Anak kalimat pak Risfan ttg ‘land banking’ dlm postingnya dibawah ini sptnya 
merujuk pd kalimat mbak Windy pd posting 26/11/09 :
“…….menarik karena biasanya banyak kasus development country -->jumlah penduduk 
meledak tanpa planning, dan tiba2 udh cheos
nah di curitiba ini, walikotanya udh liat itu jauh sebelum itu terjadi, jadinya 
dia beli tanah2 di curitiba kemudian mengembangkan kota tersebut……..”
 
Sejauh ini saya belum berhail menemukan referensi ttg walikota siapa di 
Curitiba yg ngeborong tanah disana…… krnnya agar jelas bagi saya dan demi utk 
menambah pengetahuan saya dan mungkin milisters lainnya….. mohon dpt 
diberitahukan referensinya dan penjelasannya lbh lanjut ….. oleh walikota 
siapa/ kapan ?..Lerner sendiri atau oleh pejabat sebelumnya?....... dan seluas 
berapa km2 atau hektarkah belinya?.....didaerah/ kawasan mana 
sajakah?.......... sejauh yg saya dptkan… keunikan Curitiba ini justru berawal 
dari ketiadaan keuangan yg longgar .. dan Lerner lbh memakai kata kuncy 
‘co-responsibility’ utk melibatkan partisipasi masyarakat…… kemudian jg…. 
sptnya konsep2 pengembangan/ perencanaan kembali Plano Diretor de Curitiba/ 
Master Plan utk Curitiba (setelah yg pertama oleh Agache antara 1940-1950an)  
….sesuatu yg sebenarnya telah ditetapkan pd 1965 namun ia tak pernah  
diimplementasikan bahkan sampai 6 tahun lamanya… sampai
 kemudian pd 1971 ketika Lerner diangkat menjadi Walikota Curitiba…….barulah ia 
dpt mengimplementasikan konsep itu sejadi2nya……..
Salam, aby

--- On Fri, 11/27/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:


From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] curitiba-brazil-sustainable city
To: [email protected]
Date: Friday, November 27, 2009, 3:20 AM


  



Terima kasih,
That's what I mean. Land banking dari dulu masih cita-cita disini. Padahal 
sebetulnya sebagian kota kita ada yang mampu membeli tanah selagi murah. 
Terutama di luar Jawa. Di beberapa kota Perumnas juga melakukannya, sehingga 
punya banyak deposit dulu.

Tapi kejadiannya sering sebaliknya, prasarana dibangun dulu, maka harga tanah 
melonjak. Akibatnya Pemda tak mampu beli tanah untuk sarana umum.

Tapi unsur lain seperti public transport layak dipikirkan untuk kota-kota 
Sumatera yang katanya trend pertumbuhannya mulai menguat.

Salam,
Risfan Munir

Penulis buku "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati" 
(Gramedia, Nov '09)



Salam,







From: franciska windy <franciska_windy@ yahoo.com>
Sent: Friday, November 27, 2009 4:17 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] curitiba-brazil- sustainable city







Halo Risfan,

Menarik sekali pertanyaannya. 
Maaf saya masih agak bingung dengan definisi kota biasa dan new town yang 
ditulis di sini.(karena dari definisinya beberapa hal overlap,definisi tentang 
kata 'kota' sendiri juga terkadang rancu)
Tapi saya akan coba jawab

Apakah ini new town? 
dalam hal ini kriteria paling jelas umur kota tersebut.
Sebenarnya kalau dari segi umur, Curitiba ditemukan pada tahun 1693 

tapi seperti banyak kota2 di development country, kota2 tersebut mengalami 
perkembangan penduduk.
Banyak dari kota2 tersebut tidak 'siap' dan menjadi cheos.

