Pak Aby dan rekans ysh, Mungkin sudah saatnya mengangkat "kebanggaan bangsa". Sejarah orang biasa, seperti belakangan sering di Kompas.
Potensi dan prestasi orang kita banyak. Tahan uji lagi. Ada baiknya "cinta tanah air" ditumbuhkan dari situ. Ini adalah cara baru yang mesti dicoba. Karena cara pandang Pak Aby, maaf, selalu bangsa ini sebagai victim/korban. Sbg korban penjajah, pemimpin sendiri, imperialis, dst. Sehingga Pak Aby lebih banyak membahas penjajah dan penindasnya drpd "potensi bangsa" ini. Itu sebetulnya senada dengan Muchtar Lubis, siapa itu yang maki-maki dari Ireland? Intelektual seperti itu mungkin akan pergi ke Kutub, ke Bulan, ke Mars hanya untuk menemukan artikel yang bilang "bangsa kita payah." Padahal gak usah kemana-mana, tiap pagi koran bilang begitu. Soalnya apa yang mau kita lakukan. Saya kira yang lebih bisa menghargai "bangsa kita" justru Malaysia. Semua dari kita hafal kelemahan bangsa sendiri, tapi justru Malaysia yang tahu sekali potensi kita. Di Bandung kemarin saya ketemu Profesor dari Malaysia yang tiap kali belajar dari Mang Ujo dalam memasyarakatkan angklung. Bukan untuk mengklaim seperti pemerintahnya, tapi jujur belajar mengembangkan "community based tourism" cara Mang Ujo itu. Dari percobaan saya menerapkan pendekatan yang appreciative ke komunitas di daerah dan Pemda, bisa dilihat perubahan ekspresi mereka dalam menghargai potensi dan capaian sendiri. Mereka jadi melihat manfaat berfikir positif menghargai prestasi daerah hingga unit nya. Saya pikir langkah itu sederhana tapi menggulirkan perubahan, dari pada nunggu-nunggu orang hebat. Sudah belasan tahun kita saling kritik, jawabannya selalu cari kambing hitam. Mungkin yang dikritik juga sudah hapal cara menjawabnya. Buktinya, malah komitenya yang diperkarakan. Berikan apresiasi kepada bangsa, supaya terjadi saling dukung untuk prestasi yang lebih baik. Salam, Risfan Munir -----Original Message----- From: hengky abiyoso <[email protected]> Sent: Saturday, November 21, 2009 8:48 AM To: referensi <[email protected]> Cc: plbpm <[email protected]> Subject: [referensi] Re: (14) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai Seorang rekan menulis : “……Seperti kata rocker Tina Turner, "We don't need another hero." Kalau toh perlu hero, menurut saya adalah orang biasa yang memakai "produk dalam negeri", yang mematikan lampu kalau gak perlu. Karena 80 persen konsumsi listrik adalah rumah tangga. Dan langkah-langkah kecil yang konkrit seperti itu…….”. Amat sepakat dgn itu …..namun agar itu dpt menjadi etos nasional …diperlukan jalannya yg panjang menuju kesana……..Memang setelah kita merdeka kini ….yg itu berarti nasionalisme dibidang politik berupa ‘perlawanan kpd penjajah’ dan keinginan utk merdeka serta kesadaran berbangsa satu, berbahasa satu serta bertanah air satu telah tercapai…… maka setelah itu…. pasca kemerdekaan … nasionalisme memang seharusnya segera bergeser penekanannya ke bidang nasionalisme ekonomi…yg selanjutnya jg nasionalisme dibidang sosial, budaya, hukum, teknologi …. dsb……. Bhw manusia adlh makhluk yg ketika lahir tak bisa baca tulis dan tak mengerti banyak norma2/ etika kehidupan lainnya yg baik…. Maka manusia mengembangkan budaya didik ….dan mengajarkan apa saja banyak sekali nilai2 yg baik bagi generasi