Ini adalah periode yg penting untuk diteliti secara mendalam.. Jepang pun sebenarnya juga mensponsori negara boneka..
Sukarno mungkin sangat non-kooperatif terhadap Belanda, apalagi setelah gagal masuk Volksraad.. (sangat mirip dengan perilaku kader-2 cap Banteng.. yg bikin partai baru berlogo Banteng ketika gagal masuk Senayan..). Namun 180 derajat berbeda dengan Jepang.. Bahkan sampai diberi penghargaan oleh Kaisar Jepang. Beda dengan Sjahrir dan Hatta, yg cukup cerdas untuk bisa membedakan baik buruknya Colonial Demokrasi dengan Fasisme, bagi Sukarno yg penting siapa yg kuasa, dia yg berkata 'benar'. Hatta sangat peduli dengan adanya suatu demokrasi sebagai sistem kontrol.. Sukarno terlalu malas, atau bahkan terlalu haus kuasa mungkin, sehingga mengangkat nantinya diri sebagai presiden seumur hidup, menjadi penguasa/pemimpin mutlak.. mirip seperti musuh-2 Sekutu yang mengangkat diri sebagai pemimpin mutlak.. Hatta lebih pantas mendapat tempat dalam konteks pembangunan nasionalisme, bukan Soekarno. Setelah cerai dengan Hatta, jargon nasionalisme dijadikan 'alat pemutlakan kekuasan' bagi Soekarno.. yg berbeda pendapat dicap anti, dan malah dibuang ke luar negeri, tidak peduli bahwa dulunya teman seperjuangan.. contoh: Sjahrir.. Hari hari setelah Nazi kalah di Eropa sangat berpengaruh.. Jenderal-2 Jepang tahu bagaimana nasih 'penjahat perang' yg diadili oleh musuh.. Meskipun jenderal-2 Nazi sudah menyerah, tetap saja dihukum mati.. Apa Jenderal-2 Jepang sudah siap? Bagaimana nasib para patron Sukarno setelah 17 Agustus 1945? Apa yg menjadi materi diskusi Sukarno-Hatta-Radjiman dengan Terauchi di Da Lat - Saigon? Mengapa sangking penting nya harus 'terbang' kesana?? (beluma ada AirAsia lho..) Mengapa Sukarno dianggap sangat berharga oleh Maeda, sehingga rela kompromi dengan kelompok pemuda yg menculik Soekarno untuk 'akan pura-pura tidak tahu' mengenai rencana proklamasi 17 Agustus 45 (Ricklefs, 2008). Oh ya, Sjahrir yang mendukung aksi pemuda 'menculik' Sukarno utk memproklamasikan kemerdekaan, malah akhirnya dibuang oleh Sukarno dan meninggal di pengasingan. Sukarno pun sampai harus pakai diculik segala untuk mau memproklamasikan kemerdekaan pada tgl 17 Agustus.. Mengapa Sukarno ingin menunda? Apa rencana besar dan deal-deal politik dia dengan para jenderal Jepang yg tidak diketahui orang lain? Bagaimana pula nasib jenderal-2 Asia Tenggara seperti Terauchi, Maeda, Yamashita setelah itu? Bagaimana larinya duit yg mereka rampas dari pengusaha-2 yg mereka bantai? Ktia selalu berbangga diri dengan the so-called; semangat Bambu Runcing.. padahal, baris-berbaris dengan bambu runcing adalah warisan pendidikan militer Jepang.. apa pernah dengar pahlawan pra-Jepang melawan Belanda degnan bambu runcing? ber-semangat bambu-runcing artinya mengakui kita memang nurut dengan Jepang untuk ikut dalam kampanye Jepang memenangi Perang Dunia II melawan Sekutu.. Militer Indonesia memang dulu lemah, apalagi dari segi logistik persenjataan.. karena impor senjata terbatas.. dan yg dipakai adalah sisa-sisa dari Jepang.. Militer Indonesia tidak pernah berhasil mengusir penjajah.. Belanda diusir oleh Jepang di bumi Indonesia.. Jepang mundur sendiri setelah kalah PD II. Yg pernah dimenangkan oleh militer Indonesia adalah skirmish-.. atau beberapa kontak senjata secara singkat dan temporer saja.. tahun 1949 ketika ada transfer kekuasaan; Belanda bukan kalah di medan perang, tapi kalah di medan politik domestik.. Tekanan besar dari dalam negeri Belanda sendiri untuk menghentikan perang, karena secara demokratis para wakil rakyat Belanda menganggap lebih baik uang digunakan untuk membangun kembali (rekonstruksi) akibat dibom-bardir Nazi, daripada untuk membiayai operasi militer.. Apalagi ketika bisa 'membuku-kan pengeluaran militer sebagai utang dari negara yg mau merdeka' , maka lebih ekonomis bagi kepentingan rakyat banyak Belanda.. Di meja runding, juru runding Belanda membawa amanah demokrasi kepentingan rakyat banyak Belanda.. dari pihak Indonesia, bekas piaraan Jepang yg fasis.. legitimasi