Seruan Copenhagen : Ubah Arah Pembangunan yang Mendewakan pertumbuhan Ekonomi

Siaran Pers CSF, 8 Desember 2009

(Copenhagen, 8/12/09) Pembukaan Pertemuan Para Pihak COP 15 United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) resmi digelar di Bella Center, Copenhagen, Denmark, Senin (7/12). Dalam pernyataan media pembukanya Yvo de Boer Sekretaris Eksekutif UNFCCC menegaskan pentingnya kesepakatan Copenhagen, bahkan diperlukan koreksi atas arah pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Pernyataan ini merupakan koreksi model pembangunan negara industri yang salah, tapi terus menjadi panutan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dihadiri lebih 15 ribu delegasi dari 110 negara, pebisnis, industri, organisasi lingkungn, dan lembaga peneliti di dunia, COP 15 bakal berlangsung selama dua pekan, diprediksi akan berjalan a lot. Salah- satu indikasi adalah rendahnya komitmen-negara-negara industri yang hanya akan menurunkan emisinya dengan kisaran 13% hingga 23% pada 2020. Angka yang jauh dari tuntutan negara-negara berkembang, minimal 40% pada 2020. Amerika Serikat dan Uni Eropa malah mendorong Kyoto Protokol yang bersifat mengikat (legally binding) mati dengan sendirinya, dan segera menggantinya dengan perjanjian-perjanjian bilateral tidak mengikat, yang menciptakan peluang bisnis baru, macam perdagangan karbon, hingga biodiversity offset.

Alotnya perundingan diamini Rachmat Witoelar, sekjen Dewan Nasional Perubahan Iklim Indonesia (DNPI), sekaligus Ketua harian delegasi Indonesia dalam konferensi pers (07/12) di Copenhagen. Ia menyebutkan, ada jarak antara opini negara maju dengan negara berkembang dalam hal mitigasi. Meski begitu, pertemuan didorong untuk menghasilkan komitmen kuat dengan ekspektasi tinggi, sebagaimana dilaporkan IPCC, yakni tercapainya emisi global pada 2015 tetap di bawah 2 derajad Celcius. Dalam konferensi pers ini Indonesia kembali mengumumkan akan menurunkan emisi nasionalnya 26% hingga 41% pada 2020. Indonesia juga berkomitmen melakukan model pembangunan yang rendah emisi.

Baca selengkapnya di www.jatam.org dan www.csoforum.net

------------------------------------
Civil Society Forum on Climate Justice (CSF) merupakan forum jaringan nasional yang beranggotakan organisasi masyarakat sipil, yaitu AMAN, FWI, Huma, ICEL, IERS, IHSA, IPPHTI, KpSHK, IYF, JANGKAR, Kehati, Kemala, Pelangi, DTE, JATAM, KIARA, KRKP, Latin, Nastari, Raca Institute, Sawit Watch, Satu Dunia, SBIB, Soliper, Telapak, TI- Indonesia, dan WALHI.

Forum ini bertujuan menjawab tantangan-tantangan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim. CSF percaya permasalahan perubahan iklim tidak terlepas dari persoalan keselamatan manusia (*Human security*), hutang ekologis (*Ecological debt*), hak atas lahan (*Land right*) dan produksi-konsumsi (*Production-consumption*) -- disingkat H.E.L.P, yang belum sepenuhnya dijamin negara.
====================================
Dukung perluasan informasi dan kemudahan akses informasi, khususnya warga di lokasi-lokasi terpencil yang terancam industri tambang, juga pubik secara umum. Dukung WE ARE CONNECTED

Kunjungi terus website JATAM di www.jatam.org agar anda menjadi yang pertama yang mengetahui informasi terkait daya rusak pertambangan. Dan apabila anda ingin mendapatkan informasi terbaru dari website JATAM secara berkala, daftarkan segera email anda di JATAM RSS yang ada di website JATAM www.jatam.org
===================================


Kirim email ke