penerusnya……. Sedini mungkin sedari kecil manusia dididik utk agar mampu baca tulis, agar mengerti Tuhan dan agama…. Dan tentu saja juga agar mengenal sejarah kebangsaan, bangsa dan negaranya, dan agar kelak mampu memelihara keberlangsungan kehidupan bernegara dan berbangsanya….. Tiap2 negara berbeda metodanya…dan berbeda pula materi ajaran nasionalismenya ……krn latar belakang yg serba saling berbeda….. hanya sayang dalam prakteknya proses perjalanan itu tak selalu mulus jalannya……tak jarang juga melalui lorong2 gelap yg menyedihkan …… dan itu dialami oleh banyak bangsa dan negara didunia ini……. Orang Jepang misalnya….yg pernah juga melewati lorong2 gelap ajaran nasionalisme oleh pemimpin mereka…..shg mereka pernah terperosok dgn imperialisme dan jugun ianfu dsb.... mrk tak akan diajarkan ttg bgmn hrs mencintai bangsa dan negaranya krn alasan bhw mrk pernah dijajah oleh bangsa lain … krn mrk tak pernah ditindas dan dijajah bangsa lain…... Mrk tak perlu terlampau diajar ttg kesadaran ‘kesatuan bangsa’ krn mereka tak terdiri dari bermacam etnis dan agama macam kita gini (melayu, china, india, arab, papua dsb) ….materi ajar nasionalisme mrk jelas amat berbeda …..setidaknya adlh bhw mereka diajarkan pengertian ttg mrk adlh bangsa keturunan dewa matahari…. Mrk (kira) harus diatas dn lbh tinggi dari bangsa2 lain … mereka harus memimpin dunia …. Dan berhubung negeri mereka tak banyak memiliki lahan yg subur bagi tanaman pangan (hanya lk 15% yg dpt ditanami tanaman pangan) dan tak memiliki sumberdaya alam dan bahan tambang apapun … maka penekanan nasionalisme mereka dibidang ekonomi memang krn tak ada pilihan lain…….…. Jelas bhw pertama mrk harus mutlak mempertahankan swa sembada pangan dgn cara memaksimalisasikan produksi pangan …dan sebaliknya mrk hrs menekan jumlah penduduknya (nyatanya penduduk Jepang yg kini 120 juta, ditahun 1950 adlh 80 jt, ditahun 2100 akan disusutkan menjadi tinggal 65 juta jiwa saja. Thn 2006 telah mulai trend menyusut)…… Mereka harus mengimpor bahan mentah… mengolahnya dan selain mengkonsumsi sendiri.. selebihnya mrk hrs mengekspornya dan hrs memperoleh nilai tambah yg tinggi …… itu sebabnya utk keberlangsungan hidup bangsa dan negaranya mereka hrs menanamkan pula kesadaran ttg high technology minded…..selain jg nomor satu adlh kesadaran ttg etos swadesi (pakai barang buatan dalam negeri) … kemudian etos export minded…krn itulah kewiraswastaan dan industri menjadi bagian terpenting dan menjadi tulang punggung dari ajaran nasionalisme mereka…….. Utk disadari …...kita memang pasti akan menuju kesana … hanya saja jalan kita sendiri masih panjang…… banyak agenda koreksi, agenda peredaan saling menyalahkan dan saling curiga yg hrs diklarifikasi dulu……... Salam, aby Posting sebelumnya : Re: (13) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai Milisters ysh, Setelah Irian Barat sah menjadi bagian dari NKRI…….entah mengapa (mungkin Sukarno terlanjur kelewat muak dgn tingkah laku kolonialis) tak lama kemudian Sukarno jg terobsesi dgn ‘Ganyang Malaysia’….dan terobsesi dgn seruan ‘Bantu perjuangan rakyat Kalimantan Utara’ (jg terobsesi utk berpetualang dgn banyak wanita) …. Dan nasionalisme rakyat kita yg telah terbentuk sedemikian rupa krn muak juga dgn penjajahan oleh Bld dan Jepang dan mungkin bangga