu proyek bersama untuk sekarang dan utk masa depan……. Benar juga bila dikatakan bhw ‘Indonesia’ sesungguhnya adalah proyek nasionalisme yang belum selesai……… secara politik sudah dimulai, secara militer sudah pula….. tetapi secara ekonomi ia masih dalam perjalanannya yg jauh….. ia masih terus berada dalam proses menuju ”menjadi”, dan pemenuhannya sebagai ’bangsa’ haruslah terus diisi oleh berbagai generasi…… hanya sayang bahwa dari 64 tahun kemerdekaan kita…. separuh waktu kita kok telah disia2kan oleh rezim orba menjadi suatu degradasi………. Salam,

