Geertzian? Kelihatannya Pak Aby sudah mulai menyandarkan sebagian keyakinan ilmiahnya pada Geertz.
--- In [email protected], hengky abiyoso <watashi...@...> wrote: > > Milisters ysh, > Kemunculan negara-negara baru yang homogen di Eropa kerap dimotori oleh state-seeking nationalismâ¦â¦â¦suatu klaim dari perwakilan politik yg tdk mendapat akses kontrol atas suatu âstateââ¦.lalu mengklaim otonomi politikâ¦.atau bahkan memisahkan diriâ¦.atas dasar perbedaan identitas budayaâ¦â¦.. > Menurut Tilly, sebelum tahun 1800, rata-rata corak nasionalisme adalah state-led, tetapi setelah tahun itu, state-seeking nationalism menjadi motor dari revolusi di Eropaâ¦â¦.. > Belajar pada kenyataan sejarah itu,  konon katanya seyogyanya format nasionalisme kita harus memberi tempat kepada kebaruanâ¦â¦dlm hal ini mendemokratisasikan hubungan pusat dan daerah â¦.termasuk menurut Nezar Patria (jg pernah oleh Amien Rais) âkeberanian menguji bentuk federalismeââ¦.tapi disini saya kira Nezar (jg Amien) telah bermain api tak mau menghitung bgmn resikonya kalau federalisasi di Indonesia nanti menjadi balkanisasi spt Soviet dan Yugoslaviaâ¦â¦lalu NKRI ini tercabik2 menjadi bbrp negara yg terpisah2 (pdhal memang ada analisis intelijen ttg skenario balkanisasi NKRI itu oleh AS)â¦..â¦.. > Kedua, dengan munculnya kekerasan komunal yang dipicu oleh konflik agama atau etnis di berbagai wilayah nusantaraâ¦..atau dlm derajat lebih kualitatif adalah mengerasnya ethno-nationalismâ¦â¦maka nasionalisme Indonesia harus dikembalikan menjadi âproyek bersamaâ yg urgentâ¦â¦â¦. > Pemberian otonomi yang luas atau bahkan âself-governmentâ kepada wilayah bergolak adalah cara untuk tetap membuat warga daerah tetap ambil bagian dari âproyek bersamaâ Indonesia â¦â¦selain itu, arah pembangunan ekonomi yang berkeadilan menjadi prioritasâ¦â¦krn federalisme atau otonomi yang miskin, sama saja dengan perubahan yang nihilâ¦â¦â¦. > Ketiga, nasionalisme baru Indonesia konon katanya harus pula  mampu menghadapi kecenderungan globalâ¦â¦.krn itu âcivic nationalismâ atau nasionalisme kewargaan konon harus menjadi agenda dari âproyek bersamaââ¦â¦... > Nasionalisme ini disebut âcivicâ karena dia adalah antitesa dari nasionalisme berbasiskan etnik â¦â¦nasionalisme yang âcivicâ mampu menempatkan segenap elemen bangsa melampaui agama, ras dan suku sebagai komunitas setara, dan mendapatkan hak-hak penuh â¦â¦dgn demikian nasionalisme ini secara inheren berciri demokratik karena ia dibangun beralaskan prinsip kedaulatan rakyatâ¦â¦â¦ > Nasionalisme yang âcivicâ juga menjadi semacam âetikâ dalam menjaga martabat bangsa â¦dimana perilaku buruk seperti korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia adalah cacat politik yg mempermalukan bangsa secara keseluruhanâ¦â¦.. > Nasionalisme Indonesia menghadapi problem yang tak mudah dalam mengawinkan ânation-stateâ sebagai sebuah institusi politik solid â¦â¦nasionalisme adalah fenomena psikologis yang membutuhkan perasaan keterlibatan, dan disposisi yang berbeda dengan ânation-stateâ sebagai institusi â¦â¦rMealitas sosial politik menunjukkan hadirnya âsentimen nasionalismeâ pada bangsa-bangsa yang tidak mempunyai âStateââ¦â¦ > Krn itu kembali ke Indonesia sebagai âproyek bersamaâ yang belum selesaiâ¦â¦Suatu ânationâ yang melepaskan diri dari belenggu kolonialisme, dan mencoba menyatukan âold nationsâ yang ada di nusantaraâ¦â¦krn itulah, pengalaman âmenjadiâ bangsa adalah juga meningkatkan kesadaran fenomena kesukuan agar lebih menasional dan universalâ¦â¦... > Lalu, bagaimana membuat âStateâ yang bisa mengakomodasi variasi spektrum agama dan suku, dan bahkan menampung revivalisme âold nationalitiesâ di sejumlah daerah saat iniâ¦â¦.. > Mungkin âcivic nationalismâ yang dipraktekkan di Inggris sejak pertengahan abad 18 bisa menjadi inspirasiâ¦â¦..bagaimana Great Britain bisa berhasil menjadi satu ânegara-bangsaâ, yang sebenarnya terdiri dari empat bangsa berbeda: Irish, Scots, Welsh dan Englishâ¦â¦â¦ > Salam,