dgn ‘kemenangan rebut Irian Barat’…. Sebagian spt tersulut juga….dan kembali lagi tentara dan sedikit sukarelawan kita sempat juga berangkat keperbatasan …..2 marinir kita menyusup ke Singapura, tertangkap dan dihukum gantung…... Tentunya mjadi Kepala Negara yg dirongrong terus oleh partai2 politik diparlemen yg terlampau liberal memang repot juga ….maka lalu Sukarno membubarkan parlemen dan mengeluarkan Dekrit ….namun semenjak Dekrit Presiden 1959 tentu saja kadar demokrasi kita memang semakin melorot turun kebawah saja …...namun yg jelas rakyatpun tentunya capek juga….. Semenjak dari pra kemerdekaan 1945 ….sampai masa pasca penyerahan kedaulatan 1949 …pasca penyatuan semua negara2 boneka dan RI menjadi NKRI pd 17-8-1950….. sampai masa Sukarno dijatuhkan oleh Suharto …..rakyat lbh banyak didoktrin dgn perjuangan melawan penjajah dinegeri kita ..…lalu belakangan jg didoktrin utk ‘membantu rakyat dinegara sebelah spt Malaysia dan Kalimantan Utara …agar kita membantu rakyat disana utk melawan penjajah …. Nah disini rakyat yg ekonominya susah terus dan tak kunjung diajak beralih kepembangunan ekonomi dan boro2 kok menikmati hasil pembangunan ekonomi (yg biasa makan nasi beras malah dalam rangka swasembada pangan diajarin makan nasi jagung) ….pastilah rakyat capek juga ……hanya saja tak lama kemudian timbul G30S dan Sukarno dijatuhkan oleh Suharto……dan bergantilah era pemerintahan dgn orde baru yg kita semua sdh tahu ceritanya….. Soal ‘integrasi’ TimTim kedalam RI pada sekitar 1976 kiranya bukan lagi masalah nasionalisme kita yg berkobar2…. Tapi lagi2 krn kepentingan AS….takut daripada TimTim jatuh ke Soviet dan menjadi komunis… dan Suharto tentu bangga juga kalau ia dpt dicatat dlm sejarah kita bahwa ia telah memperluas wilayah RI dgn tambahan TimTim itu….. namun dalam kenyataannya selain menurut PBB itu cacat hukum….masalah TimTim juga ibarat kerikil dalam sepatu …..kecil tetap selalu merepotkan dan menyakitkan….belum lagi bagi orang TimTim sendiri ‘negeri’ dgn mayoritas agama Kristen/ Katolik tentu tidak nyaman menjadi bawahan negeri dgn mayoritas Islam…… Singkat cerita TimTim yg bermasalah sudah dilepaskan dari RI dimasa Habibie….dan masalah GAM yg berdarah2 jg sudah diselesaikan dgn damai…. Lalu apa agenda nasionalisme kita kedepan selanjutnya? ......cukupkah dan patutkah dgn hanya mengecam dan mencacimaki kekurangan2 yg sudah sambil diri sendiri bagai anak kecil belum menyumbang apa2 dan tak mengambil peran apa2 namun dgn mulut besar hanya mencaci maki terus perkara2 yg sudah?......... Nasionalisme utk bangsa dan negara harus digalang dan dibangun sepanjang masa …...para pemimpin boleh datang dan pergi ….ada yg baik sekali dan ada yg brengsek jg yg berbuat kesalahan dan bahkan mendegradasi kemajuan yg telah diperoleh …..namun generasi berikutnya tak pantaslah kalau hanya merengek merajuk saja ….mencacimaki yg sudah dan ia sendiri tak menyumbang apa2 utk masa depan nasionalisme kita …… Proses nasionalisme (yg belum selesai) harus terus berlanjut …..menuju kearah dan capaian yg lebih baik dari yg sudah ……bekerja keras dan bekerja keras utk bangsa dan negara dan menataplah kedepan seperti para jong di Soempah Pemoeda 1928 itu …...dan janganlah menengok terus kebelakang sambil terus menggerendeng macem pecundang…… Salam,

