Milisters ysh, Jika nasionalisme menurut Nezar Patria adalah ”sentiment of belonging”, suatu proses psikologi…….dan “State” adalah sesuatu yang instrumental sebagai “alat legitimasi penggunaan kekerasan”…. Atau kalau mau lebih tajam lagi dlm pendekatan Marxian dikatakan sbg ”alat dari kelas yang berkuasa”……maka kekerasan yang terjadi pada ”Negara Orde Baru” tampaknya harus dipahami sebagai ekspresi dari kepentingan kelas tertentu……… Dan inilah yang rupanya terjadi pada masa sebelumnya, dimana ”state” ternyata tak cukup mengakomodasi spektrum politik yang muncul…….. Bung Karno mencoba mempersatukan semua aliran politik yang saling bergulat menentukan arah ”state” Indonesia yang baru terbentuk itu, tetapi seperti dicatat sejarah, usaha ini hanya separuh berhasil………. Ia sukses dlm pengertian ketika merumuskan satu dasar nilai bangsa yang kita kenal sebagai Pancasila…. yg bukan saja dijadikan sebagai ”proyek bersama”, tapi juga nilai itu difiksasikan sebagai ideologi nasional…….. Pada dasarnya, revolusi Indonesia berwatak nasionalis……Sukarno mencoba mendamaikan nasionalis sekuler, yang diwakili kaum nasionalis dan komunis, serta nasionalis-religius diwakili kelompok agama…..tetapi, gesekan politik kaum nasionalis, agama dan komunis, yg oleh Sukarno dianggap pemilik saham sah dari revolusi Indonesia itu, gagal dipersatukan di bawah proyek ’Nasakom’………justru pada akhirnya terjadi konflik yg berujung pd tragedi nasional, pembantaian anak bangsa sendiri pada 1965…..… Kegagalan ’Nasakom’, dan berakhirnya rezim Sukarno dengan tragedi nasional berdarah 1965 telah memberi jalan bagi Jenderal Suharto utk memulai apa yang disebutnya sebagai ”Orde Baru”…….yg menafsirkan nasionalisme dengan corak sentralisme birokratik yang jauh lebih ekstrim dari masa sebelumnya……… Dengan legitimasi memulihkan stabilitas nasional, orde itu mempunyai dua ciri pokok……..yaitu secara ekonomi membuka kran modal asing…..dan secara politik menjalankan otoritarianisme yang militeristik…….pengendalian politik sipil oleh militer……pemasungan kebebasan berorganisasi dan berekspresi, dan sentralisme pemerintahan yang luar biasa mengendalikan politik daerah telah mengkorup Indonesia sebagai ’proyek bersama’……... Nasionalisme orde baru adalah sesuatu yang anti dialog dan anti demokrasi…….kendali politik birokratis-militeristik ini telah menempatkan ’State’ menjadi apa yg dlm istilah Hobbesian dikatakan Leviathan sbg “sesuatu yang besar dan menakutkan”……. Orde ini juga telah menciptakan militer sebagai kasta politik terpenting dan mengecilkan peran masyarakat sipil…….. Tentu saja peran dominan ’state’ pada rezim orde baru itu berdampak amat buruk pada perkembangan ’nation’ selanjutnya…….. Dengan sentralisme rezim otoriter militeristik itu……..maka tak ayal lagi ....perjumpaan Negara Orde Baru dengan pergolakan daerah seperti Aceh, Timor Timur dan Papua menjadi sangat gelap, berdarah-darah, dan lalu menyisakan trauma politik yang panjang……… Salam,