mereka belum pernah teruji secara demokratis. Maka, ketika diminta bayar, mereka bilang OK saja.. tokh yg bayar generasi muda y.a.d.. pikir mereka: tinggal dikasih doktrin melalui pelajaran sejarah saja., dan mereka akan 'bekerja keras mengisi pembangunan' supaya dapat membayar utang tersebut dibawah kepemimpinan mutlak.. Selain itu, sebelum Jepang (dan akhirnya Sukarno), pemerintahan kolonial Belanda sudah terdesentralisasi sejak 1900an. Penduduk lokal lebih terepresentasi dalam pembuatan keputusan.. memang penduduk lokal nya multi-etnis, terutama di kota-2 pelabuhan.. Memang ada problem mendasar; yaitu orang-2 pribumi dianggap sebagai subjek feodal bangsawan-bangsawannya.. Hukum yg berlaku bagi mereka pun berbeda.. Sebelum 1945, sudah ada demokrasi, namun feodalisme (terutama Jawa) menghalangi demokrasi bagi masyarakat Jawa. Tidak jauh beda dari motif nafsu berkuasa mutlak atas subjek-2 feodal. Apakah hukum adat cukup adil bagi rakyat jelata? apalagi ketika bersengketa dengan bangsawan? Tidak heran, pada masa itu; yg bisa teremansipasi adalah ketika seseorang pribumi menikah dengan orang Eropa, karena setelah itu dia akan masuk dalam sistem hukum Belanda yang modern dan tidak feodal..(if any, modernisme adalah proyek yg belum selesai.. - Habermas..) Dia bisa lepas dari kerangkeng feodalisme dengan menikah dengan non-pribumi.. Jadi karena bangsawan pribumi ingin berkuasa mutlak secara feodalistis; rakyat jelata Indonesia tidak bisa dimerdekakan oleh Demokrasi.. Kelompok-2 Sosialis dan Komunis sebenarnya ingin mendorong kemerdekaan secara demokratis tsb ... sayang gagal.. Pendudukan Jepang mendisfungsi demokrasi tsb. Dan, setelah "merdeka", pemerintahan malah terpusat.. desentralisasi mundur seribu langkah .. pembangunan tersentralisasi.. Ini yg menyebabkan ketidak-puasan .. karena pada masa Belanda, sudah terdesentralisasi, bedanya adalah penduduk pribumi masih terkerangkeng feodalisme.. Setelah 1945, feodalisme muncul dalam kedok baru.. dan bagi non-Jawa, yg tidak terlalu banyak menikmati Politik Etis, tentu enggan kalau "penjajah" hanya berubah warna kulit.. Oleh Suharto, koneksi Jawa-Islam-Militer sangat kental dalam kekuasaan dan pengambilan keputusan.. Jangan berpikiran sempit dalam menilai generasi muda sebagai sinis. Mereka memang sempat ikut doktrinasi berkedok pendidikan PSPB.. dan mereka pun hanya mempelajari nya untuk lulus ujian terstandardisasi (standardized test).. Banyak hal yg tidak dibahas dalam kurikulum PSPB.. atau malah sengaja di-elakkan. sekarang generasi muda yg kritis dan memang peduli ..sudah siap untuk mendobrak doktrinasi usang.. yg digunakan sebagai alat legitimasi kekuasaan.. Sebenarnya lebih mudah bagi generasi muda untuk sekedar jadi 'orang berduit' , fokus pada akumulasi daya beli supaya bisa ikut menikmati sistem kapitalisme.. mengikuti teladan pemimpin generasi sebelumnya.. dan meng-iya-kan saja naskah-2 indoktrinasi bekedok ilmu sejarah terstandardisasi.. untungnya, tidak semua memilih untuk mengambil jalan yg mudah.. Salam, -K- 2009/11/10 hengky abiyoso <[email protected]> > > > Milisters ysh, > > Berbeda dgn penjajah Jepang yg setelah kalah perang lalu angkat kaki secara > total dari Indonesia….. penjajah Belanda justru bertindak sebaliknya…… > mereka merasa giliran merekalah utk harus kembali menguasai negeri Indonesia > yg telah diproklamasikan kemerdekaannya itu….. > > Tentu saja pemerintah RI yg baru seumur jagung dan dgn militer serta > persenjataan seadanya (baca primitip) kini (utk pertama kalinya) pada 1946 > harus berhadapan secara tak seimbang secara militer dgn tentara Belanda > bahkan bersama sekutu yg demikian lengkap persenjataannya…… > > Dapat dikatakan sepanjang 1946-1949 negeri Indonesia yg masih amat lemah > ini tak pernah terlepas dari konflik militer dgn Bld dimana kalau > ditengahnya disela dgn perundingan2 namun bagi Belanda sebenarnya itu hanya > sekedar merupakan taktik mengulur waktu dan memperbaiki posisi militernya > saja ……sambil kita samasekali tak punya posisi tawar apapun yg kuat ……dan > nyawa