Halo milisters...... Mungkinkah bisa juga dikembangkan di Indonesia yang rawan gempa ini ya...kayaknya kan relatif murah kalau mau dilakukan? Tinggal mengamati perilaku ular di Bonbin bisa ga? Eh...dimana aja tuh ada Bonbin kita di seantero Indonesia tercinta ini? Mungkinkah Bonbin bisa jadi keharusan untuk kota2 yang rawan gempa? Mungkinkah anak-anak sejak SD, sudah diharuskan mengetahui binatang2 apa saja yang sensitif terhadap gempa...? Kalo di Sumbar cuma ada di Bukittinggi setauku, tetapi apa sekarang masih ada ularnya ga? Mungkinkah untuk wilayah2 yang rawan gempa perlu menyediakan "ruang" buat "ular" khusus yang bisa diamati perilakunya oleh masyarakat juga ?! Mungkinkah bisa disatukan dengan Ruang Terbuka Hijau yang sudah diwajibkan di perkotaan itu?! Mudah2an bisa membantu mengurangi korban akibat gempa ini, kelihatannya kita memang masih harus mengingat ajaran "tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China" ....yang katanya ular bisa tau akan gempa sejak 5 hari sebelumnya,....sangat manfaat sekali untuk deteksi awal kan?! Maaf ya...ini kok nanya mulu nih...saya masih trauma kayaknya dengan gempa. Salam - 2ny Sumber : http://ularindonesia.com/?page_id=33 Penelitian tentang Ular Bencana Alam "Mengendus" Gempa Melalui Perilaku Ul Bagai selebritas di lensa paparazi, begitupun nasib ular-ular di kawasan Nanning, sebelah utara Provinsi Guangxi, China. Dua puluh empat jam sehari, para peneliti pada Biro Penelitian Gempa Bumi di Nanning dapat mengamati gerak-gerik ular melalui monitor khusus yang terhubung jaringan internet. Perilaku ular bagi para peneliti di sana sangat istimewa. Mereka yakin indera penciuman ular mampu "mengendus" gempa dari jarak 120 kilometer, atau lebih dari lima hari sebelum terjadi gempa. Ular yang menangkap "sinyal" pertanda akan terjadinya gempa terlihat dari perilakunya yang aneh. Ular-ular akan keluar sarangnya sekalipun pada musim dingin. Bila gempa bumi akan besar, ular pun nekat menabrakkan tubuh pada dinding atau penghalang lain untuk melarikan diri. "Melalui kamera-kamera yang dipasang di beberapa sarang ular, kami mengembangkan kemampuan meramalkan gempa. Sistem serupa dapat diperluas lagi di beberapa daerah untuk memastikan ketepatan meramal gempa," kata Direktur Biro Gempa Bumi Nanning, Jiang Weisong, seperti dikutip The China Daily, pekan lalu. Kawasan Nanning merupakan salah satu dari 12 kota di China yang menjadi "langganan" gempa. Pada tahun 1976, sekitar 250.000 jiwa tewas setelah kota Tangshan di kawasan itu diluluhlantakkan gempa. Saat ini, selain mengembangkan dan memasang 143 unit sistem pemantauan pada satwa melata itu, China juga memasang peralatan berteknologi tinggi untuk mendeteksi intensitas gempa. "Dari semua ciptaan di bumi, ular barangkali salah satu hewan paling sensitif terhadap gempa," tambah Weisong. Menurut dia, berbagai jenis reptile berperilaku aneh sebagai respons perubahan yang terjadi sebelum gempa. Seperti diketahui, hingga kini belum ada teknologi yang dapat memastikan kapan gempa akan terjadi. Kemampuan sebatas memperkirakan dalam kisaran waktu tertentu. Karena itulah, peneliti-peneliti di Nanning antusias mengamati perilaku sensitif ular, sebagai alternatif untuk mengetahui datangnya gempa, beberapa hari sebelumnya. Dengan demikian, dapat dilakukan langkah antisipasi sehingga jumlah korban jiwa dapat ditekan. Kepekaan ular Peneliti ular dan amfibi (herpetolog) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Irvan Sidik menyatakan, ular memang memiliki kepekaan tinggi. Kelebihan itu diperoleh bukan dari ketajaman penciumannya, tetapi dari pori-pori tubuhnya. "Secara umum, ular sangat peka terhadap perubahan temperatur. Namun, secara morfologi tidak terlihat," kata peneliti yang akan berangkat ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi S-3-nya tentang ular itu. Sejak aktif meneliti ular dan reptil, Irvan mengaku belum pernah mendengar penelitian perilaku ular untuk memprediksi gempa. Kalaupun ada, lanjut dia, kemungkinan besar memanfaatkan jenis ular yang tinggal di lubang-lubang tanah (fossoreal) seperti jenis ular cabe dan weling. Melalui kepekaan pori-pori tubuhnya, perubahan temperatur bumi akan direspons khusus, seperti keluar sarang. "Sebagai makhluk yang hidup di alam, kepekaan terhadap gejala alam pasti lebih tinggi dibandingkan manusia," kata dia. Dan, atas nama penelitian gempa, ular pun nyaris bernasib sama dengan para selebritas; diamati gerak-geriknya, namun ini untuk maksud positif. Sumber: http://ularindonesia.com/