Untuk Curitiba,tahun 1970 walikotanya membuat perencanaan yang significant bagi 
kota tersebut -->mempersiapkan kotanya sebelum populasi meledak 2 kali dalam 30 
tahun
dari cerita ini, saya asumsikan, sebelum curitiba sebelum 1970 lebih merupakan 
village dari pada city (dalam kontext jumlah penduduk)

Apakah ini kota yang dirancang untuk kalangan khusus?
setiap perancangan kota idealnya kontekstual, termasuk kontekstual dalam hal 
tipe penduduknya.

Yang menarik dan 'pintar' dari perancangan kota Curitiba di sini, pada waktu 
merancang mereka tidak hanya merancang pada konteks saat itu (pada saat 
curitiba masih sedikit penduduknya) . Akan tetapi mereka melihat jauh ke depan 
dan mempertimbangkan saat curitiba meledak populasinya.

contoh:salah 1 intervention yang sangat vital bagi kota tersebut: BRT-->Bus 
System.bekerja seperti light rail system tapi 10 kali lebih murah








Banyak warga miskin Curititiba benar-benar terbantu dengan sistem ini.

Studi kasus Indonesia soal kota minyak/tambang.
Dalam hal ini saya tidak bisa berkomentar banyak karena saya tidak melakukan 
studi mendalam soal itu.
tapi saya bisa cerita berdasar pengalaman saya di soroako,sulawesi (tambang 
nikel).
Kota tambang soroako sendiri memang terlihat bagus.kota tersebut dibangun oleh 
perusahaan Canada untuk para karyawan yang bekerja di perusahann tersebut.
Untuk para karyawan di sana memang menyenangkan. infrastrukturnya baik, dapat 
fasilitas hunian yang bagus dan fasilitas lainnya.Di danaunya para karyawan 
bisa menggunakan segala fasilitas gratis (snorkling,kapal layar, kayak,baju 
selam dll)

 
contoh hunian karyawan (di sana rumah panggung karena banyak gempa)



danau matano (kalau tidak salah danau terdalam)

tapi apakah itu perancangan yang bagus?
belum tentu.
buat karyawan inco itu seperti 'heaven on earth'
punya fasilitas bagus,di saat yang sama ada nature yang wah... 

sebenarnya soroako sudah ada penduduk lokalnya.
dan dalam perancangan mereka seperti terabaikan.( dalam hal ini saya setuju 
dengan risfan karena memang surrondingnya tidak terurus)

kondisi rumah penduduk lokal

dalam perancangan yang ideal, seharusnya bukan hanya memikirkan kota bagi 
karyawan inco tersebut, tetapi bagaimana integrasi dengan penduduk lokal.
bagaimana pembangunan kawasan pertambangan ini tidak hanya menguntungkan bagi 
developer, tetapi juga menaikan taraf hidup penduduk lokal.

wah jadi panjang
semoga jawabannya membantu

franciska windy






From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Fri, November 27, 2009 8:32:23 AM
Subject: Re: [referensi] curitiba-brazil- sustainable city


Francisca ysh,
 
Terima kasih atas kiriman best-practice nya, saya kira kota-kota/daerah kita 
perlu banyak contoh apa yang sudah 'berjalan' seperti ini. Juga best practices 
partials seperti Tarakan yang mengatasi krisis listrik, Solo yang menangani PKL 
secara berbudaya, dst.
 
Tapi tentang Curitiba ini saya ingin tanya. Ini kota biasa (dengan orang miskin 
dst) atau New Town yang dirancang khusus untuk kalangan khusus. D Indonesia 
enclave kota minyak/tambang/ petrokimia biasanya kotanya juga bagus, teratur 
dan lengkap. Atau kalau BSD, Lippo Cikarang, Kota Legenda dst, atau bahkan 
(new) Kuala Lumpur dianggap "kota" tentu juga bagus, tapi sorrundingya? 
 
Tapi apapun, kita perlu koleksi best-practice yang menginspirasi ini.
 
Salam,
Risfan Munir
Penulis buku "Jurus Manang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati" 
(Gramedia, Nov 09)










      

Kirim email ke