ribuan rakyat selalu menjadi taruhannya utk setiap kemarahan Bld > …….ibarat Palestina kini didepan Israel….. > > Kalau saat ini wilayah negeri kita RI secara geografis adalah dari Sabang > sampai Merauke dari Miangas sampai Rote….. tetapi saat diproklamasikan pada > 17-8-1945 dan dalam perjalanan waktu sampai 17-8-1950 bahkan sampai sebelum > Irian Barat ditinggalkan oleh Bld keadaannya tidaklah semulus begitu……. > > Ketika baru diproklamasikan pada 17-8-1945…. Entahlah bahkan siapa nama > gubernur Jawa atau Jabar, Jateng Jatim…. Karena namanya persiapannya juga > belum matang benar dan situasinya terusmenerus dirundung peperangan…… namun > bbrp orang utusan daerah dari PPKI yg hadir di Jkt lalu diangkat menjadi > gubernur spt Teuku Muhammad Hassan (menjadi Gubernur Sumatera), Sam > Ratulangi (menjadi Gubernur Sulawesi), Ketut Pujo (menjadi Gubernur Nusa > Tenggara), P. Mohammad Noor (diangkat menjadi Gubernur Kalimantan)…… > > Baru bbrp bulan kemerdekaan diproklamasikan….pada Nopember 1945 Bld bersama > Sekutu jg sdh kembali dtg ke Indonesia (Surabaya)….dan terjadi konflik > bersenjata…… > > Apa yg terasa sgt pahit bagi Indonesia selama periode 1945-1949 adlh bhw > selagi kita baru saja memproklamasikan diri sbg negara merdeka dan masih sgt > lemahsekali ….namun kita selama itu terus menerus diagresi oleh penjajah > Belanda dengan militernya yg kuat yg tak rela kehilangan negeri jajahannya > yg demikian luas dan kaya ini …… > > Kondisi kekuatan kita hanyalah bak buah cherry yg matang yg sekali pencet > oleh jempol tangan Bldpun akan lumatlah kita…… > > Sungguh ironis bila sementara generasi muda kita justru asal bersikap sinis > saja pada kelemahan2 posisi kita kala itu ……lalu bak penonton bola dipinggir > lapangan asal main membodoh2kan saja para pemimpin kita kala itu (dikira > seolah semuanya hanyalah mrpkn keputusan tunggal oleh Sukarno sendiri saja, > sambil tak dibayangkan bgmn dgn tak memiliki kekuatan militer yg seimbang > kita akan melawan Bld secara frontal ) ….tak terbayangkan jg oleh smntr > generasi muda kita yg sinis ……bgmn misalnya ketika sekedar mencari ‘seorang > terorist’ saja ….Bld dgn ringan dn mudahnya dapat membabat habis seluruh > nyawa penduduk desa termasuk wanita dan anak2 yang ratusan jumlahnya > …..yg kelak setelah kemerdekaan Bld mengulang menunjukkan bgmn cara > menjawab sikap militan penduduk pulau Sulawesi dgn cara yg lbh spektakular > misalnya dgn mengirim Westerling… yg dari desa kedesa sejak dari SulSel > sampai Sulut dgn berdarah dingin sambil tertawa2 Westerling > mendemonstrasikan bgmn cara menebar ‘kontra teror’ dgn membabat ribuan > nyawa penduduk dari desa kedesa kita (diklaim sebanyak 40.000 nyawa > melayang)……… > > Mereka yg bersikap sinis lupa mengingat bgmn terjepitnya posisi RI kala itu > …..memandang sinis Sukarno seolah ia haus kekuasaan dan menjadi kaya raya > ...tak memandang sebelah matapun bgmn Sukarno Hatta dkk. kenyang keluar > masuk bui dan pembuangan spt Sukamiskin, Bengkulu, Ende, BovenDigul, > Bandaneira dsb..... sementara itu Suharto muda malah blm sekalipun merasakan > pengalaman2 spt itu..... > > Generasi muda Indonesia yg sinis (justru krn akibat bentukan budaya orde > baru 30 tahun) ....lupa bgmn ketika pd gilirannya pada 17-8-1950 Sukarno > (bukan sendirian, namun secara demokratis dgn persetujuan mayoritas > pemimpin) akhirnya dpt memproklamasikan sekali lagi RI dari yg semula > dipersempit Bld dgn dikepung oleh demikian banyak negara boneka …..menjadi > NKRI dgn wilayah dari Sabang sampai Maluku (yg artinya para pemimpin2 > negara2 boneka itu sendiri sadar bhw mereka ingin menyatu menjadi Negara > Kesatuan Republik Indonesia ……dan bbrp tahun kemudian NKRI dpt > membebaskan Irian Barat baik dgn cara diplomasi maupun dgn cara militer > terhormat…… > dgn infiltrasi pasukan terjun payung… kapal selam... boikot perusahaan2 Bld > di Indonesia…dsb… sesuatu kekuatan militer dan variasi baru perlawanan yg > tak dipunyai oleh RI/ NKRI pada 1945-1950 dan masa sebelum2nya…..…… > > Salam, > > > > > > > > >

