Benar Pak Djarot, jangan lupa bawa senjata dan amunisinya: buku catatan,
notes, laptop, gps, kamera, tape recorder; dan kalau agak gaya dikit
kaya Indiana Jones: cambuk. Perlu latihan 'jotting', untuk bikin
'fieldnotes'. Namun rencana untuk 'going native', sudah hebat.

Dari cerita Pak Irwan Wipranata, ada temannya yang menemukan beberapa
spesies kerang-kerangan di Timor, dan menamakannya dengan namanya
sendiri dan diabadikan secara internasional. Boleh juga tuh dengan rekan
biolog-nya mengamati disana, siapa tahu nanti kita bisa ketemu
'djarotpurbaditrea' di kamus biologi.

Kalau sempat jalan ke Sumbawa, bisa singgah ke Wawo Maria, sekitar 20 km
dari Bima. Namanya menarik ya? Disana terdapat 'laboratorium arsitektur
tradisional kelas dunia' yang belum terangkat. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Eka dan para Sahabat,
> Dalam beberapa hari ini saya akan mendarat di lapangan lagi,
berkolaborasi dengan teman dari Biologi untuk menggali konsep dan
strategi lokal ketahanan pangan di Kaenbaun. Penelitian ini saya lihat
menarik, sebab di Kaenbaun ada ritual siklus pertanian (seperti di Timor
umumnya) yang di dalamnya ada "jagung bibit" dan "jagung upeti" sebagai
bagian dari relasi abadi suku-suku penghuni suatu desa. Saya melihatnya
ritual ada dimensi fungsional dan transenden dalam tata spasial
permukiman, sedangkan teman saya melihat aspek biologis-teknis, bahkan
aspek pelestarian genetika jagung. Jadi kemungkinan akan off beberapa
hari, meskipun di Kefa juga bisa nyambung, tetapi kayaknya saya
merencanakan akan retret di desa, memasuki blank-spot saja biar
menyelamnya bisa sampai ke dasar. Piknik akademik sedikitlah, biar nggak
jenuh.
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>



Kirim email ke