Pak Risfan, masalah minimnya riset kelihatannya terkait dana dan media publikasi juga ya pak? semoga hasil riset terkait Planning menjadi lebih banyak dgn anggaran dikti yg meningkat dan (khususnya) ITB/UGM/UI/IPB yg semakin kaya setelah menjadi BHMN... tinggal media utk publikasinya saja, menghidupkan kembali jurnal PWK misalnya...
Menurut saya metodologi risetnya tdk terbagi dlm deduksi, induksi, dan evaluasi kebijakan pak... karena evaluasi kebijakan pun kalau riset pasti dilakukan either melalui deduksi atau induksi... saya ambil contoh kalau kita hendak mengevaluasi apakah KAPET efektif mempercepat pembangunan di wilayah lokasi kapet tsb? kalau saya pakai deduksi, maka saya akan gali teori2 myrdal, hirschman, perroux, richardson, NEG, dst. dan merumuskan hipothesis, metodologi, lalu saya test hipothesis tsb, kemudian saya simpulkan apakah kasus kapet Indonesia mendukung teori A atau tidak.. kalau saya pakai induksi, saya akan mulai dgn judul terbuka: kapet sebagai alat pembangunan wilayah di Indonesia... lalu saya terjun dgn melupakan teori utk sementara waktu, saya pelajari dokumen, interview, kuosioner, dst.. saya gali pengetahuan apa itu kapet, apakah pemda dan rakyat setempat merasakan manfaatnya, seberapa jauh, dst.. kemudian konstruksi hipothesis/teori apakah pembangunan kapet bermanfaat utk daerah.. setelah teori selesai dikonstruksi baru saya dudukan dlm konteks teori2 yg sudah ada, apakah sejalan dgn myrdal atau perroux, atau muncul sebagai teori yg baru... kadang juga tidak dilakukan, orang lain yg mendudukan teori kita dlm khasanah teori, apalagi kalau sifatnya deskriptif... salam.. --- On Thu, 12/17/09, Risfan M <[email protected]> wrote: From: Risfan M <[email protected]> Subject: Bls: Re: [referensi] Re: regional inequality & capitalism To: [email protected] Date: Thursday, December 17, 2009, 11:20 PM Pak Eko, Eka, Djarot, BTS, Sepengetahuan saya di dunia Planning di negeri kita, riset adalah sesuatu yang masih langka. Baik deduktif atau induktif. Yang biasa dilakukan adalah mengadopsi model pendekatan (pengorganisasian ruang). survei, pengumpulan data untuk mengisi model pendekatan itu, bukan untuk menggali atau menguji sesuatu. Lebih untuk menghitung pertumbuhan kebutuhan ruang untuk diarahkan/disebarka n (sbg rekomendasi rencana). Riset di dunia PWK umumnya dilakukan penulis disertasi, dosen, lembaga riset (seperti URDI, saya juga baca hasil riset BTS ttg ekonomi perkotaan). Risetnya Pak Eko, pak Djarot bersifat mengkaji fenomena yang terjadi. Tentu akan bermanfaat, seperti orang geologi mempelajari potensi atau gejala tertentu geologis. Tapi mungkin ada riset jenis lain spt "riset kebijakan". Untuk mengevaluasi kebijakan ttt setelah diterapkan, apakah berjalan, apa outcome, impact nya sesuai yang direncanakan. Inipun jarang dilakukan dalam Planning. Kebijakan pengembangan wilayah, sistem pusat-pusat, zonasi, adalah kebijakan yang diterapkan. mungkin ini juga perlu diriset, diteliti sejauh mana keefektifan, outcome dan impactnya, efek perubahan atas trend sebelumnya. Riset yang dimaksud lebih dari evaluasi, review atau updating data untuk revisi. Karena yang diriset juga termasuk keandalan model rencana yang diterapkan. Policy keluarga berencana, misalnya, kan banyak sekali riset dan kajian terkait fenomena dan impact sosial-budaya dan ekonominya. Mungkin kelangkaan riset ini juga terkait dengan identifikasi diri Planner seperti insinyur bangunan. Merancang, lalu mengharap tukang melaksanakan dan pemilik membiayai. Sementara Planning di era partisipasi dan desentralisasi ini merupakan kebijakan publik, yang mengharapkan semua pihak merasa sebagai kebutuhannya dan melaksanakan. Instrumen yang dipilih pun diharapkan tidak konflik dengan kepentingan para pihak dan policy lainnya. Salam, Risfan Munir

