Milisters ysh,
Jika Sukarno menggelorakan sentimen nasionalisme dengan sesatu yang 
”mengangkat” martabat bangsa, dan dengan progresif mengisi karakter 
nasionalisme Indonesia…….sementara itu strategi integrasi nasional gaya Suharto 
adalah justru mengencangkan kendali birokrasi dan militer sebagai agen 
nasionalisme……….. 
Bahkan jauh lebih buruk….sengaja atau tidak…..orde baru melakukan politik 
homogenisasi dengan Jawa sebagai pusat….. sesuatu yg 
tentu itu mengkhianati nasionalisme sebagai ’proyek bersama’…….. 
Ketidakpuasan atas elit politik non-Jawa di daerah-daerah mencapai puncaknya 
pada era kediktatoran ini……menurut catatan Patria, pada 1980 dari seluruh 12 
Kodam yang ada pada waktu di luar Jawa, semua berada di tangan komandan militer 
dari Jawa…….dominasi etnik Jawa bahkan terlihat dari komposisi kepemimpinan 
tentara… 89 persen dari petinggi militer saat itu… jika bukan Jawa (80%) ya 
adalah Sunda (9%)……. 
Selain menggunakan Golkar sebagai alat politik orde baru…..militer juga 
mendominasi parlemen yang memiliki 100 kursi di DPR (dari 460 kursi), yg 
dipilih tanpa pemilu tapi ditunjuk lsg oleh presiden……...
Dgn begitu…nasionalisme orde baru yg militeristik adlh sesuatu yg diabdikan 
untuk mengamankan teritorial…yg mengambil klaim kebenarannya lewat mistifikasi 
UUD 1945, dengan asumsi batas wilayah adalah ’suci’…….. 
Teritorialisme itu lalu meminggirkan semua urusan tentang ’hak demokratis 
warga’……dan mementingkan ’tanah’ dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan 
bukan ’manusia’ atau ’warga’ di atasnya……... 
Struktur teritorial itu membayangi struktur politik sipil sampai di tingkat 
pedesaan……trmsk jg fungsi militer memeriksa orientasi politik dan mengendalikan 
organisasi sosial, seperti pers, lembaga agama dan badan pendidikan…….. 
Sekelompok orang yang menentang rezim dengan sendirinya dianggap ”tidak 
nasionalis”……atau lebih parah lagi ”komunis” atau ”separatis”…….dgn stempel cap 
kedua kata itu adalah jg berarti anda bukan lagi bagian warga ’nation’ dalam 
versi rezim orde baru itu……..
Para keluarga eks-PKI, misalnya, telah dikeluarkan dari ’proyek bersama’, dan 
menempatkan mereka sebagai warga pariah tanpa hak politik……...
Kegilaan tasfir nasionalisme seperti itu sebenarnya justru tdk terjadi pada 
orde sebelumnya…….  
Misalnya di Aceh…..pergolakan Daud Beureueh dengan DI/TII di tahun 1953-1960 
masih membuka kesempatan memperbincangkan kembali ’proyek bersama’ itu…..tetapi 
 ruang itu tertutup pada masa orde baru…..
Ketika Hasan di Tiro menggugat dgn Gerakan Aceh Merdeka pada 1976…..maka daerah 
itu pun menjadi ajang operasi militer yang masif dan represif…..yg menggasak 
warga sipil tak berdosa dengan membabi-buta……..sama halnya dengan Timor Timur 
yg dalam rekaman lembaga HAM Internasional tlh kehilangan 200 ribu warga selama 
militer rezim orde baru ’menertibkan’ daerah itu pada 1970an…..tak kurang kisah 
yg sama tragisnya terjadi di Papua……… 
Maka ketika rezim orde baru dijatuhkan oleh  gerakan pro 
demokrasi…..kepercayaan daerah-daerah bergolak itu atas ’proyek bersama’ yang 
bernama Indonesia malah sudah pupus lebih awal sebagai reaksi atas politik 
kekerasan orde baru…..
Lepasnya Timor Timur, yang kini menjadi Timor Leste mungkin satu perkecualian, 
karena aneksasi yang dilakukan rezim orde baru ke wilayah itu adalah satu 
kecelakaan sejarah dari skenario Perang Dingin AS ……tetapi, gejolak di Aceh dan 
Papua, adalah ujian berat pada masa reformasi……
Salam,
 
 
 
 


      

Kirim email ke